ORANG-ORANG YANG MENCARI

huangshan

“Saya bukan Budhist, Bukan Christian, bukan Islam,” kata seorang rekan kerja saya dalam bahasa inggris yang cadel dengan logat China-nya.

Pembicaraan seputar pekerjaan kantor, dan segala pernak-perniknya, entah bagaimana membawa kami pada pembicaraan mengenai makna kehidupan bagi kami masing-masing.

Saya tebak, usia beliau lebih tua dari saya sekitar 6 sampai 10 tahun. Dia dari Beijing. Berkeluarga, dan punya satu anak.

Dia, istrinya, dan juga anaknya, tidak menganut salah satupun agama. Mungkin dekat kepada Budha, tetapi dia tidak beragama Budha. Dia katakan, kehidupan cina dengan paham komunisnya tidak memberikan ruang yang lega untuk keberagamaan tumbuh subur. Sehingga, banyak orang China yang tidak terlalu ambil pusing dengan apa agama mereka.

Saya menemani beliau makan siang pada sebuah restaurant kecil sekitar sepuluh menit dari kantor.

Dari situlah saya “menangkap” gejala itu, bahwa seorang China dengan perawakan mirip jet lee di depan saya ini adalah seorang “seeker“, Salik dalam porsi-nya sendiri, dan sangat nyata bahwa dia ini mencari makna hidup.

Untuk seorang yang tumbuh besar dalam kehidupan Negri Cina yang komunis, dan dia jarang tersentuh kehidupan keberagamaan, saya cukup salut dengan pernyataan yang dia buat.

Sekali lagi, dalam english yang cadel dia katakan, “i noticed, if we dont have any spiritual believes, or religion, we will lost guidance in this life.” kata beliau.

So true, saya bilang. Dan saya memperhatikan dia bercerita, bahwa dia membaca tentang Christianity, tentang Budhism, tentang islam. Disitulah dia berkata bahwa dia bukan Budha, bukan Islam, bukan kristen, tetapi dia mulai meyadari bahwa harus ada satu spiritual belief yang dia pegang sebagai guidance. Pelita yang memandu dia dalam hiruk pikuk karir yang kaku, klise dan kerap membuat orang lupa makna hidup.

Kenapa islam di arab begini, kenapa di melayu begini? kenapa di indonesia begini? kenapa topinya begini, kenapa kopiah begitu? kenapa sorban di Oman begitu? dan serentet pertanyaan lagi dia lontarkan dalam obrolan makan siang yang singkat itu.

Kami berbincang panjang, saya ceritakan pada rekan saya itu, bahwa dia haruslah bisa membedakan antara budaya, dan agama. Culture and religion. Mayoritas hal-hal yang dia tanyakan itu berkaitan dengan budaya, yang kerap kali tak ada kaitannya dengan agama. Atau ada kaitan, tapi tidak substantif.

Saya menghargai pencarian dia, teringat saya pada sebuah wejangan seorang ulama kharismatik. Jika kita memaksa seseorang untuk merubah pendapatnya secara radikal, berarti kita memotong proses pencarian orang itu. Dan itu tidak baik. Sebaiknya, kita biarkan dia melanjutkan pencarian, dan kita membantu memberikan data sesuai yang dia butuhkan.

Satu hal, saya katakan kepadanya, yang sering terlupa dari kita. Kita terlalu banyak memandang agama sebagai set of rules. kumpulan tata aturan. Kumpulan seremoni. Hingga kita lupa hal yang paling krusial dari keberagamaan itu sendiri, sisi spiritualitasnya, yaitu mengenal Tuhan, membangun hubungan dengan Tuhan. Itu intinya. Setelah memahami itu, barulah set of rules menjadi punya arti.

Satu fakta yang dia baru tahu adalah bahwa Islam bukan Muhammadanism, bukan agama yang di-create olah Nabi Muhammad. Dia cukup kaget juga mendengar itu.

Saya menambahkan, bahwa islam memandang islam bukanlah satu-satunya agama yang mengajarkan orang menyembah sang pencipta. Menyembah Tuhan. Islam mengakui, kenabian para nabi yang lain. Tak kurang dari seratus dua puluh lima ribu nabi-nabi tersebar di muka bumi ini.

Tetapi risalah yang dibawa mereka, sejatinya hanya satu. Mengenalkan manusia kepada Allah SWT. Kenali Allah-nya dulu, baru bicara tentang set of rules. Rules come later.

Disitulah saya ceritakan kepada Beliau, seperti apa konsepsi islam tentang Allah SWT.

Pada zaman azali, zaman dimana hanya Dia semata yang ada. Tak ada ciptaan. Tak ada ruang, tak ada waktu, tak ada gelap tak ada terang, tak ada benda, tak ada segala sesuatu apapun yang bisa diindera dan dimengerti manusia. hanya Dia yang ada. Dia adalah ALLAH SWT.

Karena DIA ingin dikenali, maka dia menciptakan makhluk (menzahirkan) makhluk.

Berarti, dia menzahirkan ruang, menzahirkan massa, menzahirkan langit dan bumi, manusia, jin, malaikat, planet, bintang, nebula, dan sebutlah apapun saja yang bisa dipersepsikan manusia. semua yang bisa manusia persepsikan, adalah ciptaan.

Maka, islam melarang manusia menyembah ciptaan. segala apapun yang bisa kita persepsikan, kita bayangkan, kita reka, kita sentuh, kita kaji dengan sains, itu adalah ciptaan. Islam mengajarkan kita menyembah penciptanya. itulah Allah.

Laisa Kamislihi Syaiun. Tak serupa tak seumpama.

“Menarik,” dia bilang. Dia mengatakan bahwa paparan tadi dekat sekali dengan kajian sains, bing bang theory. Saya katakan, ya, tentu saja, begitulah persepsi islam tentang Tuhan.

letakkan sejenak segala atribut dan set of rules, kenali dulu Tuhannya. Dari situ kita baru melangkah.

“I have to read quran, one day” Dia bilang.

Saya mengamini dalam hati. Lalu kami melanjutkan makan siang. Sambil saya membatin, Siapa yang mencari, akan bertemu. InsyaAllah.

JATUH BANGUN MENGHAPUS “AKU”

Saya teringat seorang rekan saya bercerita. Dia tidak mendapatkan penghargaan dari kantornya. Pasalnya adalah dia dan rekan satu tim-nya sudah bekerja mati-matian untuk sebuah project. Dan dia merasakan bahwa dirinya bekerja lebih banyak, -atau paling tidak sama banyak- dengan rekan satu tim-nya. Tetapi karena entah apa, hanya rekan satu tim-nya yang mendapatkan penghargaan dari kantor.

Sempat beberapa saat dia memendam kecewa, tentu saja. Tetapi pada akhirnya dia mendapatkan sebuah pelajaran hidup. Bahwa seharusnya kesedihan itu tak perlu.

Yang pertama adalah karena sebenarnya Allah membagikan rezeki kepada siapapun yang dia kehendaki. Yang kedua adalah –rekan saya mendapatkan kepahaman yang lebih tinggi– bahwa sesungguhnya antara hati manusia, dan perasaan sedih, adalah dua hal yang terpisah. Ada sang pengamat di dalam diri (subject), dan ada sebuah sensasi perasaan yang menjadi object yang diamati.Tetapi saya sedang tak ingin membahas itu.

Yang menarik sebenarnya, kenyataan bahwa begitulah cara Allah mengajar. Allah mengajar manusia, salah satunya lewat kejadian hidup.

Rekan saya ini, mengatakan bahwa belakangan dia mulai memahami keterkaitan antara kejadian hidup dan hubungannya dengan “mengenal Allah”, lewat sebuah hadits yang menjelaskan bahwa Allah maha Rahmaan. Maha penyayang bahkan lebih menyayangi manusia dibanding seorang ibu menyayangi anaknya.

Rahmaan, adalah sebuah “entry point”.

Lewat entry point sifat Rahmaan, rekan saya ini menjadi bisa berinteraksi kepada Sang Empunya sifat.

Bahwa Allah SWT yang selama ini kita sembah adalah Yang Maha Penyayang, bahkan dalam hal-hal yang menurut kita tidak mengenakkan; pastilah masih berada dalam balutan Rahmaan-Nya.

Ada satu hal yang sangat berguna, menurut saya. Yaitu pelajaran dari guru-guru kearifan yang mengatakan bahwa memang seharusnya kita memandang kehidupan ini sebagai media Dia untuk menceritakan diriNya.

Kejadian hidup, tidak sekedar dipandang sebagai kejadian hidup. Tetapi kejadian hidup kita maknai sebagai sebuah cerita dari Allah, yang bertujuan mengenalkan diriNya kepada kita.

Kali ini Dia bercerita pada diri kita tentang Rahmaan-Nya, lewat kejadian hidup yang kita alami.

Kali lain Dia bisa bercerita pada diri kita tentang Rozaq-Nya, lewat kejadian hidup yang lain lagi.

Bisa tentang Rahiim-Nya. Tentang Mutakabbir-Nya. dan lain-lain.

Kalau kita memandang kehidupan sebagai media Dia menceritakan diriNya. Maka, kita tidak akan sakit hati, kata guru-guru. Malah kita akan selalu mendapatkan hikmah.

Semisal kita memandang pekerjaan kantor sebagai pengaturan Dia membagikan rizki, tentang Dia yang sedang “bekerja” meninggikan siapa yang Dia mau, menyembunyikan siapa yang Dia mau; maka kita akan semakin kenal dengan Dia.

Diri kita sendiri menjadi ‘hilang’. Karena seluruh kehidupan ini memang konteksnya tentang “DIA”. Tidak pernah tentang diri kita.

Kalau kita lupa memandang kehidupan sebagai konteks “DIA menceritakan diriNya”. Maka seketika itu juga kita sudah “merasa ada”.

Dan berbarengan dengan perasaan “merasa ada” itulah segala penyakit bisa muncul. Bisa ada dengki. Bisa ada kecewa. bisa ada dendam.

Selama ini, kita salah. Kita memberantas dendam-nya. memberantas sakit hatinya. memberantas dengkinya. Tetapi kita tidak pernah memberantas “aku”-nya.

Kalau perasaan “merasa ada” masih ada di dalam diri kita, maka selamanya penyakit hati akan ada.

Tapi kalau perasaan “merasa ada” sudah sirna. Dan kita memandang kehidupan sebagai pentas pagelaran DIRINYA semata, maka kita tidak akan kecewa.

Rekan saya, -dan saya tentu saja-, jatuh bangun dalam praktek ini.

Tetapi, setidaknya, kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan. Setiap kali perasaan kecewa dan sakit hati muncul, berarti itu alarm bahwa kita sudah “merasa ada”, dan kita harus kembali lagi membenahi cara pandang.

Bahwa semua ini tentang DIA. bukan tentang kita pribadi.

Maka nanti DIA akan mengajarkan rahasia namaNya yang lain lagi ke kita.

kata imam Al-Ghozali. Siapa yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya, maka dia akan menyadari bahwa dia tiadalah wujud.

BINGKAI WELAS ASIH

Ada sebuah kebijakan yang “tinggi” yang diajarkan para arifin. Mengenai berbaik sangka pada Allah SWT dan memahami pengaturanNya serta ejawantah sifatNya.

Kita mulakan dengan sebuah perumpamaan begini, bahwa setiap sifat yang Allah miliki pastilah ada kenyataannya dalam kehidupan ini.

Sifat Allah “Maha Pengampun” pastilah ternyatakan dengan adanya pendosa di muka bumi ini, yang kemudian mereka bertaubat dan Allah ampuni.

Maka kita menjadi paham maksud sebuah hadist yang mengatakan bahwa seandainya penduduk bumi ini beriman semua dan tak ada pendosa, maka Allah akan gantikan mereka dengan ummat yang berdosa, yang mereka meminta ampun pada Allah, lalu kemudian Allah ampuni.

Tak ingin berpanjang kata tentang ini, kita sudah memahami bahwa kejadian hidup adalah ejawantah dari sifatNya, menceritakan tentang diriNya. (Baca “pagelaran ismi Rabbi”)

Kita sekarang memahami bahwa setiap kejadian di alam raya ini, sesungguhnya adalah sesuatu yang Allah takdirkan untuk terjadi. Berarti, setiap kejadian sebenarnya adalah sebuah perbuatannya makhluk yang mengikut script takdir Allah.

Berarti pula, tidak ada satupun kejadian hidup yang lepas dari script takdir.

Karena tak satupun lepas dari script takdir, maka tak satupun kejadian hidup itu yang random, tanpa arti.

Pasti ada artinya. Karena setiap kejadian sebenarnya adalah ejawantah dari sebuah cerita tentang sifat Dia. Tak mungkin tentang yang lain.

Sifat Dia yang ingin Dia ceritakan ada banyak, dan sebagiannya terwakilkan dalam 99 nama-namaNya.

Setiap apapun kejadian dalam kehidupan ini, mewakili cerita tentang AsmaNya.

Orang yang melihat kejadian hidup sebagai penzahiran dari asmaNya, berarti orang tersebut akan selalu bersangka baik kepada Allah.

Karena:

1. Tak ada kejadian hidup yang random dan tanpa arti, karena sesungguhnya se-chaos apapun sebuah kejadian hidup, pasti tetap punya arti dalam kaitannya sebagai ejawantah sifat Allah.

2. Allah sudah menjelaskan sendiri dalam sebuah hadits qudsi, bahwa RahmatNya, mengalahkan kemurkaanNya. Dan Allah sendiri yang mengajarkan kita untuk memulakan segala sesuatunya dengan Bismillahirrahmaanirrahiim. Artinya Allah mengedepankan Rahmaan dan RahiimNya sebagai sifat yang membingkai segala macam ejawantah.

Inilah maqom yang tinggi. Kata Ibnu Athaillah, seseorang akan selalu berprasangka baik kepada Allah, karena mengerti kesempurnaan sifatNya.

Karena mengerti bahwa segala sesuatu dalam kejadian kehidupan ini merupakan ejawantah AsmaNya yang berarti bahwa lewat kejadian hidup itu Allah SWT bercerita pada manusia, dan segala sesuatunya yang terjadi tetap berada dalam bingkai welas asihNya Dia.

Tetapi, sang Guru pun mengetahui, bahwa tidak semua manusia bisa langsung berada pada level tinggi ini. Maka diberikanlah tips untuk orang-orang yang belum sampai pada level ini.

Tipsnya adalah, jika kita belum bisa berbaik sangka pada Allah karena pemahaman akan kesempurnaan sifatNya, maka berbaik sangkalah pada Allah dengan cara melihat kebaikan yang Allah turunkan pada kita.

Sederhananya, kalau ada sesuatu yang membuat kita sedih dan duka lara, maka kita palingkan perhatian pada anugerah Allah yang kita dapat. Agar kita kembali bersyukur, bahwa disebalik ujian, ternyata masih lebih banyak yang patut kita syukuri ketimbang kita keluhkan.

Tetapi sekali lagi, itu maqom di bawah. Kita harus berupaya agar Allah berkenan menaikkan maqom kita, dengan merubah cara pandang kita.

Bukan lagi mencari-cari hal yang patut disyukuri dan mengabaikan perhatian dari hal yang tak mengenakkan hati. Melainkan, memahami bahwa segala apapun yang terjadi pastilah merupakan ejawantah AsmaNya cerita tentang sifatNya, dan setiap ejawantah namaNya pasti berada dalam bingkai Rahmaan dan RahiimNya.

Dan ganjarannya, kata guru-guru. Untuk siapapun saja yang bisa memandang kehidupan dengan paradigma seperti ini, Allah akan lapangkan dadanya, dan diberikan kepada hatinya petunjuk berupa ilham kebaikan.

KHALIFAH, KELINGKING, DAN UPILNYA

Dulu waktu saya kuliah di Jatinangor (Bandung coret), sedang gandrung-gandrungnya memantau siqran MQFM Radionya aa gym, saya “merekam” dalam benak saya, sebuah perumpamaan menarik dari aa gym.

“Kalau kita cuma kelingking, ga usah melakukan hal besar seperti mengangkat meja, kelingking bisa patah. Lakukan saja tugasnya kelingking, misalnya ngupil.” Kata Beliau sambil kelakar.

Sepintas sederhana. Pesan moralnya adalah kita harus berbuat sesuai proporsi kita.

Tapi, tema “berbuat sesuai proporsi” ini ternyata saya temukan lebih sufistik dari yang saya perkirakan.

Kita sama-sama mengerti bahwa ada tuntutan di dalam diri manusia untuk berbuat baik dan menjadi ada di tengah-tengah masyarakat. Tetapi, tuntutan ini sebenarnya masih tuntutan dari dorongan hawa. Hawa nafsu untuk menjadi “ada”.

Keinginan untuk menjadi ada, tidaklah merupakan kepingan puzzle yang tepat untuk menggenapi sabda Nabi bahwa sebaik-baik diantara manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat untuk orang lainnya.

Karena keinginan menjadi ada, meskipun secara lahiriah terlihat memberikan manfaat untuk orang lain, sebenarnya tumbuh dari keinginan mendapatkan manfaat untuk diri sendiri. Jadi fokusnya sebenarnya dirinya sendiri, bukan keinginan memberi manfaat.

Misalnya, berbuat baik karena ingin merasakan sensasi kebahagiaan di dalam diri. Ini ego.

Seseorang yang melakukan sesuatu karena egonya, cenderung mengejar bentukan luar dari sebuah kebaikan yang dia lakukan.

Misalnya, dia ingin menjadi pembicara yang didengar ratusan ribu orang. Dan keinginan lainnya.

Dia akan menilai kebaikan sebuah amal, dari seberapa megah bangunan amal itu pada zahirnya yang tampak. Sehingga orang ini akan sibuk mencari cara untuk memegahkan amalan lahiriahnya.

Seperti kelingking ingin mengangkat meja, kata aa gym.

Dan ini jamak dialami para pemuda. Pemuda, memiliki letupan semangat besar seakan-akan ingin memindahkan gunung.

Padahal, hidup ini bisa menjadi harmonis karena setiap orang menjalankan peranan dia masing-masing.

Ada pedagang bakso. Ada polisi. Ada dosen. Ada mahasiswa. Ada alim ulama.

Kalau misalnya kita mengejar bentukan lahiriah sebuah amal, lalu semua orang di dunia menjadi alim ulama, lalu siapa yang menggerakkan roda ekonomi? Siapa yang menjadi dosen? Siapa yang membahagiakan mahasiswa dengan dagangan buat makan siang? Dan macam-macam lagi perumpamaan.

Harmoninya hidup ini, adalah karena setiap orang menjalankan dia punya tugasan dengan frame bahwa mereka menjalankan fungsi khalifah di muka bumi.

Artinya, menjalankan apapun profesi kehidupan mereka berkelindan dengan hubungan pribadi antara dirinya dan Allah, yang pada gilirannya akan bisa memberikan kemanfaatan pada orang lainnya.

Kita tengok Abu bakar RA. Tidak mati syahid sebagaimana Umar dan Utsman juga Ali. Tidak pernah disiksa seperti Bilal. Tetapi Beliau menjadi yang termulia diantara semuanya.

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Beliau menjadi lebih tinggi dikarenakan sesuatu yang menetap di hatinya. Yaitu kesadaran bahwa Beliau melakukan segala sesuatunya karena Allah.

Dalam hadits pula kita tengok ada kisah Uwais Al Qarniy yang tidak masyhur di bumi, tetapi masyhur di langit.

Dan banyak kisah lainnya yang muaranya adalah bahwa profesi, atau amaliah seseorang pada luarannya; bukan faktor utama. Yang utama adalah dalemnya.

Saat dalemnya sudah “dapet“, maka apapun aktivitas amaliah pada luarannya akan bernilai tinggi.

Meskipun itu sebatas level “kelingking membersihkan upil.” Itupun tinggi.

Hal ini banyak diwanti para ulama arifin, agar tidak semua orang –karena dorongan ingin mendekat pada Allah– lantas meninggalkan dia punya perniagaan. Meninggalkan aktivitas dunia dia. Atau meski tidak se-ekstrim itu, tetapi dia merasa bahwa aktivitas dunia dia itu kalah “bernilai ibadah” dengan orang-orang yang memang bergelut pada aktivitas keagamaan.
Polisi kalah bernilai dari ulama, pekerja lapangan minyak kalah bernilai dari guru ngaji, atau sebaliknya. Nah…..ini ndak betul.

Setiap orang, Allah berikan tugas. Setiap tugas akan membutuhkan perangkatnya sendiri. Yang menulis tugas adalah Allah, yang ngasih perangkat Allah juga.

Jika ingin melihat apa tugasan kita sekarang, coba lihat apa yang kita miliki, lihat harta, lihat keilmuan kita, lihat lingkungan kerja kita, artinya itulah tugas kita sekarang.

Menjadi yang banyak memberi kemanfaatan diantara manusia, bukanlah dengan meninggalkan tugasan kita yang ada sekarang, dan mencari tugasan lain yang lebih berbau spiritual. Melainkan membenarkan cara pandang, dan memaknai bahwa kehidupan itu sebuah interaksi antara kita sebagai hamba, dan Allah yang ingin memperkenalkan diriNya pada hambaNya lewat berbagai-bagai tema kehidupan.

Dari sanalah, barulah apa saja yang kita kerjakan akan bernilai tinggi di sisiNya, dan masalah kemanfaatan pada manusia; Dia yang akan mengaturnya.

Saya kutipkan tulisan Cak Nun, “orang hidup itu seperti permainan sepak bola, setiap orang harus memiliki pemahaman yang memadai tentang siapa dia, apa posisinya, agar ia tahu harus melangkah kemana dan bagaimana”

MENGHAPUS PRESTASI

taubat

Konon, setelah khalifah Umar Bin Khattab meninggal dunia, seorang sahabat bermimpi bertemu dengan khalifah Umar. Kemudian, sahabat itu bertanya kepada khalifah umar bagaimana keadaan Beliau di alam kubur. Khalifah menjawab, Beliau diselamatkan dan dimudahkan urusannya di alam barzakh tersebab Beliau pernah menolong seekor burung pipit.

Alkisah, Umar sedang berjalan menuju alun-alun kota, dan melihat anak-anak memainkan seekor burung pipit di tangannya. Karena kasihan, Umar tergerak untuk membeli burung itu dan kemudian melepaskannya. Perbuatannya itulah yang konon kemudian menjadi sebab dimudahkan urusannya dan dilepaskan dari siksa kubur.

Kisah ini memang bukan menjadi dasar hukum, tetapi sekedar sebagai sebuah pesan moral, cerita ini mengandung sesuatu yang kita jamak temukan dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu betapa kebaikan yang banyak kita lakukan, kadang-kadang tidak terlepas dari cela, dan kita tidak pernah tahu entah kebaikan yang mana yang akan menyelamatkan kita.

Untuk itulah, orang-orang arif mengajarkan agar kita tidak melulu “mendekati” Allah dengan memandang kepada keadilan dan kekuasaannya (sifat Jalal-Nya). Jika kita mendekati Allah dengan memandang sifat keadilannya -semata- maka kita tidak akan mampu.

Karena ‘adil’ berarti kita akan diganjar sesuai dengan kualitas amal kita, sedangkan amal kita lebih banyak ga benernya ketimbang benernya.

Sekarang ini, kita tidak usah diajari lagi mengenai kenyataan bahwa Allah itu maha kuasa dan maha membalas, karena dari kecil kita sudah terbiasa memandang Allah dari sisi keadilan dan pembalasanNya. Tetapi kita tidak terbiasa memandang dan mengakrabi Allah dari sisi bahwa DIA maha welas asih, penerima taubat, dan menyimpan 99 rahmatNya di hari muka nanti.

“Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki 100 rahmat. Diturunkan (ke dunia) satu rahmat untuk jin, manusia, dan binatang. Dengan itu mereka saling simpati dan kasih sayang. Dengan satu rahmat itu pula binatang buas menyayangi anaknya. Dan Allah swt. menyimpan 99 rahmat bagi hamba-Nya di hari kiamat.” (Muttafaqun alaihi)

 

Orang-orang yang memandang Allah bahwa Dia maha Pengasih Penyayang, akan tidak putus harapan. Karena memang fithrah manusia itu adalah keliru, salah, dan banyak dosa. Orang-orang yang berharap kepada Allah, justru dengan salah dan dosanya itu mereka pulang kepada Allah, dan meminta permaafan.

Jika kita berada dalam konteks meminta permaafan, meminta tolong, meminta belas kasih kepada Allah, maka kita akan berada pada kondisi orang-orang yang tidak pernah merasa bahwa dirinya memiliki suatu kehebatan yang bisa diandalkan. Karena memang semuanya itu karunia Allah.

Banyak kita temukan literatur dimana Allah mengatakan, kamu harus sabar…tetapi kemudian ditambahkan lagi, kamu tidak akan bisa sabar kecuali dengan pertolongan Allah (Billah).

Ada juga perintah ikhlas. Disuruh ikhlas…tetapi kemudian ditambahkan juga, kamu ndak akan bisa ikhlas, kecuali dengan pertolongan Allah (Billah).

Juga sebuah ungkapan yang masyhur la hawla wa la quwwata illa BILLAH.

Semua-muanya menyuruh kita agar cara pandang kita dibenerin. Jangan menggunakan cara pandang itung-itungan dan merasa seperti seakan-akan kita ini sedang ingin unjuk prestasi pada Allah. Nanti kalau tahu bahwa amalan kita jelek semua, baru nyadar, baru kecewa sendiri.

Jadi bagaimana?

Ya teruslah meniti jalan pulang. Lakukan segala macam kebaikan apa saja yang kita bisa lakukan, tetapi mentalitasnya dirubah, kata guru-guru. Jangan seperti unjuk prestasi. Tetapi lakukan seperti orang yang minta tolong. Orang yang minta tolong, pasti “menengok” yang dimintai tolong.

kalau kita selalu menengok Yang Dimintai Tolong, berarti memang kita ga peduli dengan bentukan lahiriah amal kita. Tak sempat untuk merasa besar. Itulah makna Billah.

Dan nantinya, sak suka-suka Allah saja menyelamatkan kita entah dari celah yang mana. Seperti Umar yang diselamatkan karena burung pipit -padahal amalan beliau seabrek-abrek, bukan?- seperti juga kisah seorang pelacur yang diselamatkan karena memberi minum seekor anjing, dan kisah seorang pembunuh yang memenggal seratus orang kemudian pada ujung hidupnya diselamatkan karena keinginan taubat (kembali ke Allah).

washbir, wama shobruka illa billah

BERMALAM DI RUMAH PENGHUNI SYURGA

image

Ada sebuah kisah yang sangat masyhur tentang seorang sahabat yang disebut sebagai penghuni syurga oleh Rasulullah SAW. Ceritanya, saat Rasulullah sedang mengajar pada sebuah majelis ilmu, tiba-tiba Nabi SAW berhenti dan berkata bahwa di pintu dekat mereka itu nanti akan masuk seorang penghuni syurga.

Kejadian tersebut sempat berulang sebanyak kurang lebih tiga kali. Hingga para sahabat yang tentunya orang-orang berilmu dan ahli ibadah menjadi penasaran juga. Kira-kira semantap apakah amalan yang dilakukan seseorang yang disebut-sebut selalu oleh Rasulullah SAW sebagai penghuni syurga itu?

Adalah Abdullah Ibnu Umar, seorang sahabat lainnya, sangat penasaran dan hendak menyelidiki sang penghuni syurga yang selalu disebut-sebut Rasulullah itu. Lalu Abdullah Ibnu Umar menyambangi orang tersebut, sowan, dan numpang bermalam.

Beberapa hari numpang bermalam di rumah orang tersebut, Abdullah Ibnu Umar tidak kunjung menemukan sesuatu yang istimewa. Sholatnya biasa, sholat malampun biasa saja malah kurang jika dibandingkan Abdullah Ibnu Umar.

Akhirnya, karena penasaran, Abdullah Ibnu Umar berterus terang kepada sahabat itu, dan menceritakan hal ihwal alasannya bermalam disana. Sang penghuni syurga yang disebut Rasulullah SAW tadi dengan jujur mengatakan bahwa tak satupun amalan dia istimewa. Apa yang disaksikan Abdullah Ibnu Umar adalah amalan yang dia biasa lakukan setiap hari. Tak lebih. Tak kurang.

Abdullah Ibnu Umar pun akhirnya beranjak pamit. Setelah berapa langkah berlalu, sang sahabat ahli syurga itu kemudian memanggil Abdullah Ibnu Umar dan berkata bahwa tiada keistimewaan pada dirinya. Hanya saja, dia tidak pernah menyimpan dengki dan dendam pada orang lain. Setiap sebelum tidur dia tafakur, kemudian berdoa dan memaafkan semua orang sehingga dia tidur tanpa menyimpan dengki dan dendam pada siapapun.

“Inilah yang telah mengangkat derajat tuan!” Kata Abdullah Ibnu Umar.

Guru-guru yang arif, banyak mengajarkan praktik seperti yang dilakukan sahabat itu. Bertafakur, untuk kemudian mengingat Allah dan melepaskan segala dendam, segala dengki, dan pendeknya segala apapun saja yang membebani jiwa kita. Amalan yang sederhana, tetapi jika dilakukan dengan dawam bisa membersihkan hati dan mengangkat derajat.

Ada ilustrasi yang menarik. Jika kita melihat sebuah bunga. Bunga yang sama sekali belum pernah kita lihat sebelumnya. Selama beberapa menit kita perhatikan bunga itu, lalu kita alihkan pandangan, atau kita pejamkan mata, atau bunga itu dibuang sama sekali; bayangan bunga itu masih bisa kita munculkan lagi di dalam benak kita.

Bayangan bunga di dalam benak kita, adalah suatu memori.

Yang mengamati bayangan itu, adalah al-aql atau spiritual heart atau hati itu sendiri (hati dalam konteks hati yang halus, bukan hati jasadiah). Sebagian orang menyebut yang mengamati itu dengan “kesadaran” atau consciusness kita.

Berpuluh tahun kita hidup, beribu bayangan masuk ke dalam benak kita. Apa saja yang masuk ke dalam benak kita, kita rekam. Sebagian dari bayangan itu (atau rekam masa lalu itu) kita sukai, maka kita terus-terusan menyimpan bayangan itu dalam benak kita. Sesuatu yang tersimpan dan kita “gondeli” istilahnya; akan menjadi lekat dan lebih dari sekedar peristiwa. ianya bisa merusak hati kita. Dalam kaitannya dengan cerita sahabat tadi, saya rasa sahabat itu terus menerus melakukan pembersihan jiwa dengan melepaskan segala peristiwa dari benaknya.

Memorinya tetap ada, tetapi kelekatan jiwa terhadap peristiwa itu sudah hilang. Karena dia maafkan.

Jadi, sebenarnya, konsep kita tentang diri kita, adalah dibentuk dari kumpulan persepsi masa lalu.

Misalnya kita bernama budi. Apa yang si Budi sukai. Cara si Budi memandang. Karakter si Budi, semuanya adalah kumpulan rekam masa lalu yang diketahui oleh Al-aql.

Ibarat kata, yang selama ini dia anggap sebagai “budi” itu sebenarnya tidak ada. Budi adalah kumpulan persepsi yang diketahui oleh Al-aql.

Orang yang tercerahkan, -baru saya mengerti-, bahwa mereka memandang kumpulan memori masa lalu hanyalah sebagai kumpulan memori semata. Tidak menjadi sesuatu yang lekat dan mengotori hatinya.

Kita -kata para arifin- adalah kumpulan peristiwa. Dan sebuah amalan yang luar biasa ringan, tetapi jika dilakukan secara rutin, dawam, akan memiliki efek yang sangat besar adalah menengok kembali ruang batin kita, dan melakukan bersih-bersih. Tazkiyatun nafs.

Memandang peristiwa masa silam, sebagai peristiwa semata, dan tidak menjadikan sesuatu yang lekat dan mengotori jiwa.

PROSES MERINDU

Saya ingat, suatu ketika seorang kawan saya pernah dimarahi habis-habisan oleh pimpinan di perusahaan tempat saya bekerja. Apa pasal? Pasalnya adalah rekan kerja saya ini tidak melaporkan kepada pimpinan, tentang sebuah incident.

Sebenarnya, incidentnya itu sendiri adalah sebuah incident kecil. Tidak ada korban. Tidak ada kerusakan berarti. Bisa diselesaikan sendiri dengan segera. Pendek kata, hampir bisa diabaikan. Tetapi, kenapa sang pimpinan sangat marah?

Ternyata, kemarahan itu bukan pada incidentnya, tetapi pada “pelanggaran” terhadap “proses” yang berlaku di perusahaan. Setiap incident, harus dilaporkan kepada pimpinan. Itu peraturannya. Dan pelanggaran terhadap hal itu, berarti pelanggaran terhadap proses yang mesti berlaku. Pelanggaran terhadap proses, bahkan bisa lebih fatal, ketimbang incidentnya itu sendiri.

Di dalam kehidupan keseharian kita, saya rasa hal ini juga applicable. Dalam bingkai spiritualitas yang telah diajarkan Rasulullah kita diberitahu sebuah proses yang mesti kita lakukan untuk menyaring sesuatu. Proses itu adalah membandingkan atau mem-filter, atau menguji-cobakan sesuatu dengan kitabullah, dan Sunnah-nya. Baru selepas itu kita boleh menerima, atau menolak sesuatu.

“Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan sesat selama-lamanya yaitu: Kitabullah dan sunnah NabiNya.” Al Hadist.

Meng-crosscheck sesuatu yang kita yakini, dengan literatur Qur’an dan Sunnah, adalah sebuah metodologi, sebuah proses. Orang yang tidak sesat, adalah orang yang menjalankan proses itu. Artinya, seseorang itu patuh pada metodologi yang sudah diajarkan Rasulullah SAW.

Pertanyaannya adalah, apakah setiap orang yang sudah menjalankan proses, menjalankan metodologi yang sama; akan selalu berujung pada kesimpulan yang sama? Belum tentu. Karena, banyak faktor yang akan menghasilkan sebuah kesimpulan akhir. Bisa faktor sosio-kultural. Bisa faktor kepahaman seseorang. Bisa faktor ketrampilan bahasa. Bisa faktor derajat ketersingkapan (mukasyafah) seseorang. Macam-macamlah. Tetapi intinya, jika sebelum seseorang sampai pada kesimpulan akhir; dia sudah membandingkan segala sesuatunya dengan Quran, dan Sunnah, sebatas apa yang dia pahami dengan segala daya yang ada pada dirinya; maka “sudah menjalankan proses-lah orang itu”.

Empat mazhab ada, karena perbedaan keilmuan, cara pandang, latar budaya, kelengkapan data, dan lain sebagainya. Tetapi, empat-empatnya sudah menjalankan proses, apa itu? Upaya membandingkan sesuatu dengan Quran dan dengan Sunnah.

Apabila sudah dilakukan upaya pembandingan itu, maka sudah termasuk orang-orang yang dijamin oleh Rasulullah, tidak akan termasuk yang sesat. Allah SWT maha mengetahui apakah seseorang sudah menjalankan sesuai dengan proses yang semestinya berlaku, ataukah tidak.

Hal ini berarti pula, saat ada sebuah pendapat, katakanlah seorang alim-kah, seorang arifin-kah, seorang bijak cendikia-kah, kita ikuti; kita tidak mengikuti karena ketokohan orang tersebut. Tetapi kita mengikuti mereka karena mereka bersesuaian dengan Quran dan Sunnah setelah kita coba pahami dengan segala keterbatasan kita yang manusiawi.

Bagaimana jika ternyata pilihan kita itu berbeda dengan rekan kita? Pertanyaannya adalah, apakah rekan kita sudah menggunakan proses yang sama? Jika proses yang sama sudah digunakan, metodologi yang sama sudah digunakan, maka ibarat hujjah sudah bertemu hujjah, tak boleh ada hujaT.

Karena yang Maha luas dan komprehensif pemahamannya hanyalah Dia, maka kebenaran sejati hanya milik Dia juga. Kita, dan rekan kita itu, sama-sama perindu ridhoNya.

KESEMPITAN YANG MENDEWASAKAN

Dulu, saya termasuk satu dari sekian manusia yang merasa apabila diberikan kelapangan dalam hidup saya bersyukur, apabila mendapat kesempitan saya menganggap Allah sedang marah kepada saya.

Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya (Allâh) mengujinya, lalu membatasi rezekinya (menjadikannya hidup dalam kekurangan), maka dia berkata: “Rabbku menghinakanku” .Sekali-kali tidak (demikian), …(al-Fajr/89:15-16)

Alhamdulillah, belakangan saya memahami bahwa kelapangan dan kesempitan, dua-duanya adalah sarana Allah mengenalkan diriNya kepada hambaNya.

Orang yang mengenal Allah, akan mendekat pada Allah lewat jalan kesyukuran saat mendapat kelapangan, atau juga semakin mendekat pada Allah lewat jalan kesabaran dan rasa fakir (rasa butuh terhadap pertolongan Allah) saat mendapat kesempitan.

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda : “Ketika Allah menciptakan makhluk, Allah menulis di dalam kitabNya, Dia menulis atas diriNya, Dia meletakkan di sisiNya pada Arasy : “Sesungguhnya rahmatKu mengalahkan kemurkaanKu”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Alam raya ini begitu besar, dan manusia begitu kecil. Sungguh salahlah orang-orang yang putus asa terhadap rahmat Tuhan. Dan keliru pula orang-orang yang mempersepsikan Tuhan sebagai sesuatu yang “butuh” kepada penghormatan manusia. Dan dilain sisi juga mempersepsikan bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang begitu tersinggungan dan gemar menyiksa manusia.

Alam raya ini sebesar ini, bisa kita bayangkan kuasa yang DIA miliki. Kasarannya, apa perlunya DIA dengan manusia yang kecil ini? Tuhan tidak menjadi terhormat dengan penghormatan manusia, Tuhan  juga tidak ada kepentingan untuk menyengsarakan manusia di alam raya yang Dia ciptakan begitu besar dan luas ini.

Berapa jauh jarak matahari ke bumi? Jika menggunakan satuan kecepatan cahaya, maka jarak bumi ke matahari dikatakan konon sekitar delapan menit cahaya. Jika satu detik saja, cahaya bisa melaju sejauh 300,000 km. maka delapan menit berarti 300,000 km x 8 menit x 60 detik = 144,000,000 km. Tak terperi jauhnya.

Semakin jauh, berarti pula semakin luasnya alam raya ini. Apalagi jika kita bandingkan antara tatasurya kita dengan sistem perbintangan terdekat yaitu alpha centauri, yang konon dikatakan ilmuwan butuh sekitar 4.3 juta tahun cahaya. Membayangkannya saja sudah sulit. Itu baru ke Alpha centauri. Belum lagi sampai ke ujung galaksi bima sakti.

Diameter Galaksi Bima Sakti, konon 100,000 tahun cahaya. Dan jarak benda terjauh yang manusia bisa observasi dari bumi adalah milyaran tahun cahaya.

Saya bukan ilmuwan, dan bukan bidang saya untuk membahas astronomi. Tetapi gambaran sederhana ini rasanya sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan betapa alam raya ini besar bukan kepalang. Dan pagelaran besar jagad raya ini bukan dalam rangka menyiksa manusia, tetapi dalam rangka mengenalkan Sang Empunya Jagad Raya.

Ibarat kata, Allah menggelar sebuah pentas kolosal untuk mengenalkan dirinya. Segala bintang, nebula, planet, benda-benda yang kita kenal dan tak kita kenal, juga cerita hidup setiap kita, tak lain tak bukan untuk mengenalkan diriNya pada kita. Tak ada urusan dengan siksa-menyiksa.

Karena sifat-sifat yang Dia miliki ada banyak, terkandung dalam asmaul husna, maka cerita setiap orang untuk kembali kepada Dia; bermacam-macam juga.

Ada yang kembali lewat jalan kelapangan (kesyukuran) ada yang kembali dan menjadi kenal padanya lewat jalan kesempitan (sabar dan rasa fakir pada Tuhan). Pendeknya, entry point untuk mengenalNya itu banyak sekali.

Dari sekian banyak Asma’Nya, dua Asma yang Dia pilih untuk dikedepankan pada ummat manusia adalah Rahmaan dan RahiimNya. Bismillahirrahmanirrahim.

Kalimat Bismillahirrahmanirrahim tidak akrab pada masa sebelum kedatangan Rasulullah di Makkah. Orang-orang Makkah kala itu menggunakan kalimat Bismika Allahumma. Dengan namaMu Ya Allah Tuhan kami. Mereka mengakui bahwa Allah adalah Tuhan, tetapi mereka tidak tepat dalam mempersepsikan sifatNya. –tentu terlepas dari fakta bahwa mereka pula mengakui ada sesembahan lain selain Allah-.

Saat hampir keseluruhan aktifitas dalam keseharian kehidupan kita diperintahkan untuk mengawalinya dengan Asma’Nya yang Maha welas asih dan Maha penyayang, berarti pula kita setiap saat diperintahkan untuk membetulkan kembali persepsi kita dalam memandang kehidupan ini. Bahwa kita tidak sedang hidup dalam sebuah dunia yang chaos dan penuh dengan aksi-reaksi kebetulan, tetapi kita hidup dalam balutan Asma’Nya yang Rahmaan dan Rahiim.

Yang memandang kehidupan dalam balutan Rahmaan dan RahiimNya, tidak akan merasa Allah menghinakannya kala dia tertimpa musibah dan kesempitan; melainkan akan kembali pada Allah, dan tidak akan putus asa dalam mengharapkan pertolongan. Karena, sebuah kesempitan yang didesain oleh Sang Maha Welas Asih, mestilah sebuah kesempitan yang mendewasakan dan membahagiakan.