SI PAHIT LIDAH

doaRido Allah bagi anak, terletak pada ridho orang tua. Ridho Allah bagi seorang istri, terletak pada ridho suaminya. Ridho Allah bagi manusia, terletak pada ridho manusia terhadap takdirNya.

Dulu waktu saya kecil, ibu saya pernah mendongeng tentang sipahit lidah. Konon, orang ini adalah orang yang begitu makbul ucapannya. Apa diucap; terjadi. Apa diucap; terjadi. Entah bagaimana hubungannya, lalu orang yang selalu makbul ucapannya ini dijuluki “pahit” lidahnya.

Dongeng tentang si pahit lidah, waktu kecil dulu adalah sangat fantastis. Setelah remaja, saya semakin sadar bahwa dongeng tinggallah dongeng belaka.

Tetapi semakin saya dewasa lagi, kembali saya menyadari bahwa yang selama ini saya anggap dongeng boleh jadi memang ada dalam kenyataan.

Tentu tidak sefantastis dalam kisah-kisah rakyat semacam itu, tapi hal-hal wajar biasa saja yang saking biasanya acap luput dari perhatian kita.

Seperti misalnya, sudah berulang kali kejadian, saat orang tua melarang adik-adik saya katakanlah, untuk melakukan sesuatu. Tapi toh nyatanya mbandel tetap juga dilakukan adik-adik saya, biasanya hal buruk terjadi.

“Jangan main motor sore-sore”. Kata Bapak pada adik saya yang paling kecil.

Nyatanya dia mbandel masih juga naik motor sore-sore di komplek yang ramai dengan anak-anak. Lalu Tak lama datang tetangga yang memberi kabar bahwa adik saya jatuh terjungkal di pengkolan. Tepat beberapa saat setelah Bapak begitu kesalnya pada adik saya.

Dan kejadian itu tidak cuma sekali. Berulang-ulang kali. Saya jadi tidak bisa untuk tidak teringat pada lakon si pahit lidah. Sampai belakangan saya menyadari, bahwa posisi orang tua kami, adalah posisi sebagai Bapak atau Ibu yang memang sudah dikabarkan bahwa “Ridho Allah ada pada Ridho orang tua”. Status sebagai orang tua, menjadi semacam kedekatan spiritual sendiri pada Allah, membuat doa mereka sulit untuk tertolak.

“orang tua, memiliki posisi spiritual yang membuat doa mereka (atau detak hati mereka) yang berkaitan dengan anak khususnya; probabilitas kemakbulannya tinggi sekali”.

Dan ini berlaku juga untuk : Guru pada muridnya. Suami pada Istrinya. Kakak tertua (yang memanggul beban seperti orang tua) pada adik-adiknya. Orang yang dizolimi pada yang menzoliminya. Dan macam-macam.

Saat saya sudah berkeluarga, saya kembali teringat logika ini. Misalnya saya sedang kesal kepada istri saya. Kepada anak saya. Atau misalnya sebagai seorang kakak saya merasa jengkel terhadap polah adik saya, rupanya secara tidak sadar ada semacam perasaan di hati, “tunggulah, kalau tidak manut kata yang lebih tua nanti ada balasannya”. Continue reading “SI PAHIT LIDAH”

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑