KELEDAI PENGGILINGAN

donkey-workIbnu Athaillah pernah mengibaratkan; ada manusia yang berputar-putar dari satu keadaan menuju keadaan lainnya, ibarat keledai penggilingan. Tidak ada ujungnya.

Bahasa beliau waktu itu agak susah dikunyah, apa maksudnya? Sampai sekian tahun kemudian saya tiba-tiba tersadarkan -atau disadarkan- tentang apa maksud beliau itu.

Pasal utamanya adalah kegelisahan saya ketika menghadapi suasana pekerjaan. Berada pada lokasi pengeboran yang baru dan adaptasi yang menyita energi; membuat saya gelisah. Lalu ketika ada tawaran kantor untuk berganti posisi dan mencoba peruntungan jadi pekerja kantoran alih-alih pemburu minyak di lautan lepas; membuat saya gelisah juga. Gelisah kok terus-menerus? Saya bingung.

Pelan-pelan saya urutkan. Waktu SMA dulu saya tidak puas dengan kondisi keluarga yang serba pas-pasan dan suasana rumah yang gerah, saya ingin segera keluar dari sana. Lalu tibalah masa kuliah, awalnya saya mati-matian membenci jurusan Geologi tempat saya belajar, merasa tidak sehati, tapi toh bertahan juga hingga tiba akhir kuliah. Lepas kuliah saya bekerja menjadi “pemburu” minyak di macam-macam tempat, berkelindan dengan orang-orang dengan berbagai-bagai karakter dan gurat kebangsaan, tetap saja ada sisi yang membuat saya gelisah dan merasa tidak puas.

Dalam mata rantai ketidak puasan itu, saya berdoa kepada Allah agar memindahkan saya dari keadaan yang saya benci itu kepada keadaan yang lain yang menurut saya bisa membuat saya bahagia. Di benak saya, kebahagiaan itu pastilah sesuatu yang berkait dengan “keadaan”.

Tapi waktu berdoa itu, saya terfikirkan, bagaimana seandainya sampai akhir hayat nanti kita tetap pada keadaan yang kita benci itu? apakah sampai akhir masa nanti kita akan hidup sebagai orang yang terkebiri kebahagiaannya? Padahal, rasa-rasanya, kalaupun dipindahkan kita pada keadaan yang baru, akan ada saja hal yang membuat kita tidak bahagia dan merasa ingin lari pada keadaan yang lain.

Apabila kita sudah mengira bahwa kebahagiaan kita adalah sesuatu yang tertambat pada keadaan tertentu, maka kebahagiaan itu pastilah labil. Karena sudah fitrahnya suatu “keadaan” untuk berganti seiring periode takdir.

Bila saya mengira kebahagiaan itu adalah bekerja di rig pengeboran laut ketimbang daratan, atau kebahagiaan itu ada pada bekerja kantoran ketimbang lapangan, atau yang lain-lain lagi, maka kebahagiaan saya sangat labil. Karena entah apa takdir di depan, tidak ada yang tahu apakah saya nanti akan ditempatkan pada pengeboran laut? pengeboran darat? atau bahkan pada suasana kerja yang sama sekali berbeda?

Dan itulah yang selama ini selalu membuat saya gelisah, setiap saya berada pada sebuah keadaan, saya merasa bahwa “keadaan” yang lain lagi-lah yang akan membuat saya bahagia. Karena kebahagiaan itu sudah kadung saya tambatkan pada “keadaan” tertentu.

Maka kata Ibnu Athaillah, saya seperti keledai penggilingan yang berputar-putar tiada tahu tujuan. Yang saya lakukan sesungguhnya hanya pindah-pindah keadaan saja, tapi dengan kondisi hati yang sama sekali belum menemukan kesejatiannya.

Dan kunci kebahagiaan sejati, rasanya adalah dengan tidak menambatkan kebahagiaan itu pada “keadaan-keadaan” yang semu dan gampang berubah, karena takdir Allah mana kita tahu.

Tapi harusnya, kebahagiaan itu kita tambatkan pada Dia, Yang Maha Sejati, sang pemilik segala keadaan. Saya tentu saja tetap berdoa dan meminta, tetapi saya belajar sedikit-sedikit menggeser fokus doa saya, dari melulu pada mengira kebahagiaan itu hanya ada pada keadaan yang saya pintakan; menjadi upaya menyadarkan diri sendiri bahwa ‘meminta dan curhat pada Tuhan-inilah’ kebahagiaan itu. Sehingga, dalam doa kita nanti, kita lebih menikmati kebersamaan denganNya, tinimbang permintaan kita itu sendiri.

Ada cerita yang super masyhur kita sama-sama tahu. Tentang keluarga Ali dan Fatimah. Dua-duanya kalau dibanding level kita-kita ini, bagaikan bumi dan alam gaib. Tapi orang sekaliber mereka, dalam kisah yang kita dengar itu, juga merasakan sesaknya himpitan hidup. Kisah keluarga mereka itu bukan yang datar dan penuh senyam-senyum seperti dalam novel. Fatimah mengeluhkan keadaannya yang tiap hari bekerja keras menggiling gandum dengan tangan sampai melepuh. Ali juga mengeluh tentang kondisinya yang tiap hari bekerja keras tapi masih sedikit juga penghasilan.

Singkat cerita, setelah menguatkan hati untuk menghadap kepada Sang Nabi dan mengutarakan maksudnya untuk meminta seorang pembantu rumah tangga, oleh Nabi malah mereka berdua diajarkan sesuatu yang lebih berharga dari dunia dan seisinya. Yaitu ucapan tasbih, tahmid dan tahlil yang biasa kita baca lepas sholat itu. Kan kalau sepintas lalu rasanya tidak masuk di akal? orang kesulitan hidup dan butuh pembantu rumah tangga, malah diajari dzikiran?

Saya merenung, apa tidak boleh mereka untuk sejenak berbahagia dengan beban rumah tangga yang lebih ringan karena ada pembantu?

Tiba-tiba saya paham, Oooh… bukan masalah tidak boleh berbahagia, tapi sang Nabi ingin agar menantu dan anak perempuan tersayangnya itu menambatkan bahagia bukan pada “keadaan”, tapi pada sang pemilik keadaan. Agar ada pembantu atau tiada pembantu, sama jua. Bahagia.

Mindsetnya ini dulu yang harus digempur. Karena kalau masih keliru-keliru, berpindah seribu keadaan-pun akan tetap sama.

Mudah-mudahan saya tidak seperti keledai penggilingan itu. Tapi kebalikannya, keadaan bagaimana saja, kalau sudah menemukan kesejatiannya, mudah-mudahan bahagia semata.

———-

*) note: tentu belum levelan saya untuk tidak terombang-ambing dengan ombak dunia, gelisah masih sering menyapa, takut cemas datang silih berganti, tapi setidaknya kalau tahu kemana harus menuju, meski tertatih itu lebih baik ketimbang berputar-putar. Dari keadaan, menuju “yang bukan keadaan”.