UNTUK TIAP-TIAP YANG BERTAHAN HINGGA AKHIR

Assalamualaikum

salam para penghuni syurga untuk seorang sahabat yang sedang berjuang untuk menyelesaikan sepenggal kisah perjuangan hidup di penghujung masa kuliah ini. untuk keluarga, untuk bakti seorang anak, untuk hormat seorang adik, untuk kebijakan seorang kakak, untuk cinta seorang pemimpi, dan untuk tiap-tiap apa saja yang kau lakoni dengan penuh kesungguhan dan cita, semoga dilancarkan dan dimudahkan.

Saat ini, mungkin kita sudah menempuh jalur hidup yang dihamparkan untuk kita masing-masing, kawan.
apa kabar harimu? Semoga segala aral melintang pukang dapat dilalui dengan tersenyum, karena kita sadar betul, bahwa semua itu suatu nanti jadi kenangan terindah dalam hidup kita, yang bisa kita ceritakan dengan heroik dan meniru gaya para orang tua kita dulu waktu menceritakan kisah-kisah kepahlawanan mereka.

Betapapun,
akhirnya kita sampai juga pada suatu masa dimana kita harus melewati lagi semua fase itu.
semua fase kesendirian, semua fase keletihan, semua fase yang membuat kita merasa jadi seorang terasing di belantara hidup ini.

Tapi betapapun juga,
kita- yakin sekali saya– akan jadi orang yang bertahan hingga titik akhir fase cerita itu, nanti kita akan jadi orang bijak yang mengajarkan pada anak-anak muda di seberang sana tentang bagaimana caranya menghadapi hidup, tentang bagaimana caranya bertahan, tentang bahwa semua badai pasti berlalu, tentang bahwa semua gelap akan jadi terang, tentang bahwa kita adalah saksi sekaligus pelaku sejarah lakon kekuatan tekad manusia yang meluluh lantakkan karang keras kehidupan.

Apa kabarmu di sana, kawan?
semoga semua kesendirian dapat dilewati dengan santai dan tanpa beban, karena kita yakin betul, bahwa kita, suatu ketika akan bercerita dengan ringan, kepada siapapun dia yang menjadi teman hidup kita nanti, bahwa jauh sebelum kehadiran dia, kita sudah merasakan pertanda yang muncul lewat angin yang berdesir, yang muncul lewat rintik hujan, lewat desah mentari sore yang menjadi tua, lewat malam-malam hening kita yang kita lalui sendiri, kita sudah merasakan pertanda bahwa ada seorang yang juga menanti di ujung belahan dunia sana.
Maka itu kita terlalu malu untuk sekadar menjadi orang yang terlalu panik, dan mengejar apa yang orang biasa sebut dengan cinta, karena kita ingin kita menjadi layak –meskipun sedikit- untuk pendamping semulia mereka.

Apa kabarmu di sana kawan?
semoga semua ketidakpastian akan masa depan dapat dijadikan semangat menggelegar karena yakin bahwa hidup ini akan menjadi lebih luar biasa dengan kejutan kejutan.

Dalam tataran apapun, dan dalam status apapun yang akan diberikan kepada kita nantinya, kita hanya punya satu cita-cita, bahwa semua akan berbahagia untuk telah melahirkan anak seperti kita, untuk memiliki adik seperti kita, untuk memiliki kakak seperti kita, untuk memiliki seorang sahabat seperti kita.

Apa kabarmu di sana kawan?
semoga selalu baik,
karena sampai detik waktu terakhir nanti, kita akan terus mengukir epik, menjadikan dunia ini untuk tidak menyesal karena catatan harinya terukir dengan cerita bahwa terdapat pejuang kehidupan yang mengisi lembar sejarahnya,
pejuang yang bernama KITA.

Waktu kita terus mengalir detik demi detik,
mungkin pada akhirnya nanti, dunia ini tidak pernah kenal siapa kita, tetapi paling tidak kita telah memenuhi janji pada diri sendiri untuk berbuat yang terbaik yang kita bisa, untuk ayah dan bunda, kakak dan adik kita, untuk teman2 terbaik kita, untuk pasangan jiwa nun di sana, dan pada akhirnya…untuk dunia

Apa kabarmu di sana kawan????

 

*) Ini tulisan jaman masih kuliah dulu, betapapun tua, tulisan ini masih relevan sampai sekarang. Saya biarkan tak ter-edit, meski sangat ingin menambahkan dan mengoreksi diri sendiri bahwa segala jenak perjuangan sejauh ini ialah untukNya, bukan untuk siapa-siapa semestinya.

DI SEBRANG PEMATANG

pematangTeringat saya, akan sebuah perumpamaan dari ulama-ulama arif, bahwa fiqih ialah tata aturan, yang membahas tentang batasan-batasan. Mana boleh, mana tiada boleh. Seumpama sawah, fiqih ialah pematang. Border. Pembatas yang tidak boleh dilanggar. Tapi kehidupan dunia pertanaman padi tiadalah berhenti sebatas pematang. Di sebrangnya pematang, di dalam sawah itu ialah area dimana kita boleh berkreasi memaksimalkan penanaman padi.

Permisalan lainnya juga adalah bermain bola. Fiqih ialah tata aturan. Bermain bola harus pakai kaki. Tidak boleh keluar garis. Tidak boleh kena tangan, dsb. Tapi persoalan bola bukanlah semata mengenai pelanggaran. Ianya adalah mengenai bagaimana setelah kita mengenal tata aturan itu; kita bisa bermain secara baik. Bermain bola sambil merangkak, tidak menyalahi aturan. Tetapi dia tidak sesuai dengan ide untuk bermain secara baik. Kalaulah tidak dikatakan orang gila itu yang bermain bola sambil merangkak.

Saya baru tersadar, bahwa dalam keseharian, banyak sekali klaim kita yang berkutat mengenai tata aturan batas-batasan. Saya dulu terjebak pada pemikiran begitu. Berhenti sebatas pematang. Bukan mengenai mengoptimalkan dunia pertanaman padi. Bukan mengenai bermain bola secara baik. Sehingga, klaim bahwa orang lain sesat, orang lain berlebihan dalam beragama; beredar dimana-mana.

Teringat saya, dengan sebuah cerita tentang Umar yang karena tertinggal sholat ashar sebab saking asyiknya mengamati kebun, beliau menghukum dirinya sendiri dengan menyedekahkan kebunnya.

Teringat juga saya, dengan sebuah cerita tentang utsman bin affan yang saking pemalunya, kalau beliau mandi maka memakai basahan, berjongkok di pojokan kamar mandi, pintu ditutup dikunci, pintu kamar ditutup dikunci, pintu rumah ditutup terkunci.

Jika konsentrasi perikehidupan kita hanyalah soalan batas-batasan, tidak kita temukan ajaran Sang Nabi yang menyuruh seseorang menyedekahkan kebunnya kalau misalnya sholatnya tertinggal karna melihat kebun. Tidak juga ada ajaran yang menyuruh untuk mandi meringkuk di pojokan, pakai basahan, dengan pintu tertutup semua dari kamar sampai gerbang depan rumah misalnya.

Tetapi ada dimensi “kedekatan” ada dimensi “cinta” antara dua sahabat mulia itu, dengan Tuhannya. Dimensi kedekatan inilah, yang tidak melanggar batas-batasan, namun sering disalahpahami oleh sebagian orang.

Misalnya saja, kita bekerja di sebuah kantor. Kita punya seorang bos yang tiap bulan harusnya meng-approve expense atau biaya pengeluaran kita. Karena kita orang baru di kantor itu, maka “menanyakan kepada bos itu apakah uang expense atau pengeluaran kita sudah di-ACC” adalah hal lumrah. Logis. Masuk akal – semasuk akalnya, masuk aturan semasuk-aturannya. Tapi saat sudah berganti tahun, berganti dekade, kita mengakrabi bos kita itu dan kita tahu, “bahkan sebelum kita tanya pun” rupanya bos kita ini sudah meng-approve dan malah menanyai kita lebih dulu tentang mana-mana anggaran yang mau ditanda tangani; mestinya ada semacam “kedekatan” yang muncul dalam hati kita.

Mestinya ada semacam pengenalan yang membuat kita malu untuk selalu bertanya. Toh tanpa kita bertanyapun, beliau sudah lebih dulu mengecek. Lebih dulu menanda tangani. Sebegitu baiknya pada kita.

Rasa kedekatan ini lho, yang tidak melanggar batasan-batasan, tapi sering disalahpahami.

Seorang karyawan baru, akan “melanggar” tata aturan kontribusi keturut-andilan, saat dia tidak pernah bertanya pada bosnya mengenai apakah anggaran sudah ditanda tangani atau belum. Tapi seorang karyawan yang sudah bertahun-tahun dan mengenal pribadi bosnya, akan “semacam melanggar” tata norma kedekatan, kalau masih juga setiap saat bertanya-tanya hal yang sama.

Maka di seberang pematang, ada dimensi cinta semestinya. Dan disanalah umar Ibn Khattab yang mensedekahkan kebunnya berada, dia tidak berlebihan dalam beragama, dia tidak melanggar pematang, tapi dia ada di dalam dimensi cinta itu. Sesuatu yang membuatnya ewuh pakewuh dan malu kepada Tuhan untuk meninggalkan sholat ashar. Di situ juga sahabat utsman ibn affan. Disitu juga para wali yang sering disalahpahami.

Maka ketika saya mendengar ada orang yang mengkritik syair abunawas dengan ucapan “doa macam apa itu, berdoa kok ga jelas minta apa. Doa itu harus tegas minta surga!”

Saya tak bisa berkata apa, hanya membayangkan dengan haru Abunawas sang pendosa yang taubat itu sudah ada di sebrang pematang, dengan kedekatan yang membuatnya sampai malu mengojok-ojok Tuhan dengan permintaan, kala melantunkan:

Oh Tuhanku, aku bukanlah ahli surga Juga tak mampu menahan siksa neraka.

—-

*) gambar diambil dari sini