JALAN ORANG-ORANG YANG KEMBALI

safarCeritanya, kalimat Bismillahirrahmanirrahim tidak akrab di telinga orang-orang arab masa-masa awal Rasulullah diutus. Yang mereka lebih akrab adalah kalimat “Bismika Allahumma”. Yang artinya kurang lebih “dengan nama-Mu ya Allah, Tuhan kami.

Orang-orang kala itu masih ‘Akrab’ dengan namaNya, tapi tidak tepat dalam memposisikan sifat Tuhan. Allah adalah sebuah entitas yang jauh dan seram dalam pandangan mayoritas orang waktu itu. Sampai-sampai mereka membuat patung-patung yang mereka tahu itu bukan Tuhan, tapi mereka tetap buat juga itu patung sebagai media perantara antara mereka dan Tuhan. Karena Allah adalah sebuah entitas yang tak terjangkau dalam benak mereka.

Dan kepada kaum inilah, kepada orang-orang yang begitu salahnya mempersepsikan Tuhan, Allah memperkenalkan kembali dirinya lewat sifat Rahman-Rahim. Sifat ini yang menjadi pengantar tema besar diutusnya Nabi Muhammad, yaitu membenarkan posisi Tuhan dalam benak khalayak, bahwa Rabb penguasa jagad raya ini adalah yang maha penyayang dan welas asih. Bismillahirrahmanirrahim, begitu Rasulullah memperkenalkan.

Saya jadi berfikir. Seandainya, Rabb kita ini memperkenalkan dirinya sebagai yang Maha pengasih dan Penyayang pada segolongan orang-orang yang memang pada dasarnya baik; kita bisa menebak bahwa pengenalan diri oleh Allah itu adalah semacam balas kebaikan pada kaum yang bersih dan terjaga. Tapi kok tidak. Nyatanya Allah mengusung Rahman Rahim sebagai sifat yang dikedepankan; bahkan pada golongan orang-orang yang dalam literatur kita temukan sebagai brangasan dan rusak. Continue reading

SI PAHIT LIDAH

doaRido Allah bagi anak, terletak pada ridho orang tua. Ridho Allah bagi seorang istri, terletak pada ridho suaminya. Ridho Allah bagi manusia, terletak pada ridho manusia terhadap takdirNya.

Dulu waktu saya kecil, ibu saya pernah mendongeng tentang sipahit lidah. Konon, orang ini adalah orang yang begitu makbul ucapannya. Apa diucap; terjadi. Apa diucap; terjadi. Entah bagaimana hubungannya, lalu orang yang selalu makbul ucapannya ini dijuluki “pahit” lidahnya.

Dongeng tentang si pahit lidah, waktu kecil dulu adalah sangat fantastis. Setelah remaja, saya semakin sadar bahwa dongeng tinggallah dongeng belaka.

Tetapi semakin saya dewasa lagi, kembali saya menyadari bahwa yang selama ini saya anggap dongeng boleh jadi memang ada dalam kenyataan.

Tentu tidak sefantastis dalam kisah-kisah rakyat semacam itu, tapi hal-hal wajar biasa saja yang saking biasanya acap luput dari perhatian kita.

Seperti misalnya, sudah berulang kali kejadian, saat orang tua melarang adik-adik saya katakanlah, untuk melakukan sesuatu. Tapi toh nyatanya mbandel tetap juga dilakukan adik-adik saya, biasanya hal buruk terjadi.

“Jangan main motor sore-sore”. Kata Bapak pada adik saya yang paling kecil.

Nyatanya dia mbandel masih juga naik motor sore-sore di komplek yang ramai dengan anak-anak. Lalu Tak lama datang tetangga yang memberi kabar bahwa adik saya jatuh terjungkal di pengkolan. Tepat beberapa saat setelah Bapak begitu kesalnya pada adik saya.

Dan kejadian itu tidak cuma sekali. Berulang-ulang kali. Saya jadi tidak bisa untuk tidak teringat pada lakon si pahit lidah. Sampai belakangan saya menyadari, bahwa posisi orang tua kami, adalah posisi sebagai Bapak atau Ibu yang memang sudah dikabarkan bahwa “Ridho Allah ada pada Ridho orang tua”. Status sebagai orang tua, menjadi semacam kedekatan spiritual sendiri pada Allah, membuat doa mereka sulit untuk tertolak.

“orang tua, memiliki posisi spiritual yang membuat doa mereka (atau detak hati mereka) yang berkaitan dengan anak khususnya; probabilitas kemakbulannya tinggi sekali”.

Dan ini berlaku juga untuk : Guru pada muridnya. Suami pada Istrinya. Kakak tertua (yang memanggul beban seperti orang tua) pada adik-adiknya. Orang yang dizolimi pada yang menzoliminya. Dan macam-macam.

Saat saya sudah berkeluarga, saya kembali teringat logika ini. Misalnya saya sedang kesal kepada istri saya. Kepada anak saya. Atau misalnya sebagai seorang kakak saya merasa jengkel terhadap polah adik saya, rupanya secara tidak sadar ada semacam perasaan di hati, “tunggulah, kalau tidak manut kata yang lebih tua nanti ada balasannya”. Continue reading

MELEWATI PERMAINAN ZAMAN

perjalananAda paradoks saya rasakan pagi ini. Sebuah kenyataan bahwa hidup manusia itu bisa terasa serius-mencekam sekaligus senda gurau-permainan belaka.

Sebagai karyawan kantoran di dunia kontraktor migas, sudah tugas saya untuk saban pagi ikut meeting di client, perusahaan migas. Saya mengamati, setiap potongan pagi yang dimulai dengan meeting inilah yang nantinya akan menentukan aura keseluruhan sisa hari –baik saya ataupun juga mereka-; apakah santai, ataukah akan begitu intens dan cepat.

Seperti pagi ini. Meeting berjalan dengan begitu lama dan alot. Sebuah masalah pemboran minyak di sebuah sumur membuat progress tersendat-sendat. Ancaman dari pihak pemerintah untuk menstop aktivitas drilling sudah di depan mata. Orang-orang semua panik dan berdebat larat, sekali-kali mencoba untuk menukik dan mencari siapa yang secara teknikal merupakan penyebab masalah ini.

Lalu, sembari perjalanan pulang dari meeting, saya merenung. Saya tidak membayangkan tentang masalah pengeboran itu. Tapi yang saya bayangkan adalah bahwa betapa hidup ini bisa begitu intens, ritmenya cepat, begitu serius dan mencekam; tapi di lain sisi, tidak bisa kita menolak bahwa ‘ya hidup yang seperti inilah yang diberitahu oleh Kanjeng Nabi beratus tahun lalu sebagai “senda gurau belaka”. Sebagai “permainan”. Sebagai “hanya tempat singgah”.

Pasti ada yang salah, pada diri saya, apabila saya merasakan sebuah kehidupan yang terlalu serius dan menghantui keseluruhan perikehidupan saya, sedang sang Nabi mengatakan ini permainan. “mampir ngombe” kalau kata orang jawa. Numpang minum sebentar.

Belakangan. Saya baru menyadari sebuah parameter paling gampang, untuk meluruskan diri saya pribadi, seandainya saya sudah salah arah dalam memaknai hidup. Parameter itu ialah apabila dalam keseharian saya, saya terlalu diliput cekaman ketakutan akan apa yang sedang saya kerjakan, itulah tanda bahwa saya sudah tidak lagi menganggap dunia ini senda gurau.

Saat keseharian saya dari saya bangun sampai saya bangun lagi sudah diisi dengan: rantai hidrokarbon, pemboran minyak, reaksi kimia, revenue, cost, profit margin, dan hanya melulu itu-itu saja; Terjemahnya Begitu simple, artinya adalah saya sudah salah arah.

Padahal, keseluruhan perjalanan hidup saya ini semestinya adalah dalam sebuah tema sentral menemukan jalan pulang. Karna Sang Nabi dan orang-orang suci sepanjang sejarah telah mengatakan bahwa ini semua permainan. Permainan.

Tentu, kita tetap harus serius melewati zaman. Karena untuk sampai di tujuan, kita perlu penunjang hidup, perlu makan minum. Selepas makan-minum dan sandang-papan sepanjang perjalanan itu, kita toh nyatanya masih juga bekerja melebihi apa yang kita butuh. Mengapa?

Di sinilah jebakannya. Saya baru menyadari bahwa sebagian orang terus bekerja mengejar harta melebihi apa yang mereka butuh. Karena harta dan jabatan itulah pusat tata surya kehidupannya. Seluruh gravitasinya. Yang memenuhi ruang batinnya.

Sebagian yang lain tetap bekerja juga, tapi bahan bakar gerakan mereka adalah karena ingin mendistribusikan apa yang dia punya, untuk kebutuhan istrinya, anaknya, keluarganya. Dan yang lebih penting, dalam pendistribusian rizki itulah mereka menemukan arti dari jargon “hidup sekedar mampir”. Bukan untuk menjadi terkenal sebagai dermawan, bukan untuk menjadi aktual dan merasa ‘ada’,  tetapi lebih kepada karena Tuhan mengatakan –lewat sabda NabiNya- bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberi kemanfaatan untuk orang lain.

Pada galibnya, di tataran fisik mereka semua terlihat sama-sama bekerja dan ricuh dengan aktivitas. Tapi ada yang beda kalau kita longok ruang batinnya.

Orang yang mengerti bahwa semua ini senda gurau belaka, semestinyalah tiada dicekam ketakutan dan kebrisikan angan-angan dalam hatinya. Karena mereka menyadari bagiannya hanyalah sebagai salah satu aktor saja, dalam lakon kehidupan yang memanglah sebentar dan permainan semata.

Apabila batin kita sudah terlalu takut dan dicekam kebrisikan dunia, mungkin kita sudah terjebak dan mulai menganggap permainan sebagai lebih dari yang semestinya saja.

——-

*) gambar dipinjam dari sini