MENAWAR TANGIS

Mungkin ada diantara rekan-rekan yang masih mengingat film seri Bonanza. Sebuah film zaman dulu sekitar tahun 1980-1990 kalau tak khilaf. Dulu saya begitu menggandrungi film koboy jadul itu. Saya kala itu masih begitu kecil, mungkin SD.

Suatu ketika, kami bertandang ke rumah seseorang. Saya lupa apakah orang tersebut sanak saudara atau siapa, yang jelas kami bertandang hingga cukup malam, dan sayalah yang waktu itu mengajak orang tua untuk segera mengendarai motor dan pulang. Pasalnya, saya ingin segera menonton film Bonanza.

Kami pulang ke rumah dengan buru-buru, dan tak lama kemudian setibanya di rumah, lampu mati. Sontak saya menangis. Saya ingat waktu itu saya begitu sedih. Ortu sampai bingung membujuk, dan saya tetap teguh pendirian, menangis bombay dan memarahi om PLN. Kasihan juga PLN, tak tahu-menahu, malah disumpahi oleh anak kecil penggila film Bonanza.

Seperti apa persisnya cerita Bonanza, saya tak ingat lagi. Yang saya ingat hanyalah fragmen dimana saya ndlosor-ndlosor menangis malam itu. Saya geli sekali kalau mengingat itu.

Akan tetapi, ada sebuah fakta menarik yang saya sadari sekarang. Fakta itu adalah tentang “sebuah kesedihan ternyata adalah hasil persepsi manusia.”

Semua orang dewasa akan sepakat, bahwa menangis di malam buta karena mati lampu dan tak bisa nonton Bonanza adalah sebuah kekonyolan. Akan tetapi, sensasi perasaan sedih yang saya kecil alami waktu lalu itu, adalah sensasi perasaan sedih yang sungguhan. Suasana batin yang nyata ada, saya sedih, dan bagi paradigma saya yang sempit di waktu lalu, itu kesedihan yang mendalam.

Dan saya baru mengerti, bahwa seorang dewasapun mengalami level kesedihan yang serupa.

Misalnya, seorang dewasa yang mengalami sebuah masalah, dan dia sedih sekali. Maka sebenarnya level sedih yang dia rasakan akan sama, dengan level sedih seorang anak kecil yang mobil-mobilannya jatuh ke saluran pembuangan air dan hanyut, misalnya. Sama-sama sedih, dan sama-sama duka lara. Hanya saja, pada pandangan mata dewasa, sedih yang pertama adalah bisa dibenarkan, sedih yang kedua hanya dianggap angin lalu. Meskipun nyatanya sama-sama sedih.

Disitulah saya baru mengerti bahwa perasaan manusia, emosi yang manusia miliki, adalah sesuatu yang sangat lekat dengan konsep diri manusia itu sendiri. Paradigma, atau lensa seseorang dalam memandang kehidupan akan sangat mempengaruhi dirinya, mempengaruhi pada level mana dia bisa sedih, pada level mana dia masih bisa santai dan enjoy. Tergantung paradigma.

Seorang anak kecil yang mainannya hilang, bisa tidak menangis, jika dia punya paradigma bahwa mainan itu nanti gampang dibelikan lagi oleh orang tuanya.

Seorang dewasa, bisa saja menangis jika kehilangan bolpoint misalnya, jika bolpoint itu lekat dengan sebuah sejarah. Misalnya bolpoint peninggalan almarhum kakek yang sangat dia sayangi.

Jadi bukan kejadian hidupnya, melainkan lensa manusia, atau paradigma manusia dalam memandang kehidupanlah yang akan sangat menentukan apakah seseorang akan sedih atau gembira. Cara pandang.

Memahami sebuah fakta ini, banyak para pejalan spiritual, pejalan ruhani yang tekun bertafakur akhirnya menyadari bahwa paradigma lama manusia (yang artinya cara dia memandang hidup, bahkan pada gilirannya konsep dia tentang “dirinya” sendiri) bisa dibongkar.

Artinya, seseorang yang tekun bertafakur bisa sampai menyadari bahwa segala sesuatu yang dia miliki, sebenarnya tak benar-benar lekat dengan dirinya. Dirinya, dan segala paradigma itu, sebenarnya dua hal yang terpisah.

Akibatnya, mereka bisa benar-benar menjadi orang yang tenang dan stabil, seperti danau yang diam tak bergolak. Meskipun banyak masalah mendera. Kenapa? Karena mereka berhasil membongkar paradigma dirinya sendiri. Istilahnya, mereka selesai dengan dirinya sendiri. Memandang kehidupan seperti tawar saja.

Hal ini tentu sebuah pencapaian yang dahsyat. Menjadi seseorang yang berjiwa tenang, tentu luar biasa, bukan?

Tetapi satu hal yang perlu dicatat, bahwa dalam banyak kesempatan, kita mengetahui bahwa Rasulullah-pun manusia biasa yang pernah menangis, sedih, dan gembira.

Semisal saat anaknya Ibrahim meninggal dunia, Rasulullah menangis hingga seorang sahabat bertanya, dan Rasulullah menjelaskan bahwa air mata yang mengalir itu adalah tanda hati yang dipenuhi cinta.

Rasulullah mengalirkan air mata, menangis, tetapi tidak meratap. Artinya Rasulullah-pun disergap gejolak perasaan.

Dulu saya sempat bingung. Apakah Rasulullah tidak menjadi orang yang tercerahkan dan memandang kehidupan ini dengan “tawar”?

Akhirnya sekarang saya mengerti.

Bahwa ada tingkatan di atasnya lagi. Tingkatan itu adalah bahwa seorang yang benar-benar tercerahkan, mereka tidak merutuk pada kejadian hidup, tetapi mereka memaknai kehidupan sebagai sebuah hubungan yang personnal antara manusia dan penciptaNya.

Sang Pencipta, menzahirkan kejadian hidup sebagai jalan pengenalan manusia kepada Tuhan. Dan orang-orang yang terus menerus mengingati Allah dalam segala jenak hidupnya, akan mengalami gejolak suasana batin yang bermacam-macam.

Pada zahirnya, boleh jadi sama-sama menangis. Seseorang yang kehilangan akan menangis sebagai sebuah ungkapan yang keluar dari batinnya. Tetapi, seorang yang tidak mengenal Allah akan menangisi kehilangan kebendaan. Sesuatu yang “rendah”. Sedang orang yang mengenal Allah, akan menangis karena “terpandang” pada kenyataan bahwa segalanya dari Allah, pada Allah-lah segalanya kembali.

Tangisan, atau senyuman, atau apapun saja reaksi fisik, akan bernilai berbeda, tergantung dari apa yang bergejolak di dalam hatinya.

———

*) gambar pertama saya pinjam dari sini

*) gambar kedua saya pinjam dari sini

PENGETAHUAN YANG MEMBINASAKAN

Masyhur kita dengar ungkapan, jangan banyak bertanya, nanti seperti kaum Bani Israil, binasa karena banyak bertanya.

Singkat cerita, di zaman Nabi Musa as terjadi pembunuhan yang mengakibatkan perdebatan karena mereka saling tuduh tentang siapa pembunuhnya. Allah SWT memberitahukan pada Musa as agar Bani Israil menyembelih sapi betina, dan memukul mayat tersebut dengan salah satu bagian dari sapi betina yang telah disembelih, agar sang mayat menjadi hidup kembali dan memberitahukan mengenai siapa yang membunuhnya.

Tetapi dasar Bani Israil “jahil”, alih-alih menuruti perintah, mereka malah mengejek dan sibuk berkelit dengan pertanyaan.

Perintah awalnya sederhana, sembelih sapi betina! Tetapi mereka tidak puas dan bertanya (sebab mereka masih ada semacam rasa sungkan menyembelih sapi yang dulunya sempat mereka jadikan berhala).

Akhirnya diberitahu bahwa sapinya adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda.

Alih-alih melakukan, merekapun sibuk bertanya lagi, dan bertanya lagi (karena memang enggan melakukan). Hingga akhirnya syarat sapinya menjadi demikian rumit.

Sapi betina, tidak tua tidak muda, belum pernah dipakai membajak tanah, tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak cacat, tak ada belangnya.

Dan konon pula Bani Israil harus membayar sangat mahal untuk sapi betina itu karena susah didapatkan.

Ternyata, pertanyaan seperti inilah yang tidak boleh, yaitu bertanya yang mempersulit diri sendiri karena di dalam dirinya memang ada keengganan untuk melaksanakan perintah.

Lalu, di dalam sebuah hadist pula ada cerita dimana Rasulullah marah kepada orang-orang yang bertanya kepada beliau dengan maksud mengejek, yaitu pertanyaan yang tidak penting. Rasulullah sedang ceramah, orang-orang malah bertanya siapa bapaknya? apakah antara dirinya dan bapaknya ada pertalian nasab? dimana untanya?

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Satu kaum bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan maksud mengejek. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Siapa ayahku?’ Orang yang untanya tersesat berkata, ‘Di mana untaku?’ Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat ini, ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya menyusahkan kalian’.” (al-Mâ-idah/5:101)

Lalu ada juga kita dengar hadist bahwa saat Rasulullah berkhutbah dan mewajibkan haji, ada orang yang bertanya spontan “apakah setiap tahun?” Dan Rasulullah diam, hingga orang tersebut mengulangi pertanyaannya tiga kali, lalu Rasul katakan seandainya Beliau mengiyakan, maka hal tersebut akan menjadi wajib dan kalian tidak akan sanggup.

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji kepada kalian, maka berhajilah”. Seseorang berkata,”Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Maka beliau diam hingga orang tersebut mengulanginya sampai tiga kali, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Kalau aku katakan ya, niscaya hal tersebut menjadi wajib, dan niscaya kalian tidak akan sanggup,” kemudian beliau bersabda,”Biarkanlah aku terhadap apa yang aku tinggalkan kepada kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena pertanyaan dan penentangan mereka kepada nabi-nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakan semampu kalian. Dan jika aku melarang sesuatu pada kalian, tinggalkanlah” (HR. Muslim)

Ternyata, konteks bertanya yang keliru adalah banyak bertanya karena keengganan melakukan, bertanya hal yang tidak praktikal, dan bertanya yang pertanyaan itu nanti malah menyulitkan diri sendiri.

Saya ingat ada sebuah cerita, saya lupa siapakah ulama yang diceritakan ini. Suatu hari dalam pengajian, seorang anak muda bertanya pada ulama itu, “Bagaimanakah cara orang sholat menghadap kiblat kalau dia lagi di bulan?”

Maka sang Ulama menjawab, “Duhai anak muda, salah sekali pertanyaanmu, harusnya kamu bertanya bagaimana caranya biar kita bisa pergi ke bulan?”

Sang ulama, mengajarkan anak muda itu untuk bertanya sesuatu yang lebih manfaat dan praktikal.

Berarti, saat kita menempatkan pertanyaan dalam konteksnya yang tepat, bukan pertanyaan jahil seperti di atas, maka “bertanya” itu akan menjadi gerbang ilmu.

Teringat sebuah kisah saat ada seorang sahabat yang mati karena mandi wajib dan membasahi kepalanya padahal kepalanya sedang terluka.

Abu Daud meriwayatkan bahwa Jabir ra berkata, “Kami sedang pergi dalam sebuah perjalanan. Lalu ada seorang dari kami yang terkena batu sehingga kepalanya terluka. Setelah itu pada malam hari ia “bermimpi”. Iapun bertanya kepada sahabat-sahabatnya, “Apa saya boleh tayammum?”

Mereka berkata, “Tidak ada rukhsah (keringanan) bagimu jika masih bisa memergunakan air.”

Akhirnya ia mandi dan tidak lama kemudian meninggal dunia.

Ketika sampai di Madinah, kami sampaikan peristiwa tersebut kepada Nabi saw. Beliau berujar, “Mereka telah membinasakannya, semoga mereka dibinasakan oleh Allah. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak tahu. Obat dari ketidaktahuan adalah bertanya. Cukup bagi orang tadi (yang kepalanya terluka) untuk bertayammum, membalut lukanya, lalu mengusapnya. Sementara bagian tubuh lainnya disiram dengan air.”

Obat dari ketidaktahuan adalah bertanya.

Sebagaimana kita sudah mengetahui bahwa ada bertanya yang mencerahkan, ada bertanya yang membinasakan, begitu juga dengan ilmu ada berguna dan ada yang tak berguna.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR . Muslim)

Jika obat dari ketidak tahuan adalah bertanya, maka berarti melalui gerbang pertanyaan (keingintahuan) lah maka ilmu akan datang.

Dan tantangannya adalah, bagaimana kita bisa menjadikan ilmu yang kita punya sebagai sesuatu yang praktikal, berdaya guna, agar ilmu menjadi bermanfaat. Tuliskan, sebarkan, ajarkan pada orang lain sebatas yang kita tahu, meski satu ayat.

———-

gambar saya pinjam dari sini

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑