MEMECAHKAN TEMPAYAN (3)

Satu pertanyaan menggelayuti saya dulu. Jika orang-orang yang sudah hilang keakuannya beraktivitas, katakanlah dia bekerja-kah. Dia menolong orang-kah. Dia bermuamalah sehari-hari-kah. Apa pendorongnya? Bukankah keinginan; baik itu keinginan fisik ataupun keinginan abstrak berupa hasrat menjadi “ada” dan diakui merupakan jamaknya pendorong manusia bergerak? Kalau sudah “hilang ‘aku’-nya” apa lagi pendorongnya?

Barulah saya mengerti jawabannya setelah dikejutkan kembali akan fungsi kekhalifahan manusia.

Manusia, diciptakan dalam sebuah konteks pangkat yaitu sebagai khalifah. Fungsi pengelolaan alam semesta yang tidak diberikan pada Malaikat dan pada Jin.

Dalam konteks menjalankan titah pengelolaan inilah, orang-orang Shalih bergerak. Membongkar ilmu. Memahami alam. Membantu orang lain. Dan juga peribadatan apapun saja yang mereka lakukan adalah ekspresi dari kesalutan mereka kepada Allah, atas kenyataan dari pengaturan Allah SWT yang mereka temukan di sepanjang kehidupan mereka mengelola alam. Menjalani kehidupan.

Maka peribadatan (baik umum maupun khusus) pasti mengandung salah satu diantara konteks-konteks itu.

Apakah dia berupa konteks memuji Allah karena keagungan-Nya yang kita temukan sepanjang perjalanan hidup kita, semisal “Subhanallah wa bi-hamdih. “Maha suci Allah, aku memuji-Nya.” Yang dianjurkan dibaca pada pagi dan petang.

Atau meminta ampunan pada Allah atas kekeliruan dalam hidup sepanjang menjalankan fungsi kekhalifahan itu.

Atau konteks satu lagi, yaitu peribadatan sebagai jalan meminta pertolongan kepada Allah SWT seperti dalam hadits: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengajari kami shalat istikharah dalam setiap perkara atau urusan yang kami hadapi, sebagaimana beliau mengajarkan kami suatu surah dari Al-Quran. Beliau berkata, “Jika salah seorang di antara kalian berniat dalam suatu urusan, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang bukan shalat wajib, kemudian berdoalah…” (HR. Al-Bukhari)

Jadi penggeraknya saya rasa adalah kesadaran akan fungsi kekhalifahan itu. Kesadaran menjalankan titah itu. Bukan keakuan. Bukan karena ingin suatu pencapaian.

Yang menarik dan baru saya mengerti sekarang adalah bahwa dalam rangka menjalankan tugas, maka harta tentulah kalah mulia dibandingkan tugas itu sendiri.

Maksudnya, kadang-kadang kita salah menempatkan diri dan menjadi segan meminta kepada Allah untuk suatu hal, karena mengira hal yang kita minta itu sesuatu yang sangat besar.

Padahal, jika kita mengerti bahwa seluruh dunia ini Allah yang punya, dan tidak sedikitpun Allah merasakan susah menciptakan dunia ini, bahkan dunia ini bagi Allah tak berharga bahkan tak senilai sesayap nyamuk-pun bagi Allah[1]; maka seharusnya kita tidak perlu merasakan canggung yang tidak penting saat berhadapan dengan dunia.

Kita lihat Rasulullah SAW, saat dunia itu berkaitan dengan keperluan pribadinya, beliau santai dan seringkali tidak makan. Tetapi saat berkaitan dengan kepentingan pengelolaan / kekhalifahan di dunia ini, beliau tidak canggung dengan dunia. Masyhur kita dengar Rasulullah memiliki unta merah, kendaraan paling masyhur kala itu.

Maka ternyata betul para ulama yang mengatakan kepada kita untuk jangan enggan berdo’a. Atas apapun saja masalah yang menimpa kita sepanjang tugas kita dalam hidup ini sebagai pengemban fungsi pengelolaan atas nama Allah, maka minta tolonglah kepada Allah.

Sekedar sebuah ilustrasi sederhana saya rasa, kita ini ibarat seorang tukang kebun. Tukang kebun yang bekerja di sebuah rumah konglomerat yang kaya raya tiada dua.

Tukang kebun diberikan titah untuk menggali tanah membuat kolam di belakang rumah. Pertama kali kita menggali, kita menggunakan sekop kecil. Seiring pekerjaan, kita menemukan banyak batu-batu kerikil yang sulit dibongkar dengan sekop kecil, maka kita mengetuk pintu empunya rumah meminta sekop besar.

Setelah menggunakan sekop besar, kita kembali berbenturan dengan batu yang jauh lebih besar, dan sulit diangkat jika tidak punya excavator misalnya, lalu kita ketuk lagi pintu empunya rumah meminta bantuan excavator.

Saya kira begitulah memaknai dunia. Dia hanya sekedar tools, alat, yang kalah mulia dibandingkan tugas kita sebenarnya, yaitu fungsi pengelolaan.

Orang yang enggan berdo’a kepada Tuhan, boleh jadi karena tidak mengenal bahwa Tuhan sangat kaya raya. Atau boleh jadi, dia salah dalam memposisikan dunia, mengira dunia adalah sesuatu yang sangat berharga sehingga canggung terhadap dunia. Harusnya, dunia diperlakukan sebagai pelayan kita, yang melayani kebutuhan kita dalam tugas, bukan sebaliknya.

Dan sekali lagi, orang-orang yang selalu mengetuk pintu rumah Tuhan, dan melaporkan segala kesulitan yang dialaminya sepanjang perjalanan, pada akhirnya juga akan hilang “aku” nya. Karena tahu bahwa segala peralatan apapun saja yang ada padanya saat ini, sebenarnya bukan miliknya.

Peralatan bisa datang dan pergi. Karena dia memang datang dan pergi. Tetapi tugas kekhalifahan mesti terus berlanjut. Orang yang menjalankan tugas, tidak canggung terhadap peralatan. Dan juga tidak kemudian salah fokus, berhenti melakukan tugas dan sibuk memandang peralatan.

Tapi sekali lagi menyinggung maqom, kita paham, bahwa pada puncaknya ada orang-orang yang sebegitu mengertinya tentang Tuhan, bahkan sampai pada menyebut kebutuhan saja dia tak terucap, karena tahu bahwa Tuhannya lebih tahu apa yang dia butuh ketimbang dirinya sendiri.

Tapi itu tingkat advance, untuk kroco-kroco seperti kita ini ikuti saja kata Nabi, berdoalah, Allah akan kabulkan.

Kalau kita sering melakukan itu, kata syaikh Abdul Qadir Jailani, “Allah sendiri yang meninggikan taraf kamu”.

—-

[1] لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)

 

MEMECAHKAN TEMPAYAN (2)

Jika kita sudah paham, bahwa kebahagiaan yang didirikan di atas pondasi rasa ke-aku-an adalah kebahagiaan yang semu, ilusi, bermata dua; disatu saat akan menjelma kesedihan. Maka tentulah kebahagiaan sejati itu adalah saat hilangnya ke-aku-an.

Hilangnya ke-aku-an, tidak berarti bahwa secara lahiriah kehidupan kita menjadi mudah, acapkali masalah tetap ada, tetapi saat kita memandang permasalahan kehidupan sebagai cara Allah bercerita –bukan tentang konteks kita pribadi-, maka hilangnya “aku” tersebut, akan berfaedah terhadap tiadanya duka lara.

Kejadian-kejadian di dalam hidup kita datang dan pergi. Dan di dalam segala kejadian hidup itu, secara LAHIRIAH, mestilah ada sempit atau lapang. Dan ternyata, ada sikap yang diajarkan pada kita agar kita bisa menghilangkan ke-aku-an –dan pada akhirnya memandang bahwa konteks segala hidup ini adalah tentang Allah bercerita tentang diriNya saja-

Sikap pertama, adalah tuntunan dalam menghadapi kelapangan. Katakanlah saat kita mendapatkan prestasi dan segala macam kemudahan hidup yang secara simple bisa dikatakan orang sebagai “pencapaian”, achievement. Sikap yang dituntunkan adalah “mengembalikan” pencapaian itu kepada Allah. Menceritakan nikmat Allah yang ada pada kita.

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu sebutkan”. (QS Adh-Dhuha:11)

Yang diceritakan adalah nikmat Tuhan. Bukan pencapaian diri sendiri.

Seumpama kita berhasil lolos pada ujian masuk sebuah perusahaan elit, yang kita ceritakan adalah bagaimana Allah mempertemukan kita pada lowongan pekerjaan itu, bagaimana ternyata dulu kita tak tertarik pada bidang studi yang kita ambil saat kuliah; tapi ternyata malah menjadi jalan kita masuk ke sebuah perusahaan yang baik, bagaimana kita merasa kemampuan berbahasa inggris jelek; tetapi kok ya bisa kebetulan pertanyaan saat wawancara sudah begitu familiar dengan kita. Dan lailn-lain. Dan lain-lain.

Saat selalu menengok kemudahan dan kelapangan yang kita dapat pada sisi yang mengingatkan bahwa segala hal itu adalah karena karunia Allah semata; maka lama kelamaan kita akan sadar bahwa sejatinya kita tiada pencapaian.

Konteks kemudahan dan kemelimpahan dalam hidup kita ternyata adalah karunia Allah, bukan karena kehebatan pribadi. Hilang “aku”nya.

Secara subjektif, saya merasakan bahwa mungkin inilah yang “terpandang” oleh Rasulullah, saat Futuh Makkah[1], penaklukkan Makkah secara besar-besaran. Dimana seisi kota yang dahulunya memusuhi beliau sekarang takluk tanpa syarat dan beliau memasuki kota dengan kewibawaan yang menggelegar. Semua musuh tunduk, menyerah, takluk dan tak berani melawan.

Tetapi bukan kepongahan karena “pencapaian” yang beliau nampakkan, justru menunduk menaiki untanya dan lisannya basah dengan istighfar. Kemuliaan yang beliau dapat, beliau sadari merupakan karunia Allah.

Kalau kita flash back sejak kematian khadijah, Abu Thalib, peristiwa dilempari di Thaif, pergi ke Madinah, Perang Badar yang gemilang, kekalahan di Uhud, dan segala macam peristiwa yang hilir mudik datang, naik-turun seperti roller coaster, tentulah sangat terbaca bahwa kegemilangan Fathu Makkah itu skenario yang sudah di plot oleh Allah. Bukan pencapaian pribadi Rasulullah dan para sahabat.

Hilang “aku” nya.

Jika menceritakan kemudahan dan kelapangan yang kita terima dalam sudut pandang “nikmat Tuhan”; akan lambat laun membuat kita hilang keakuan. Maka pada pendekatan satunya lagi, saat mendapatkan segala belit kesulitan dan kesempitan, ada juga cara agar kita hilang keakuan.

Cara kedua ini adalah dengan menjadikan segala kesulitan kita sebagai batu loncatan mendekat kepada Allah.

Cara kedua ini, secara menyedihkan sering dimaknai keliru oleh sebagian orang. Saya sering mendengar ucapan bahwa sedekah tidak boleh berharap. Ibadah harus ikhlas, tanpa embel-embel harapan apapun.

Ucapan itu benar, pada maqomnya sendiri. Agak sulit kita memahami pendekatan kedua ini kalau tidak berbicara tentang maqom, peringkat-peringkat ruhani.

Cara Allah menuntun orang untuk “kembali” kepadaNya, bermacam-macam. Ada orang yang dibelit oleh kesulitan hidup. Karena kesulitan hidup itulah, maka orang ini berdo’a kepada Allah dan meminta tolong.

Umpamakanlah hutang. Karena hutang membelit, maka orang tersebut yang tadinya enggan berdo’a dan meminta tolong, jadi terfikir untuk meminta tolong kepada Allah.

Bentuk minta tolongnya macam-macamlah. Ada yang dengan bersedekah. Sedekahnya itu, hanya sebuah ejawantah dari sikap batin yang merasa tak ada tempat lain meminta pertolongan selain daripada Allah. Ada yang sholat dhuha. Sholat dhuha, memang dikhususkan untuk meminta rezeki. Sholat hajat. Dan bahkan dalam segala sholat kita membaca pada duduk antara dua sujud, meminta “Ampunan, rahmat, ditutupi aib kita, diangkat derajat, ditambahkan rizki, permaafan, dan kesehatan tubuh” Kurang duniawi apa itu? Pendeknya, apapun konteks peribadatan yang dilakukan, asalkan berada dalam bingkai “mengembalikan” segala persoalan kepada Allah, itu sudah sesuai tuntunan.

Tentu kita paham, yang diminta adalah sesuatu yang tidak dalam tujuan foya-foya dan kesenangan semata.

Maka menjadi miris, saat orang-orang yang dibelit kesulitan hidup, ingin kembali kepada Allah lewat jalan kesulitan hidup itu tadi, kemudian malah dimarahi dan dikecam karena sholat bukan buat bayar hutang, sedekah bukan buat mendapat kekayaan.

Tentu…tentu kita tidak berbicara kekayaan untuk berfoya-foya, tetapi, semua peribadatan yang berada dalam konteks meminta pertolongan kepada Allah, itu berarti juga menghilangkan ke-aku-an.

Orang yang setiap kali dibelit kesulitan, dia berharap kepada Allah. Lama-lama akan semakin mengerti bahwa sebenarnya penggenggam sejati segala permasalahan adalah Allah SWT, lama-lama orang ini akan hilang “aku” nya. Tidak lagi mengandalkan dirinya, tetapi mengandalkan Allah.

Segala usaha yang dilakukannya, dimaknai dalam bingkai itu. “merayu” Allah. Kalau dia bekerja, maka kerjanya dalam sikap batin yang merayu Allah agar mengaruniakan rizki. Saat dia beribadah, ibadahnya juga ejawantah dari sikap butuh terhadap pertolongan Allah.

Nanti…orang-orang semacam ini akan mendewasa amalnya. Mungkin pada gilirannya nanti mereka hanya sibuk beramal saja, tanpa sebersitpun permintaan terucap dari lisannya. Tetapi itu tingkatan yang tinggi.

Dan untuk orang-orang yang baru meniti jalan pulang, karena Allah bukakan pada mereka pintu kebutuhan hidup, maka biarlah mereka meniru Zakariya a.s. Saat merayu Allah meminta keturunan:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridai” QS. Maryam [19]: 4 – 6.

Bahkan sang Nabi Pun berdo’a kepada Allah meminta keturunan. Keturunan bukankah kebendaan? Bukankah keduniawian? Tetapi bukan itu intinya. Intinya adalah bagaimana setiap kesulitan hidup apa saja yang menghimpit kita, menjadikan kita pulang ke Allah. Itu intinya.

Maka agak kurang elok saat ada orang yang kesulitan keturunan misalnya, kemudian dimarahi saat ingin mendekati Allah lewat jalan sholat-kah, sedekah-kah, baca Qur’an-kah. Lalu dibilang, jangan beribadah untuk dunia!

Bukan untuk dunia, sahabat. Tetapi mereka menjadikan segala kesulitan duniawi sebagai jalan pulang. Itu.

—-

[1] Ibnu Katsir mengatakan bahwa peristiwa Fathu Makkah inilah yang dimaksud oleh Surat An-Nashr, ketika pertolongan Allah berupa kemenangan telah datang, dan orang memasuki agama Allah dengan berbondong-bondong, kita disuruh menyucikan Tuhan, dan memujiNya, serta ber-istighfar.

MEMECAHKAN TEMPAYAN (1)

Seandainya kita memenangkan sebuah kompetisi menyanyi tingkat provinsi misalnya, tentulah kita bahagia. Normal sekali. Terlepas dari karena ada hadiahnya, pertanyaannya adalah kenapa kita bahagia karena menang lomba menyanyi? Karena ternyata sebuah perasaan bahwa diri kita “dianggap”, atau diri kita memiliki sebuah “pencapaian”, achievement, itu memberikan sensasi kebahagiaan.

Tengoklah Abraham Maslow, dalam “hierarchy of needs” mengatakan bahwa kebutuhan tertinggi manusia itu adalah untuk “diakui”, menjadi “ada”, “self actualization”.[1]

Saat manusia “diakui”, keberadaannya dihargai, maka ada sensasi rasa bahagia. Dan rupanya kita terus menerus mencari sensasi rasa bahagia ini lewat cara mengukuhkan keberadaan kita di tengah masyarakat.

Alurnya sederhana saja rupanya, kalau kita punya “pencapaian” yang diakui orang lain, maka berarti kita semakin “aktual”, semakin meng-ada, kalau kita meng-ada, maka kita merasakan bahagia.

Tetapi, kebahagiaan itu ternyata semu. Karena, kebahagiaan yang dibangun pada pondasi ke-akuan diri, ibarat pedang bermata dua.

Seorang guru yang arif memberitahu bahwa bersamaan dengan rasa keakuan diri, muncullah segala penyakit hati. Sebutkanlah, apa saja penyakit hati: Riya, Ujub, dengki, marah, apapun saja istilah bahasa merangkumnya; ternyata idenya juga sederhana, karena dirinya tak “diakui” maka segala sensasi kesedihan yang sempit itu muncul, dan menggrogoti.

Sesaat setelah menang lomba menyanyi, kita bahagia. Saat pulang ke rumah kita bercerita dengan semangat kepada tetangga kita atas keberhasilan kita, tetapi tetangga itu acuh tak acuh. JEDERRR…. Kita sakit hati. Tengoklah, betapa senang dan sedih itu sangat temporer. Kenapa kita sakit hati? Karena kita tak diakui.

Pengakuan, atau “keakuan diri” yang tadinya memberikan sensasi bahagia, dalam saat yang sama juga mengancam kita dengan diam-diam dan jahat, membawa sensasi kesedihan.

Rasa ke-aku-an itu pedang bermata dua. Segala kebahagiaan yang dibangun di atas pondasi rasa ke-aku-an dan rasa ingin meng-ada, pastilah semu dan suatu ketika nanti pada momentnya yang tepat; dia akan “merusak” diri kita sendiri.

Pengertian seperti itu, adalah hal yang sangat-sangat fundamental yang baru sekarang saya mengerti dari wejangan para arifin.Betapa pentingnya menghilangkan ke-aku-an.

***

YANG TIADA SEDIH DAN DUKA

Jika kebahagiaan yang dibangun di atas dasar rasa ke-akuan; adalah temporer, semu dan kerdil, fatamorgana, tentulah ada kebahagiaan sejati. Kalau kita mencontek dari cerita para Aulia, ternyata mereka adalah orang-orang yang tidak diombang-ambingkan perasaan. Hati mereka selalu tentram dan tiada gejolak.

Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah tiada ketakutan pada diri mereka dan tiada pula mereka berduka cita. (QS. Yunus : 62).

Cukup lama juga tiada mendapatkan jawaban mengenai kenapa mereka tidak berduka cita? Dulunya saya mengira bahwa hidup mereka bahagia terus, dalam artian secara tampak mata, lahiriah, selalu menyenangkan. Tetapi malah kebalikannya, kadang-kadang kita perhatikan orang-orang Shalih malah hidup dalam segala macam bentuk kesulitan. Tetapi kesulitan itu ada pada lahiriahnya, tetapi pada batinnya, mereka tidak berduka.

Karena, mereka tidak lagi menganggap bahwa ada konteks mengenai mereka dalam hidup ini. Konteks hidup ini, tentang Allah menceritakan diriNya saja.

Sudah tentu bahasan ini akan menjadi begitu abstrak. Tetapi katakanlah begini, jika segala sesuatu adalah “diadakan” oleh Allah. Sebuah sebab “diadakan” oleh Allah, dan sebuah akibat “diadakan” oleh Allah, apakah mungkin sebuah sebab menghasilkan akibat? Jangan-jangan, hukum sebab-akibat yang selama ini kita mengerti hanyalah fatamorgana. Karena baik sebab, maupun akibat sama-sama diadakan oleh Allah, berarti penggenggam kekuasaan sejati adalah Allah SWT. Bukan segala sebab-sebab apapun yang kita pandang secara lahiriah.

Orang yang memandang segala-gala dalam konteks cerita tentang Tuhannya, dalam artian menyadari bahwa Allah SWT lah yang memiliki kuasa atas segala sesuatu; berarti hilang “diri” nya. Karena menyadari betul bahwa hampir tidak mungkin –atau memang tak akan pernah mungkin- sesuatu terjadi, tanpa Allah tuliskan sesuatu itu untuk terjadi.

La Hawla Wa La Quwwata Illa Billah, tiada daya, tiada upaya melainkan karena Allah SWT[2]

Di dalam sebuah riwayat pula dikatakan bahwa saat benar-benar kita menyadari bahwa segala-gala di dalam genggaman Allah (sudah tiada ke-akuan) maka itu adalah kuncinya syurga. Kepada Abu Dzar Rasulullah berkata bahwa mengatakan La Hawla Wa La Quwwata Illa Billah itu adalah perbendaharaan syurga[3]

Saya catat dari petuah orang-orang arif, bagaimana proses yang umumnya dilalui hingga seseorang itu hilang “aku”nya?

Kata syaikh Abdul Qadir Jailani, salah satu hal yang membuat seseorang itu hilang “aku”nya antara lain biasanya tersebab ujian. Ujian yang berat yang membuat segala harapan orang tersebut pada dunia-kah, pada orang lain-kah, musnah semuanya. Sehingga –masih kata Syaikh Abdul Qadir Jailani- orang ini ibarat “tempayan pecah”, hancur nafsu-nya sehingga jika keakuan itu ibarat air, di dalam tempayan diri orang itu tak lagi tersisa walau setitik air[4].

Hampir seluruh Nabi-nabi dan orang-orang salih yang kita temui, kita lihat dalam sejarah selalu mereka berada dalam kondisi seperti tempayan pecah ini. Dibanting-banting takdir, sampai tak ada lagi pengharapan mereka kecuali kepada Allah semata. Mereka itu, berarti bisa kita bahasakan sebagai
hilang “aku”nya.

Orang-orang yang sudah tidak lagi memandang konteks hidup ini dalam kesempitan pengakuan diri mereka sendiri; akan tiada duka cita. Karena, kalau hasrat untuk menjadi “ber-ada” itu sudah tiada, maka segala duka lara karena tak diakui, tak berada, tak dihargai, dan sebagainya akan sirna juga dengan sendirinya.

……..(to be continued)

[1] Wikipedia : “Maslow’s hierarchy of needs”

[2] “Man Qala La Haula wala Quwwata Illa Billahi Kana dawa’an min tis’atin wa tis’iina da’in, aisaruha al-Hammu”

(yang bermaksud:“Siapa yang mengucapkan ‘La Haula Wala Quwwata illa billahi,’ maka ia akan menjadi ubat kepada 99 penyakit. Yang paling ringan adalah kebimbangan”). (Hadis Riwayat Tabrani)

[3] Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Muhammad] telah menceritakan kepada kami [Waki’] dari [Al A’masy] dari [Mujahid] dari [Abdurrahman bin Abu Laila] dari [Abu Dzar] dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: “Maukah aku tunjukkan kepadamu perbendaharaan dari perbendaharaan surga?” jawabku; “Tentu, ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Laa haula walaa quwwata illa billah (tiada daya dan tiada upaya kecuali dengan kehendak Allah).” Hadits Ibnu Majah No. 3815

[4] Istilah “tempayan pecah” bisa dilihat dalam buku Syaikh Abdul Qadir Jailani, Futuhul Ghaib

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑