JELAGA

Aku ingin menulis sajak buatMu, tapi kata-kataku jelaga.
Apalagi yang bisa disusun-susunkan untukMu “Cahaya”? Bila huruf rupanya sudah hitam keling.

Aku setengah lari.
Dari awalan yang buram dan rabun.
Aku susun sebait larik.
Yang meski menyajak kurasa tak,
meski jelaga kusurut tak.

Aku ingin menulis sajak buatMu, meski layak kukira tak.

Aku jelaga Engkau Cahaya.
Dan aku masih berjalan memohon-mohon: tunjukkan ufuk.

Aamiin.

—-

*) puisi lama nih, posting ulang

YANG TERCERAHKAN

tafakurKemarin sore saya menonton sebuah acara TV. Mengangkat profil beberapa orang yang mengajarkan bagaimana meraih kebahagiaan. Salah satu profil yang diangkat disana ialah Gede Prama. Saya tertarik mendengar sepotong episode yang beliau tuturkan.

Waktu itu beliau umurnya 38 tahun, masa produktif dimana capaian hidup yang rasanya dikejar oleh banyak orang seusia beliau sudah dia dapatkan, tapi malah beliau memilih untuk mengakhiri karirnya dan pulang ke kampung halamannya di Bali. Menekuni meditasi, menjadi guru kearifan.

Cerita ini menjadi menarik bagi saya meski saya seorang muslim, karena entah sudah berapa banyak cerita dengan plot yang nyaris serupa kita dengar. Umpamanya saja kisah Sidharta Gautama yang demikian santer, meninggalkan gegap gempitanya hidup sebagai putra mahkota, lalu memilih hidup menjadi pertapa, dan pada akhirnya menjadi guru. Dari tanah jawa ada cerita Eyang Suryo Mentaram -yang muslim- yang juga meninggalkan kehidupan kraton, padahal beliau putra mahkota Sri Sultan -persisnya HB keberapa saya tidak ingat lagi-. Dari barat juga ada, salah satu personel The Beatles, George Harrison, meninggalkan gemerlap dunia panggung untuk belajar kepada seorang yogi yaitu Maharisi Mahesh.

Satu hal yang kemudian secara kasaran kita bisa tarik garis merahnya, pertama bahwa kehidupan mereka di puncak karirnya rupanya tidak memberikan mereka kebahagiaan. Kedua, mereka gelisah memikirkan kebahagiaan yang entah seperti apa bentuknya, lalu kegelisahan itu mengantarkan mereka pada renungan-renungan dengan pola masing-masing. Ketiga, puncak kegelisahan itu ialah mereka melepaskan segala atribut kemewahan untuk lalu banting setir pada dunianya yang baru, dunia kontemplasi, lebih spiritualis, atau apalah kita menyebutnya. Dan yang terakhir, menurut mereka, dunia mereka yang baru itu lebih bahagia.

Ada apa ini?

Saya tentu saja, kalah asam garam dibanding nama-nama tenar di atas. Tapi yang selalu menjadi kekhawatiran saya adalah sebuah fakta bahwa kebahagiaan itu tidak bisa diraih dengan pencapaian keduniawian. Itu sudah sak-milyar orang di dunia tahu, tetapi malah nyata-nyatanya kehidupan hari ini yang kita jalani membebat kita untuk terus menerus larut dan tercekik aktivitas.

Sempat saya berfikir, apa iya, untuk menjadi seorang yang lebih menghayati hidup maka saya harus pula berhenti dari aktivitas saya sebagai engineer migas dan lalu banting jalur jadi pertapa? Atau kalau muslim ya jadi kiai, sufi begitu, rasanya kok ya tidak lucu.

Menjadi orang yang tercerahkan lewat jalur banting setir seperti cerita di atas; rasanya jauh panggang dari api, tapi kegelisahan seperti mereka itu nyata kita rasakan. Hanya saja sebagian orang sudah semakin hilang rasa sensitifnya terhadap sesuatu yang kosong dalam jiwanya. Karena semakin dia gelisah, semakin dia sibuk bekerja, gelisahnya seakan hilang, semakin dia larut dalam hiruk pikuk kerja. Padahal dalam batinnya yang paling dalam sekali, kalau sebentar saja ingin mendengarkan, pastilah melaporkan bahwa bukan ini yang dia cari. Bukan ini, sungguh.

Beruntung saya bertemu kitab Al-Hikam. Ditulis terang-terang disana pada point awal-awalnya, yang kurang lebih menjelaskan bahwa tiap orang sudah memiliki peruntukannya sendiri di dunia ini. Tidak setiap orang harus berprofesi sebagai Ustadz, Kiai, Guru kearifan, apalah, apalah. Tapi ada yang pekerja, ada yang pedagang. ada yang petani. Dunia butuh komposisi seperti ini.

Dan sikap hidup kontemplatif yang benar, menurut Ibnu Athaillah adalah menjalani apa yang diberikan kepada kita saat ini dengan penuh kesyukuran dan kesadaran akan tema besar bahwa bukan kerjanya ini yang jadi final destination kita. Tapi Yang Memberikan Kita Takdir Seperti sekarang inilah yang jadi kutub yang dituju kompas arah hidup kita.

Tantangannya adalah memang untuk pekerja-pekerja seperti kita harus sering-sering mengerem laju aktivitas, biar tidak terlalu ngebut dan auto pilot. Biar ada maknanya. Salah satu rem paling manjur, rem yang “given” adalah rasa gelisah itu tadi. Kalau Allah memberikan kita rasa “gelisah” di hati dan bertanya-tanya akan makna hidup, akan apa yang kita jalani sekarang kok seperti hambar padahal karir bagus, pekerjaan ok, dan sebagainya, berarti Tuhan memberikan semacam auto break. Jeda sejenak agar kita menjadi yang tercerahkan. Sebelum kembali berpusal-pusal dengan aktivitas kita.

Seperti Sang Nabi SAW, kalau boleh mengambil analogi meski tidak mungkin bisa dibandingkan; yang mengalami gelisah luar biasa dan khalwat di gua hira, untuk kemudian setelah “tercerahkan” maka terjun kembali ke kancah masyarakat dan melakukan apa yang sudah jadi Garis Hidup Beliau.

Ya level kita-kita sih tidak usah terlalu muluk-muluk. Setelah mendapatkan “alarm” kegelisahan itu maka Berhenti sejenak sajalah dalam keseharian kita yang ngebut, lalu hela nafas, dan tanyakan kembali, dari mana kita, mau kemana kita, apa yang kita kerjakan sekarang ini? lalu kita minta Allah menuntun kita. Biar hidup yang sekali-kalinya ini tidak ngebut tak karuan hantam sana-sini.

Bagus lagi, kalau kita sama-sama belajar supaya lebih “masuk” dalam sholatnya, agar memberi semacam jarak mental antara kita dengan aktifitas kita untuk tak terlalu larut. Jadi siklus hidup kita mungkin begini: “grasa-grusu dengan dunia-banyak dosa-gelisah- lalu “kembali”.

Setidaknya sebagai awalan Bisa kita pertahankan dulu sikap kembali-nya itu. Tiap gelisah, kita “kembali”. Tiap gelisah, kita “mbalik ke Allah”.

Semakin sering kita tumakninah dalam hidup dan mengatur laju hari-hari kita, tahu tema besar drama hidup kita, kata para guru, kita akan tercerahkan juga.

Seperti apa hidup yang tercerahkan itu? saya juga tidak tahu, yang jelas ada peran yang harus kita jalani sekarang, dan mari kita jadikan tunggangan buat pulang.

DI PELATARAN PERMAAFAN

Ada memang, sebagian orang yang begitu semangat mengoreksi tradisi meminta maaf lahir batin saat idul fitri. Dalam pandangan mereka, hal itu tiada dicontohkan.

Seloroh lucu-lucuannya ialah “kenal saja barusan, lalu kenapa minta maaf?”

Pandangan rekan-rekan yang berpendapat seperti itu ialah bahwa yang lebih ada tuntunannya ialah mendoakan agar ibadah kita diterima, aliha-alih meminta permaafan.

Saya sih menilai bahwa ada dimensi budaya dalam tradisi minta maaf di idul fitri. Selama “ritual” minta maaf, mudik, dan sebagainya itu lahir dari hati yang tulus dan tidak menganggap semua itu sebagai sebuah kemestian syariat; saya pribadi percaya banyak kebaikan di dalamnya.

Memang, sebagian pembaca blog ini belum pernah bertemu langsung dengan saya. Dan saya, begitu sedikit mengetahui siapa saja orang-orang yang sudah berbaik hati meluangkan secebis waktunya membaca celoteh-celoteh disini. Jadi saya rasa, sayalah yang paling dituntut untuk berterimakasih dan memintakan kerelaan permaafan rekan-rekan semua.

Untuk segala khilaf dan tak sopannya tulisan-tulisan selama ini, atau juga untuk tak sesuainya apa yang saya tulis dengan keseharian saya pribadi.

Saya mohon maaf.

Saya tidak ingat, saat saya menuliskan ini apatah malam ganjil atau malam genap ramadhan. Sekedar saya tidak bisa untuk tidak menyatakan harapan dan pelajaran yang saya terima, betapapun buruk dan suramnya masa lalu kita, jangan pernah sungkan untuk meminta permaafan pada Tuhan, pada Rabb jagadita semesta ini. Karena jikalah kita datang dengan dosa sepenuh lautan, Dia selalu menanti dipintu dengan ampunan sepenuh langit dan bumi.

Semoga kita kelak bersama-sama, bersimpuh di pelataran permaafanNya.