YANG MENCINTA DAN KEMBALI (3)

Setiap manusia, memiliki takdir kehidupan yang berbeda-beda. Setiap takdir kehidupan tak ada yang tanpa makna. Potongan kejadian apapun dalam hidup sesungguhnya adalah cerita tentang DIA.

Dalam setiap takdir, disitulah sifat-sifatNya terceritakan. Orang-orang yang hanya melihat potongan kejadian hidup semata, akan gagal melihat cerita dariNya.

Orang-orang yang memaknai hidup sebagai kendaraan pulang, akan melihat bahwa setiap kejadian hidup membawa pengenalannya sendiri akan Dia. Pengenalan itu bisa lewat suasana hati.

Suasana batin yang bergolak pada Nabi Musa as dan Nabi Sulaiman as, pastilah berbeda. Kita bisa tengok perbedaan itu dari potongan doa kedua Nabi tersebut.

“Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.” (An-Naml :15).

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (An-Naml :19).

Dua doa di atas adalah potongan doa Nabi Sulaiman as.

Jika kita kelompokkan, doa-doa Nabi Sulaiman pada surat An-Naml adalah sangat jelas merupakan gambaran dari orang yang “kembali” pada Allah lewat jalan kesyukuran. Situasi batin Nabi Sulaiman penuh dengan kebersyukuran atas anugerah yang melimpah menghujani beliau.

Kita bisa tengok bedanya dengan potongan doa Nabi Musa as berikut:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.” (Al-Qashas: 16)

“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang lalim itu.” (Al-Qashas: 21)

“Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (Al-Qashas: 24)

Sedangkan doa Nabi Musa as, merupakan gambaran orang yang “kembali” pada Allah lewat jalan kefakiran. Doa yang mencerminkan rasa butuh yang sangat, doa yang lahir dari perasaan dan suasana batin yang merasa kecil dan tidak mampu.

Kan tak mungkin, Nabi Sulaiman berdoa kepada Allah dengan muatan doa seperti Nabi Musa as?

Kenapa tak mungkin? Karena suasana batinnya berbeda.

Suasana batin, merupakan refleksi dari pengalaman kehidupan.

Singkat kata, takdir hidup yang berbeda, membuat kedua Nabi -yang tentu saja merupakan kedua hamba terpilih, Allah SWT itu- mengakrabi Allah lewat entry point yang berbeda.

Yang satu lewat rasa kebersyukuran yang sangat, yang satu lewat rasa fakir dan butuh terhadap pertolongan Allah.

Nabi Muhammad SAW, “dekat” dengan Nabi Musa as dalam hal bahwa Beliau-pun “kembali” pada Allah lewat gerbang rasa fakir.

Masyhur kita dengar bahwa Rasulullah SAW meminta hidup dalam keadaan miskin, mati dalam keadaan miskin, dikumpulkan dan dibangkitkan dalam keadaan miskin. Miskin adalah metafor dari rasa fakir pada Allah.

Akan tetapi, yang manapun juga, yang jelas bahwa segala takdir kehidupan -dan suasana batin itu- menghantarkan mereka “kembali” pada Allah.

Orang yang kembali lewat jalan kefakiran, berarti mengakrabi Allah lewat sifat-sifat keagunganNya. Mereka melihat bahwa kejadian hidup mereka merupakan cara Allah memperkenalkan diriNya lewat sifat-sifat keagungan semisal Yang Maha Menolong, Yang Mengatur Hidup, dan lain-lain.

Orang yang kembali pada Allah lewat jalan kebersyukuran, berarti mengakrabi Allah lewat pengenalan akan sifat-sifat keindahanNya. Maha Kasih, Maha Penyayang, dsb.

Sebenarnya. Setiap takdir manusia sudah sedemikian rupa di-set sehingga pastilah ada penzahiran dari makna atau sifat-sifat Allah, pengenalan Allah pada hambaNya.

Jadi sebenarnya, kendaraan pulang setiap orang adalah takdir hidup mereka masing-masing. Tinggal jadikan takdir kehidupan kita sebagai kendaraan pulang.

Akan tetapi tentu, hanya yang diberi anugerahlah yang mampu melihat pengaturan Dia di sebalik takdir kehidupan, dan akhirnya kembali lewat gerbang Nama-nama Nya (sifat-sifat).

Sedangkan yang tak mendapat anugerah, hanya melihat kejadian hidup semata. Kesulitan dan kelapangan hidup, tidak menghantarkan mereka “kembali”.

YANG MENCINTA DAN KEMBALI (2)

Ada sebuah hadist, yang dari dulu saya agak bingung apa korelasinya hadist ini? Alhamdulillah, saya mendapatkan pencerahan dari Ustadz Abdul Aziz. Saya hendak ceritakan pula disini.

Hadist tersebut kurang lebih isinya: “Yang paling aku sukai dari dunia ini, wanita, wangi-wangian, dan sholat.”

Hadist itu dulu yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa sholat ditempatkan pada level yang sejajar dengan wanita dan wangi-wangian?

Ada penjelasan yang mengatakan bahwa wanita, wewangian dan sholat diletakkan dalam satu tema yang sama, yaitu konteks feminin-nya. Ya saya pikir okelah.

Tetapi, baru sekarang saya mengerti sebuah pendekatan yang menarik lagi bahwa hadist itu tidak bercerita tentang level yang sama. Maksudnya, Rasulullah bukanlah menyamakan antara sholat, wangi-wangian, dan wanita. Melainkan Rasulullah bercerita tentang penghalang “perjalanan” dan solusinya.

Jadi begini kurang lebih, telah kita pahami bahwa di dalam diri manusia ada “dorongan”, dan dorongan itu bermacam-macam bentuknya, tetapi mayoritas dorongan atau kehendak (hawa) dari dalam diri manusia (nafs/ nafsu) itu menuju ke arah keburukan.

Salah satu dari sekian banyak dorongan itu adalah syahwat. Dan itu natural sekali. Sangat logis, bahwa dorongan (hawa) dari dalam diri (nafsu) yang berupa syahwat ini merupakan salah satu palang terbesar bagi orang-orang yang ingin meniti jalan kembali kepada Allah.

Sebagian spiritualis, mereka menyadari akan hal ini, dan menjalani hidup kerahiban. Pada kuil-kuil, umpamanya. Mereka malah sama sekali meninggalkan hawa di dalam diri, untuk menjadi pandito. Sisi spiritual mereka meningkat pesat sekali, tetapi bagi islam ini tak sesuai fithrah. Tak natural. Karena manusia dilengkapi dengan dorongan jasadiah.

Solusi dalam islam adalah dengan lembaga pernikahan. Begitulah, memang benar bahwa menikah itu separuh agama. Karena sehebat apapun orang, dia akan sulit untuk total menuju Allah selama dia masih dihalangi kebutuhan jasadiah. Salah satu dari gejolak jasadiah itu bisa diredam dengan pernikahan.

Itulah maksud dari hadist itu, setelah penghalang perjalanan diredam, maka berwangilah dan menghadap kepada Allah tanpa dihalangi anasir-anasir tingkat rendah lagi. Make sense.

Serupa dengan itu, puasa-pun bertujuan meredam gejolak. Hanya saja, saya rasa puasa itu tidak hanya meredam gejolak syahwat, tetapi juga meredam gejolak yang lebih kompleks, semisal amarah, kesedihan, dan segala macamnya yang disetir oleh pengaruh hormonal.

Maka sebagaimana menikah sebagai upaya memuluskan perjalanan menuju Tuhan, saya kira puasa-pun begitu. Ianya bukanlah sebuah ibadah yang berdiri sendiri tanpa konteks, tetapi dia berada dalam bingkai cerita orang-orang yang kembali.

Puasa, sebagai pemulus perjalanan.

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑