BERDAMAI DENGAN BADAI

Dalam usaha manusia ‘mengakrabi’ Tuhannya, manusia begitu terbatas kemampuannya. Mata yang zahir tidak akan bisa melihat Allah. Akan tetapi, Allah yang Maha Hidup dan Terus Menerus Mengurus makhluknya, bisa ‘didekati’ lewat penghayatan akan ‘perbuatanNya’ (perbuatan Allah yang terzahir di alam ini disebut af’al).

Menghayati atau istilahnya mentafakuri af’al Allah yang bekerja pada alam ini, merupakan salah satu pintu untuk mengingati Tuhan pemilik semesta ini. Jika kita tidak bisa ‘melihat’ Tuhan, maka lihatlah segala alam dan kejadian hidup ini, dan sadarilah bahwa ada ‘gerak’nya Allah lewat Qada dan Qadarnya pada semua yang terlihat.

Guyuran hujan. Terik matahari. Hembusan Angin. Bulan yang melengkung sabit lalu memurnama. Arak-arakan awan. Kecambah yang tumbuh dan menjadi pohon. Anak menangis. Hiruk pikuk manusia. Dan segala hal yang terjadi pada kehidupan kita, tidak lepas dari Qada dan Qadar. Artinya PASTI ada andil Tuhan dalam kejadian hidup kita.

Dalam pengertian seperti inilah, alam semesta dan kejadian di dalamnya bisa diumpamakan sebagai pintu memasuki ingatan kepada Allah. Kita melihat alam, dan ibaratnya ada sebuah pintu disana, pintu itulah yang kita masuki agar kenal kepada Sang Pemilik alam ini.

Ini pengibaratan saja –tentu sama sekali tidak mewakili keadaan sebenarnya-, misalnya seorang anak memiliki Ayah seorang pengemudi supir truk. Sang anak tahu, bahwa sang supir truk inilah yang mengakibatkan gerak pada keseluruhan truk. Sang anak sudah sekian lama tak bertemu ayahnya. Maka, saat sang anak menunggu di pinggir jalan raya, dan melihat truk melintas, anak ini mungkin saja mata zahirnya terlihat mengamati badan truk, melihat roda berputar, melihat knalpot berasap, tetapi hati sang anak ini tertambat ingatannya kepada Ayahnya yang berada di dalam truk itu. Apapun saja kejadian di luar truk, ban berdecit, wiper bergerak, suara klakson, malah semakin menghantarkan anak ini pada keakraban batin dengan Ayahnya.

Orang yang matanya melihat kepada kejadian zahir di hidup ini, tetapi hatinya memandang kepada Sang Kreator takdir, berarti ibaratnya sudah melewati pintu itu tadi. Kejadian hidup, alam ini, merupakan salah satu pintu untuk mengenal yang Punya alam. Artinya kejadian apapun saja dalam hidup dia, akan berkah, karena semakin kenallah dia dengan Tuhan. Dalam kejadian hidup, yang dia pandang adalah Sang Penggerak Hidup. Seperti contoh diatas tadi, meskipun jelas contoh itu sama sekali tidak mewakili keadaan sesungguhnya.

Akan berbeda halnya dengan seseorang yang tidak pernah mencoba mendekati Sang Pemilik Alam ini, maka apa saja kejadian hidup tidak akan membuatnya ingat kepada Sang Penggerak. Dia hanya akan tertambat dan sibuk oleh macam-macam kejadian. Yang memang pastilah af’al Allah itu bermacam-macam.

Umumnya manusia, dia akan baru bisa mengingati bahwa kejadian hidup ini merupakan af’al Allah, merupakan ‘gerak’nya Allah lewat Qada dan Qadarnya, jika kejadian itu bersinggungan persis dengan dirinya.

Ibarat kapal, jika badai itu menghempas biduk kita, barulah kita ini akan tersentak dan memaknai badai ini sebagai ‘gerak’ Sang Maha Perkasa. Kalau misalnya kita melayari lautan biru yang anggun. Kita melihat burung-burung belibis yang terbang berjejer, rasanya agak-agak jarang kita tersentak dan menjadikan segala pemandangan itu pintu mengingati Tuhan. Karena toh kejadian itu tidak persis menyentuh kita. Tentu pengecualian bagi orang-orang yang memang sudah “kenal” dengan Tuhannya.

Jadi inilah PR kita, mencoba mengenal Sang Kreator takdir lewat seluruh kejadian hidup yang kita alami.

Akan tetapi, dalam segala hal yang menyentuh kita itu tadi, takdir kejadian hidup yang persis bersinggungan dengan kita itu tadi, kita tidak akan bisa memasuki pintu ingatan kepada Allah itu, jika kita memaknai kejadian hidup ini dengan keluh kesah dan ketidak puasan.

Karena ada mental block di dalam hati kita. Boro-boro mau masuk kepada ingatan tentang Sang Pencipta, tapi kita tertambat di pintu saja akibat tidak nrimo dengan perbuatannya Sang Pencipta. Jika kejadian hidup itu membadai, maka langkah pertama ialah berdamai dengan badai.

Agaknya, itulah kenapa, orang yang sabar terhadap kejadian hidup yang menimpa dirinya, diganjar dengan balasan yang besar. Orang yang mensabari kejadian hidup, atau dalam levelan yang lebih expert lagi ialah orang yang ridho terhadap Allah (terhadap ‘gerak’nya Allah pada keseluruhan cerita hidupnya) akan diganjar dengan keridhoan balik dari Allah.

Pada Ihya Ulumuddin, dikatakan, saat hamba-hamba yang terpilih dimasukkan ke dalam syurga ‘adn dan memperoleh rahmat ‘melihat’ Tuhannya –yang merupakan rahmat sangat besar-, Allah bertanya, “adakah lagi yang kalian inginkan?”, para hamba itu menjawab “kami memohon keridhoanMu”.

Guru-guru mengatakan, sang hamba meminta keridhoan Allah, saat sang hamba sudah bertemu Allah, mengisyaratkan bahwa Puncak dari anugerah atau kebaikan Allah kepada hambaNya, ialah keridhoan Allah kepada sang hamba. Yang pada gilirannya tentu berakibat bahwa sang hamba dapat menemui Tuhannya terus menerus tersebab Allah sudah ridho padanya.

Mengingati segala hal ini, saya kemudian meng-istighfari sebuah PR besar lainnya di diri saya, dan mungkin kita, yaitu bagaimana mengupayakan sabar –atau ridho kita pada ketentuan Allah- untuk selalu tertata dengan rapih dan menjadi respon spontan kita untuk setiap kejadian.

Karena jika sabar, dan ridho kepada kejadian hidup belum menjadi respon spontan kita, maka selamanya kita akan tertutup dari hikmah. Kita tidak kenal kepada Sang Kreator hidup, lebih-lebih lagi mana mungkin kita bisa menyusul capaian orang-orang arif.

Semakin banyak kejadian hidup, kita akan semakin disibukkan oleh kejadian hidup. Padahal di sana ada pintu ingatan kepadaNya, tapi kita malah tercover. Tertutup. –konon, istilah ‘kafir’ berangkat dari makna ini, orang-orang yang tertutup dari mengenalNya-

Kita akan semakin tertinggal dari….. Rasulullah. Saat di thaif, dalam takdir kejadian hidup yang sedih dan menyayat, beliau berdoa dalam doa yang panjang, mengharap kerdihoan Allah. Jelas sekali di dalam doa beliau, beliau menerima kejadian hidup beliau saat itu, dan mengharap Allah meridhoi beliau. Ridho Allah adalah puncak karunia.

Kita akan semakin tertinggal, jika mengingat kisah seorang sahabat yang ditembusi pedang dan tombak sekujur tubuhnya dalam perang, lalu beliau berdoa “Ambillah darahku sekehendak hatiMu asal Engkau Ridho ya Allah”. Ridho… puncak karunia.

Kita akan semakin tertinggal jika mengingat kisah Nabi Ibrahim, yang diperintah meninggalkan Ismail dan hajar pada lembah Makkah. Tapi beliau ridho…dan Allah ridho pada beliau hingga dijuluki kekasihNya.

Melihat betapa berat gejolak batin dalam meridhoi kejadian, dan menakar betapa mulianya ganjaran kebaikan untuk orang yang ridho pada kejadian hidup, sepertinya memang kita harus banyak-banyak berdoa. Supaya kita semakin dikenalkan pada Sang Pemilik hidup ini. Karena geraknya Allah sangat terasa dalam keseluruhan plot hidup kita, tapi selama ini kita gagal terus memasuki pintu ingatan kepadaNya. Kita tertambat pada zahir takdir.

Maka itulah guru-guru kita berulang kali mengingatkan kita untuk mendoakan mereka. Sholawat kepada Nabi, keluarganya, sahabat dan para penerusnya, dalam pemaknaan konteks bahwa kita begitu paham Nabiyullah Muhammad SAW adalah orang yang sangat ridho kepada kejadian hidupnya, dan Allah sangat ridho pada beliau, dan pencapaian kearifan dan kedekatan pada Allah selevel beliau sangat-sangat sulit kita susul, maka setidaknya sholawat dan salam ini menjadikan jalan untuk Allah meridhoi kita karena kita ridho pada hamba kesayanganNya. Mensaluti pribadinya.

Membaca sholawat dalam pengakuan kelemahan diri seperti ini, buat saya, sangat membantu untuk berdamai dengan badai.

——

*) gambar saya pinjam dari sini