MENAWAR TANGIS

Mungkin ada diantara rekan-rekan yang masih mengingat film seri Bonanza. Sebuah film zaman dulu sekitar tahun 1980-1990 kalau tak khilaf. Dulu saya begitu menggandrungi film koboy jadul itu. Saya kala itu masih begitu kecil, mungkin SD.

Suatu ketika, kami bertandang ke rumah seseorang. Saya lupa apakah orang tersebut sanak saudara atau siapa, yang jelas kami bertandang hingga cukup malam, dan sayalah yang waktu itu mengajak orang tua untuk segera mengendarai motor dan pulang. Pasalnya, saya ingin segera menonton film Bonanza.

Kami pulang ke rumah dengan buru-buru, dan tak lama kemudian setibanya di rumah, lampu mati. Sontak saya menangis. Saya ingat waktu itu saya begitu sedih. Ortu sampai bingung membujuk, dan saya tetap teguh pendirian, menangis bombay dan memarahi om PLN. Kasihan juga PLN, tak tahu-menahu, malah disumpahi oleh anak kecil penggila film Bonanza.

Seperti apa persisnya cerita Bonanza, saya tak ingat lagi. Yang saya ingat hanyalah fragmen dimana saya ndlosor-ndlosor menangis malam itu. Saya geli sekali kalau mengingat itu.

Akan tetapi, ada sebuah fakta menarik yang saya sadari sekarang. Fakta itu adalah tentang “sebuah kesedihan ternyata adalah hasil persepsi manusia.”

Semua orang dewasa akan sepakat, bahwa menangis di malam buta karena mati lampu dan tak bisa nonton Bonanza adalah sebuah kekonyolan. Akan tetapi, sensasi perasaan sedih yang saya kecil alami waktu lalu itu, adalah sensasi perasaan sedih yang sungguhan. Suasana batin yang nyata ada, saya sedih, dan bagi paradigma saya yang sempit di waktu lalu, itu kesedihan yang mendalam.

Dan saya baru mengerti, bahwa seorang dewasapun mengalami level kesedihan yang serupa.

Misalnya, seorang dewasa yang mengalami sebuah masalah, dan dia sedih sekali. Maka sebenarnya level sedih yang dia rasakan akan sama, dengan level sedih seorang anak kecil yang mobil-mobilannya jatuh ke saluran pembuangan air dan hanyut, misalnya. Sama-sama sedih, dan sama-sama duka lara. Hanya saja, pada pandangan mata dewasa, sedih yang pertama adalah bisa dibenarkan, sedih yang kedua hanya dianggap angin lalu. Meskipun nyatanya sama-sama sedih.

Disitulah saya baru mengerti bahwa perasaan manusia, emosi yang manusia miliki, adalah sesuatu yang sangat lekat dengan konsep diri manusia itu sendiri. Paradigma, atau lensa seseorang dalam memandang kehidupan akan sangat mempengaruhi dirinya, mempengaruhi pada level mana dia bisa sedih, pada level mana dia masih bisa santai dan enjoy. Tergantung paradigma.

Seorang anak kecil yang mainannya hilang, bisa tidak menangis, jika dia punya paradigma bahwa mainan itu nanti gampang dibelikan lagi oleh orang tuanya.

Seorang dewasa, bisa saja menangis jika kehilangan bolpoint misalnya, jika bolpoint itu lekat dengan sebuah sejarah. Misalnya bolpoint peninggalan almarhum kakek yang sangat dia sayangi.

Jadi bukan kejadian hidupnya, melainkan lensa manusia, atau paradigma manusia dalam memandang kehidupanlah yang akan sangat menentukan apakah seseorang akan sedih atau gembira. Cara pandang.

Memahami sebuah fakta ini, banyak para pejalan spiritual, pejalan ruhani yang tekun bertafakur akhirnya menyadari bahwa paradigma lama manusia (yang artinya cara dia memandang hidup, bahkan pada gilirannya konsep dia tentang “dirinya” sendiri) bisa dibongkar.

Artinya, seseorang yang tekun bertafakur bisa sampai menyadari bahwa segala sesuatu yang dia miliki, sebenarnya tak benar-benar lekat dengan dirinya. Dirinya, dan segala paradigma itu, sebenarnya dua hal yang terpisah.

Akibatnya, mereka bisa benar-benar menjadi orang yang tenang dan stabil, seperti danau yang diam tak bergolak. Meskipun banyak masalah mendera. Kenapa? Karena mereka berhasil membongkar paradigma dirinya sendiri. Istilahnya, mereka selesai dengan dirinya sendiri. Memandang kehidupan seperti tawar saja.

Hal ini tentu sebuah pencapaian yang dahsyat. Menjadi seseorang yang berjiwa tenang, tentu luar biasa, bukan?

Tetapi satu hal yang perlu dicatat, bahwa dalam banyak kesempatan, kita mengetahui bahwa Rasulullah-pun manusia biasa yang pernah menangis, sedih, dan gembira.

Semisal saat anaknya Ibrahim meninggal dunia, Rasulullah menangis hingga seorang sahabat bertanya, dan Rasulullah menjelaskan bahwa air mata yang mengalir itu adalah tanda hati yang dipenuhi cinta.

Rasulullah mengalirkan air mata, menangis, tetapi tidak meratap. Artinya Rasulullah-pun disergap gejolak perasaan.

Dulu saya sempat bingung. Apakah Rasulullah tidak menjadi orang yang tercerahkan dan memandang kehidupan ini dengan “tawar”?

Akhirnya sekarang saya mengerti.

Bahwa ada tingkatan di atasnya lagi. Tingkatan itu adalah bahwa seorang yang benar-benar tercerahkan, mereka tidak merutuk pada kejadian hidup, tetapi mereka memaknai kehidupan sebagai sebuah hubungan yang personnal antara manusia dan penciptaNya.

Sang Pencipta, menzahirkan kejadian hidup sebagai jalan pengenalan manusia kepada Tuhan. Dan orang-orang yang terus menerus mengingati Allah dalam segala jenak hidupnya, akan mengalami gejolak suasana batin yang bermacam-macam.

Pada zahirnya, boleh jadi sama-sama menangis. Seseorang yang kehilangan akan menangis sebagai sebuah ungkapan yang keluar dari batinnya. Tetapi, seorang yang tidak mengenal Allah akan menangisi kehilangan kebendaan. Sesuatu yang “rendah”. Sedang orang yang mengenal Allah, akan menangis karena “terpandang” pada kenyataan bahwa segalanya dari Allah, pada Allah-lah segalanya kembali.

Tangisan, atau senyuman, atau apapun saja reaksi fisik, akan bernilai berbeda, tergantung dari apa yang bergejolak di dalam hatinya.

———

*) gambar pertama saya pinjam dari sini

*) gambar kedua saya pinjam dari sini

PENGETAHUAN YANG MEMBINASAKAN

Masyhur kita dengar ungkapan, jangan banyak bertanya, nanti seperti kaum Bani Israil, binasa karena banyak bertanya.

Singkat cerita, di zaman Nabi Musa as terjadi pembunuhan yang mengakibatkan perdebatan karena mereka saling tuduh tentang siapa pembunuhnya. Allah SWT memberitahukan pada Musa as agar Bani Israil menyembelih sapi betina, dan memukul mayat tersebut dengan salah satu bagian dari sapi betina yang telah disembelih, agar sang mayat menjadi hidup kembali dan memberitahukan mengenai siapa yang membunuhnya.

Tetapi dasar Bani Israil “jahil”, alih-alih menuruti perintah, mereka malah mengejek dan sibuk berkelit dengan pertanyaan.

Perintah awalnya sederhana, sembelih sapi betina! Tetapi mereka tidak puas dan bertanya (sebab mereka masih ada semacam rasa sungkan menyembelih sapi yang dulunya sempat mereka jadikan berhala).

Akhirnya diberitahu bahwa sapinya adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda.

Alih-alih melakukan, merekapun sibuk bertanya lagi, dan bertanya lagi (karena memang enggan melakukan). Hingga akhirnya syarat sapinya menjadi demikian rumit.

Sapi betina, tidak tua tidak muda, belum pernah dipakai membajak tanah, tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak cacat, tak ada belangnya.

Dan konon pula Bani Israil harus membayar sangat mahal untuk sapi betina itu karena susah didapatkan.

Ternyata, pertanyaan seperti inilah yang tidak boleh, yaitu bertanya yang mempersulit diri sendiri karena di dalam dirinya memang ada keengganan untuk melaksanakan perintah.

Lalu, di dalam sebuah hadist pula ada cerita dimana Rasulullah marah kepada orang-orang yang bertanya kepada beliau dengan maksud mengejek, yaitu pertanyaan yang tidak penting. Rasulullah sedang ceramah, orang-orang malah bertanya siapa bapaknya? apakah antara dirinya dan bapaknya ada pertalian nasab? dimana untanya?

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Satu kaum bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan maksud mengejek. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Siapa ayahku?’ Orang yang untanya tersesat berkata, ‘Di mana untaku?’ Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat ini, ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya menyusahkan kalian’.” (al-Mâ-idah/5:101)

Lalu ada juga kita dengar hadist bahwa saat Rasulullah berkhutbah dan mewajibkan haji, ada orang yang bertanya spontan “apakah setiap tahun?” Dan Rasulullah diam, hingga orang tersebut mengulangi pertanyaannya tiga kali, lalu Rasul katakan seandainya Beliau mengiyakan, maka hal tersebut akan menjadi wajib dan kalian tidak akan sanggup.

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji kepada kalian, maka berhajilah”. Seseorang berkata,”Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Maka beliau diam hingga orang tersebut mengulanginya sampai tiga kali, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Kalau aku katakan ya, niscaya hal tersebut menjadi wajib, dan niscaya kalian tidak akan sanggup,” kemudian beliau bersabda,”Biarkanlah aku terhadap apa yang aku tinggalkan kepada kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena pertanyaan dan penentangan mereka kepada nabi-nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakan semampu kalian. Dan jika aku melarang sesuatu pada kalian, tinggalkanlah” (HR. Muslim)

Ternyata, konteks bertanya yang keliru adalah banyak bertanya karena keengganan melakukan, bertanya hal yang tidak praktikal, dan bertanya yang pertanyaan itu nanti malah menyulitkan diri sendiri.

Saya ingat ada sebuah cerita, saya lupa siapakah ulama yang diceritakan ini. Suatu hari dalam pengajian, seorang anak muda bertanya pada ulama itu, “Bagaimanakah cara orang sholat menghadap kiblat kalau dia lagi di bulan?”

Maka sang Ulama menjawab, “Duhai anak muda, salah sekali pertanyaanmu, harusnya kamu bertanya bagaimana caranya biar kita bisa pergi ke bulan?”

Sang ulama, mengajarkan anak muda itu untuk bertanya sesuatu yang lebih manfaat dan praktikal.

Berarti, saat kita menempatkan pertanyaan dalam konteksnya yang tepat, bukan pertanyaan jahil seperti di atas, maka “bertanya” itu akan menjadi gerbang ilmu.

Teringat sebuah kisah saat ada seorang sahabat yang mati karena mandi wajib dan membasahi kepalanya padahal kepalanya sedang terluka.

Abu Daud meriwayatkan bahwa Jabir ra berkata, “Kami sedang pergi dalam sebuah perjalanan. Lalu ada seorang dari kami yang terkena batu sehingga kepalanya terluka. Setelah itu pada malam hari ia “bermimpi”. Iapun bertanya kepada sahabat-sahabatnya, “Apa saya boleh tayammum?”

Mereka berkata, “Tidak ada rukhsah (keringanan) bagimu jika masih bisa memergunakan air.”

Akhirnya ia mandi dan tidak lama kemudian meninggal dunia.

Ketika sampai di Madinah, kami sampaikan peristiwa tersebut kepada Nabi saw. Beliau berujar, “Mereka telah membinasakannya, semoga mereka dibinasakan oleh Allah. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak tahu. Obat dari ketidaktahuan adalah bertanya. Cukup bagi orang tadi (yang kepalanya terluka) untuk bertayammum, membalut lukanya, lalu mengusapnya. Sementara bagian tubuh lainnya disiram dengan air.”

Obat dari ketidaktahuan adalah bertanya.

Sebagaimana kita sudah mengetahui bahwa ada bertanya yang mencerahkan, ada bertanya yang membinasakan, begitu juga dengan ilmu ada berguna dan ada yang tak berguna.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR . Muslim)

Jika obat dari ketidak tahuan adalah bertanya, maka berarti melalui gerbang pertanyaan (keingintahuan) lah maka ilmu akan datang.

Dan tantangannya adalah, bagaimana kita bisa menjadikan ilmu yang kita punya sebagai sesuatu yang praktikal, berdaya guna, agar ilmu menjadi bermanfaat. Tuliskan, sebarkan, ajarkan pada orang lain sebatas yang kita tahu, meski satu ayat.

———-

gambar saya pinjam dari sini

YANG MENCINTA DAN KEMBALI (4)

Tanpa hidayah, perjalanan sejauh apapun yang dilakukan manusia hanya akan membuat manusia melihat “keteraturan-keteraturan” di alam ini, tidak sampai membuat manusia menyadari Sang Pencipta keteraturan itu.

Ambil contoh tentang gerhana. Bangsa primitif jaman dulu mempercayai mitos bahwa gerhana itu disebabkan oleh sesuatu yang ghaib karena bulan ditelan oleh batara kala. Oleh sebab itu, orang-orang dulu membuat bebunyian yang riuh dengan tujuan agar batara kala mengeluarkan kembali bulan yang telah dia telan.

Setelah lebih maju, sains, membantu manusia menyingkap, bahwa gerhana ternyata “disebabkan” oleh posisi bumi matahari dan bulan yang berada dalam satu garis lurus. Sains, telah menyibak bahwa gerhana bukanlah disebabkan sesuatu yang “ghaib”.

Semakin hari, semakin banyak hal yang disingkap oleh sains, dan sebab itu, persepsi manusia tentang keghaiban menjadi pudar. Termasuk dalam hal ini adalah kepercayaan tentang Tuhan.

Dulunya, manusia mengira bahwa Tuhan terlibat dalam hampir segala lini kehidupan manusia, tetapi setelah mengetahui fakta sains manusia menyadari bahwa semakin mereka “mempelajari” dan “menyibak” alam semesta, mereka akan bertemu dengan “keteraturan-keteraturan”.

Dengan memahami gejala keteraturan itu, maka manusia bisa menggunakan hukum sebab-akibat itu untuk kepentingan dirinya. Tetapi persandaran manusia kepada Tuhan menjadi pudar. Karena keteraturan di alam ini bisa dibuktikan secara empiris. Sedang Tuhan, tak terjangkau.

Siang dan malam karena rotasi bumi. Gerhana karena revolusi. Dan apel jatuh karena gravitasi. Hampir-hampir tak ada Tuhan disana, kata sebagian golongan.

Mengenai gravitasi ini, kita tahu bahwa cerita apel jatuh dan Newton yang mendapatkan “ilham” mengenai gravitasi; sangatlah masyhur. Kita dengarkan apa kata Newton mengenai hukum temuannya itu, “Gravitasi menerangkan gerakan planet-planet, namun tidak dapat menerangkan siapa yang menggerakkannya pertama kali. Tuhan mengatur semua hal dan mengetahui apa saja yang ada atau dapat dilakukan.”

Itulah yang saya maksudkan dengan “tanpa hidayah, manusia akan ‘hanya’ terpandang pada keteraturan-keteraturan di alam semesta”. Manusia semakin sulit menyadari keterlibatan Tuhan, karena kemana mereka menyibak, disitu mereka menemukan hukum alamiah yang menyebabkan sesuatu terjadi.

Ilmuwan besar, Stephen Hawkings, sempat menulis bahwa “tidak perlu Tuhan untuk menggerakkan alam semesta ini”, karena dalam pencariannya, Hawkings menemukan bahwa begitu banyak keteraturan di alam semesta. Hukum-hukum yang menjadi sebab segala yang terlihat. Saking teraturnya, dia menyimpulkan Tuhan tak perlu ikut andil dalam mengatur alam semesta yang sudah bergerak sesuai dengan tatanan yang ada ini.

Di sini, saya menemukan bahwa wejangan ulama-ulama arif -meski dengan bahasa yang tidak berbau sains- sejatinya melampaui jamannya.

Para guru-guru kearifan, mengatakan bahwa segala yang ada ini (benda-benda atau ciptaan apapun saja) adalah sesuatu yang “diadakan” oleh Tuhan.

Sesuatu yang diadakan atau dizahirkan oleh Tuhan, disebut dengan sesuatu yang “Baharu”, maksudnya, ciptaan adalah sesuatu yang memiliki awal, maka itu disebut “baharu”.

Sesuatu yang baharu, adalah kreasionalnya Allah. Sebuah pagelaran yang bercerita tentang sifat-sifat yang Dia hendak nyatakan.

Lawannya, -kalau boleh dikatakan begitu- adalah Sang Penciptanya. Yang ada tanpa ada permulaan, disebut QADIM.

Sang Pencipta, adalah tak serupa tak seumpama. Dia adalah rahasia dibalik rahasia. Begitu apik Allah menzahirkan alam raya sebagai bukti keberadaan diriNya, tetapi sekaligus sebagai tabir bagi orang-orang yang tak mampu “membaca” pertanda.

Sang Pencipta tidak akan bisa disentuh oleh pencapaian terhebat sains, ataupun pendakian tertinggi dari spiritual manusia siapapun saja.

Oleh ulama dulu, mereka samarkan bahasan ini dengan mengatakan bahwa, yang BAHARU (segala ciptaan), tak akan pernah bisa mengkaji yang QADIM. sebabnya adalah yang QADIM memang tak akan pernah terjangkau. Tak ada umpama yang bisa menggapainya.

Itu sebab, segala benda, segala kejadian hidup, hukum sebab-akibat, keteraturan alam raya, dan apapun saja yang bisa manusia kaji dan teliti adalah bukan Dia.

Hanya orang-orang yang menyerah, dan meyakini bahwa ada DIA yang tak serupa tak seumpama, yang menciptakan segala yang zahir inilah yang akan diberikan kepahaman.

Sebagaimana Ibrahim as, yang mengkaji bulan, mengkaji bintang, tetapi kemudian menyerah, dan mengaku ‘Sesung­guhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.'” (QS. al-An’am: 77)

‘Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.'” (QS. al-An’am: 78-79)

“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” Thaha -110

Artinya, pembacaan, pengkajian, pencapaian terhebat manusia sekalipun, hanya akan bisa mengantar manusia “membaca” ismi Robbi. Asma-asma penciptaanya. Kreasionalnya. Kejadian hidup yang terzahir yang merangkum sifat-sifat dan makna-makna tentang Dia.

ALLAH sendiri tak akan terbaca, tak akan tertengok, tak tersentuh, oleh science semutakhir apapun saja, oleh pendakian spiritual setinggi apapun saja.

Sehingga, dengan mengetahui fakta ini kita akan tahu kemana tempat “pulang” kita, tak terkecoh kita oleh benda-benda, karena kita tahu bahwa kepada Sang Pemilik Kehidupan dan segala yang terhampar inilah kita “kembali”.

YANG MENCINTA DAN KEMBALI (3)

Setiap manusia, memiliki takdir kehidupan yang berbeda-beda. Setiap takdir kehidupan tak ada yang tanpa makna. Potongan kejadian apapun dalam hidup sesungguhnya adalah cerita tentang DIA.

Dalam setiap takdir, disitulah sifat-sifatNya terceritakan. Orang-orang yang hanya melihat potongan kejadian hidup semata, akan gagal melihat cerita dariNya.

Orang-orang yang memaknai hidup sebagai kendaraan pulang, akan melihat bahwa setiap kejadian hidup membawa pengenalannya sendiri akan Dia. Pengenalan itu bisa lewat suasana hati.

Suasana batin yang bergolak pada Nabi Musa as dan Nabi Sulaiman as, pastilah berbeda. Kita bisa tengok perbedaan itu dari potongan doa kedua Nabi tersebut.

“Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.” (An-Naml :15).

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (An-Naml :19).

Dua doa di atas adalah potongan doa Nabi Sulaiman as.

Jika kita kelompokkan, doa-doa Nabi Sulaiman pada surat An-Naml adalah sangat jelas merupakan gambaran dari orang yang “kembali” pada Allah lewat jalan kesyukuran. Situasi batin Nabi Sulaiman penuh dengan kebersyukuran atas anugerah yang melimpah menghujani beliau.

Kita bisa tengok bedanya dengan potongan doa Nabi Musa as berikut:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.” (Al-Qashas: 16)

“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang lalim itu.” (Al-Qashas: 21)

“Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (Al-Qashas: 24)

Sedangkan doa Nabi Musa as, merupakan gambaran orang yang “kembali” pada Allah lewat jalan kefakiran. Doa yang mencerminkan rasa butuh yang sangat, doa yang lahir dari perasaan dan suasana batin yang merasa kecil dan tidak mampu.

Kan tak mungkin, Nabi Sulaiman berdoa kepada Allah dengan muatan doa seperti Nabi Musa as?

Kenapa tak mungkin? Karena suasana batinnya berbeda.

Suasana batin, merupakan refleksi dari pengalaman kehidupan.

Singkat kata, takdir hidup yang berbeda, membuat kedua Nabi -yang tentu saja merupakan kedua hamba terpilih, Allah SWT itu- mengakrabi Allah lewat entry point yang berbeda.

Yang satu lewat rasa kebersyukuran yang sangat, yang satu lewat rasa fakir dan butuh terhadap pertolongan Allah.

Nabi Muhammad SAW, “dekat” dengan Nabi Musa as dalam hal bahwa Beliau-pun “kembali” pada Allah lewat gerbang rasa fakir.

Masyhur kita dengar bahwa Rasulullah SAW meminta hidup dalam keadaan miskin, mati dalam keadaan miskin, dikumpulkan dan dibangkitkan dalam keadaan miskin. Miskin adalah metafor dari rasa fakir pada Allah.

Akan tetapi, yang manapun juga, yang jelas bahwa segala takdir kehidupan -dan suasana batin itu- menghantarkan mereka “kembali” pada Allah.

Orang yang kembali lewat jalan kefakiran, berarti mengakrabi Allah lewat sifat-sifat keagunganNya. Mereka melihat bahwa kejadian hidup mereka merupakan cara Allah memperkenalkan diriNya lewat sifat-sifat keagungan semisal Yang Maha Menolong, Yang Mengatur Hidup, dan lain-lain.

Orang yang kembali pada Allah lewat jalan kebersyukuran, berarti mengakrabi Allah lewat pengenalan akan sifat-sifat keindahanNya. Maha Kasih, Maha Penyayang, dsb.

Sebenarnya. Setiap takdir manusia sudah sedemikian rupa di-set sehingga pastilah ada penzahiran dari makna atau sifat-sifat Allah, pengenalan Allah pada hambaNya.

Jadi sebenarnya, kendaraan pulang setiap orang adalah takdir hidup mereka masing-masing. Tinggal jadikan takdir kehidupan kita sebagai kendaraan pulang.

Akan tetapi tentu, hanya yang diberi anugerahlah yang mampu melihat pengaturan Dia di sebalik takdir kehidupan, dan akhirnya kembali lewat gerbang Nama-nama Nya (sifat-sifat).

Sedangkan yang tak mendapat anugerah, hanya melihat kejadian hidup semata. Kesulitan dan kelapangan hidup, tidak menghantarkan mereka “kembali”.

YANG MENCINTA DAN KEMBALI (2)

Ada sebuah hadist, yang dari dulu saya agak bingung apa korelasinya hadist ini? Alhamdulillah, saya mendapatkan pencerahan dari Ustadz Abdul Aziz. Saya hendak ceritakan pula disini.

Hadist tersebut kurang lebih isinya: “Yang paling aku sukai dari dunia ini, wanita, wangi-wangian, dan sholat.”

Hadist itu dulu yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa sholat ditempatkan pada level yang sejajar dengan wanita dan wangi-wangian?

Ada penjelasan yang mengatakan bahwa wanita, wewangian dan sholat diletakkan dalam satu tema yang sama, yaitu konteks feminin-nya. Ya saya pikir okelah.

Tetapi, baru sekarang saya mengerti sebuah pendekatan yang menarik lagi bahwa hadist itu tidak bercerita tentang level yang sama. Maksudnya, Rasulullah bukanlah menyamakan antara sholat, wangi-wangian, dan wanita. Melainkan Rasulullah bercerita tentang penghalang “perjalanan” dan solusinya.

Jadi begini kurang lebih, telah kita pahami bahwa di dalam diri manusia ada “dorongan”, dan dorongan itu bermacam-macam bentuknya, tetapi mayoritas dorongan atau kehendak (hawa) dari dalam diri manusia (nafs/ nafsu) itu menuju ke arah keburukan.

Salah satu dari sekian banyak dorongan itu adalah syahwat. Dan itu natural sekali. Sangat logis, bahwa dorongan (hawa) dari dalam diri (nafsu) yang berupa syahwat ini merupakan salah satu palang terbesar bagi orang-orang yang ingin meniti jalan kembali kepada Allah.

Sebagian spiritualis, mereka menyadari akan hal ini, dan menjalani hidup kerahiban. Pada kuil-kuil, umpamanya. Mereka malah sama sekali meninggalkan hawa di dalam diri, untuk menjadi pandito. Sisi spiritual mereka meningkat pesat sekali, tetapi bagi islam ini tak sesuai fithrah. Tak natural. Karena manusia dilengkapi dengan dorongan jasadiah.

Solusi dalam islam adalah dengan lembaga pernikahan. Begitulah, memang benar bahwa menikah itu separuh agama. Karena sehebat apapun orang, dia akan sulit untuk total menuju Allah selama dia masih dihalangi kebutuhan jasadiah. Salah satu dari gejolak jasadiah itu bisa diredam dengan pernikahan.

Itulah maksud dari hadist itu, setelah penghalang perjalanan diredam, maka berwangilah dan menghadap kepada Allah tanpa dihalangi anasir-anasir tingkat rendah lagi. Make sense.

Serupa dengan itu, puasa-pun bertujuan meredam gejolak. Hanya saja, saya rasa puasa itu tidak hanya meredam gejolak syahwat, tetapi juga meredam gejolak yang lebih kompleks, semisal amarah, kesedihan, dan segala macamnya yang disetir oleh pengaruh hormonal.

Maka sebagaimana menikah sebagai upaya memuluskan perjalanan menuju Tuhan, saya kira puasa-pun begitu. Ianya bukanlah sebuah ibadah yang berdiri sendiri tanpa konteks, tetapi dia berada dalam bingkai cerita orang-orang yang kembali.

Puasa, sebagai pemulus perjalanan.

YANG MENCINTA DAN KEMBALI (1)

Apa jadinya, seandainya kekisah para Nabi yang kita dengar, tidak sedikitpun menggambarkan bahwa merekapun adalah manusia biasa yang pernah khilaf?

Saya rasa, ummat mereka yang terlanjur berdosa akan hidup dalam penyesalan panjang dan rasa putus asa untuk “sampai” kepada Allah. Sebab tak ada tuntunan pertaubatan.

Tetapi tidak. Kita tahu dalam sejarah bahwa Adam as memulai tugas besar kekhalifahan dengan dosa memakan buah khuldi. Yunus as sempat pergi dan meninggalkan tugas dakwah pada kaum ninawa. Musa as pernah membunuh. Dan sederet nama orang-orang suci lainnya yang ternyata manusia biasa, pernah khilaf dan berdosa, namun mereka meniti jalan panjang pertaubatan yang mengantarkan mereka kembali kepada Allah.

Premisnya sederhana saja. Jika orang semulia mereka saja pernah bersalah, apalagi model kita ini?

Dan kesimpulan selanjutnya adalah, bahwa seperti apapun kesalahan kita, ternyata yang penting adalah kita meniti jalan “pulang”. Karena tema hidup ini sebenarnya mencari jalan pulang. Dan salah satu jalan panjang menuju Allah itu dimulai pada gerbang pertaubatan.

Taubat berarti “kembali”. Dan orang-orang yang kembali, diganjar langsung dengan peringkat “dicintai” Allah. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al-Baqarah : 222).

Tidak peduli seperti apa track record kekhilafan, asalkan kekhilafan menjadi jalan pertaubatan, yang berarti menghantarkan seseorang kembali kepada Allah, berarti orang itu diberi rahmat oleh Allah. Berarti pula dia masuk dalam golongan orang-orang yang dicintaiNya.

Dalam konteks “kembali” kepada Allah inilah, saya rasa, puasa menemukan maknanya. Sebagai  sesuatu yang Allah ganjar khusus. Salah satu sebabnya saya kira, karena puasa ini adalah salah satu lelaku yang memudahkan jalan “kembali” seseorang kepada Allah.

Saat manusia ingin kembali kepada Allah, banyak hal yang mengganggu mereka.

Hal yang mengganggu itu bisa jadi dorongan dari luar diri, yaitu sesuatu keburukan yang disetir oleh dorongan syaitan. Dan untuk sebuah keburukan yang datang dari LUAR diri kita ini, ada antitesisnya, yaitu sebuah dorongan kebaikan yang juga datang dari LUAR diri kita, katakanlah dorongan malaikat.

Itu jika kita bicara anasir di LUAR diri manusia. Tetapi, karena manusia selain merupakan makhluk ruhani, juga merupakan makhluk jasadi sekaligus. Maka ada satu lagi dorongan atau kehendak yang muncul dari dalam diri manusia itu sendiri.

Diri manusia itu disebut “Nafs” atau disebut “Nafsu”, dan kehendak yang muncul disebut “Hawa”. Kita mengenalnya sebagai Hawa Nafsu. Dorongan dari dalam diri kita sendiri.

Dorongan diri kita sendiri ini, lebih cenderung kearah keburukan. Tabiatnya adalah mencari sesuatu yang menyenangkan. Atau bisa juga membesarkan sesuatu sehingga menjadi tak terkontrol.

Ilustrasinya adalah begini. Semisal kita mendapatkan sebuah suasana ruhani yang “given”, artinya ada sebuah dorongan kebaikan yang “datang” kepada kita, sehingga kita merasakan perasaan takut kepada Allah. Bukankah itu baik?

Ya, itu baik. Sampai kemudian kehendak dari dalam diri, hawa dari nafs ikut bermain, dan membesarkan volume ketakutan itu, dari “khauf” yang tadinya mendorong orang kembali pada Allah, kemudian malah menjadi rasa putus asa yang menjauhkan manusia dari Allah.

Perumpamaan lainnya adalah semisal kita mendapatkan suasana ruhani yang “given” berupa rasa cinta kepada Allah. Tetapi karena faktor hawa dari dalam nafs, maka dorongan rasa cinta itu menjadi berlebihan, sehingga tadinya cinta, menjadi lalai dan menggampangkan saking merasa dekat.

Itu perumpamaan Hawa di dalam nafs manusia. Banyak lagi dorongan dari dalam diri manusia itu sendiri, yang semuanya cenderung pada keburukan. Misalnya perasaan marah dan emosi yang hormonal. Contoh paling simpel adalah wanita saat menjelang haid.

Atau macam-macam lagi dorongan emosional karena pengaruh jasadi. Amarah. Kesedihan. Kegembiraan berlebih. Dan berbagai-bagai, yang disetir oleh hormon.

Manusia akan sangat sulit meniti jalan kembali kepada Allah, sebab rintangan ini banyak sekali. Sudahlah ada dari luar, ada pula dari dalam diri.

Maka, untuk orang-orang yang kesulitan meniti jalan kembali, kesulitan melakukan laku spiritual mengingati Allah dan meniti jalan pulang, dianjurkan berpuasa. (Tentu Ramadhan lain soal, itu kewajiban).

Maka puasa, hemat saya bukanlah sebuah ibadah yang berdiri sendiri. Agak tidak masuk akal, bukan, jika kita tidak makan, kita tidak minum, kemudian kok ujug-ujug Allah cinta pada kita dan Allah mengatakan bahwa Puasa itu untukKu. Dan Allah membanggakan kita diantara para malaikatNya?

Kan agak aneh saja, seperti ada yang kurang.

Baru sekarang saya memahami, bahwa puasa merupakan sebuah mekanisme logis, yang memuluskan jalan bagi orang-orang yang meniti jalan pulang. Segala hambatan dari dalam diri manusia itu sendiri, hawa dari dalam nafs, akan diredam oleh mekanisme puasa. Gejolak diri mereda, dan manusia menjadi lebih mudah untuk meniti jalan “kembali”.

Dalam konteks meniti jalan kembali inilah, saya kira, jika kita puasa, maka kita akan menjadi orang-orang yang dibanggakan Allah diantara malaikatNya. Karena kita bersusah payah dengan segala cara, agar dalam kelemahan manusia yang natural ini, kita tetap bisa “pulang”.

 

YANG MEMULUSKAN JALAN PULANG

Suatu kali. Selepas pulang dari sebuah rig pengeboran, saya menjadi begitu bersemangat melakukan amalan puasa Daud.

Apa pasal? pasalnya saya bertemu dengan seorang senior di Rig pengeboran tersebut yang sudah belasan tahun mendawamkan puasa Daud.

Singkat cerita, saya langsung melakukan puasa Daud, selama sebulanan lebih, mungkin dua bulanan. Tetapi anehnya, semakin berpuasa saya semakin gelisah. Ada suatu kondisi dimana saya merasakan bahwa hawa nafsu itu ternyata seperti binatang buas. Dia tidak mati, melainkan hanya sembunyi untuk kemudian muncul lagi pada momennya yang tepat.

Lama saya merenungi kenapa puasa saya tidak membuahkan hasil yang saya harapkan? lalu saya belajar mengilmui puasa.

Ada beberapa catatan untuk diri saya sendiri, semoga saja catatan ini bisa berguna untuk rekan-rekan.

Yang pertama adalah, untuk segala macam ibadah sunnah yang manusia lakukan secara dawam, itu disetir oleh suasa ruhani. Suasana ruhani yang ada pada diri manusia itu disebut dengan “Ahwal”. Ahwal, akan melahirkan amal, kata Ibnu Athoillah.

Kenapa ada orang yang getol sekali beribadah sunnah puasa, misalnya. Getol sekali zikiran misalnya. Atau getol sekali bersedekah. Dan amalan mereka itu dawam bertahun-tahun mereka lakukan. itu disebabkan ada Ahwal yang men-drive mereka. Ahwal ini bisa berbeda-beda, dan setiap ahwal yang berbeda akan melahirkan bentukan amal yang berbeda pula.

Itu pertama. Saya mencoba melakukan amalah seseorang yang mendapatkan ahwal yang mendorong Beliau untuk dawam puasa daud berbelas tahun. Sedang saya, tak ada Ahwal-nya, maka amal saya akan sulit mewujud.

Lha….apa kalau begitu harus menunggu ahwal dulu?

Ndak begitu, ini kita bicara dalam konteks “Amalan itu amalan sunnah” dan yang kedua dalam konteks amalan sunnah yang dilakukan itu pada level superior-lah istilahnya. Sesuatu yang dahsyat.

Jadi kurang lebih, laksanakan kewajiban peribadatan kita dengan baik. Setelah itu tambahkan dengan amalan sunnah yang kita mampu. Setelah itu, biasanya kita akan tahu sendiri, amalan sunnah yang mana yang lebih “ringan” bagi kita untuk melaksanakannya dengan tekun dan dawam, berarti itulah amalan sunnah yang menjadi entry point kita untuk mendekat kepada Allah. Bukan berarti tidak beramal, ya. Saya yakin rekan-rekan paham maksud saya.

Yang kedua adalah, Bahwa puasa itu bukanlah untuk icip-icip suasana menjadi orang miskin. Dulu saya mengira puasa itu adalah untuk icip-icip menjadi orang miskin. supaya kita lebih bisa trenyuh terhadap penderitaan fakir miskin.

Ternyata bukan begitu. Tentu kita tahu itu salah satu efeknya. Yang berikutnya adalah kita tahu juga bahwa puasa goal-nya adalah membentuk manusia yang taqwa. Tentu.

Tapi bagaimana jelasnya prosesnya taqwa dibentuk karena puasa?

Ternyata puasa itu ibarat memuluskan jalan bagi orang-orang yang ingin kembali kepada Allah.

Saat manusia ingin kembali kepada Allah, maka akan ada banyak penghalang.

Dari dalam diri manusia saja, ada beberapa penghalang. Ada situasi hormonal manusia yang berupa gejolak nafsu. Amarah. Perasaan sedih dan duka yang disetir oleh hormon, dan macam-macam.

Kesemua hal itu akan diredam dengan puasa. Maka setelah berpuasa selama beberapa hari, metabolisme akan lancar. Hormonal terkendali. Dan segala anasir penghalang dari dalam tubuh manusia itu sendiri seakan dipangkas. Dan itulah saat yang tepat bagi jiwa manusia “kembali” ke Allah. MengingatiNya tanpa ada penghalang.

Maka berpuasa semata, tanpa ada langkah ruhani untuk “kembali” kepadaNya, istilahnya begitu, akan sia-sia saja. Karena puasa adalah memuluskan jalan, membersihkan rintangan.

Setelah mulus, dan rintangan dihilangkan, maka kita sudah semestinya berjalan.

PULANG.

——————-

gambar dipinjam dari sini

MEMBUKA PINTU RAHMAT

Manusia, adalah makhluk yang pembosan. Tabiat manusia adalah tergesa-gesa karena sifat pembosannya itu. Konon, sebelum selesai benar disempurnakan, Adam as sudah tergesa-gesa ingin berdiri.

Yang tak dilengkapi rasa bosan, adalah Malaikat. Konon kita dengar ada malaikat yang tugasnya hanya memuji Allah dengan bertasbih sejak dia diciptakan,sampai sekarang. Itu tok kerjaannya, tak mengeluh, tak ada bosan. Ada yang memanggul arasy, gitu tok, sejak dulu sampai kiamat.

Allah sangat mengetahui sifat pembosan manusia itu, itulah –mungkin– mengapa Allah SWT menciptakan berbagai-bagai amalan lahiriah sebagai jalan mendekatkan diri kepadaNya.

Kita berbicara di luar amalan wajib– Amalan sunnah itu berbagai-bagai, dan manusia bisa mendekatiNya dengan melalui berbagai-bagai entry point itu.

Setiap amalan yang manusia lakukan, disetir oleh kondisi ruhani yang turun kepada manusia itu. –sekali lagi, kita dalam konteks amalan sunnah-.

Maka ada orang yang getol sekali puasa. Ada yang hobinya sholat sunnah. Ada yang hobinya sedekah. Ada yang hobinya sholawatan. Ada yang hobinya tilawah. Kenapa? Ahwal yang berbeda-beda.

Silakan dekati Allah dengan entry point mana saja yang kita suka, karena entry point itu banyak.

Tetapi kuncinya satu. Apapun amalan sunnahnya (bentuk luar ibadah), dalemannya adalah mengingati Allah.

Maka, setelah mengetahui bahwa yang pokok adalah hati (dalam) selalu ingat Allah, dan mengetahui fakta bahwa manusia itu diciptakan dengan tabiat pembosan, dan mengetahui juga fakta bahwa Allah telah menzahirkan macam-macam amaliah; manusia bisa melakukan variasi dalam amaliahnya (luar), asalkan selalu mengingati Allah di dalam jiwanya.

Umpama kita sholat tahajud. Kok rasanya ga “dapet” ya pas sholat tahajud? Maka guru-guru yang arif mengatakan, jangan ngotot.

Ridholah dengan kenyataan bahwa tahajud kita belum bisa khusyu. Jika kita  memaksa ingin khusyu saat kita tahajud dengan ngotot, maka yang timbul adalah nafsu dan kemrungsung kata orang jawa. Hati gelisah dan tak tenang. Karena khusyu itu “given”, sesuatu yang diturunkan karena anugerah.

Sebaiknya terimalah kenyataan bahwa  tahajud kita barusan tak sempurna, lalu misalnya mendekati Allah lewat jalan istighfar atas ke-tak sempurnaan amal,  setelah itu tetaplah mencoba dekati Allah dengan variasi bentukan luar ibadah lainnya.

Bisa “kejar” lewat tilawah.

Lewat tilawah kok rasanya belum “dapet”? kejar lewat sholat dhuha. Atau kejar lewat sedekah.

Pendeknya, di DALAM harus selalu ingat Allah, dan bentukan LUAR ibadah akan menyesuaikan ahwal apa yang turun pada kita.

Seperti cerita Ibnu Qayyim al jauziyah, Beliau biasa berdzikir bakda subuh sampai waktu dhuha.

Saat itu beliau merasa berdzikir kok mentok, rasanya seperti hambar?

Maka beliau tidak ngotot, melainkan tetap zikiran dan “santai” menerima bahwa saat itu tidak bisa “total”.

Sejurus kemudian beliau mendengar berita ada tetangga yang meninggal. Dia tinggalkan zikirannya, lalu dia ganti amaliah dengan membantu pemakaman tetangga.

Aneh tapi nyata, saat bantu tetangga itulah dia merasakan “rahmat” turun.

Jadi, amaliah sunnah bisa berbagai-bagai, dan dekatilah Allah lewat jalan yang mana saja, tak mesti ngotot satu jalan, karena kita tak tahu lewat jalan mana Rahmat itu dibukakan.

Seperti misalnya saat ada tamu, maka amaliyah yang bisa kita lakukan adalah dengan menerima tamu dan memuliakannya, bukannya meninggalkan tamu dan sibuk sholat dhuha.

Meninggalkan tamu dan sibuk sholat dhuha, membuat sang tamu menunggu dengan gelisah, adalah sebuah sikap ketertipuan. Menyangka bahwa hanya amaliyah sunnah berbentuk sholat dhuha itulah yang bisa membuat rahmat Allah datang. Padahal, jika tetap mengingati Allah pada hatiNya, manusia bisa melakukan amaliyah luaran yang sesuai kondisi saat itu. Menerima tamu, pada konteks itu, adalah lebih tepat dibanding sholat dhuha.

Orang-orang arif mengatakan, nantinya kita bisa merasakan, dari amaliyah yang mana Allah turunkan rahmatNya.

MENEMBUSI KEJADIAN HIDUP

Dulu, sebelum mengenal Dia, kita memaknai hubungan dengan Allah itu seperti transaksi jual-beli. Kita memberi sesuatu, Allah memberi sesuatu sebagai timbal balik.

Kadang-kadang, kita memaknai Tuhan sebagai algojo, penyiksa orang-orang yang tidak taat. Tidak sembahyang, disetrika dengan besi panas.

Sekarang kita baru tahu. Bahwa segala ini bukan perkara Allah hendak menyiksa kita. Bukan juga perkara Allah itu mendapatkan sebuah kebahagiaan atau sebuah penghormatan kalau kita sembah. Allah tak butuh itu semua.

Melainkan kehidupan ini sebagai pagelaran cerita saja, Allah menceritakan diriNya. Lewat segala kejadian hidup. Agar kita mengenal Dia sang pemilik kejadian hidup, bukan untuk membuat kita melihat kejadian hidup dan tertambat pada kejadian hidup.

Cobalah  duduk santai, cari tempat yang nyaman. Rileks-kan badan. “Tinggalkan” perhatian kita pada badan raga kasar ini. Rasakan bahwa ada hati di dalam jiwa kita. Sebuah bashiroh, sang pengamat yang mengetahui segala gerak-gerik fikiran dan perasaan.

Setelah  betul-betul merasakan bahwa  jiwa itu terpisah dengan badan wadag yang kasar ini, kita abaikan segala duka-lara. Kita abaikan segala senang-gembira. Berzikirlah dengan pelan dan tadarru.

Menghadaplah kepada Allah. Ingat Allah. Sang Empunya benda-benda, empunya kejadian hidup, empunya sifat dan asma’.

Sang pemilik, tak serupa dengan segala yang Dia miliki. Tak serupa dengan yang Dia cipta.

Dia-lah tujuan peribadatan. Dialah yang kita “saksikan”. Kita bersaksi bahwa Dia-lah pemilik semua ini.

Semua yang terjadi hanyalah cara DIA menceritakan dirinya.

Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (Ali Imran: 53)

YANG TERSEMBUNYI

Sejauh-jauh diri ini melangkah pergi, kan berakhir juga di wajahMu nanti. Sedalam laut biru di bawah bumiku, masih juga kan kutemukan diriMu.

Sebait lagu Opick itu terlantun sangat bening malam kemarin. Pada lekuk-lekuk jalanan Jakarta yang mengular dan merah kerlap-kerlip oleh lampu kendaraan yang dibebat kemacetan.

Saya melihat jalanan dari dalam mobil, sambil meresapi senandung itu, dan lalu kembali disadarkan oleh pertanyaan klise setiap anak cucu adam.

Kenapa kita ada?

Darimana kita ini?

Mau kemana kita ini?

Dan tiba-tiba saja, hari sudah setengah perjalanan -mungkin- lalu berhenti pada sepotong episode dimana kemacetan Jakarta yang klasik membuat sebagian orang larut dalam keletihan yang menyebalkan, tetapi mungkin sebagian orang ada yang malah menikmati jeda perenungan itu.

Melihat deretan panjang mobil yang berderum, lampu-lampu gedung tinggi, siluet awan yang menabiri bulan, dan kaki yang letih menginjak pedal Rem. Orang-orang hendak kemana? mencari apa?

Ya Rabbi…. betapa banyak manusia telah Engkau zahirkan di muka bumi ini.

Kami pergi pagi, pulang larut malam hari. Bekerja mengumpulkan uang untuk kami habiskan pada harta yang tiada pernah benar-benar kami nikmati. Lalu segundukan harta itu mengharuskan kami bekerja lebih payah lagi, agar bisa terjaga kepemilikannya dengan lestari. Untuk inikah manusia ini?

Bila setiap letih hari-hari hanya berhenti pada sejumlah deret angka nol di rekening sendiri, betapa kerdil dan merugi. Keletihan yang tak terelakkan, dan kegagalan menangkap makna.

Saya kembali teringat wejangan seorang guru. Pada mulanya hanya ada DIA. Sang Rahasia Agung, tersembunyi, tiada dikenali.

DIA hendak “melihat diriNya” seolah-olah dari luar diriNya. Maka DIA zahirkanlah makhluk.

Saat alam raya terzahir, DIA gelarkan ceritra. Perjalanan panjang manusia mencari jati dirinya. Siapa kita, dari mana, mau kemana?

Sebagian orang khilaf dalam “membaca”, ada yang berhenti pada pembacaan keberadaan dirinya sendiri. Maka hidup bagi mereka adalah seputar mencari harta, dan benda-benda.

Jika harta dan benda dilekatkan pada diri kita, maka segala yang lekat; menuntut penjagaan dan pemeliharaan. Maka kita semakin letih didera keseharian hidup. Kalaupun bahagia, bahagianya tipuan.

Sebagian orang-orang yang lain, dikenalkanNya pada diriNya. Dan akhirnya mereka menjadi mengerti, bahwa sejak dulu, ceritra kehidupan ini bukan tentang konteks manusia. Tapi tentang DIA. Tentang DIA menyatakan diri.

Pada keseharian yang sama letihnya dengan orang-orang lain yang hiruk pikuk mencari harta semata, orang-orang yang mengenalNya akan bisa menangkap makna. Sesuatu yang lebih dalam.

Ada yang hendak DIA ceritakan lewat nama-namaNya yang baik (Asmaul Husna). Setiap nama menyimpan potensi makna. Setiap makna-makna menceritakan DIA Sang Empunya asma dan sifat.

Maka orang-orang yang kenal padanya, melihat Dunia ini sebagai pagelaran perkenalan dariNya.

Setiap hari DIA menabur rezeki. Menyempitkan siapa yang DIA kehendaki. Melapangkan siapa yang DIA kehendaki. Menguji siapa yang DIA kehendaki, melapangkan dada orang-orang yang teruji; siapa saja yang DIA kehendaki.

Sesiapa yang melihat hidup sebagai ceritra diri mereka sendiri, akan tersiksa oleh semuanya.

Sesiapa yang melihat hidup sebagai pagelaran sifat Tuhannya, dan perkenalan dariNya, akan menyerah. Aslam.

Nabi Muhammad SAW :
…dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS. 27:91)
Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”. (QS. 39:12)

Yang menyerah, tidak memaki kehidupan.

Yang tak memaki kehidupan, akan melihat bahwa kehidupan ini penuh dengan pengaturan.

Yang melihat pengaturan, akan menyadari bahwa setiap pengaturan memilki keindahan makna.

Yang melihat makna dibalik setiap pengaturan menyadari bahwa setiap makna adalah ceritra tentang sifatNya.

Yang kenal sifat kenal asma’Nya.

Yang kenal itu semua akhirnya kenal DIA.