LAUTAN PENGELIHATAN

EyesSeorang pengemudi motor disalip secara serampangan oleh seorang pengemudi motor lainnya. Orang yang disalip ini kaget dan kemudian muntab, dia marah besar dan mengejar pengemudi motor yang menyalipnya.

Darah mendidih, maklum anak muda. Setelah kejar-kejaran panjang, dia berhenti di dekat motor yang menyalip. Motor itu diparkir di tepi jalan, persis di dekat toilet umum. Dia lihat pengemudi motor yang menyalipnya tadi keluar dari toilet umum sambil memberi uang lima ribu kepada penjaga, dan menyuruh sang penjaga menyimpan kembaliannya.

Anak muda yang tadinya marah dan siap melabrak, urung melampiaskan kemarahannya. Dia biarkan sang pengemudi motor itu berlalu saja.

Tadinya dia pikir pengemudi motor itu menghina dia dengan menyalipnya secara serampangan dan mengajak adu kebut-kebutan. Rupanya gelegak amarah dia itu tidak tepat konteks, karena sebenarnya sang penyalip ini menyalip dengan buru-buru sebab kebelet mau buang air. Bagaimana dia bisa marah.

Cerita ini fiktif belaka. Tetapi bagian yang benar adalah sebuah kenyataan bahwa seringkali apa yang tampak mata tidak selalunya hitam putih.

Semakin lengkap data yang kita punya, maka semakin lengkaplah bahan-bahan yang kita perlukan untuk mengambil kesimpulan. Kesimpulan dua orang yang memiliki data-data berbeda, bisa jadi berbeda sama sekali. Makin lengkap data, makin bijak seseorang mengambil kesimpulan.

Dalam literatur orang-orang yang arif, tingkat kepahaman seseorang dalam memahami kehidupan ini, mereka namakan dengan “maqom”. Levelan spiritual.

Seseorang, semakin arif dirinya, rupanya semakin menyadari bahwa bisa jadi apa yang tampak mata dan kita nilai sebagai sesuatu yang buruk atau yang baik, dimata Tuhan akan sama sekali berbeda. Apa pasal? Pasalnya adalah bahwa Allah memiliki lebih banyak data dibandingkan manusia, sehingga Allah akan menilai dengan PASTI lebih komprehensif.

Coba kita tengok permisalan ini.

Ada berapa jumlah sel pada tubuh manusia? Para ilmuwan mengatakan ada sepuluh pangkat tiga belas sel pada pada tubuh manusia. Trilliun…trilliun…trilliun banyaknya.

Tiap sel bergerak sendiri. Masing-masing sel kalau dipecah lagi akan menjadi atom-atom yang juga bergerak sendiri dengan intelegensianya masing-masing. Dan tak pernah tabrakan. Dan ber-ratus ratus triliun kehidupan itu ada di dalam lautan ilmunya Allah. Tidak satupun dari sebiji atom yang Allah tidak tahu. Yang Allah lupakan dari perhitungan Dia yang Maha.

Itu dari segi mikro, dari sisi yang lebih besar sedikit, Allah mengetahui, detail latar belakang budaya seseorang, kecenderungan batin seseorang. Apakah orang ini terpapar dengan pengetahuan keilmuan keagamaan yang cukup apa tidak? Apakah orang ini melakukan sesuatu dengan dasar kebencian? Atau kecintaan? Apakah niat baik orang ini ada unsur rasa ingin dikenal? Apakah seseorang pendosa ini melakukan dosanya karena pembangkangan terhadap Tuhan atau karena kebodohan? Apakah kebodohan itu karena kemalasan belajar apakah karena sistem sosial yang membuat dia bodoh?

Dan macam-macam dan berbagai-bagai. Itulah ilmuNya Allah.

Kita kumpulkan seluruh pohon-pohon di dunia, lalu tujuh lautan dijadikan tinta untuk menuliskan segala pengetahuanNya yang komprehensif itu, tidak akan habis kita tuliskan.

Poinnya apa? Poinnya adalah, bahwa seringkali di dunia ini apa yang terlihat, tak seperti yang terlihat.

Kalau misalnya kita melihat seorang pendosa, secara zahir kita lihat orang itu katakanlah minum-minuman keras sampai mabuk dan membuat kekacauan. Kita, tidak pada posisi yang pantas untuk menghakimi orang itu dengan NERAKA atau SYURGA. Karena neraka dan syurga adalah terletak pada keridhoan Allah, dengan segala kearifan dan lautan pengetahuanNya.

Bukan berarti kita tidak boleh memberikan peringatan. Justru kita harus memberikan.

Itulah namanya peranan. Setiap orang diberikan peranan oleh Allah, agar dunia ini bisa dinamis. Orang-orang berkebaikanlah. Menyampaikan yang baik. Menghentikan keburukan yang mengancam, dengan kebaikan yang kuat dan sistematis. Tetapi, dalam segala peranan berkebaikan yang kita lakukan itu, kita pahamilah, bahwa Allah memandang dengan lautan kepahaman yang pastinya lebih hebat dari mata manusia yang redup dan begitu terbatas.

Kita pernah dengar, seorang pendosa yang membunuh 99 orang, lalu bertanya pada orang ke seratus yang kemudian dibunuhnya pula karena orang itu mengatakan bahwa sang pendosa tidak akan lagi diampuni Tuhan. Selepas membunuh orang keseratus itu, sang pendosa berjalan lagi dan menyesal dia ingin bertaubat, lalu pergi mencari orang yang bisa membimbingnya bertaubat. Di tengah jalan dia mati. Cerita ke belakangnya sudah sangat masyhur, dia masuk syurga.

Apa pasal? Pasalnya adalah keridhoan Tuhan, dengan segala kapasitas ilmunya Alah, Allah paham detak hati manusia, latar belakang keilmuan, gejolak hati, kondisi rumah tangga, karakter budaya, IQ, macam-macam tentang orang itu.

Itulah kenapa kita tidak boleh memandang rendah seseorang.

Seorang pendosa di masa kini, boleh jadi di masa depan akan mentaubati dosanya dan dosanya malah menjadi jalannya untuk dekat pada Allah.

Seorang yang tampak pendosa, boleh jadi lebih masyhur di langit, pasalnya dia merasa begitu fakir dan butuh pertolongan Tuhan.

Sekali lagi, bukan menafikan kebaikan. Tetapi dalam berkebaikan, kita harus paham bahwa segala orang di dunia ini berkelindan dengan segala kemungkinan untuk terpapar rahmat Allah yang begitu luas dan rahmat Allah mengalahkan murkaNya.

Satu hal yang sangat penting adalah, dikarenakan luasnya ilmu Allah, maka Allah mestilah juga bijaksana. Alimul Hakim. Maha berilmu dan Maha bijaksana.

Maka Allah tidak mungkin reaktif.

Semisal ada pendosa yang mempertontonkan dosanya, dan kemudian kita teriakkan, “ya Allah, ini orang menghina Engkau, rajam dia dengan api”. Ya tidak mungkin kemudian JEDEERRRR dari langit turun petir yang menghantam orang itu.

Pasalnya, Allah maha bijaksana. Kalau Allah reaktif dan gampang tersinggungan oleh dosa manusia, maka Allah akan kehilangan kemaha bijaksanaannya. Mosok Allah dipanas-panasi sama manusia kemudian tersulut? Ndak mungkin.

Maka tetaplah berkebaikan, tetapi dalam berkebaikan itu, “sambil malu-lah”. Bahwa orang yang kita ajak berkebaikan itu, bisa jadi namanya lebih wangi di sisi Tuhan yang maha bijaksana, ketimbang kita yang merasa mulia.

 

———

gambar saya pinjam dari link ini

PADA UJUNG PANDANGAN

Sebuah rumah baru akan menjadi kukuh jika didirikan di atas pondasi yang baik.

Begitulah, seorang guru memberi wejangan bahwa kehidupan keberagamaan kita haruslah juga didirikan di atas pondasi yang kuat.

Kehidupan keberagamaan itu adalah ibarat perlambang bangunan amal dan peribadatan, pondasinya adalah pengenalan yang benar akan Allah.

Kenal akan Allah menjadi wajib, karena pada Allah-lah segala lelaku keberagamaan, tindak-tanduk dalam hidup kita tujukan.

Allah, ibaratnya adalah ujung akhir pandangan ‘mata’ hati kita.

Pengenalan terhadap Allah, menjadi porsi yang paling besar di awal-awal risalah kenabian.

Formalitas sholat lima waktu-pun baru ada selepas sekian puluh tahun Nabi berdakwah mengenalkan kembali manusia kepada Allah.

Sedikit kesimpulan yang kita bisa petik adalah bahwa tauhid menjadi penting sebelum segala peribadatan formal lainnya dikenalkan. Awaluddin makrifatullah. Awal keberagamaan adalah mengenal Allah. Sebelum seberapa cepat kita berjalan kepada suatu tempat, tahu tempatnya dulu adalah yang paling utama, bukan?

Yang menarik adalah, sebuah kenyataan bahwa orang musyrik quraisy kala itu bukannya tak kenal sama sekali kepada Allah, mereka tahu Allah.

Saat ditanyakan kepada mereka, siapa yang menciptakan langit dan bumi? Mereka akan menjawab bahwa Allah-lah sang pencipta.

Tetapi saat ditanyakan pada mereka, kenapa mereka menyembah berhala? Mereka berkelit bahwa mereka tidak menyembah berhala, melainkan berhala menjadi ‘perantara’ antara mereka dan Allah.

Kalau kita bahasakan, mata hati orang-orang quraisy kala itu terhenti di berhala. Tidak menembus ke baliknya lagi. Tidak sampai mentok di akhir.

Inilah yang dikoreksi oleh Rasulullah, bahwa tauhid itu menjadikan Allah semata-mata sebagai persandaran, sebagai fokus mata hati -istilahnya begitu- bukan yang lain, dan tiada yang lain.Sampai mentok umpamanya. Hingga ke ujungnya.

Saya ingin bercerita begini, di zaman Nabi Musa, saat firaun ingin merebus masyitoh karena mengakui bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam, seorang pegawai istana memprotes, apakah firaun ingin membunuh orang-orang padahal mereka hanya mengakui Allah adalah Tuhan semesta alam?

Sedikit yang diketahui tentang orang ini, hanya saja beliau diyakini sebagai salah seorang yang ‘paham’ tentang Tuhan.

Saat seseorang menganggap matahari sebagai Tuhan, orang-orang yang arif akan memandang lebih jauh lagi, mereka akan berkata bahwa matahari bukan Tuhan, akan tetapi Sesuatu Yang Tak Bisa Didefinisikan, yang menzahirkan matahari, itulah Tuhan.

Kelihatan kan? Bahwa pandangan batin orang arif dalam kisah ini, lebih jauh dibanding orang lain.

Perhatikan bagaimana pandangan mata hati orang-orang arif bisa menembus jauh lebih dalam. Sampai ke ujung pandangan, dimana tidak ada lagi dibalik itu.

Seperti Nabi Ibrahim, saat melihat matahari dan menyaksikan kedahsyatan matahari, beliau mengira itu Tuhan, tetapi kemudian tersadar bahwa Tuhan tidak mungkin tenggelam. Dan Tuhan tak mungkin zahir tertampak mata.

Kemudian mata hati beliau terbuka dan pandangan beliau menembus lebih dalam, dan menjadi tahu bahwa pastilah Tuhan itu adalah Sang Penguasa di balik segala sistem alam semesta itu.

Jadi pandangan beliau seakan tembus, tembus lagi, tembus sampai mentok dimana tidak ada lagi selepas itu.

Segala persepsi kemanusiaan tempat kita memandang, pastilah bukan Tuhan, pastilah Tuhan adalah Sang Penzahir semua itu. Semua yang kita bisa persepsikan, hal zahir yang nampak mata, segala ciptaan, bukan Tuhan. Maka fokus mata hati kita tidak boleh terhenti di situ.

Kepahaman seperti inilah yang lama ditanamkan Nabi Muhammad kepada para sahabat.

Yang saya catat adalah ini, ini penting, fokus kita tidak boleh terhenti pada sesuatu yang BUKAN Tuhan.

Saat kita beramal, maka kita jangan terhenti pandangannya dengan menganggap bahwa formalitas ibadah itulah yang akan menyelamatkan, tetapi Allah, yang telah mentakdirkan kita mampu beribadah kepada Dia, itulah ujung pandangan kita.

Kalau tidak begini, maka akan banyak berhala di kehidupan kita, karena persandaran kita, pandangan hati kita terhenti pada sesuatu yang bukan Tuhan.

Saat berusaha, maka usaha itu jangan menjadi fokus pandangan. Tetapi Sang Penguasa segala variabel dibalik hubungan sebab-akibat usaha-hasil itu yang kita tujui.

Saat meminta ampun atas kesalahan, jangan kesalahan itu yang menjadi fokus pandangan, tetapi Allah Yang Maha Pengampun dibalik takdir bahwa kita diharuskan meniti jalan pulang lewat tema pertaubatan itulah, yang harus dipandang.

Kita melihat sekarang kesalah kita ini rupaya karena menggalakkan kehidupan keberagamaan yang mengacu pada aspek formal semata, tanpa membenarkan pondasi nya. Ibarat kita ramai-ramai memandang kepada sesuatu yang salah.

Semisal kita ramai berdebat larat mengenai manakah yang lebih baik, demokrasikah atau khilafahkah? Atau misalnya lagi, presiden A atau presiden B yang lebih baik? Lalu segala kehidupan keseharian kita menjadi berputar-putar dalam kutub itu semata.

Mendebatkan demokrasi dan khilafah dalam wacana keilmuan yang apik tidak ada yang salah tentu, Mendebatkan presiden pilihan juga silakan. Hanya saja, yang kita perlu pelajari bahwa orang-orang yang arif akan memandang lebih jauh, mereka sadar betapa apiknya Allah mendesain cerita kehidupan, hingga orang-orang yang sama-sama beriman kepadaNya, bisa berada pada sisi yang berhadap-hadapan dalam adu ideologi.

Penyebabnya banyak, keragaman sosial budaya, karakter, latar belakang keilmuan, kesempatan-kesempatan untuk masing-masing mereka bertemu dengan wacana yang lain dari yang sekarng mereka anut. Banyak sekali penyebab perbedaan.

Jadi Bukan demokrasi, bukan khilafah yang bisa menyelamatkan, tetapi pengenalan yang benar akan Allah. Sehingga melihat dia dibalik segala peran yang dimainkan orang-orang.

Fokus kehidupan kita itu, pandangan batin kita itu, rupanya jangan sampai keliru.

Saat orang-orang berdebat misalnya menentukan mana yang benar-mana yang salah, mata hati orang-orang yang arif memandang ada Allah dibalik segala kejadian hidup itu.

Mereka menjadi haru, bahwa betapa Allah telah menzahirkan berbagai-bagai jalan pencarian manusia menujuNya.

Saat orang-orang memaki pendosa, misalnya seorang pecandu narkoba. Orang-orang arif melihat lebih jauh dari itu. Mereka menjadi haru, bahwa betapa kenyataan  ‘Allah itu Maha Pengampun’ hanya bisa terwujud dengan terzahirnya seorang pendosa yang kemudian diampuni.

Kalau kita memaksa tak ada pendosa di dunia, bukankah kita memaksa bahwa kenyataan Allah itu maha pengampun; untuk tidak mewujud? Tidak bisa.

Yang ada di ujung pandangan orang-orang arif adalah bahwa Allah sudah mentadbir segalanya ini dengan luar biasa sempurna dan bijaksana. Dan pengenalan akan keberadaanNya itulah, yang membuat segalanya lebih dari sekedar hitam-putih semata.

—–

*) gambar dipinjam dari link ini

 

MENCURI SELENDANG TUHAN

Allah SWT, memiliki hak dan segala keagungan untuk berkata seperti apapun kepada makhlukNya.

Mengancam dengan neraka, atau memberi iming-iming keindahan syurga adalah tentu adalah hak Allah.

Menjadi kurang tepat, atau malah tidak ber-etika jika manusia kemudian ‘memastikan’ bahwa orang lain akan masuk syurga atau masuk neraka.

Saya rasa, memastikan atau menghakimi orang lain dengan neraka atau syurga adalah sebuah bentuk kesombongan kepada Allah.

Salah satu contoh adalah surah Abasa. Allah tentu berhak memanggil Nabi Muhammad dengan sebutan ‘yang bermuka masam’ saat beliau ditegur oleh Allah sebab beliau menyiratkan wajah sedikit kecewa karena seorang buta menginterupsi beliau saat beliau sedang mendakwahkan islam kepada banyak pemuka quraisy.

Allah berhak memanggil beliau dengan sebutan itu, Allah pemilik jagadita semesta ini, berhak dong. Sedang manusia tidak. Karena konteks hubungan manusia dan manusia tidak dalam posisi bisa menghakimi dengan sesuatu yang menjadi hak Tuhan.

Begitulah masalah syurga neraka.

Menyampaikan sebuah kebenaran, mengingatkan akan janji syurganya Allah, mengingatkan akan ancaman nerakanya Allah, adalah sebuah kebolehan, tetapi dalam konteks bahwa kita hanya “repetition” dari apa yang Allah telah tuliskan dalam Quran. Bukan untuk memandang orang lain dengan sikap mental bahwa orang lain itu pasti penduduk jurang neraka.

Saat menilai seseorang PASTI neraka, atau PASTI syurga, maka kita sudah salah arah.

Pasalnya, kita ingat sabda sang Nabi, bahwa yang bisa menyebabkan seseorang masuk ke syurga itu bukan amal, melainkan ridhonya Allah.

Dan kita tak pernah tahu, bagian mana dari keseluruhan lelaku kita yang Allah ridhoi.

Itu untuk menilai diri pribadi kita, apalagi menilai orang lain? Lebih musykil lagi.

Masyhur kita dengar, sebuah cerita seorang pelacur seumur hidup, di akhir cerita dia masuk syurga. Apa pasal, di ujung hayatnya dia memberi minum seekor anjing. Dan hal itu ternyata membuat Allah ridho. Maka masuklah dia ke syurga. Mungkin diapun tak tahu bahwa memberi minum anjing itulah yang menyebabkan Allah ridho.

Bukan masalah memberi minum anjingnya, tapi mungkin saat itu dia memberi minum dengan sebuah kesadaran bahwa anjing pun makhluk Tuhan. Mungkin juga dia memberi minum anjing dengan sebuah kesadaran bahwa dia hanya sekedar memberi minum, merasa berbuat baik pun tidak. Merasa punya amal pun tidak. Kita tak tahu.

Ridhonya Allah. Itu dia.

Dan kepahaman seperti inilah yang akan membuat kita memandang orang lain sebagai sesama manusia yang memiliki ribuan kemungkinan untuk terkena rahmat Allah. Rahmat Allah mendahului murkaNya.

Dan kepahaman seperti ini tidak kemudian menjadi “kalau begitu kita diamkan saja semua keburukan, toh kalau Allah ridho masuk syurga juga itu orang”. Bukan.

Melainkan, kita menjadi paham bahwa setiap orang sudah lahir dan diberikan peranan masing-masing.

Ingatkanlah apa yang perlu diingatkan. Sampaikan apa yang perlu disampaikan.  Dan sadari bahwa dalam menyampaikan apapun saja yang kita sampaikan itu, kita sama sekali tidak tahu, jangan-jangan ridho Allah lebih mengucur deras pada orang yang terzahir seperti keliatan pendosa itu.

Kita tetap beramal dan berkebaikan kok, karena kita juga tak tahu, mana yang akan Allah ridhoi, maka kita melakukan segala kebaikan.

Segala kebaikan dalam kacamata pandangan bahwa orang lain dan siapapun saja di muka bumi ini sama-sama menjadi objek dari keampunan Allah yang maha luas.

Dalam kacamata pandangan bahwa seorang yang tampak zahir sebagai pendosa, bisa jadi di masa depan jangan-jangan bisa membeli ridhonya Allah lewat pertaubatannya.

Pendosa yang bertaubat dan menyadari bahwa dirinya jelek dan sangat butuh akan pertolongan Tuhan, lebih dekat kepada ridho Allah dibanding ahli amal yang jumawa dan  memandang manusia selainnya sebagai penduduk neraka semua.

Orang-orang yang memandang orang lain dengan kebencian dan menisbatkan api neraka ke tengkuk orang-orang sesuka-suka hatinya, rasanya sudah menjadi sombong. Sedang kesombongan hanya milik Allah. Selendang Tuhan. Beranikah mencuri selendang Tuhan?

YANG TERPANDANG

image

Kebanyakan orang, saat mereka beramal mereka menimbang-nimbang amalnya. Mengira-ngira apakah amal yang mereka lakukan ikhlas atau riya? Menghitung-hitung apakah peribadatan yang mereka lakukan itu bisa menghantarkan mereka ke syurga apakah tidak?

Sedangkan orang-orang yang arif, saat beramal mereka ‘terpandang’ pada karunia Allah. Betapa saat itu mereka mensyukuri untuk telah tertakdirkan menjadi hamba yang ‘kembali’ pada Allah.

Orang-orang yang arif tidak sempat menebak-nebak apakah amalnya ikhlas atau riya, karena mereka terpandang kepada kebaikan Allah yg telah memberikan mereka hadiah berupa kesempatan ketaatan.

Jangankan menyoal riya dan tiada riya, merasa punya kemampuan beramal pun mereka tidak.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ – قَالَ – وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ»

Artinya: “Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah telah menuliskan takdir makhluk-makhluk 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi dan Asy-Nya di atas air”. HR. Muslim.

{إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ} [يس: 12]

Artinya: “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz)”. QS. Yasiin: 12.

Berkata Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah:

والمقصود أن قوله وكل شيء أحصيناه في إمام مبين وهو اللوح المحفوظ وهو أم الكتاب وهو الذكر الذي كتب فيه كل شيء يتضمن كتابة أعمال العباد قبل أن يعملوها

Artinya: “Maksud dari Firman Allah وكل شيء أحصيناه في إمام مبين adalah Al lauh Al Mahfuzh dan ia adalah Ummu Al Kitab dan ia juga yang disebut dengan Adz Dzikr yang telah ditulis di dalamnya segala sesuatu yang mencakup penulisan amalan-amalan seluruh hamba sebelum mereka melakukannya”. Lihat kitab Syifa Al ‘Alil, hal. 40.

Ibnu Athoillah mengatakan, jangan bersandar pada ‘amal.

Orang yg bersandar pada amal berarti sibuk mentakjubi dirinya. Sedang orang yg bersandar pada Allah berarti orang itu selalunya terpandang bahwa amal ibadah yang mereka lakukan adalah sebuah hadiah dari Allah.

Saat Allah ingin memberikan anugerah kepada hambaNya, Allah memberikan pula wadahnya. Begitu seorang guru berkata.

Saat Allah ingin memberikan anugerah kedekatan padaNya, dan kepahaman pada agamaNya, Allah akan memberikan wadah berupa kesempatan, berupa takdir beramal bagi hamba itu.

Bahwa amal yang terzahir oleh kita adalah anugerah sebelum anugerah, itulah yang terpandang di ‘mata’ orang-orang arif.