ORANG-ORANG YANG DIBUAT LUPA

image

Seorang guru pernah mengatakan, “dijadikan bersifat pelupa; merupakan salah satu anugerah Allah juga untuk manusia.”

Memang, lupa merupakan salah satu sifat yg bisa menyulitkan, namun tanpa dijadikan lupa maka manusia akan terjebak pada masa lalu.

Rasa sakit karena trauma akan menggelayuti dan membuat manusia tidak bisa bergerak, kalau dia tidak dijadikan lupa dengan rasa sakit itu.

Rasa takut akan selalu menggelayuti manusia kalau misalnya Allah tidak jadikan sejenak manusia itu lupa dengan rasa takutnya.

Seorang Ibu yang ditinggal anak-anaknya kuliah keluar kota bisa selalu murung jika Allah tidak membuatnya lupa dengan rasa kehilangan itu.

Jadi, dalam salah satu sudut pandang yang tepat, lupa itu anugerah.

Dengan lupa pula, manusia bisa move-on dari masa lalu yang buruk untuk kemudian memulai lagi kehidupan yang baru.

Takdir dosa seseorang pada masa lalu, merupakan sebuah “pesan” dari Allah bahwa manusia tersebut harus pulang kepada Allah lewat jalan pertaubatan.

Nah….dalam perjalanan pulang inilah, manusia dibuat “lupa” dengan dosa-nya.

Apa yg membuat manusia “lupa” dengan dosanya? Rahmat Tuhan!!

Kesadaran bahwa Rahmat Tuhan mendahului murkaNya, sehingga manusia punya harapan untuk kembali.

Jika manusia tidak dibuat lupa dengan dosanya, atau istilahnya tidak diberi kesadaran bahwa jalan pulang selalu lebih lebar daripada gegunung dosa manusia. Pendosa akan stuck dan merasa tak akan ada jalan pulang.

Jadi, kata guru tersebut, salah satu ciri seseorang dirahmati Allah adalah apabila takdir dosa masa silamnya menjadi jalan dia kembali pada Allah lewat pintu taubat.

Dan tanda taubatnya diterima adalah orang tersebut “lupa” dengan dosanya karena asyik dan tekun meniti jalan keampunan Allah.

Jadi misalnya kita berdosa di masa silam, dan kita menyesal dengan dosa kita, itu adalah gerbang awal. Untuk apakah kemudian kita masuk ke dalam gerbang Rahmat Tuhan dan meninggalkan memori buruk masa lalu sambil meniti jalan pulang, atau kita terjebak pada merasa bersalah terus menerus.

Merasa bersalah terus menerus dan enggan kembali adalah bukan hal yang baik.

Ini tipis sekali bedanya. Merasa bersalah, dalam skala tertentu itu bagus. Tapi perasaan bersalah yang ekstrim dan membuat seseorang mengecilkan rahmat TuhanNya, itu jebakan.

Jadi dalam perjalanan kita kepadaNya, rupanya kita harus bersyukur juga untuk telah sekali-kali dibuat lupa.

MEMBANGUN RUMAH TUHAN

20140506-134253.jpg

Ada dua tipe manusia dikelompokkan dari bagaimana cara dia mengisi energi jiwanya. Dari bagaimana cara dia menemukan semangat.

Manusia tipe pertama dan merupakan kebanyakan tipe manusia, adalah orang-orang yang menemukan semangat, pencerahan, energi hidupnya, lewat aktivitas. Orang tipe ini adalah orang-orang yang menemukan semangat dan menjadi bergelora setelah mereka berada di tengah-tengah khalayak. Kesendirian akan membuat mereka bosan dan menjadi jenuh.

Manusia tipe kedua, adalah manusia yang menemukan semangat melalui perenungan. Manusia tipe ini adalah orang-orang yang akan menjadi bergairah setelah menyempatkan waktu untuk sendiri dan merenung. Mereka butuh keheningan dan ruang yang tenang untuk tidak diganggu dengan hiruk-pikuk lingkungan, lalu orang ini akan menemukan semangat setelah melihat jauh kedalam dirinya sendiri. Merenung dan menemukan jawaban-jawaban dari persoalan.

Manusia tipe pertama disebut extrovert. Manusia tipe kedua disebut introvert.

Tipe manapun saja tak ada hubungannya dengan keunggulan kepribadian atau kemuliaan akhlak tentu saja.

Kedua tipe ini harus belajar untuk menemukan harmoninya. Karena pencerahan bisa dari mana saja datangnya, dan setiap orang dengan tipe masing-masing harus bisa mendapatkan pencerahan itu.

Orang yg selalu melihat ke dalam diri, perlu juga untuk melongok keluar dan menemukan banyak pelajaran dari sekitarnya.

Orang yg selalu ada dalam keramaian dan terlibat dengan hiruk-pikuk juga perlu untuk mengerem aktivitas dan jeda sejenak melongok ke dalam jiwa dia sendiri. Mengambil pelajaran dari apa yang telah diendapkan disana.

Jadi setelah journey outward, perlu ada journey inward dan sebaliknya.

Banyak ungkapan mengatakan, semakin spiritualis seseorang, semakin dia perlu untuk journey inward.

Di lain sisi, banyak juga ungkapan yang mengatakan bahwa seorang yg benar-benar tercerahkan bukanlah orang yang mengasingkan diri dari khalayak. Orang bisa saja menjadi baik dan bersih dengan hidup di gua-gua. Damai dalam pertapaan di tengah hutan. Tapi apa gunanya kelhalifahan manusia kalau begitu? Bukannya khoirunnas anfauhum linnas?

Harmoninya adalah bahwa di dalam hati setiap orang mukmin, disitulah “rumah Tuhan” berada.

Jadi pada setiap keramaian dunia, pada setiap gelisah hingar bingar terjun urun rembugnya kita di kancah manusia, disitulah keheningan harus diadakan dalam jiwa kita sendiri. Agar menjadi semacam penjaga kita untuk tidak larut sampai melupakan tujuan hidup.

Orang dulu menyebutnya ‘topo ngrame’, bertapa di tengah keramaian.

Atau dimisalkan juga uzlah. Khalwat. Menyepi di tengah keramaian.

Tak mesti di gua. Tapi kita ‘menyepi’ di tengah pasar. Di lantai empat puluh gedung pencakar langit. Di dalam bus. Di kemacetan.

Orang tak tahu saja, secara zahirnya kita bisa saja di tengah dunia yang ramai dan bising, tapi di dalam sini, di hati ini, kita belajar mengingat Dia, tujuan akhir yang menjadikan setiap tindak-tanduk kehidupan kita punya makna. Pada sebuah sepi yang ramai itulah ‘kita sedang membangun rumah Tuhan’.