PERKAKAS SAJA

Seorang pimpinan di perusahaan saya berpendapat bahwa dalam dunia pekerjaan yang paling utama adalah self esteem, kata Beliau. Harga diri.

Saya tak setuju, tetapi tidak membantah. Dalam diam saya mengamati dan menjadi teringat dengan banyak sekali kenyataan yang saya jumpai dimana ternyata orang-orang menghargai diri mereka sendiri sesuai bergantung pada penilaian eksternal yang mereka dapat.

Gampangnya, kadang-kadang seseorang baru akan merasa aktual, merasa berada, bila dia mendapatkan penilaian baik dari orang lain, atau dari sebuah kondisi eksternal seperti jabatan, atau harta yang dia miliki. Seperti sebuah fungsi linear, maka seseorang tersebut akan menjadi begitu ambisius mengejar jabatan dan harta, karena keinginan terdalam di dirinya untuk menjadi aktual, untuk ‘dianggep’-lah kasarannya.

Hal ini membenarkan ucapan-ucapan arif dari para guru yang saya temui, bahwa orang-orang yang begitu lekat dengan sesuatu, apakah itu penilaian orang, apakah itu harta, apakah itu jabatan, akan menemukan bahwa diri mereka akan menjadi ‘disetir’ oleh sesuatu yang mereka miliki itu. ‘Attached’.

Saya menyadari fakta yang samar itu, dan pelan-pelan cara pandang saya terhadap pekerjaan menjadi lain.

Tentu saja, kita membutuhkan pekerjaan sebagai sebuah jalan rezeki yang ditakdirkan bagi kita saat ini. Tetapi setelah tersadarkan, kita ternyata akan mengerti bahwa pekerjaan hanyalah sebuah wasilah rezeki. Pekerjaan itu cuma perkakas.

Dan rezeki pula, hanyalah sebuah perkakas, alat yang diberikan oleh Allah agar kita menjalankan fungsi kita sebagai seorang kepala keluarga-kah, sebagai seorang kakak-kah, sebagai seorang yang mendermakan untuk sosial-kah. Jalan untuk menjadi berguna, atau derma bakti kita kepada Allah.

Dengan cara pandang seperti ini, kata para guru, pada gilirannya nanti kita akan menyadari ternyata ada sesuatu yang perlahan-lahan terlepas dari diri kita.

Kita tidak lagi mengidentifikasi diri kita sebagai sesuatu yang lekat dengan jabatan apapun yang kita sandang. Sehingga kita menjadi tidak ambisius. Dan ini ternyata begitu melegakan.

Saya teringat seorang guru pernah berkata bahwa dengan cara pandang kita yang seperti ini, orang-orang akan lambat laun menjadi ‘tenang’ pada keberadaan kita, karena akan menganggap kita ‘harmless’ bukan seseorang yang ingin masuk dalam bursa persaingan dengan mereka. Bukan seseorang yang mengancam aktualisasi mereka.

Banyak kisah saya temukan, orang-orang besar yang berada pada puncak pencapaian karir mereka, kemudian merasakan sesuatu yang kosong dan dengan drastis berhenti dari jabatan pekerjaan mereka. Karena mereka merasakan sesuatu yang seperti ‘Bukan ini yang saya cari, bukan ini’.

Orang-orang tersebut pada puncak pencapaian mereka malah kemudian menyadari bahwa pekerjaan itu semata keran rizki, dan sebagaimana keran, kita tidak pernah memandang bahwa kesempurnaan design sebuah keranlah yang membuat air menjelma. Keran hanya tempat dilewati, itu saja, sederhana sekali.

What matters adalah menyadari sebuah makna yang lebih besar yaitu kita sedang berurusan dengan Sang Pengendali Air, dalam tanda kutip. Yang memberikan rizki dan menitipkan sebuah makna besar pada kita, yaitu mengalirkan rizki pada wadah yang tepat.

Maka mengaitkan diri kita sendiri dengan jabatan dan harta yang kita miliki, akan membuat kita kehilangan arah.

Kita tentu tidak sedang di puncak, tapi tidak perlu untuk sampai di puncak dulu baru menyadari bahwa pekerjaan bukanlah alat untuk menjadi berada. Begitupun harta, bukanlah sesuatu yang harus lekat dan kita identifikasikan sebagai ‘nilai’ diri kita.

Pada pokoknya, yang paling penting adalah menjalankan fungsi kekhalifahan yang sudah dititipkan kepada kita. Apakah dengan menjalankan fungsi itu maka kita kemudian tertakdir menjadi orang-orang yang berada di pucuk pimpinan, atau menjadi orang-orang yang biasa saja dan bukan pengambil kebijakan, tidak masalah. Itu semua tergantung seberapa banyak tanggung jawab yang ditakdirkan pada fungsi kekhalifahan kita orang-perorang.

Pokoknya semuanya hanya perkakas saja. Perangkat. Seperti seseorang yang diberikan tugas memaku sebuah dinding, tentu orang tersebut menggunakan palu dan memaku dindingnya tanpa sibuk mengamati palunya dan menjadikan dirinya terobsesi kepada palu.

Jika kewajiban kita saat ini lebih besar lagi, misalnya kita harus menghidupi katakanlah seribu yatim piatu, maka kita bekerja lebih keras lagi untuk membuka keran rezeki lebih lebar. Tetapi kita tidak attached dengan perkakas-nya. Itulah bedanya.

Seperti Rasulullah, Panglima perang, Kepala Negara, Sekaligus penyandang maqom spiritualitas paling tinggi sepanjang sejarah manusia. Jabatan dan harta ada pada beliau, tetapi tidak pernah melekat dalam jiwanya.

Semakin besar fungsi kekhalifahan seseorang, akan semakin besar atau digdaya perkakas yang Allah titipkan kepada orang itu. Dan seseorang yang menyadari bahwa dia hanya menjalankan tugas, dirinya akan menjadi ‘tiada’, dia tidak soal dan tidak memandang kepada perkakasnya, tidak juga menganggap dirinya hebat dengan segala perkakas yang ada padanya sekarang. Baginya yang penting tugasnya selesai, dan saat waktu tiba nanti dia bisa dengan tenang mengatakan bahwa semua tugas telah dia laksanakan.

 

TUKANG BATU YANG MEMBACA

ini cerita klasik. Suatu hari ada seorang tukang batu. Tukang batu tersebut mencabik-cabik batu dengan palunya yang besar. Bertahun-tahun. Sampai suatu ketika sang tukang batu itu merasa jenuh dan meminta kepada Tuhan. Dalam penatnya, sang tukang batu meminta ditakdirkan mendapat pekerjaan lain.

Tak lama tukang batu ditakdirkan pindah profesi dan menjadi penjual tahu yang selama ini selalu melintas di dekat tempat dia bekerja. Sang tukang batu begitu senang dan akhirnya merasa mimpinya terkabul karena betapa selama ini dia iri dengan tukang tahu, sekarang dia pun menjadi tukang tahu.

Setelah berapa bulan, sang tukang tahu baru ini merasa letih dan penat dengan pekerjaannya. Setiap hari dia diterpa panas menyengat. Sambil menyeka keringat di dahinya dia menatap matahari, dan berdoa betapa enaknya jika dia menjadi matahari.

Singkat kata, doanya mustajab. Dia menjadi matahari. Dia merasa sangat senang dan menabur panas dimana-mana. orang-orang berpeluh dan kepanasan. Cukup lama dia merasakan nikmatnya jadi matahari sampai suatu ketika cahayanya dihalangi awan hitam yang bergulung-gulung. lalu dia hendak pula menjadi awan.

Lagi-lagi terkabul, dia menjadi awan. Dia menikmati menjadi gumpalan gelap yang mengguyuri bumi dengan hujan. Dia membanjiri segalanya, semuanya tersapu kecuali batu karang. Lalu dia ingin menjadi batu karang.

Setelah menjadi batu karang dia merasa begitu digdaya. Tak lekang oleh panas, tak hancur karna hujan dan tempias ombak. Dia merasa begitu kukuh dan terpuaskan.

Sampai suatu hari yang terik. Seorang tukang batu berjalan tegap di atasnya, dan mengayunkan palunya yang besar untuk membelah batu karang itu.

Senada dengan cerita di atas, saya pernah berada dalam sebuah kondisi dimana saya merasakan bahwa hasrat untuk berpindah dari suatu keadaan yang ada pada saya sekarang; merupakan sebuah ketidak-syukuran.

Pasalnya, saya baru mengerti maksud Ibnu Athoillah dalam sebuah petuah singkatnya, yang mengatakan kurang lebih banyak manusia yang berputar-putar seperti keledai penggilingan. Berpindah dari satu keadaan pada keadaan lainnya, tiada ujungnya.

Saya menjadi mengerti maksud beliau. Bahwa kebiasaan manusia adalah mengeluh. Karena manusia tidak mensyukuri keadaan yang ada pada dirinya saat ini. Maka manusia meminta Tuhan untuk memindahkannya dari keadaan yang ada sekarang, menuju keadaan lainnya.

Saat keinginan manusia tersebut terkabul, seperti jamaknya tabiat manusia, akan ada lagi sesuatu yang menyebabkan dia tidak kerasan dengan keadaan yang ada padanya saat itu, maka akhirnya diapun akan meminta lagi kepada Tuhan untuk memindahkannya pada keadaan lainnya yang menurut dia lebih baik.

Dan itulah yang dimaksud sang syeikh dengan ‘berputar-putar’ seperti keledai penggilingan. Tak ada ujungnya.

Saya menyimpulkan maksud beliau, bahwa seandainya saja manusia bisa menerima kondisi yang ada pada dirinya, maka manusia itu ternyata akan menjadi sadar dan mengerti bahwa kunci kebahagiaan ternyata bukan pada keadaan. Tapi pada hati yang lapang dan menerima. Hati yang lapang, akan membuat kita bisa merasakan bahwa keadaan yang ada pada kita merupakan anugerah.

Cukup lama saya mengerti akan kebijakan ini, sampai saya menemukan sebuah potongan puzzle lagi yang menggenapkan teorema ini.

Potongan puzzle yang baru saya temukan itu bernama IQRA.

wahyu yang turun paling pertama kepada Sang Nabi SAW. Bacalah!

Apa yang dibaca? Seorang ulama menuliskan bahwa pada wahyu itu tidak disebutkan perintah untuk membaca apa. Yang ada adalah sebuah penjelasan tentang bagaimana membacanya.

Bacalah, dengan nama Tuhanmu!

Artinya, kita disuruh membaca apa saja. Memahami apa saja. Asalkan dengan nama Tuhan. Dalam kaitannya dengan spiritualitas, kita bisa artikan bahwa saat kita belajar memahami segala sesuatu, sejatinya kita sedang belajar menyibak tabir untuk lebih bisa mengenal Allah. Yang Menjadikan Segala sesuatu.

Untuk bisa membaca, maka kita harus meluaskan pandangan. Dan untuk meluaskan pandangan, maka kita tidak boleh sempit dan tertambat pada sesuatu. Agar tidak tertambat pada sesuatu, maka kita harus bergerak, artinya kita berpindah dari suatu keadaan pada keadaan lainnya.

Sepintas, kebijakan yang ini menabrak kebijakan yang disampaikan pada cerita klasik, dan juga petuah sang syeikh Ibnu Athoillah di atas, bukan?

Tapi ternyata tidak.

Seseorang baru akan bisa melihat hikmah, atau baru bisa membaca alam ini dengan nama Tuhan, saat dia sudah bisa menerima apapun saja yang ada pada dirinya saat ini.

ilustrasi sederhananya adalah begini. Saat kita berjalan dan melihat ada api di pinggir jalan, maka kita akan berpindah dan menjauh. Itu adalah karena kita ‘membaca’ alam. Membaca api. Itu tindakan yang benar.

Akan tetapi akan menjadi tidak benar, seandainya saat kita melihat api di pinggir jalan, kita mengutuk-ngutuk Tuhan. Kita menjadi marah dan mempertanyakan Tuhan, kenapa harus Tuhan ciptakan api itu panas? Kenapa harus membakar? lalu kita berpindah dari tempat kita dengan sebuah kekesalan kepada api, dan kekesalan kepada takdir Tuhan.

Sama-sama berpindah. Yang satu berpindah karena ‘membaca’, yang satu berpindah karena kesal dan marah.

Kisah klasik di awal tadi, merupakan sebuah sampel seseorang yang berpindah karena sebuah ketidak terimaan akan takdir.

Kisahnya akan menjadi lain jika begini: Seorang tukang batu, merasakan hidupnya begitu pelik dan sempit karena rezeki dan hasil penjualan batu begitu sedikit. Awalnya sang tukang batu merasakan bahwa tanpa bekerja di penjualan batu-batu dia tak akan hidup. Belakangan dia menyadari, kesimpulan seperti itu adalah kesimpulan yang salah, artinya dia sudah memandang kecil Kemaha Besaran Tuhan, dan menganggap sempit keluasan rezeki Tuhan.

Menyadari kesalahan pandangannya, maka sang tukang batu berdoa kepada Tuhan. Agar dia dituntun untuk bersandar kepada Tuhan, bukan kepada pekerjaan. Maka akhirnya Tuhan memindahkan dia ke pekerjaan lainnya.

Dari sana dia ‘membaca’, bahwa betapa luasnya dunia ini, dan betapa besarnya kasih sayang Tuhan. Betapa berbagai-bagainya cara Tuhan menghamparkan rezeki kepada manusia.

Lalu sang tukang batu menjadi heran, karena kini hatinya telah ‘tawar’ memandang apa saja. Baginya kini tak soal, jualan batu kah, atau jualan tahu-kah. karena batu dan tahu sekedar cerita saja. Yang penting adalah ‘membaca’ cerita itu, hingga kenal Siapa Yang Menuliskan plot hidup yang begitu indah dan tak tertebak.

——-

“Jangan kamu berpindah dari satu hal alam kepada hal alam yang lain. Jika demikian kamu adalah umpama keledai yang berputar mengelilingi penggilingan, di mana ia menuju ke satu tujuan, tiba-tiba ia kembali kepada tempat mulainya. Hendaklah engkau melintasi sempadan alam dan menuju kepada Pencipta alam. Sesungguhnya kepada Tuhanmu puncak segala tujuan.” Syaikh Ibnu Athoillah dalam Al-Hikam

MENGUBUR MASA LALU

Setiap detik aku bergulat dengan waktu dan menjadi gelap dibawah bayang-bayang masa lalu.

Dari setiap bercak-bercak kotor dosa yang membekas hitam di setiap lembar waktu yang telah terlewat itu, aku jadi malu sendiri, lalu beringsut dari kumpulan mereka-mereka yang bersih putih itu. Rasa-rasanya syurga meski diemperannya saja tetap tak layak buatku.

Kutarik nafas pelan di setiap senja-senja yang tenang dan ramah itu, dari warna merah tembaga yang terpapar di laut yang beriak manis di ujung sana aku bercermin dan merenung, sudah satu hari lagi lembar hidup yang kujalani dengan tergesa, membuka pagi dengan terkejut luar biasa, lalu menyongsong sore dengan belum berbuat apa-apa.

Ah….. Tuhan, rasanya dunia ini dalam segala-gala lebih bersih dari kami.

Dengan apa kubersihkan sisa luka dosa yang menganga?

Terhuyung-huyung aku berlari, lalu berwudhu dengan apa saja, air, debu, angin, tawa dan air mata.

——-
*repost tulisan lama