MENJADI TIADA (From Hero to Zero)

Setelah saya amati dan memperhatikan wejangan para guru, membandingkannya dengan perasaan batin saya sendiri, saya menyimpulkan bahwa memang kebutuhan hidup manusia akan semakin menuju kepada arah yang abstrak. Berbanding lurus dengan umur dan perkembangan kedewasaan seseorang.

Waktu kecil, kebutuhan hidup kita begitu ‘zahir’, hanya perlu makan dan minum. Besar sedikit, -tentu tetap perlu makan dan minum- kita perlu sesuatu yang lebih bisa menghibur, misalnya mainan. Semakin bertambahnya umur kita lagi, kita perlu komunitas. Kita perlu orang-orang untuk bertukar fikiran. Dewasa lagi kita butuh rasa aman, kasih sayang, dan pada puncaknya –menurut ahli psikologi- manusia akan sangat merasa butuh akan aktualisasi diri.

Betul, bukan? semakin lama semakin menuju pada sesuatu yang Abstrak.

Aktualisasi diri ini adalah semacam kebutuhan abstrak yang membuat orang tersebut merasa ada. Merasa dirinya dibutuhkan di dunia ini.

Tadinya, saya mengira bahwa memang benar, kebutuhan untuk menjadi ada dan ‘aktual’, diakui di kancah dunia ini, atau setidaknya ‘merasa berarti’ dalam lingkungan kita masing-masing; adalah puncak jawaban dari pencarian makna hidup oleh manusia.

Akan tetapi, saya belakangan menyadari sebuah fakta lain, bahwa guru-guru kearifan, ulama-ulama yang jernih hatinya telah menyadarkan saya, bahwa itu (aktualisasi diri tadi) sama sekali bukan puncak, ada anak tangga lainnya dalam eskalasi kebutuhan manusia itu. -saya pinjam istilah kawan saya- puncak kebutuhan manusia sebenarnya adalah menjadi hamba Tuhan, atau menjadi tiada. Atau dalam elaborasi yang lebih detail sedikit, kita bisa katakana sebenarnya puncak kebutuhan manusia itu adalah pengertian bahwa dirinya ‘ada’ di dunia ini untuk sebuah tujuan. Bukan untuk mencari ‘pengakuan’ dari lingkungan atau alam semesta, tetapi untuk ‘menjadi berguna’ di mata Tuhan.

Ramai orang berkebaikan -termasuk kita sendiri- dalam usaha pemenuhan kebutuhan hidup yang disebutkan para psikolog itu tadi. Aktualisasi diri.

Coba perhatikan, Ada rasa ‘senang’ di dalam hati saat berkebaikan. Katakanlah saya membantu orang lain, ada semacam sensasi yang melegakan di dalam hati saya. Sensasi merasa ‘ada’. Sensasi merasa berguna.

Tidak ada yang salah dengan sensasi itu. Sangat manusiawi. Yang salah adalah, saat saya menganggap bahwa dengan melakukan kebaikan dilandasi dengan niat ingin menjadi aktual dan ada –yang sebenarnya memenuhi kebutuhan psikologis saya sendiri- saya merasa sudah menjadi hamba Tuhan. Hamba yang baik. Padahal tidak seperti itu. Saat sebuah kebahagiaan itu masih berupa perasaan menjadi aktual, menjadi ada, berarti kebahagiaan saya masih berpusar-pusar dalam pemenuhan kebutuhan psikologi saya sendiri. Simpelnya tidak lillahi ta’ala kata Guru-guru.

Harusnya bagaimana?

Saya menuliskan petuah para guru yang menampar diri saya sendiri. Harusnya, setelah perjalanan saya menemukan macam-macam tingkat kebutuhan, dan pada puncaknya saya sudah merasa ada dan aktual itu, maka saya harus melangkah ke tangga berikutnya yaitu “membuang diri saya sendiri”. melepaskan keinginan untuk aktual dan menjadi diakui itu.

Gampangnya, kalau selama ini perjalanan manusia -yang kita pahami dari buku-buku psikologi- adalah journey “from zero to hero”, maka perjalanan kearifan yang diajarkan guru-guru yang ‘sudah menemukan Tuhan’ ialah journey “from hero to zero”.

Menjadi tiada.

Orang-orang yang menjadi tiada ini, pada zahirnya akan tetap berkebaikan. Mungkin pencapaian kebaikan mereka secara zahir bisa menyamai orang-orang lain yang juga berkebaikan, mungkin lebih. atau bisa jadi terlihat kurang. Tapi yang berbeda adalah pemaknaan mereka tentang prosesi kebaikan itu.

Orang yang berkebaikan dalam rangka pemenuhan kebutuhan psikologisnya untuk menjadi aktual dan merasa ada, merasakan kebahagiaan saat dirinya diakui di tengah khalayak. Dan dengan sedikit menyesali diri sendiri, saya harus katakana bahwa ini adalah ghurur, tipuan. Kita tertipu.

Orang yang berkebaikan dalam rangka menjadi hamba Tuhan, menemukan kebahagiaan karena ditengah prosesi dia berkebaikan itu; dia semakin menemukan fakta bahwa dirinya sebenarnya ‘bukan sejatinya pelaku kebaikan itu sendiri’. Akan tetapi dia adalah orang yang diberikan kehormatan untuk mengalirkan kebaikan dari Sang Sumber Kebaikan itu.

Bahasa majazi-nya, Diri orang ini ‘tidak ada’. Dia menjadi zero. Dia mengenal Tuhannya, maka dia menjadi tiada.

Ibaratnya, kita adalah kolam yang dialiri air jernih dari sebuah parit yang terhubung dengan sumber mata air yang tiada pernah akan habis. Semakin kita membuka diri akan air nan jernih itu, semakin air akan membludak mengaliri kita.

Dan semakin air mengaliri kolam jiwa kita –umpamanya-, semakin air akan meluap dan banjir kemana-mana.

Air yang meluap di kolam kita itu, adalah perlambang kebaikan yang kita lakukan. Dianya bukan karena kita ingin menjadi ada dengan kebaikan-kebaikan itu, tetapi ianya adalah sebuah konsekuensi logis dari suasana hati yang dipenuhi kejernihan.

Singkatnya, orang-orang yang semakin menjadi hamba Tuhan, dia akan semakin tergerak untuk berkebaikan. Tanpa peduli apakah kebaikan itu nanti menjadikan dirinya aktual atau tidak.

Dalam bahasa lain, saat seseorang sudah mengenal dirinya dan kenal Tuhannya -kata guru-guru- orang ini akan dialiri hikmah dan segala macam kebaikan, yang tidak mungkin dia bisa untuk tidak berbuat baik. Pastilah kebaikan itu ‘luber’ dari dirinya.

Orang-orang yang sudah menjadi zero pasti akan tergerak berbuat baik. Sebagaimana kolam yang sudah penuh pasti akan luber ke sebelah menyebelahnya.

Dan mengutip pesan Nabi, sebaik-baik manusia adalah yang berguna buat orang lain, tentu kebaikan dan daya guna yang dia sebarkan itu dalam bingkai lillahi ta’ala. Saya rasa orang-orang yang ‘zero’ yang dimaksud.

 

——-

*) sebelumnya sudah pernah ada tulisan semakna dengan ini saya tuliskan di sini

MENYEMBUHKAN PERSANDARAN

Remaja masjid mengikuti pawai takbiran Idul Adha 1430 Hijiriah di  Banda Aceh, Kamis (26/11).Ada takbir menyemburat dari pucuk menara-menara masjid. Bersama tahlil, dan tahmid. Idul fitri sejak dulu ialah selebrasi kegembiraan. Lama sudah saya mengakrabi idul fitri sebagai ekspresi budaya yang syahdu, hingga baru-baru inilah saya menyadari aspek ruhani dari gempita puja-puji di setiap sore jelang malam lebaran.

Sekian lama rupanya saya tidak bertakbir. Seruan yang ianya membesarkan Allah, menegasikan yang lain.

Mungkin ini kenapa gerangan dzikir dan peribadatan apapun saja yang saya lakukan belum menghantarkan saya menjadi pribadi bersih yang dicirikan dengan tiada gelisah dan tiada duka. Semacam bintang penghargaan yang disematkan Tuhan pada hati orang-orang yang arif.

Rupanya, saat selama ini saya berdoa, doa saya hanya meminta dengan pesimis.

Mungkin sembari berdoa, saya lupa mentakbirkan Allah. Membesarkan Allah. Sembari berdoa, hati saya malah sibuk menghadap kepada ‘masalah’. Atau sembari beramal, hati saya mengukur kemampuan Allah dengan kalkulasi-kalkulasi kemungkinan ala manusia.

Saya ingat kisah nabi Zakaria, yang berpuluh tahun tak memiliki anak, hingga senja usia beliau, masih saja berdoa kepada Allah, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa, kepada Engkau, ya Tuhanku.”

Sebuah doa yang men-akbar-kan Allah. Istri beliau mandul, usia beliau sudah demikian tua, tetapi segala kemusykilan keadaan versi manusia itu tidak membuat beliau menganggap kecil kebesaran Tuhan. Apa buktinya? Buktinya ialah beliau berdoa, dan pengharapannya tidak pernah berkurang.

Dan begitu juga para Nabi yang lain. Nabi Muhammad SAW di kala islam dimusuhi seantero penjuru, dan keberhasilan syiar tauhid seperti tidak akan ada masa depannya, tapi Beliau tetap mentakbirkan Allah.

Musa alaihissalam, melawan firaun sang penguasa absolut di era itu, yang sekaligus bapak angkat beliau sendiri. Segala takdir perjuangan saat itu sulit dikalkulasi dengan siasat perang macam apapun saja, tapi tetap Musa menggantungkan harapannya kepada Tuhan.

Ada yang lebih akbar dari masalah. Bahkan lebih Akbar dari usaha dan peribadatan terhebat manusia itu sendiri. Maka jangan menilai Tuhan dengan kalkulasi manusia.

Mungkin, selepas puasa kita disuruh memperbanyak takbir pada idul fitri ialah semacam pengingat, bahwa manusia-manusia sekalian, jangan selalunya mengukur kemampuan Allah dengan sudut pandang makhluk.

Kita seperti disuruh berhenti dari kedunguan kita sendiri, yaitu berdoa sekalian pesimis. Atau kedunguan kita berikutnya, yaitu beramal sekalian menilai bahwa Allah mestilah hanya bisa merahmati selevel dengan amal kita. Padahal Kita disuruh memanggilNya saja. Minta tolong. Dan percaya bahwa Dia lebih Akbar dari segala persoalan kita. Bahkan lebih akbar dari usaha kita yang demikian ‘manusia.’

Meski jalan keluar belum terlihat. Meski halang rintang demikian  berjejal-jejal. Tetapi persandaran kita kepada Dia tidak boleh hilang. Ciri dari persandaran yang tidak benar, adalah saat kita berdoa, kita mulai mengukur-ukur kemampuan Tuhan dengan kalkulasi manusia yang begitu tidak komprehensif. Tugas kita berdoa semata, minta tolong, menghadap, melapor dengan sebenar-benar melapor. Masalah cara pengkabulannya entah bagaimana-bagaimana, adalah wilayah keTuhanan yang jangan diserempet-serempet dengan logika kita yang pendek dan prematur.

Mungkin, selepas Ramadhan kita disuruh bertakbir adalah untuk menyembuhkan persandaran kita yang sakit itu.

Ciri persandaran yang sakit dan tidak semestinya adalah ‘saat kita sangat ingin kembali kepada Tuhan –lewat segala peribadatan dan juga termasuk puasa kita yang lalu- kita merasa putus asa dari pertolongan Allah. Kita merasa SELAMA-LAMANYA kita tidak akan sampai, Karena kita sibuk menilai peribadatan kita sendiri. Kita sibuk mengukur lelaku kita sendiri. Lalu kita bayangkan bahwa kehebatan Allah dalam mencerahkan hambanya hanya selevel kemampuan kita itu.

Mengatakan “Duh Tuhan…dengan amal seperti ini bagaimana mungkin saya bisa mencapai Engkau” adalah baik dengan syarat dan ketentuan.

Dia akan menjadi baik, jika pengakuan kelemahan diri itu menggiring untuk semakin mengharapkan pertolongan dan keAkbaran Allah.

Dia akan menjadi salah, jika pengakuan kelemahan itu lahir dari sudut pandang yang mengira bahwa Allah hanya bisa menyelamatkan kita jika peribadatan kita telah sempurna. Padahal sang guru yang arif berpesan bahwa peribadatan manusia tidak akan pernah sempurna selamanya. Maka janganlah menilai Tuhan selevel dengan peribadatan manusia.

Jadi mungkin, kita harus meniru siti hajar. Saat ditengah kesulitan di padang tandus, Ismail menangis meraung dan tidak ada air sama sekali. Maka siti hajar berlari…berlari bolak-balik mencari air di sepanjang shofa dan marwa. Meski akal sehat dan kalkulasi kemakhlukkan pasti menganggap tidak mungkin ada pertolongan, tapi siti hajar men-Akbar-kan Allah.

Tugas beliau dan kita hanya berlari saja. Berlari…berlari….berlari…. dan segala usaha yang merupakan ekspresi berharap dalam doa yang benar-benar membesarkan Allah.

Lalu segala aktifitas bekerja, berdoa, ibadah apapun saja itu jangan kita ingat-ingat lagi. Lakukan lalu lupakan. Agar cukup Allah saja yang besar di hati kita. Bukan usaha kita. Bukan masalah kita.

——————

*) selamat hari raya idul fithri. saya mohon maaf lahir dan bathin atas segala khilaf dan tulisan yang tidak berkenan selama ini
*) gambar saya pinjam dari sini

YANG MENDENGUNG-DENGUNGKAN TIRAKAT

duaa

Telah hampir pergi Ramadhan. Satu yang saya ingat dari wejangan orang-orang arif, “jikalah tidak kita dapatkan keampunan Allah di kala Ramadhan ini? Kapan lagi kiranya kita bakal dapatkan?”

“Pintu Tuhan” selalu terbuka memang, tetapi potongan pertanyaan di atas tadi sudah cukup menjadi tema besar solilokui kita sendiri. Ramadhan adalah bulan dimana rahmat dan ampunan merupakan “pintu” yang lebih gampang ditemukan, tersebab segala aral pelintangnya yang biasa menutupi gerbang pintu itu; telah dirobohkan.

Amarah. Nafsu. Kebencian. Dengki. Dendam yang menahun. Ambisi dan angan-angan yang menjalari kesadaran kita setiap bulannya, harusnya redam dan lepas satu-satu dengan puasa.

Tema besar puasa ialah menjadi manusia yang lebih spiritual. Taqwa. Bukan sekedar icip-icip sensasi menjadi orang miskin dan jarang makan. Dan awal dari menjadi lebih spiritualis adalah dengan memasuki gerbang rahmat dan keampunan pemilik alam semesta ini, saya rasa.

Disitulah ironi itu saya rasakan menjadi demikian getir. Kala Gerbang Rahmat itu terbuka sedemikian besar, rupanya belum juga saya berhasil memasukinya.

Mungkin, puasa saya tidak benar-benar menjadi tirakat pejalan ruhani menuju Tuhan. Puasa saya adalah selebrasi tidak makan dan tidak minum semata. Adapun amarah, adapun nafsu, adapun kebencian dan segala anasir yang buruk di dalam diri itu bisa saja masih ada. Mungkin sekadar sembunyi dan mengamati dengan picingan mata yang licik.

Atau mungkin, saya sudah berhasil menaklukkan hawa nafsu, karena keniscayaan hukum alam. Sebodoh-bodohnya dan setidak spiritualis apapun seseorang,  jikanya dia lapar seharian dan tidak makan tidak minum, maka secara logis semangat berkeburukan dalam varian nafsu yang bagaimanapun saja itu, akan menurun dalam presentase tertentu. Ibarat belukar, pepadang ilalang, semak dan rumput di sepanjang setapak menuju gerbang rahmat Tuhan itu telah diberantas dengan mesin potong.

Jalan sudah dibersihkan, Tetapi sayanya tidak bergerak menuju Tuhan.

Adakah gunanya jalanan yang bersih dan gerbang pintu yang terngaga besar, jika tiada dimasuki?

Saya ingat, sewaktu dulu saya SMP saya rasakan begitu sedih kehilangan Ramadhan. Sempat saya kira saya seorang spiritualis karena kesedihan saya yang begitu dramatis itu. Belakangan saya menyadari, bahwa saya hanya menangisi romantika suasana kebudayaan yang unik pada bulan puasa. Saya Cuma menangisi hilangnya syahdu azan sore, hilangnya momen buka puasa, dan momen sahur. Serta menangisi hilangnya keseluruhan tembang-tembang religi di setiap sudut kota yang kecil itu.

Setelah sekian tahun lewat, saya rupanya masih  sama saja. Sementara kesedihan orang-orang arif ialah rasa pilu berpisah dengan keintiman keampunan Pemilik Jagadita Semesta ini, rasa haru untuk telah bertemu sang pemilik Rahmat. Maka kesedihan saya baru di-emperannya saja. Menyesali untuk sebulan tirakat tidak juga menyampaikan saya ke pintu.

Tapi tiada mengapa. Setidaknya kerinduan untuk mengetuk pintu Tuhan (untuk sampai ke Tuhan) adalah peta hidup yang benar.

Bahwa segala kejadian kehidupan harusnya menjadi semacam corong yang mendengung-dengungkan janji baiat para manusia di alam ruhani dahulu. Bahwa hidup semestinya untuk mengenal Yang Memberikan Hidup.

Harapan saya sederhana saja, semoga sisa bulan-bulan di depan saya nantinya, segala kejadian hidup akan menggerek-gerek saya kepada benang merah cerita yang paling sejati itu tadi. Mengenal Sang Penulis Skenario Hidup ini.

Jadi semisal nanti saya kekurangan uang, maka kekurangan uang itu ialah “TOA” yang mendengung-dengungkan woro-woro agar saya tirakat tuk kembali ke pintu Tuhan.

Maka semisal saya terbentur dengan hiruk pikuk kertas-kertas arsip di kantor, maka kebisingan kantor itulah yang mendengung-dengungkan bewara untuk saya tirakat kembali ke pintunya Tuhan.

Maka semisal saya sedih, gelisah, hilang kunci motor, terjebak macet, berselisih dengan keluarga, tidak dapat parkiran di pekarangan kantor, kejebak banjir, apapun saja itu, menjelma kembali sebagai sketsa indah Ramadhan. Pulang…. Pulang….. Pulanglah ke sangkan paran, asal muasal hidup, yang menuliskan segala lelakon ini.

“Aku akan pergi menghadap Tuhanku, niscaya Dia akan memberikanku petunjuk” Kata Ibrahim A.S.

Dan dalam perjalanan itu nantiya, jikalah begitu banyak kesulitan merajah-rajah, jikalah keengganan dan kebrisikan angan-angan dan fikiran menghalangi dalam usaha kembali ke Tuhan inilah, saya semestinya sadar bahwa jalanan harus kembali dibersihkan.

Amarah, nafsu, diri yang paling dalam dan segala kehalusan kemusykilan tirai-tirai yang merentang-rentang di sepanjang jalan ini hanya bisa dimusnahkan dengan Puasa. Tirakat yang memaksa keburukan diri untuk diam dan menyerah. Mungkin dengan persepsi seperti ini sajalah puasa kita akan lebih dari sekedar haus lapar semata.