HARAP-HARAP CEMAS

Sifat-sifat Allah, bisa dikelompokkan dalam dua tema besar utama. Begitu kurang lebih yang saya sering dengar dari para guru.

Pengelompokkan itu adalah, yang pertama yaitu sifat yang menggambarkan ke-Maha Perkasaan Allah, Kehebatan, kebesaran dan keagungan Allah, dsb. Segala sifat-sifat Allah yang seperti ni, disebut sifat “Jalal.”

Pengelompokan yang kedua, ialah sifat yang menggambarkan keindahan, kebaikan, welas-asihnya Allah. Segala sifat yang seperti ini disebut sifat “Jamal.”

Suasana keruhanian di dalam hati kita, katakanlah seperti itu, sebenarnya harus terus menerus mengakrabi Allah dengan memandang Dia pada pemaknaan kedua sifat itu.

Saya teringat, seorang arif pernah nyeletuk, jika kita mendoakan orang yang sudah wafat, dengan doa redaksi kita sendiri, janganlah kita itu mendoakan semisal “Ya Allah…semoga fulan diberikan balasan sesuai dengan apa yang beliau lakukan.” Doa dengan redaksi seperti itu, meskipun lumrah di masyarakat, sebenarnya menggambarkan kalau kita hampir selalu “mendekati” Allah, “Mengakrabi” Allah dengan pendekatan sifat “Jalal-nya” Allah.

Meminta balasan yang setimpal, kan berarti kita berusaha mendekati Allah dengan neraca itung-itungan, sifat keadilan Allah yang kita ketuk. Nah….sifat Adil-nya Allah ini kalau dikelompokkan, berarti masuk sifat Jalaliyah.

Memang betul Allah adil, tapi masalahnya, apakah kebaikan yang manusia lakukan di dunia ini, bisa membeli kenikmatan di hari akhir nanti? Atau dengan kata lain, kalau Allah membalas secara adil, apa tidak malah kita sendiri yang repot? Bisakah stock amal kita –kalau dibalas dengan adil- memasukkan kita ke syurga?

Sudah sering kali kita dengar cerita yang masyhur, kisah seseorang yang diazab di kuburnya akibat masalah buang air kecil yang tidak bersih. Kisah seorang hafidz quran yang amalnya dicampakkan di akhirat tersebab rupanya riya-lah yang menjadi sebab dia beramal. Tentang seorang pejuang yang gugur di medan tempur, dikira syuhada rupanya malah masuk neraka.

Apa pasal semua itu terjadi? Pasalnya ialah bahwa betul memang, Allah maha adil. Dan adil berarti pula sesuatu dibalas sesuai dengan kadar sesuatu itu. Secara tepat. Dan pastilah amal manusia itu banyak cacatnya. Entah riya, entah ujub. Entah kita melakukan sesuatu yang secara hitungan pahala-dosa; merupakan dosa, tapi kita abai. Kan banyak sekali celah untuk kita terpeleset.

Dan saya menjadi paham, kenapa orang-orang arif hati-hati sekali, dan mewanti-wanti untuk kita berhenti menghitung-hitung amal, dan janganlah menjadikan amal sebagai suatu transaksi itung-itungan kepada Tuhan. Supaya kita tidak melulu mengakrabi Tuhan pada sisi “Jalaliyah”nya. Karena kita tidak akan mampu bargain dengan rahmat Allah.

Di sisi lain, kita sering pula mendengar cerita. Seorang yang memberi minum anjing yang kehausan, eh rupanya malah masuk syurga, tersebab amal itu. Padahal orang ini pendosa. Atau misalnya, cerita yang sering diputar di pengajian di radio sore-sore, seorang yang baru taubat kemudian mati di tengah jalan, padahal belum lagi sampai ke tempat yang dituju untuk benar-benar melakukan kebaikan. Masuk syurga-lah orang itu. Padahal dosanya melimpah-limpah.

Apa pasal semua itu terjadi? Pasalnya ialah bahwa Allah benar-benar Rahmaan Rahiim. Welas asih-nya Allah itu (sifat jamaliyah-nya) menjadikan semua itu mungkin.

Bentuk lahir amal orang-orang itu mungkin sedikit, mungkin kalah oleh hitungan dosa pahala kalau main neraca-neraca’an. Tapi suasana hati orang-orang itu, yang merasa bahwa dirinya benar-benar pendosa. Merasa diri sangat jelek dan kotor, dan betapa orang-orang yang kotor ini sangat butuuuuuh terhadap keampunan Tuhan. Nah…..Rasa sangat butuh dan hina inilah, yang “menyentuh” sifat Jamaliyah Allah. Rasa kehambaan dan kehinaan yang ada di manusia, bertemu dengan sifat welas asih keTuhanan. Masuk syurga-lah orang itu.

Makanya bolak-balik orang-orang arif berpesan. Jangan bargain. Jangan bargain dengan Allah! Bukan amalmu yang memasukkan kamu ke syurga atau neraka, melainkan rahmat Tuhanmu.

Memang ada juga idiom, “perniagaan yang tiada pernah rugi, adalah perniagaan dengan Allah.” Kenapa tak pernah rugi? Karena Allah maha pengasih penyayang, jadi dilebihkan terus balasannya. Jadi Balik-balik lagi, tidak rugi kan karena rahmat Allah, bukan karena kitanya pandai berniaga, maka kita tidak rugi. Bukan.

Dan memang dua sifat itulah (Jalaliyah/ ke-Maha Perkasa-an Allah, dan Jamaliyah/ keindahan) yang harus selalu di”resapi” oleh kita.

Kita tidak bisa, untuk seperti selama ini, memandang Tuhan melulu masalah siksa dan neraka. Perlu ada sisi dimana kita merasa dekat dan memohon kepadaNya. Curhatlah istilahnya.

Maka, serusak apapun masa lalu. Sejelek apapun kualitas amaliyah, akan selalu ada tempat untuk kita kembali, karena pintu pengampunan akan selalu ada. Selama kita tidak merasa bisa menukar amal dengan rahmat Tuhan.

Mungkin dengan begitulah, dalam kesulitan, dalam dosa, dalam kealpaan, bagaimanapun juga, manusia tidak akan putus asa dari rahmat Tuhan. Karena merasa ada tempat curhat, dan tempat kembali.

Tapi melulu curhat yang mendayu-dayu juga tidak pas. Karena betapapun mendayu-dayu dan menghiba-hiba berdoa, sebenarnya juga bukan doa itu yang menyetir Tuhan. Bukan bentuk lahri doa atau amal itu. Tidak berlaku seperti itu.

Seorang Guru pernah mengatakan, coba tengok orang sholat jumat. Pulangnya ada yang sendalnya hilang. Ada yang motornya hilang. Kan kalau akal sehat kita kan mengtakan, lah orang sedang menyembah kan mestinya tidak hilang motornya, atau tidak hilang sendalnya. Tapi malah yang terjadi sebaliknya. Allah “tidak perduli” istilahnya begitu.  Mau kata orang sedang menyembah.

Maka itu kita tengok juga di negeri-negeri yang sedang perang, anak-anak mati, orang-orang luka, kesakitan dan menangis, nyatanya masih juga perang belum usai. Betapa itu tanda bahwa Allah itu memiliki sifat Jalal, yang tidak bisa disetir apapun saja.

Jadi memang kita harus, mengakrabi Tuhan dengan ketundukan seperti yang diajarkan para ulama dan orang-orang arif. Harmoni Antara khauf (rasa takut), dan roja (pengharapan). Hanya dengan begitu kita mendekati Allah dan mencoba memahaminya dengan utuh. Akan selalu ada tempat kembali bagi pendosa. Dan akan selalu ada norma-norma yang menjaga adab dan unggah-ungguh untuk orang yang sudah meniti jalan kembali. Karena hati mereka harap-harap cemas.

——–
saya pinjam ilustrasi gambar dari sini

MUNAJAT NABI KALA DI THAIF

“Ya Allah, kepada-Mu aku mengeluhkan kelemahan-kelemahanku, ketidak berdayaanku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai yang Maha Pengasih di antara yang mengasihi! Engkau Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau hendak menyerahkan diriku? Kepada orang-orang asing yang bermuka masam terhadapku atau kepada musuh yang Engkau takdirkan akan mengalahkanku? “

“Ya Allah, kepadamu aku mengadu kelemahanku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku pada pandangan manusia. Ya! Arhamarrahimin! Engkaulah tuhan orang yang ditindas. Engkaulah tuhanku. Kepada siapalah engkau menyerahkan diriku ini, kepada orang asing yang akan menyerang aku atau kepada musuh yang menguasai aku? Sekiranya engkau tidak murka kepadaku maka aku tidak peduli. Namun, afiatmu sudah cukup buatku. Aku berlinding dengan nur wajahMu yang menerangi segala kegelapan dan teratur diatas nur itu urusan dunia dan akhirat, daripada engkau menurunkan kemarahanMu kepadaku atau Engkau murka kepadaku. KepadaMulah aku tetap merayu sehingga Engkau reda. Tiada sebarang daya(untuk melakukan Kebaikan) dan tiada upaya(untuk meniggalkan kejahatan) kecuali denganMu “

“Wahai Tuhanku, kepada Engkau aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya-upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan yang Maha Rahim kepada siapa Engkau menyerahkanku? Kepada musuh yang akan menerkamkan aku ataukah kepada keluarga yang engkau berikan kepadanya uruskanku, tidak ada keberatan bagiku asal aku tetap dalam keridhaanMu. Pengetahuan Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya mukaMu yang mulia yang menyinari segala langit dan menerangi segala yang gelap dan atasnyalah teratur segala urusan dunia dan akirat, dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku azabMu kepada Engkaulah aku adukan permasalahanku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau”

“Hal itu tidak aku risaukan, jika Engkau tidak murka kepadaku. Namun, rahmat-Mu bagiku amat luas. Aku menyerahkan diri pada cahaya-Mu yang menerangi segala kegelapan dan menentukan kebaikan urusan dunia dan akhirat. Aku berlindung dari murka-Mu. Aku senantiasa mohon reda-Mu. Kerana tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas perkenan-Mu.”

 

Inilah doa Baginda Nabi SAW. kala di thaif. Saat sendiri dan duka datang beruntun, lalu beliau berdoa dengan doa yang menyejarah. Yang membuat Jibril dan malaikat penjaga gunung turun dari langit.

Kisahnya sudah masyhur benar, saya mengkopi doa ini dari sini

 

MALAIKAT, SETAN, DAN FIKIRAN-FIKIRAN

thoughtsKonon, kata orang-orang arif. Perjalanan yang bisa menumbuhkan kearifan itu ialah perjalanan “ke dalam”. “Journey Inward”.

Maksud mereka begini. Seiring dengan perkembangan kedewasaan kita, mau tidak mau, salah satu syarat agar kita bisa menjadi semakin arif adalah sering-seringlah melakukan perjalanan ke dalam diri kita sendiri. Mengenal diri. Siapa kenal dirinya, maka kenal Tuhannya, kata peribahasa.

Rupanya, kata para guru-guru kearifan yang mengajarkan pembersihan hati, salah satu yang “wajib” kita kenali dari diri kita ini ialah ‘khatir‘ atau lintasan fikiran.

Lintasan fikiran, atau bahasa arabnya ‘khatir‘, adalah sebuah fikiran yang muncul tanpa kita rekayasa. Biasanya, fikiran yang muncul dengan sendirinya inilah yang kalau kita terbawa, bisa membesar menjadi niat, dari niat menjadi sebuah tekad yang sangat kuat dan akhirnya berujung menjadi sebuah tindakan yang kita lakukan.

Supaya tidak absurd, ini contoh realitanya. Misalnya ketika kita sholat. Begitu kita takbiratul ihram, rupanya beribu-ribu khatir langsung melintas di kepala kita. Tiba-tiba ingat sendal di luar musholla. Tiba-tiba kepikiran mengenai kerjaan. Ingat makanan. Ingat anak. Tiba-tiba kesal sama AC musholla yang rasanya kok kurang dingin. Macam-macam. Itulah khatir. Lintasan fikiran.

Sebenarnya, lintasan fikiran ini muncul tidak hanya di dalam sholat, melainkan hampir dalam seluruh perikehidupan kita dia muncul. Hanya saja tidak kita sadari. Dan hampir seluruh tindakan dalam kehidupan kita didahului oleh khatir.

Misalnya kita pergi ke bengkel motor di hari minggu pagi, didahului oleh khatir mengenai ingatan bahwa motor kita belum diservice padahal sudah sekian bulan. Khatir itu kita ikuti, atau lebih tepatnya kita “terbawa” oleh khatir itu, dan akhirnya menjadi sebuah tindakan.

Tidak hanya tindakan, melainkan perasaan kita juga disetir oleh khatir. Misalnya, kita sedang kerja, lalu ada email yang tidak menyenangkan dari bos kita. lalu ada khatir yang lewat di hati kita, jangan-jangan bos kita sudah tidak suka sama kita. Jangan-jangan kita mau dipecat. Khatir model begitu, kalau kita biarkan menguasai diri kita, maka seharian kita akan terjebak dalam suasana hati yang tidak menyenangkan.

Itulah kenapa, guru-guru kearifan bahkan hampir-hampir mengatakan bahwa usaha kita untuk mengenal khatiryang pada dasarnya adalah usaha mengenal diri; dan pada gilirannya merupakan upaya untuk lebih kenal dengan Tuhan- hampir-hampir menjadi wajib.

Karena betapa pentingnya kita mengetahui suatu motif, atau awalan dari tindakan kita.

Tentu saja, khatir itu tidak selamanya buruk. Dalam beberapa literatur sudah jamak kita ketahui bahwa bisikan-bisikan kebaikan juga disusupkan kedalam hati manusia, oleh malaikat. Dan bisikan-bisikan keburukan disusupkan oleh setan. Sedangkan, ada pula bisikan-bisikan yang muncul dari ego pribadi kita, atau hawa nafsu yang lagi-lagi cenderung pada keburukan. Jadi dua banding satu. Betapa kita kewalahan kalau tidak pandai mengenal diri. Ujug-ujug kita sudah terjebak, kok seharian ini saya was-was ga jelas ya? Rupanya usut punya usut tadi pagi waktu berangkat kantor ada lintasan fikiran yang membuat kita kesal dengan kemacetan jakarta. Ada pula lintasan fikiran yang membuat kita teringat dengan sikap tetangga yang kurang menyenangkan. Dari kesemua lintasan fikiran yang buruk itu, tidak satupun yang kita tepis. Dan alhasil lintasan fikiran itu membesar dan menguat, menjadi sebuah perasaan batin yang menguasai kita. bayangkan betapa menderitanya kita hidup kalau setiap hari perasaan kita disetir oleh lintasan-lintasan fikiran yang datang. Salah satu ciri kita sudah disetir oleh lintasan fikiran itu ialah kalau kita tidak sadar tiba-tiba sudah terjebak pada sebuah suasana hati yang tak enak dan kita tak tahu kenapa. Kalau bahasa Al-Qurannya ialah waswisufi sudurinnas. was-was di dalam hati kita.

Sekarang pertanyaan menariknya ialah, bagaimana cara agar kita bisa ‘aware‘ dengan lintasan fikiran kita sendiri?

Sederhana saja rupanya, kata guru-guru. Dzikrullah!! Dzikir yang sebanyak-banyaknya.

Dengan banyak berdzikir, lintasan-lintasan fikiran itu akan sulit masuk. Kalaupun masuk, akan ada semacam jarak mental antara kita dan lintasan fikiran itu, sehingga kita bisa lebih cepat aware terhadap lintasan fikiran itu. Baikkah, atau burukkah lintasan itu? kita terbiasa semacam deteksi dini.

Ada kisah, suatu hari saya sedang bertandang ke kantor client saya dalam rangka meeting. Usai meeting saya makan di kantin kantor itu. Sambil makan, saya membaca sebuah buku Syaikh Abdul Qadir jailani. Lagi enak-enaknya membaca buku, tiba-tiba saya dikejutkan oleh sapaan seorang teman. Rupanya beliau teman lama saya yang kebetulan bekerja di kantor client saya tadi. lalu kami ngobrol-ngobrol ngalor ngidul.

Yang menarik, tepat saat pertama kali rekan saya datang itu, di hati saya ada sebuah lintasan fikiran yang berkelebat, “wah…kebetulan ini, lama tidak bertemu teman lama, pas ketemu pas saya sedang baca buku agama. Mantap!”

Saya langsung istighfar. Astaghfirullah…. itulah khatir. Lintasan fikiran yang datang begitu saja tanpa kita rekayasa. Involuntary tought. Dianya bisa baik, bisa buruk. Dalam kasus saya, jelas itu lintasan khatir buruk. Dalam bahasa yang lain, mungkin itu ilham fujur. Keburukan.

Dan sering-sering mengamati khatir nantinya bisa membuat kita mengenal keburukan-keburukan diri kita, siapa kita sebenarnya, apa motif landasan di balik perilaku-perilaku kita, kesemua hal yang halus-halus yang selama ini tidak kita sadari.

Dan dalam tingkatan yang lanjut, kata guru-guru, dzikrullah yang rutin dan kebiasaan mengamati khatir itu kan membuat kita bisa membedakan, apakah bisikan ini dari diri kita sendiri, was-was keburukan dari setan, atau petunjuk kebaikan dari Tuhan.

—-

*) gambar dipinjam dari situs ini