YANG TIADA TAKUT DAN DUKA

sufiPara wali Allah itu, kata guru saya, dalam hatinya tiada takut tiada gelisah.

Saya begitu mengidamkan hidup dalam suasana tiada cemas, tiada takut dan tiada gelisah. Lalu mencermati berbagai-bagai jalan orang-orang untuk menggapai hidup yang bebas dari ketakutan, sedih, gelisah, dan segala yang buruk.

Pada akhirnya saya menyadari sebuah hikmah, bahwa yang paling pertama harus kita dapati bukanlah kondisi “tiada gelisah-nya”, melainkan mentalitas persandaran kepada Tuhan-nya.

Maksud saya begini. Umpamanya ada seorang yang kaya raya, memiliki sebuah mobil mewah berwarna merah. Kita termotivasi dan ingin menjadi kaya, maka kita mati-matian meminjam uang di bank untuk membeli sebuah mobil warna merah. Sepintas lalu sama, kita dan orang kaya itu sama-sama memiliki mobil warna merah. Tapi kita tetap saja miskin dan berbalut mentalitas miskin, sedangkan orang kaya tadi benar-benar kaya, dengan segala etos kerja yang kaya, kemampuan mengolah finansial khas orang-orang kaya, dll.

Jadi dalam pengibaratan tentang orang kaya itu, yang penting ditiru adalah etos kerja dan cara pandang mereka dalam mengelola uang. Mentalitas. Bukan produk luaran berupa mobil yang mereka beli. Continue reading

YANG SEMESTINYA SELESAI

duaaRamai saya temukan literatur, dari buku-buku orang arif, dari kekisah para Nabi dan Aulia, tentang bagaimana do’a bisa mendekatkan kita kepada Allah. Dalam logika premis yang lebih lanjut, kesimpulannya sederhana saja, jika semakin kita dekat kepada Allah, maka semakin kesulitan kita akan dimudahkan, kalau butuh pertolongan pasti ditolong.

Do’a, adalah salah satu bentuk dzikir juga rupanya. Dalam maknanya yang berupa “ingat”, maka ┬ádo’a sudah jelas merupakan bentuk ingat kepada Tuhan. Doa ialah bentuk curhat kepada Tuhan.

Maka masuk di akal, jika kita sering temukan ulama-ulama hikmah mengatakan bahwa dzikir yang memiliki bentuk do’a, atau bentuk curhat, ada muatan “bercerita” kepada Allah, ialah lebih utama untuk didawamkan orang awam. Ketimbang dzikir yang “sedikit” muatan do’a-nya.

Bukan perkara boleh tak boleh tentu saja, tapi maksudnya adalah, jika kita masih dalam ranah orang awam, maka dzikir atau do’a semisal “Ya Allah…. berilah ilham kepadaku, jagalah aku dari keburukan nafs-ku” tentu lebih gampang masuk di hati. Karena ada muatan do’a-nya, ada muatan curhatnya. Contoh lain, Semisal “astaghfirullah” juga ada muatan do’anya, ada semacam curhat-nya.

Tapi ada juga para ulama yang berdzikir dengan kata “Allah” saja, atau semisal “Ya Allah”, tentu bagus juga, tapi kalau saya pribadi sebagai yang masih awam, pemula, berdzikir dengan pilihan doa yang banyak muatan curhatnya akan lebih menggiring hati menuju khusyu.

Membiasakan dzikir ternyata mengasikkan juga. Mengingat apa masalah kita, langsung saja laporkan kepada Allah, lewat doa, dzikir, atau membatin dalam hati. Apa saja. Continue reading