JALAN ORANG-ORANG YANG KEMBALI

safarCeritanya, kalimat Bismillahirrahmanirrahim tidak akrab di telinga orang-orang arab masa-masa awal Rasulullah diutus. Yang mereka lebih akrab adalah kalimat “Bismika Allahumma”. Yang artinya kurang lebih “dengan nama-Mu ya Allah, Tuhan kami.

Orang-orang kala itu masih ‘Akrab’ dengan namaNya, tapi tidak tepat dalam memposisikan sifat Tuhan. Allah adalah sebuah entitas yang jauh dan seram dalam pandangan mayoritas orang waktu itu. Sampai-sampai mereka membuat patung-patung yang mereka tahu itu bukan Tuhan, tapi mereka tetap buat juga itu patung sebagai media perantara antara mereka dan Tuhan. Karena Allah adalah sebuah entitas yang tak terjangkau dalam benak mereka.

Dan kepada kaum inilah, kepada orang-orang yang begitu salahnya mempersepsikan Tuhan, Allah memperkenalkan kembali dirinya lewat sifat Rahman-Rahim. Sifat ini yang menjadi pengantar tema besar diutusnya Nabi Muhammad, yaitu membenarkan posisi Tuhan dalam benak khalayak, bahwa Rabb penguasa jagad raya ini adalah yang maha penyayang dan welas asih. Bismillahirrahmanirrahim, begitu Rasulullah memperkenalkan.

Saya jadi berfikir. Seandainya, Rabb kita ini memperkenalkan dirinya sebagai yang Maha pengasih dan Penyayang pada segolongan orang-orang yang memang pada dasarnya baik; kita bisa menebak bahwa pengenalan diri oleh Allah itu adalah semacam balas kebaikan pada kaum yang bersih dan terjaga. Tapi kok tidak. Nyatanya Allah mengusung Rahman Rahim sebagai sifat yang dikedepankan; bahkan pada golongan orang-orang yang dalam literatur kita temukan sebagai brangasan dan rusak. Continue reading “JALAN ORANG-ORANG YANG KEMBALI”

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑