YANG MEMULUSKAN JALAN PULANG

Suatu kali. Selepas pulang dari sebuah rig pengeboran, saya menjadi begitu bersemangat melakukan amalan puasa Daud.

Apa pasal? pasalnya saya bertemu dengan seorang senior di Rig pengeboran tersebut yang sudah belasan tahun mendawamkan puasa Daud.

Singkat cerita, saya langsung melakukan puasa Daud, selama sebulanan lebih, mungkin dua bulanan. Tetapi anehnya, semakin berpuasa saya semakin gelisah. Ada suatu kondisi dimana saya merasakan bahwa hawa nafsu itu ternyata seperti binatang buas. Dia tidak mati, melainkan hanya sembunyi untuk kemudian muncul lagi pada momennya yang tepat.

Lama saya merenungi kenapa puasa saya tidak membuahkan hasil yang saya harapkan? lalu saya belajar mengilmui puasa.

Ada beberapa catatan untuk diri saya sendiri, semoga saja catatan ini bisa berguna untuk rekan-rekan.

Yang pertama adalah, untuk segala macam ibadah sunnah yang manusia lakukan secara dawam, itu disetir oleh suasa ruhani. Suasana ruhani yang ada pada diri manusia itu disebut dengan “Ahwal”. Ahwal, akan melahirkan amal, kata Ibnu Athoillah.

Kenapa ada orang yang getol sekali beribadah sunnah puasa, misalnya. Getol sekali zikiran misalnya. Atau getol sekali bersedekah. Dan amalan mereka itu dawam bertahun-tahun mereka lakukan. itu disebabkan ada Ahwal yang men-drive mereka. Ahwal ini bisa berbeda-beda, dan setiap ahwal yang berbeda akan melahirkan bentukan amal yang berbeda pula.

Itu pertama. Saya mencoba melakukan amalah seseorang yang mendapatkan ahwal yang mendorong Beliau untuk dawam puasa daud berbelas tahun. Sedang saya, tak ada Ahwal-nya, maka amal saya akan sulit mewujud.

Lha….apa kalau begitu harus menunggu ahwal dulu?

Ndak begitu, ini kita bicara dalam konteks “Amalan itu amalan sunnah” dan yang kedua dalam konteks amalan sunnah yang dilakukan itu pada level superior-lah istilahnya. Sesuatu yang dahsyat.

Jadi kurang lebih, laksanakan kewajiban peribadatan kita dengan baik. Setelah itu tambahkan dengan amalan sunnah yang kita mampu. Setelah itu, biasanya kita akan tahu sendiri, amalan sunnah yang mana yang lebih “ringan” bagi kita untuk melaksanakannya dengan tekun dan dawam, berarti itulah amalan sunnah yang menjadi entry point kita untuk mendekat kepada Allah. Bukan berarti tidak beramal, ya. Saya yakin rekan-rekan paham maksud saya.

Yang kedua adalah, Bahwa puasa itu bukanlah untuk icip-icip suasana menjadi orang miskin. Dulu saya mengira puasa itu adalah untuk icip-icip menjadi orang miskin. supaya kita lebih bisa trenyuh terhadap penderitaan fakir miskin.

Ternyata bukan begitu. Tentu kita tahu itu salah satu efeknya. Yang berikutnya adalah kita tahu juga bahwa puasa goal-nya adalah membentuk manusia yang taqwa. Tentu.

Tapi bagaimana jelasnya prosesnya taqwa dibentuk karena puasa?

Ternyata puasa itu ibarat memuluskan jalan bagi orang-orang yang ingin kembali kepada Allah.

Saat manusia ingin kembali kepada Allah, maka akan ada banyak penghalang.

Dari dalam diri manusia saja, ada beberapa penghalang. Ada situasi hormonal manusia yang berupa gejolak nafsu. Amarah. Perasaan sedih dan duka yang disetir oleh hormon, dan macam-macam.

Kesemua hal itu akan diredam dengan puasa. Maka setelah berpuasa selama beberapa hari, metabolisme akan lancar. Hormonal terkendali. Dan segala anasir penghalang dari dalam tubuh manusia itu sendiri seakan dipangkas. Dan itulah saat yang tepat bagi jiwa manusia “kembali” ke Allah. MengingatiNya tanpa ada penghalang.

Maka berpuasa semata, tanpa ada langkah ruhani untuk “kembali” kepadaNya, istilahnya begitu, akan sia-sia saja. Karena puasa adalah memuluskan jalan, membersihkan rintangan.

Setelah mulus, dan rintangan dihilangkan, maka kita sudah semestinya berjalan.

PULANG.

——————-

gambar dipinjam dari sini

MEMBUKA PINTU RAHMAT

Manusia, adalah makhluk yang pembosan. Tabiat manusia adalah tergesa-gesa karena sifat pembosannya itu. Konon, sebelum selesai benar disempurnakan, Adam as sudah tergesa-gesa ingin berdiri.

Yang tak dilengkapi rasa bosan, adalah Malaikat. Konon kita dengar ada malaikat yang tugasnya hanya memuji Allah dengan bertasbih sejak dia diciptakan,sampai sekarang. Itu tok kerjaannya, tak mengeluh, tak ada bosan. Ada yang memanggul arasy, gitu tok, sejak dulu sampai kiamat.

Allah sangat mengetahui sifat pembosan manusia itu, itulah –mungkin– mengapa Allah SWT menciptakan berbagai-bagai amalan lahiriah sebagai jalan mendekatkan diri kepadaNya.

Kita berbicara di luar amalan wajib– Amalan sunnah itu berbagai-bagai, dan manusia bisa mendekatiNya dengan melalui berbagai-bagai entry point itu.

Setiap amalan yang manusia lakukan, disetir oleh kondisi ruhani yang turun kepada manusia itu. –sekali lagi, kita dalam konteks amalan sunnah-.

Maka ada orang yang getol sekali puasa. Ada yang hobinya sholat sunnah. Ada yang hobinya sedekah. Ada yang hobinya sholawatan. Ada yang hobinya tilawah. Kenapa? Ahwal yang berbeda-beda.

Silakan dekati Allah dengan entry point mana saja yang kita suka, karena entry point itu banyak.

Tetapi kuncinya satu. Apapun amalan sunnahnya (bentuk luar ibadah), dalemannya adalah mengingati Allah.

Maka, setelah mengetahui bahwa yang pokok adalah hati (dalam) selalu ingat Allah, dan mengetahui fakta bahwa manusia itu diciptakan dengan tabiat pembosan, dan mengetahui juga fakta bahwa Allah telah menzahirkan macam-macam amaliah; manusia bisa melakukan variasi dalam amaliahnya (luar), asalkan selalu mengingati Allah di dalam jiwanya.

Umpama kita sholat tahajud. Kok rasanya ga “dapet” ya pas sholat tahajud? Maka guru-guru yang arif mengatakan, jangan ngotot.

Ridholah dengan kenyataan bahwa tahajud kita belum bisa khusyu. Jika kita  memaksa ingin khusyu saat kita tahajud dengan ngotot, maka yang timbul adalah nafsu dan kemrungsung kata orang jawa. Hati gelisah dan tak tenang. Karena khusyu itu “given”, sesuatu yang diturunkan karena anugerah.

Sebaiknya terimalah kenyataan bahwa  tahajud kita barusan tak sempurna, lalu misalnya mendekati Allah lewat jalan istighfar atas ke-tak sempurnaan amal,  setelah itu tetaplah mencoba dekati Allah dengan variasi bentukan luar ibadah lainnya.

Bisa “kejar” lewat tilawah.

Lewat tilawah kok rasanya belum “dapet”? kejar lewat sholat dhuha. Atau kejar lewat sedekah.

Pendeknya, di DALAM harus selalu ingat Allah, dan bentukan LUAR ibadah akan menyesuaikan ahwal apa yang turun pada kita.

Seperti cerita Ibnu Qayyim al jauziyah, Beliau biasa berdzikir bakda subuh sampai waktu dhuha.

Saat itu beliau merasa berdzikir kok mentok, rasanya seperti hambar?

Maka beliau tidak ngotot, melainkan tetap zikiran dan “santai” menerima bahwa saat itu tidak bisa “total”.

Sejurus kemudian beliau mendengar berita ada tetangga yang meninggal. Dia tinggalkan zikirannya, lalu dia ganti amaliah dengan membantu pemakaman tetangga.

Aneh tapi nyata, saat bantu tetangga itulah dia merasakan “rahmat” turun.

Jadi, amaliah sunnah bisa berbagai-bagai, dan dekatilah Allah lewat jalan yang mana saja, tak mesti ngotot satu jalan, karena kita tak tahu lewat jalan mana Rahmat itu dibukakan.

Seperti misalnya saat ada tamu, maka amaliyah yang bisa kita lakukan adalah dengan menerima tamu dan memuliakannya, bukannya meninggalkan tamu dan sibuk sholat dhuha.

Meninggalkan tamu dan sibuk sholat dhuha, membuat sang tamu menunggu dengan gelisah, adalah sebuah sikap ketertipuan. Menyangka bahwa hanya amaliyah sunnah berbentuk sholat dhuha itulah yang bisa membuat rahmat Allah datang. Padahal, jika tetap mengingati Allah pada hatiNya, manusia bisa melakukan amaliyah luaran yang sesuai kondisi saat itu. Menerima tamu, pada konteks itu, adalah lebih tepat dibanding sholat dhuha.

Orang-orang arif mengatakan, nantinya kita bisa merasakan, dari amaliyah yang mana Allah turunkan rahmatNya.

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑