THE TAO OF LIFE

final

Sirine meraung-raung. Saya mengenakan boot dengan tergopoh-gopoh lalu saya lari kesetanan. Di ujung sana orang-orang sudah berkumpul dan berbaris rapih. Tanpa komando.

Saya masih deg-degan, bukan dengan sederhana, tapi benar-benar berdegup. Anehnya sembari jantung berdegup saya sempat juga mengagumi sebuah keteraturan dalam kerunyaman itu.

Saya teringat pelajaran PPKN oleh Pak Min, dulu sewaktu SMP, bahwa ada tatanan masyarakat yang awalnya merupa chaos tapi kemudian dalam satu moment saja langsung bisa berubah tertib, misalnya kerumunan penonton yang memasuki bioskop, awalnya chaos lalu langsung tertib setelah duduk di bangku. Mirip-mirip dengan kerumunan orang-orang di anjungan pengeboran ini. Satu sirine tanda bahaya berdengung, lalu semua orang sudah tahu apa yang akan dilakukan, lari menuju muster point (tempat berkumpul) di depan gerbang. Seperti hari itu.

Saya membayangkan ada gas semacam H2S yang melesat keluar dari dalam sumur pengeboran, konon gas itu sangat berbahaya, racun pembunuh nomor dua paling ampuh sejagat setelah sianida, dan celakanya lebih berat dari udara sehingga akumulasinya pastilah menghuni sudut-sudut yang rendah, tempat kebanyakan manusia berada, bukan pada awang-awang tinggi yang bersih tempat burung-burung terbang dan tempat mungkin cita-cita imajiner digantungkan manusia.

Cukup sadar dengan informasi itu, maka saya lari semakin kencang, dan setelah sampai pada kerumunan orang yang berbaris rapih seperti Paskibra yang saya ikuti waktu SMP, saya baru sadar bahwa itu cuma drill, cuma latihan menyelamatkan diri saja. Rutinitas yang biasa bagi para pekerja lapangan migas.

Kejadian itu sewaktu saya kuliah. Saya mengambil skripsi dan berkesempatan melihat hiruk-pikuk suasana pengeboran. Siapa sangka, setelah lulus kuliah saya benar-benar tercemplung ke dalam dunia ini. Dan di sini saya menemukan sebuah rutinitas yang perlu tapi menjemukan itu. Jemu tapi perlu. Ya, latihan penyelamatan diri itu lagi. Drill. Bermacam-macam drill. Fire drill. Abandon drill. H2S drill. Nama yang berbeda untuk tujuan yang sama, membuktikan kebenaran pribahasa orang tua-tua dulu, ‘lancar kaji karena diulang’. Tapi peribahasa itu saya rasa mesti ditambahi, ‘lancar mengulang pasti bosan’.

Tentu saja saya sering bosan dengan rutinitas tiap minggu itu, masalahya sering mengganggu jadwal tidur, ini menyebalkan, tapi saya tak bisa untuk tidak setuju atau mangkir untuk tidak hadir. Kita tidak bisa untuk memaksa diri kita untuk tidak menjadi hafal luar kepala kalau rutinitas itu diulang-ulang terus. Pasti hafal.

Begini urutannya: sirine berdentum, lari menuju muster point, kenakan helm, kacamata, dan segala alat keselamatan lainnya, jangan lupa kenakan pelampung bila kita sedang ada di lepas pantai, ambil kartu penanda, lalu berbaris rapih menunggu instruksi. Apakah bahaya teratasi, atau kemungkinan terburuk kita harus meninggalkan area itu, entah dengan kendaraan apa. Semua rutinitas itu diulang terus supaya kita menjadi mahir.

Sewaktu menjalankan latihan itu, untuk menepis rasa bosan, saya mengingat dulu masa-masa sedang tekun-tekunnya berlatih beladiri. Ada momen perulangan seperti itu. “Mengetahui seribu jurus, tapi tiada sering diulang-ulang pasti akan percuma”, begitu kata guru-guru.

Banyak orang yang belajar beladiri kemudian menjadi kecewa pada apa yang dipelajarinya, karena pada realitanya dia belum bisa menerapkannya. Mungkin karena dia belum benar-benar menguasai apa yang dipelajarinya karena jarang mengulangnya. Maka guru kami kala itu mengajari hal yang sederhana saja, dua atau tiga rangkai gerakan yang disuruhnya kami mengulangnya sekira limaratus kali dalam sehari. Dan saya teringat kata-kata yang dinisbatkan pada almarhum Bruce Lee, “saya tidak takut pada orang yang memiliki seribu jurus yang dipraktekkan satu kali, tapi saya takut pada orang yang memiliki satu jurus dan dipraktekkan seribu kali”.

Kita tidak bisa mencegah bahwa tekhnik perulangan itu ampuh seperti seorang intruder, masuk dengan diam-diam tanpa kita sadari dan menjejalkan suatu nilai-nilai dalam bawah sadar kita. Maka sering sekali orang-orang yang tekun belajar beladiri merasakan kok tidak ada perkembangan berarti pada dirinya, karena berlatih itu-itu saja, padahal tanpa dia sadar kemampuan refleks dan tanggapnya sudah di atas orang-orang kebanyakan. Keajaiban perulangan.

Saya mengagumi sekali fakta ini. Meski saya sering bosan sekali pada latihan penyelamatan diri saat saya bekerja, itu dalam hal pekerjaan, lainnya lagi adalah setelah bekerja saya hampir tidak pernah mengulang satupun tekhnik beladiri yang saya pelajari waktu kuliah dulu. Tapi saya masih mempercayai keajaiban perulangan itu.

Tapi ada bahaya besar yang mengancam, apabila perulangan terus menerus membuahkan gerak refleks dalam hidup kita. Bahaya itu adalah bahwa semakin sesuatu itu sudah menjadi kebiasaan dan refleks, maka kita akan kehilangan detailnya, dan yang lebih menyedihkan dari kehilangan perhatian terhadap detail adalah kita kehilangan nilai-nilai.

Saya sering mendengar keluhan yang jamak dialami kawan-kawan, hidup ini begitu menjemukan karena segalanya sudah menjadi gerak refleks. Saya juga merasakan kehampaan itu. Bagi orang-orang kantoran, refleks itu bernama bangun tidur pagi-pagi sekali, pergi kerja, menanti waktu pulang, pulang kerja, dan tidur lagi. Betapa siklus itu menjemukan karena sudah tidak lagi memerlukan proses berfikir. Kita hampir lupa kapan kita mandi, kapan kita memakai sepatu, lalu tiba-tiba saja sudah berada di kantor. Tiba-tiba lagi kita sudah ada pada kendaraan di tengah kemacetan sore. Dan tiba-tiba lagi hari sudah malam, kita tidur sambil cemas-cemas sedikit karena sebentar lagi pagi. Lalu rutinitas berulang, kita mengikuti saja refleks kehidupan. Cepat memang, tapi ada yang hilang, rasa, nilai-nilai. Sesuatu yang refleks hampir selalu berjalan tanpa ketelitian niat.

Kehampaan seperti ini memang membunuh. Sebelum kejiwaan menjadi benar-benar mati, saya paham harus ada yang dibenahi. Kita harus melarikan diri dari kondisi ini. Contoh melarikan diri yang terhormat adalah pergi menyusun siasat, lalu kembali untuk masuk lagi ke gelanggang. Dan spiritualitas harusnya menemukan peranannya disini. Memberi ruang kontemplasi untuk kemudian dipakai lagi membenahi kehidupan.

Saya merasakan harusnya kita menemukan pelipur itu pada ritus-ritus keagamaan kita. Saya muslim maka saya sholat, tentu saja. Tapi keanehan itu kembali terjadi, boro-boro sholat saya menjadi pelipur pada hidup yang menjemukan, karena ternyata saya sudah demikian refleks juga melakukan sholat. Saya takbir, lalu semua menjadi serba otomatis, tiba-tiba saja saya sudah salam. Begitu terus. Ritus keagamaan yang seperti ini saya sadari tidak mungkin membawa dampak secara nyata.

Bahwa tetap melakukan peribadatan meski belum bisa total; saya setuju. Tapi berusaha memperbaiki kesalahan peribadatan kita, saya fikir juga utama. Yang salah tentu bukan seremoninya, tapi kitanya. Saya yang salah.

Beruntung, saya bertemu dengan seorang guru lagi, yang menyadarkan saya akan sebuah potongan kenyataan lagi. Bahwa tidak semua dalam kehidupan ini harus kita jalani dengan refleks.

Di dalam sholat, istilah itu dikenal dengan nama ‘tuma’ninah’. Jeda sejenak. Agar segalanya tidak tergopoh-gopoh.

Kalau perulangan yang membuat kita refleks adalah penting untung meningkatkan kecepatan respon kita terhadap sebuah keadaan, maka tuma’ninah menjadi sisi pedang satunya yang meningkatkan kesadaran kita akan nilai-nilai dari sesuatu yang sedang kita kerjakan. Menjadi mahir itu penting, tapi sadar penuh akan apa yang kita mahiri, dan menjadikan kemahiran kita itu sesuatu yang bernilai; juga luar biasa perlu. Dua-duanya penting.

Rukuk hingga punggung menjadi lurus dan luruh, duduk iftirasy yang kontemplatif, dan sujud yang merendah dan menikmati, adalah sedikit dari tuma’ninah itu.

Saya pikir ide ini juga bisa diterapkan untuk perjalanan menuju kantor dengan memperhatikan setiap detailnya. Pokoknya kontemplatif dan memperhatikan detailnya. Berterimakasih untuk pagi yang cerah, menaiki bus kota dengan  duduk di pinggir jendela dan menyeksamai pemandangan yang berseliweran, tiba di kantor dengan sepenuh kesadaran akan detail-detail ruang dan kesyukuran akan kesempatan bahwa kita telah menjadi berharga dengan bekerja dan menghidupi anak istri, lalu pulang dengan gembira setelah menutup bab hari itu dengan rencana esok hari. Semua kita amati detailnya agar tidak menjadi gerak refleks.

Satu hal yang membantu kita menyisipkan nilai-nilai dalam kehidupan kita, mungkin doa. Doa-doa dalam literatur keagamaan kita banyak sekali. Tentu dengan alasan mengikuti contoh Nabi Mulia, kita harus melakukannya. Tapi lepas dari kecintaan kita kepada junjungan, lepas dari pahala, saya mendengar kata guru-guru bahwa memulai segalanya dengan doa yang sungguh-sungguh adalah semacam upaya menghentikan laju kehidupan yang terlampau refleks, dan menjadikannya setiap potong kehidupan kita sebuah peribadatan yang sepenuh kesadaran kita lakukan. Memberi nilai-nilai dalam setiap potongan kehidupan kita ini bisa dimampatkan dalam satu kata, Niat. Dan niat ini mestilah dijaga agar sinambung, tidak Cuma di awalnya, melainkan pada keseluruhan perjalanan kita. Itulah kenapa kita perlu tuma’ninah.

Saya senang sekali mengingat pesan guru saya dulu, serangkaian jurus yang kita lakukan itu mestinya semisal ombak. Ada kalanya cepat, ada kalanya lambat. Seperti kebijakan universal yang kita sama-sama kenal itu, selalu ada harmoni dalam hidup.

————

gambar dikopi dari sini

PAK-LIK (MENEMBUS BATAS 3)

Man_-_old_man_silhouette

Siapa saja yang mendengar kata “Pak-lik” akan tahu bahwa itu adalah panggilan ala Jawa. Semacam “Om”-nya bahasa Indonesia tapi dengan pengkelasan. Dengan Grading. Bahwa orang yang dipanggil Pak-Lik tadi, adalah orang yang secara strata umur mestilah dibawah Bapaknya yang memanggil.

Nah…Pak-Lik ini, tetangga saya di Sumatera.

Hidup di sumatera, tetapi dengan Bapak yang Jawa, saya merasakan hidup dalam sebuah keterjepitan budaya. Kalau-kalau ada orang yang kebetulan dari Jawa lalu dengan kejamnya berbahasa Jawa kepada saya, maka saya langsung berkata “wah…aku ndak bisa ngomong Jawa Mas, tapi kalau Mas-nya ngomong aku ngerti.” Tentu saja kalimat terakhir tadi hanya sebagai poles-poles belaka, agar fakta bahwa saya terlahir dari seorang Bapak yang Jawa tapi tidak bisa bahasa Jawa; tidak terlalu kentara.

Fakta kedua, saya sering lupa kalau orang bertanya berapa umur Bapak saya. Ini serius. Mengingat tanggal lahir adalah pekerjaan sangat tidak umum di keluarga saya, maka kalau ada orang yang bertanya berapa umur Bapak saya, saya akan meraba-raba dulu baru menjawab asal saja.

Yang jelas Pak-Lik, tetangga saya, Orang Jawa seperti Bapak saya, saya tahu pasti umurnya lebih muda dari Bapak. Di rumah Pak-Lik, saya menikmati sebuah penampilan budaya yang sama sekali berbeda dari keluarga saya yang blasteran. Mereka orang Jawa tulen, suami istri. Anak-anaknya terlahir dengan paras yang sangat njawani. Bahasa Jawa adalah bahasa keseharian mereka. Dan banyak lagi yang saya lihat sangat Jawa. Sesuatu yang saya jarang temukan di rumah saya, saya katakan jarang, tetapi saya tidak asing.

Ibu saya sumatera. Maka saya lahir dan besar dalam segala kepolosan Sumatera; yang enak katakan enak, tidak katakan tidak, tapi ada unggah-ungguh ala Jawa di rumah saya. Kutub medan magnetnya ialah Bapak, tentu saja.

Dan meskipun Bapak tidak pernah berbahasa Jawa dengan saya, dengan adik-adik saya, dengan Ibu saya, tetapi saya menjadi paham bagaimana sebagian masyarakat kita rupanya sering menyembunyikan apa yang mereka rasakan dengan sangat baik, dan kita harus menjadi semacam ahli perang untuk membacanya.

Bapak adalah orang yang menyembunyikan kekesalannya dan masih bisa bersopan-sopan kepada orang yang membuatnya kesal, misalnya. Atau menyembunyikan nasehatnya dalam kata-kata yang berkias-kias, tidak sastrawi memang, tapi hampir pasti jarang to the point, harus ditebak dulu. Itulah, saya sering bingung bila beliau marah, padahal saya tidak tahu apa penyebab marahnya.

Maka saya selalu menyempatkan diri untuk mencoba melihat lagi selapis demi selapis apa sebenarnya yang terjadi. Ini yang saya dapati pada kultur orang-orang Jawa. Sesuatu pastilah tidak sesederhana sebagaimana sesuatu itu terlihat. Mungkin orang Jawa mewarisi sun tzu.

Jadi waktu kadang-kadang berkunjung ke rumah Pak-Lik dan numpang nonton TV –waktu itu saya tak punya TV- saya sudah menduga bahwa pasti ada juga permainan penyembunyian perasaan itu.

Sekali waktu, saya dengar Pak-Lik bercerita tentang pekerjaannya di penambangan batubara. Sekali waktu Pak-Lik bercerita tentang ranjang dari kayu yang dibuatnya dengan tangannya sendiri. Sekali waktu Pak-Lik bercerita tentang pelapon rumahnya yang dibuat seperti ala candi terbalik dengan teras berundak-undaknya itu. Sekali waktu tentang sepatu boot-nya. Sekali waktu tentang kolam belakang rumahnya yang dibuat dengan model pematang meninggi; yang tidak umum di antero lingkungan saya, dan macam-macam lagi.

Saya, anak kecil itu, merasa sudah memiliki alarm awas terhadap segala permainan penyembunyian makna, maka saya sok-sok menilai dengan hati-hati. Apakah benar Pak-Lik ini hebat membuat kerajinan dari kayu? Apakah benar Pak-Lik ini sedang bercerita tentang rumahnya yang dibuatnya dengan tangannya sendiri? Apakah Pak-Lik seorang pembuat kolam ikan yang digdaya? Lalu di ujung simpulan, saya menebak-nebak dengan teori konspirasi, bahwa Pak-Lik menceritakan segala kelebihannya untuk menyembunyikan fakta bahwa dia seseorang yang marjinal. Pasti Pak-Lik ingin terlihat hebat. Karena menurut saya pastilah Bapak saya lebih hebat daripada Pak-Lik. Ada aroma tidak ikhlas yang saya cium dari ceritanya. Begitu fikir saya.

Beliau hidup di sudut komplek. Tukang pos selalu kesulitan menemukan rumahnya. Di belakang rumah sudah dihuni oleh lebatnya hutan-hutan bakau dan kecipak ikan dari rawa-rawa. susah untuk tidak mengatakan beliau orang yang marjinal.

Dan sebuah kenyataan bahwa Pak-Lik bertetangga dengan saya, sama-sama hidup di sudut komplek yang tua, menghasilkan sebuah fakta lagi bahwa sebenarnya keluarga saya dan Pak-Lik sama marjinalnya. Ini membuat saya kesulitan menentukan grading.

Tetapi saya pikir, kan pekerjaan Bapak saya seorang PNS, sedangkan Pak-Lik murni swasta, dan rumah kami tidak se-menyelempit rumah Pak-Lik, maka rasanya secara struktural yang tidak kasat mata, keluarga kami lebih mantap sedikit dibanding Pak-Lik. Mungkin itu juga alasannya kenapa secara otomatis keluarga kami memanggil beliau dengan sebutan Pak-Lik. Inilah kesimpulan saya yang agak prematur.

Tapi sebenarnya, di luar segala permainan sandi-sandi perasaan model Jawa ini, saya mengagumi keduanya. Baik Bapak maupun Pak-Lik. Kalau kita lepaskan dulu status pekerjaan mereka, lalu mengamati mereka dengan jujur, kita akan sepakat bahwa mereka berdua adalah pekerja keras. Kepala rumah tangga yang baik. Baik Pak-Lik maupun Bapak saya, dua-duanya membangun rumah dengan tangannya sendiri.

Ini bukan kata-kata kiasan. Membangun rumah dengan tangannya sendiri adalah makna seharfiah-harfiahnya. Tentu dalam hal ini ada tangan orang lain yang membantu. Misalnya tangan saya.

Saya ingat waktu kecil dulu sering dibentak Bapak agar lebih cekatan dan tidak loyo dalam mengangkat batu-batu bata, dalam mengaduk semen. Saya lalu cekatan sebentar lalu loyo kembali kalau lama tak dimarahi. Kadang saya bermain-main di sela kesibukan saya membantu Bapak. Dan dalam segala ketidak pedulian itulah kadang-kadang ada episode yang terlewat dari masa kecil saya. Dan kita semua tahu, episode yang tidak utuh dari kehidupan kita bisa berujung pada sadisme. Sadisme itu bernama kesimpulan hidup yang tidak dewasa, mengerikan sekali bukan? Untungnya kadang-kadang Bapak mau membagi episode yang terlewat dari mata saya itu.

Misalnya, Bapak bercerita bahwa ilmu bangunan yang beliau miliki adalah ilmu “curi-curi” dari membantu pendirian musholla dekat rumah. Saat orang-orang gotong royong Bapak ikut membantu, dan dari sana mendapatkan sedikit ilmu untuk membangun rumah. Saya mengagumi sekali kehebatan bapak dalam mengkopi ilmu. Saya waktu itu membayangkan Bapak sebagai model orang yang waskita, sekali liat maka bisa meniru.

Praktek membangun rumah dimulai. Pembuatan pondasi lancar. Menumpuk bata di atas pondasi lancar. Merakit besi-besi lancar. Saya menikmati proses itu dengan kadang-kadang melihat saja, kadang-kadang sok membantu. Tapi saat akan mengecor bagian atas dinding, Bapak rupanya mengalami kendala.

Sudah di-gojrok semen dan batu koral ke dalam papan pembatas di dinding itu, tapi semennya malah terjun bebas dari sela-sela growong antara papan dan batu bata.

Ah…coba lagi.

Dicoba lagi tapi hasilnya tetap sama. Berulang kali dicoba dan tetap sama. Bapak gagal mengecor. Hari sudah menjelang sore.

Teronggok lesu Bapak saya waktu itu. Sudah kepalang tanggung membikin rumah sendiri. Sudah bergaya model pemberani dan tangguh waktu ditanyai tetangga ‘kok ya mbikin ga pake tukang?’ Bapak ‘menjawab biar lebih puas hasilnya’. Ternyata sore hari itu Bapak harus berhenti karena masalah sepele pengecoran yang gagal.

Saya memang baru mendengar lagi cerita itu waktu saya sudah tamat kuliah kalau tak salah, dan saya membayangkan semangat yang jatuh itu semisal kebuntuan pada satu babak skripsi. Saya paham sekali bagaimana mencelosnya perasaan kita.

Cerita berlanjut, tiba-tiba dari belakang Bapak ada suara yang memanggil. Rupanya Pak-Lik. Mereka berbincang dalam bahasa Jawa yang saya sebenarnya mengerti tapi tak usah kita tuliskan di sini.

Pak Lik membantu dengan cekatan. “wah…Gampang iki mas, ayo tak bantu.” Dengan sigap Pak-Lik menambal growong-growong pada bilah papan dan bata; dengan kertas-kertas semen. Lalu setelah semua growong tertutup maka diguyur sadis dengan semen coran. Bapak mengira kertas semen itu tidak mungkin bisa bertahan, tapi rupanya sukses besar.

Satu ganjalan dalam babak dalam pembuatan rumah akhirya terlewati.

Saya mulai pelan-pelan merubah pemaknaan saya terhadap Pak-Lik. Saya mengerti benar bahwa Pak-Lik di dalam hatinya tahu bahwa Bapak saya adalah sebagaimana pula dirinya. Merasakan beban yang besar untuk bisa menghadapi semuanya dan lalu menampilkan sisi paling mencerahkan dari keseharian mereka. Seperti tidak ada apa-apa, padahal ada yang bergolak.

Saya tahu bahwa Bapak saya berterima kasih kepada Pak-Lik dengan episode itu. Dan saya tahu pula, bahwa Pak-Lik dengan caranya sendiri mungkin menemukan juga semangat dirinya saat menyadari bahwa yang berjuang tidak cuma dia.

Tapi Pak-Lik mungkin sekarang sudah lupa sama sekali dengan kejadian ini. Mungkin menerapkan model keikhlasan tingkat tinggi ala para sufi; Lakukan, lalu lupakan. Saya tak pernah mengungkit cerita bantuannya yang sepele tapi berimbas besar itu. Dan saat kadang-kadang pulang mudik ke rumah; saya juga jarang berkunjung ke rumah Pak-Lik karena saya sekarang sudah ada TV tentu saja.

Saya berterimakasih kepada keduanya. Kepada Pak-Lik atas bantuan kecilnya untuk Bapak saya. Lalu kepada Bapak untuk telah menggenapkan puzzle yang hilang dari rekaman saya tentang Pak-Lik dan apa-apa saja yang di baliknya.

Rupanya, sebelum melihat menembus batas-batas, kita haruslah melihat dengan jujur kepada diri kita sendiri. Segala anasir keburukan dari jiwa kita, bisa membuat kita salah memandang yang tidak semestinya.

Dan tiba-tiba saya merasa dikelilingi banyak Sun-tzu.

——–

note:

gambar diambil dari sini

 

METAFOR ORANG-ORANG SUCI

metafor orang-orang suci“Ini suasana batin terparah sepanjang sejarah aku kerja.” Begitu kurang lebih kawan saya yang tambun itu suatu hari bercerita lewat chatting.

Saya paham betul situasi seperti beliau itu, maka saya selalu sigap saja menyambut handphone saat ada notifikasi masuk, entah itu chatting, entah panggilan voice call skype. Dalam batin saya, saya sebenarnya tidak sedang menolong orang lain, saya sedang menolong diri saya sendiri. Ada bagian episode yang sama, sekarang sedang dirasakan rekan saya di ujung dunia sana. Maka saya sigap untuk bercerita apa saja sampai hal-hal yang tak penting sekalipun.

“Biar kutebak, meskipun kamu sudah deg-degan setengah mati, tapi istrimu pasti sebenarnya tidak paham seberapa mengerikannya bayangan yang ada di benakmu sekarang?” kata saya sambil setengah tergelak. Dia tergelak juga, padahal sejatinya saya menertawakan sebuah ironi. Ironi itu adalah kenyataan bahwa sayapun terkadang amat sering kesusahan menjelaskan apa yang benar-benar saya rasakan kepada orang-orang terdekat saya, katakanlah kawan dekat saya, atau istri saya misalnya, atau orang tua saya umpamanya.

Dan pekerjaan kami sebagai seorang engineer lapangan migas, membuat saya menyimpan segudang cerita tentang rasa yang bukan main sulit saya bahasakan. Ini satu contoh sepele saja, setiap kali saya harus pergi ke suatu tempat yang baru, yang saya belum kenal, di antah berantah pengeboran, dan meninggalkan keluarga, pasti saya merasa sangat labil. Dan itu juga yang rekan saya tadi alami saat kali pertama dia harus menjejakkan kaki ke Afrika, sebuah wilayah yang jauh lebih tertinggal dari bayangan dia. Dia mengalami kecemasan yang akut, dan saya paham itu. Saya sebenarnya tidak sedang memahami dia, tapi saya sedang berusaha memahami diri saya sendiri.

Disaat saya sedang mengalami kecemasan pekerjaan itu, segala upaya untuk menghadirkan cerita yang utuh megenai apa yang saya rasakan itu menjadi sia-sia. Istri saya misalnya, dia menganggap hal yang lumrah saja bahwa saya mengalami semacam kekalutan yang biasa. Karna raut wajah saya seperti biasa. Bagaimanapun saya harus menampilkan perwatakan yang pejal, kepala keluarga tidak selayaknya terlihat galau, saya mencontoh itu dari karakter keras Bapak. Tapi kadang-kadang ada waktunya saya ingin sejenak ada orang yang bisa menangkap pergolakan batin saya. Tentu bukan sekedar urusan pekerjaan, tapi pergolakan batin apa saja. Dan di saat istri saya, orang tua saya, belum dapat menangkap apa yang saya sampaikan, saya mulai berfikir ada yang salah. Terlebih rupanya saya tak sendiri, senior-senior saya, junior-junior saya, rekan saya dari negara lain, mengalami kegamangan yang sama.

Ini bukan mengenai orang lain yang salah, tetapi rasa kebahasaan manusialah yang salah. Saya mencatatat frase ini dalam-dalam, dan mungkin sebagian kawan-kawan setuju pula dengan ini; tidak selamanya manusia bisa membahasakan rasa lewat kata.

Itulah mengapa manusia menciptakan idiom-idiom. Permisalan-permisalan.

Penyair-penyair kita ambil contoh, di luar sisi ndak masuk akalnya, saya rasa mereka sudah menemukan hal yang saya rasakan ini jauh-jauh hari. Memang ada orang-orang yang diberikan ketrampilan mengunyah-ngunyah kenyataan hidup, lalu menuliskannya lewat jemari mereka, atau menceritakan ulang dengan bahasa yang renyah sampai orang mengerti dan meresap betul apa yang mereka katakan. Tapi orang-orang semacam ini pun harus menyerah saat mereka menemukan jalan buntu dimana di titik itu sebuah keindahan, sebuah kegetiran, atau apapun rasa yang mereka alami tidak mampu diceritakan ulang dengan benar. Bukan karena merekanya tidak maestro, tapi memang bahasa manusia terbatas. Dan memang kenyataan yang memaksa kita untuk tidak mampu berbahasa itu ada.

Itulah mengapa, kita tidak pernah protes dengan frase nyiur melambai, dengan frase matahari bulat menggelinding dan mati dalam ketuaannya yang memilukan, dengan frase awan-awan putih diseret-seret angin, dengan frase permisalan yang jutaaan kali lebih tidak masuk akal, kita tidak akan mendebat, hanya orang tolol yang mendebatnya. Kita cukup diam, dan rasa kemengertian kita saja yang menerima. Ooooh…..betapa indah gugusan nyiur yang dimaksud dia, Oooh betapa syahdu suasana sore yang dilihat kawan penyair kita itu, oooh….betapa rapih guliran awan-awan yang dipandang kawan kita itu. Kita akan menerima itu jika kita tidak memandang pada kata-katanya lagi, tapi pada batin kita sendiri. Ini masalah rasa, kawanku.

Dan berangkat dari sebuah perasaaan galau saya sendiri, lalu berpindah pada ketakjuban bahwa konsensus manusia seperti membenarkan bahwa banyak hal tak bisa diungkapkan dengan lisan dan tulisan. Saya akhirnya baru mengerti, kenapa banyak sekali spiritualis dan para guru-guru kehidupan di dunia ini, yang disalahpahami. Kenapa? Karena yang satu sudah berjalan luar biasa jauh dan terbentur pada kerdilnya bahasa manusia untuk mewakili keajaiban rasa. Sedang yang satunya baru berjalan berapa tapak, dan belum pernah mengerti bahwa di dunia ini ada yang namanya metafora. Dengan fakta seperti ini, kita harus berada pada posisi paling netral yaitu memahami keduanya.

Ada satu pelajaran, yang baru-baru ini saya petik dari orang-orang arif. Pelajaran dari orang-orang yang hati-hati sekali menyampaikan apa yang mereka ingin beritahu, karena takut-takut yang mendengar salah paham.

Pelajaran itu adalah bahwa laku manusia, seumpama amal ibadah, itu sejatinya disetir oleh ahwal-ahwal, oleh suasana-suasana batin, oleh kondisi hati.

Saya mendengarkan sepotong kalimat itu dengan biasa saja. Oke, fikir saya, amal disetir oleh ahwal, lalu apa pengaruhnya pelajaran ini?

Belakangan saya baru mengerti, bahwa ihsan, bahwa sebuah kenyataan lebih dalam dibalik seremoni ibadah manusia, sebuah rekam batin yang “merasa” melihat Tuhan, atau kalaulah tak bisa melihat Tuhan maka selalu membayangkan Tuhan melihat dia; adalah level rasa tingkat wahid.

Dan orang-orang yang berada pada posisi ini terkadang saya temukan lebih banyak diamnya daripada ngocehnya, karena halus sekali delik perkara yang mereka kuasai itu.

Saya ulang lagi dalam fikiran saya, bila laku amal ibadah kita disetir oleh ahwal (suasana batin kita, kondisi ruhaniah kita, atau apalah istilahnya), lalu kenapa?

Lalu…. kata orang-orang arif itu, janganlah memaksa Tuhan, mengojok-ojok Tuhan istilahnya, agar memindahkan posisi keruhanianmu pada level yang lebih mantap. Karena Tuhan lebih tahu. Karena sesuatu yang tidak ditekuni itu ndak mungkin meresap pada dirimu.

Wah…. ini semakin tidak masuk di akal saya. Saya ingin mendebat, tapi teringat tentang pelajaran adab-adab, saya duduk diam dan mendengarkan.

Begini, ternyata. Ambil contoh cerita yang merakyat saja. Seorang wali songo, entah sunan apa namanya saya lupa. Suatu kali pernah menangis sesenggukan. Lamaaaa sekali beliau menangis. Apa pasal? Sederhana saja, tidak sengaja beliau terjatuh, lalu dalam terjatuhnya itu refleks menggenggam rerumputan di jalan hingga tercerabut. Karena mencabut rumput tanpa alasan syar’i itulah beliau menangis.

Dan saya langsung makjleb di hati. Ya Allah….ini dia. Sesuatu yang bergejolak di hati sang guru kita itu adalah sesuatu yang mencapai tingkatan rumit untuk kita ceritakan dengan bahasa. “saya ini menangis karena merasa sedih yang melilit-lilit hati, seperti dihujam dengan palu godam” Nah… semakin dibahasakan semakin runyam dan belum tentu orang paham. Itulah ahwal. Itulah kondisi ruhani. Itulah mental spiritual. Itulah ihsan. Dan mestinya kita itu menjadi orang yang selalu menelisik sesuatu yang menjadi asbab musabab laku sang sunan itu tadi. Bukan menelisik tindakan luarnya.

Misalnya kita sama-sama paham bahwa sang sunan adalah orang shalih yang doanya menggetarkan arasy Tuhan. Lalu kita melihat bahwa ada fakta sang sunan menangis karna mencabut rumput. Lalu karena kita ingin soleh lalu kita ikut-ikut juga mencabut rumput lalu meraung-raung kesetanan. Dan merasa sudah ada pada pencapaian spiritual adi luhung. Sudah paripurna. Ya ndak masuk di akal.

Karena ada sesuatu yang berbeda yang mendrive kita dengan beliau. Beliau-beliau itu berbuat seperti itu karena di drive oleh sebuah kesadaran batin yang beliau temukan lewat perjalanan maha panjang. Lewat ketundukan yang paling merendah. Hingga beliau dapat rasa itu, dan tidak bisa lagi menceritakannya. Mungkin kita dan dia sama-sama menangisnya, tapi nilai di sisi Tuhan tidak pernah sama.

Saya lalu semakin ingin meringsek dan mundur sambil jongkok-jongkok hormat ala abdi dalem keraton itu, membayangkan para pendahulu kita, para orang-orang shalih guru negeri ini, khulafaur Rasyidin, dan Nabi Mulia Muhammad. Panjang sekali anak tangga pemisah kita dengan mereka.

Lalu misalnyapun, dalam suatu ketika kita mendapatkan rasa itu, tidak serta merta kita menjadi setingkat mereka. Contoh saja. Pastilah suatu ketika dalam babak hidup kita, kita pernah merasa sangat haruuuuuu dalam beribadah. Misalnya sujud berasa enaaaak sekali. Kita menangis. Kita merasa dekat dengan Tuhan. Kita syahdulah pokoknya. Pada titik itu, kita juga mengalami kondisi ruhani yang serupa dengan para wali, dan Orang-orang luar biasa itu, bunga-bunga dalam hati kita sama-sama mekar oleh rasa kedekatan dengan Tuhan, katakanlah begitu. Tapi apakah kemudian kita menjadi setingkat mereka dalam tataran keimanan? Tidak juga. Karena mereka mengalami perasaan itu berkelanggengan. Artinya mereka ada dalam suasana ihsan itu terusssss menerussss sedang kita sekejab-sekejab lalu hilang.

Makanya guru-guru kearifan tidak menyarankan kita hantam kromo meniru lelaku orang-orang shalih tingkat tinggi dengan metafora ibadahnya yang tak masuk akal itu. Bukan tidak boleh. Tapi belum sekarang. Bukan tak usah berjuang keras, tapi maksudnya semata agar lelaku yang cocok dengan kondisi saat ini; kita fahami dulu sampai meresap tak Cuma kulitnya. karena kita belum nemu, karena kalau membabi buta kita pasti berhenti karena letih dan lelah yang tak perlu. Mbok ya yang sesuai dengan dengan fase kita dulu, dan mbok ya naiknya bertahap.

Dan inilah yang saya saluti, dari pribadi Nabi, dari cerita yang saya temukan dari orang-orang arif tadi. Betapa panduan menapaki jalan pulang ini, jalan ketundukan ini, sudah diset untuk segala lapis tingkatan manusia.

Sholat 5 kali semata. Zakat 2.5% belaka. Puasa di ramadhan, Cuma. Karena Beliau SAW paham betul umatnya beragam-ragam. Mungkin dari titik inilah kita mesti melangkah dan menemukan kondisi seperti yang ada pada orang-orang mengagumkan itu. Sampai kita merasakan juga, gejolak batin yang tiada bisa dibahasakan lewat susatra manusia, barulah kita bisa mengerti kemusykilan sang sunan yang menangis meraung mencabut rumput, sang Abu Bakar yang bersedekah sampai ludes hartanya, Ali Ibn Abi Thalib yang tidur berselimut kain hijau menggantikan Nabi kala dikepung di rumahnya, Nabi Ibrahim yang bahkan enggan berdoa dan menolak bantuan Jibril saat akan dilontar ke dalam api menyala-nyala, Syaikh Abdul Qadir Jailani yang selepas isya bertahannuts hingga subuh lalu sholat subuh dengan wudhu sholat isya-nya, dan berbagai kemusykilan lainnya.

Maka mensyukuri pengertian-pengertian yang diberikan Tuhan pada kita saat ini lewat laku-laku yang sesuai dengan kondisi kita adalah langkah pertama. Nanti sekiranya tekun dan rajin menelisik yang lebih dari sekedar ritus-ritus pada seremoni ibadah kita, akan ditempatkan pula kita oleh Tuhan pada rasa yang semakin memaksa kita membuat banyak metafora. Dan metafora itu mungkin merupa peribadatan yang fantastis dan tak masuk akal umumnya.

Tapi sebelum itu, jangan dulu sedekah brutal sampai tak sisa lagi uangmu. Jangan dulu menangis ga jelas waktu menginjak ilalang-ilalang pinggir jalan itu. Karena kita belum mengerti gejolaknya rasa di hati, belum bertemu kondisi-kondisi yang membuat frase berhenti dan kemampuan bercerita mati, bagaimana hendak membuat puisi?

ah… betapa metafora mereka mempesona.

 

———-

*) gambar masjid diambil sewaktu menyusuri sungai Barito

MENGEJAR ORANG-ORANG SUCI

images

Dalam suasana kantuk yang asing saya dikagetkan dengan dering telepon berita dari rumah yang jauh, rumah kami dibobol maling. Handphone, uang, printer, dan segala yang gampang dibawa; raib.

Saya mereka-reka kejadian berapa tahun lalu itu, waktu orang tua saya menelepon. Saya bertanya-tanya, bagaimana bisa pencuri memiliki celah? Memang pengamanan rumah kami itu boleh dikata dibawah standar. Pintu belakang hanya dikunci dengan sederhana, jendela tanpa teralis, tapi saya kenal betul siklus hidup keluarga saya itu. Bapak akan selalu bangun dini hari yang buta, waktu ayam-ayam masih enggan bangun. Ibu-pun juga begitu. Lalu ritual yang biasa mereka lakoni, Bapak akan sholat di penghujung malam, Ibu saya akan menghidupkan kompor dan menyiapkan dagangan untuk dibawa ke pasar pagi.

Tapi kenyataan bahwa seluruh rumah terlelap di waktu biasanya mereka sudah memulai kehidupan itulah yang membuat saya bingung. Kenapa bisa? Dan akhirnya maling itu masuk pada momennya yang tepat. Momen dimana takdir mempersilakan dia memilah-milah isi rumah dengan santainya dan lalu melenggang pergi. Bapak dan ibu kaget waktu bangun hari menjelang subuh, dan maling sudah raib beserta barang-barang, tanpa permisi, dan hanya meninggalkan pintu belakang terbuka menganga dengan gusar.

Pada akhirnya toh semua orang akan merasakan kehilangan. Sekali waktu saya takjub dengan kenyataan bahwa sebuah kalimat yang kita dengar berulang kali sampai hafal; kadang-kadang baru kita benar-benar mengerti maknanya setelah sekian lama kemudian. Bahwa pada akhirnya toh kita semua akan merasakan kehilangan.

Saya menangkap nada sedih pada intonasi Ibu saya di telepon. Gusar yang alami dari seorang yang mengumpulkan rupiah demi rupiah yang kemudian lenyap. Saya mengerti itu. Saya juga lalu menangkap gusar penyesalan pada nada Bapak dari ceruk speaker handphone kala mengabari saya, saya paham ada yang terluka dari harga dirinya sebagai tameng rumah itu. Tapi saya menanti momen dimana saya yakin akan ada yang saya saluti dari sikapnya memaknai hidup. Dan benar saja, tepat sekitar tiga hari dari kejadian itu, beliau menelepon saya lagi dengan nada yang biasa. Ketenangan khas seorang yang matang oleh tempa keras hidup, lalu mewejang bahwa toh semua orang pada akhirnya akan mengalami kehilangan.

Yang berhari-hari masih menyimpan kemarahan adalah adik kedua saya. Dia menyimpan kekesalan yang nyala. Mungkin analisa saya, selepas saya dan adik tertua saya pindah ke luar sumatera dialah yang dituakan di rumah itu. Dan kehilangan itu merobek ego mudanya. Saya hanya mendengar berita saja, waktu malam itu dia mengumpulkan serombongan kawan-kawannya dan memutari semua sudut sunyi komplek itu dengan segala yang mungkin untuk menghajar maling-maling. Maling itu beruntung tidak ditemukan.

Saya, dari ujung telepon, setelah kejadian agak mereda, lalu mewejang adik saya. Wejangannya Cuma kopi paste dari kata-kata Bapak.

Saya paham tingkat kebijaksanaan petuah saya belum selevel Bapak, dan saya juga agak ragu, apakah bila saya sendiri yang mengalami kejadian itu akan bisa memraktekkan apa yang saya katakan.

Bahwa kata-kata bijak bisa dipindah suarakan; itu sudah jelas. Tapi kematangan mental spiritual adalah sesuatu yang ditancapkan Tuhan dalam hati masing-masing kita sendiri. Lewat umpamanya kejadian-kejadian, umpamanya perenungan mendalam akan makna-makna hidup, atau umpamanya lewat pengertian-pengertian yang ajeg dan tiba-tiba saja masuk merubah cara pandang. Dan ini yang pada mulanya menyetir segala apa saja perilaku yang terlihat.

***

Betapa saya lalu ingin menjadi bijak dan baik. Saya ingin menyalip prestasi orang-orang dengan kematangan mental spiritual itu. Lalu mulailah hari-hari saya diisi dengan perlombaan.

Tempo-tempo saya memiliki teman yang luar biasa memikatnya bagi khalayak, berada di sampingnya berarti siap-siap tenggelam dari ingatan sejarah, tak perduli betapapun pencapaian pendidikan yang kita punya telah lebih tinggi, tak perduli retorika kita lebih cerlang, tapi kesederhanaan dan keramahannya yang magis telah memikat siapa saja, dia adalah rival utama dalam perlombaan yang ingin saya menangkan ini. Saya mati-matian ingin menyaingi keramah-tamahan yang dia miliki, dalam sebuah judul cantik “berlomba-lomba dalam kebaikan” saya ingin kalahkan dia, lama saya babak belur, lalu pada akhirnya saya capek dan menyerah.

Tempo-tempo lainnya saya ingin menyalip lagi seorang kawan yang demikian tekun berkecimpung dalam banyak literatur keilmuan keagamaan. Mati-mati saya belajar, tapi juga berujung capek dan terengah-engah saja.

Belakangan saya semakin menemukan orang-orang yang gila kebaikannya. Dalam sekali waktu tugas saya bertemu dengan seorang kawan yang membelikan rumah untuk seorang tak mampu yang dia temukan di sudut jalan, ini sinting, fikir saya. Mana mungkin saya menyusul pencapaian tak masuk akal ini?

Saya tahu kenyataan bahwa saya terengah-engah dalam upaya pengejaran adalah sesuatu yang mesti saya tafakuri. Bahwa berlomba-lomba dalam kebaikan adalah sebuah anjuran adiluhung yang tiada cela; saya setuju benar, tapi ada maknanya yang rasanya mesti saya rajut ulang.

Saya lalu ingat dengan sebuah perbandingan yang memang dari segala lini tidak tepat saya tarik sebagai permisalan dalam kasus ini, tapi saya belum menemukan sebuah pengibaratan yang lain.

Adalah Umar Ibn Khattab, yang dalam cerita sejarah kita temukan menjadi seorang pencemburu yang ingin menyaingi Abu Bakar dalam peribadatan beliau. Waktu orang-orang tak berpunya menjadi semacam target amal, dan dipikullah karung-karung gandum oleh Umar pada suatu malam, lalu kagetlah beliau waktu mendapatkan bahwa Abu Bakar telah mengantarkan gandum pada orang yang tak berpunya lebih dulu, Umar selalu kalah langkah.

Suatu babak lainnya Umar menyedekahkan setengah hartanya di jalan kebaikan, dia dapati Abu Bakar rupa-rupanya menginfakkan semua yang dia punya. Waktu Umar mengamuk-ngamuk ingin mengemplang siapa saja yang mengatakan Nabi SAW wafat, Abu Bakar jua yang dengan bijaksana menenangkannya dan mengingatkan bahwa betapapun sang Nabi hanyalah manusia biasa. Ada jarak yang terentang antara sesuatu yang ada di hati Umar dan Abu Bakar.

Saya jauh panggang dari api dengan Umar, sedang orang-orang yang saya temui saya yakin dalam track yang benar menapaki jalan suci berapa anak tangga mengikuti Abu Bakar.

Tapi tiba-tiba saja saya tersentak. Apa motivasi dari perlombaan saya selama ini? Menuju Tuhan-kah atau persaingan pencapaian yang tanpa terindra rupanya hendak memuaskan sudut psikologis manusia yang paling purba semata; saya lebih baik daripada dia?

Lalu disinilah saya menemukan jawabannya. Pada sudut kecil yang lain lagi. Setelah berapa tahun peristiwa kehilangan di keluarga saya itu lewat. Setelah berapa tahun acara kejar mengejar pencapaian imajiner yang saya lakukan terhadap rekan-rekan saya lewat.

Tiba-tiba saja saya sudah tertakdir ada di sebuah anjungan pengeboran lepas pantai dalam rutinitas kikuk yang biasa. Para bule yang sebagian normal-normal arogan. Lalu Bule-bule yang sopan dan menimbulkan kecanggungan untuk kita yang tak siap dengan ewuh-pakewuh model luar negeri. Lalu Pribumi-pribumi yang sebenarnya pintar tetapi tertutup oleh kesantunan timur yang enggan menonjolkan diri, dan lalu seorang sepuh yang kebetulan menjadi senior saya dalam pekerjaan, dan yang saya sebut terakhir ini juga kebetulan mengajarkan banyak cerita tentang menimati hidup.

Dan hari itu, kami (saya dan senior saya yang sepuh itu) bercerita tentang beberapa hal. Saya tergelitik untuk tahu bagaimana dia mendapatkan kematangan mental seperti yang saya lihat itu. Manteng ibadahnya, bijak gerak-geriknya.

Saya sering bertemu dengan orang yang lebih tua, tapi untuk mengagumi kematangan jiwa mereka; saya jarang. Salah satu dari sekian yang jarang itu adalah orang tua dihadapan saya kali itu, selain Bapak saya sendiri.

“Bagaimana bapak bisa konstan melaksanakan ibadah yang berat-berat?” tanya saya dalam lagak yang tak terlalu mau tahu, padahal saya memang melakukan penelitian semacam pseudo research amatiran tentang itu. Apakah kematangan jiwa itu semata haknya orang-orang tua saja? Saya membatin protes.

Sebelum berpacu buta mengejar pencapaian Bapak ini, saya rasa menelisik niatan pribadinya dalam bertirakat adalah utama.

Senior saya itu bercerita banyak hal. Tidak melulu menjawab pertanyaan saya sebenarnya, tapi yang saya bisa rangkai-rangkai dari cerita hidupnya adalah bahwa betapa jujur menilai diri itu awalan untuk memperbaiki spiritualitas kita. Mungkin-mungkin mematangkannya dengan takaran yang pas, karna terlalu lama kebohongan kita membuat mentalitas kita menjadi selamanya mentah.

Seperti nyata waktu beliau bercerita tentang suatu dini hari berapa puluh tahun lalu beliau bersujud dalam sembahyang yang total, lalu seperti diputarkan ulang segala tabiat-tabiat mudanya. Hura-huranya, sombong-arogannya, rasa ingin lebih baik dari orang lainnya, segalanya. Lalu beliau menyerah sekali pada Tuhan. Dan itulah titik balik hidupnya menjadi seorang ‘abid yang fantastis menurut saya.

“Jujur menilai diri, mengaku akan segala kesalahan kita, dan ridho pada takdir Tuhan.” Kata beliau menyimpulkan butir-butir pra syarat yang akan menaikkan level spiritualitas kita.

Dan pemahaman lalu masuk pelan-pelan mengoreksi cara pandang saya yang muda dan ketelingsut. Pada akhirnya toh semua orang akan kehilangan. Dan yang paling anggun dari segalanya adalah saat kita belajar pelan-pelan melepaskan segala keakuan kita yang menabir kita dari Tuhan. “Menghilangkan” segalanya yang toh pada akhirnya akan hilang itu.

Sedekah kita adalah mestinya semacam simulasi bahwa segala-gala akan hilang, lalu kita mengikhlaskan kehilangan itu dengan pengertian yang dewasa bahwa memang sebenar-benarnya itu harta bukan milik kita. Lepaslah kita dari keterikatan yang semu itu.

Puasa kita mestinya semacam simulasi, bahwa segala kenikmatan ragawi sejatinya akan hilang, lalu kita mengikhlaskan kehilangan itu dengan pengertian yang dewasa bahwa betapa sebenarnya selama ini dunia merajam-rajam kita dengan segala kebutuhan yang berluber-luber kita ikuti tak wajar.

Kecemburuan kita terhadap kebaikan lelaku kawan-kawan kita mestinya semacam introspeksi, bahwa orang-orang lain bisa dengan segenap usahanya melecat-lecat menuju Tuhan, lalu kita dengan segala kejujuran yang dewasa mengaku bahwa rupanya selama ini kita alih-alih ingin ke Tuhan juga tapi malah berpusar-pusar ingin mendaku diri lebih baik dari sesiapa saja.

kematangan mental spiritual adalah sesuatu yang ditancapkan Tuhan dalam hati masing-masing kita sendiri. Lewat umpamanya kejadian-kejadian, umpamanya perenungan mendalam akan makna-makna hidup, atau umpamanya lewat pengertian-pengertian yang ajeg dan tiba-tiba saja masuk merubah cara pandang. Dan ini yang pada mulanya menyetir segala apa saja perilaku yang terlihat.

Bodoh sekali saya ini. Semisal melihat orang kaya itu memiliki mobil, maka segala cara saya upayakan untuk membeli mobil. Selepas mobil terbeli, saya kira saya sudah kaya. Padahal yang semestinya saya tiru adalah cara fikir orang-orang kaya, etos kerjanya orang-orang kaya, ketrampilan melihat peluangnya orang-orang kaya, dan mobil itu hanya aksesoris luaran. Yang kalau segala pra syaratnya sudah saya miliki, maka akan tertampil dengan sendirinya.

Sekarang saya belajar tidak lagi mati-matian buta ingin mengejar mereka-mereka. Saya menikmati memandang perlombaan dari sudut yang baru lagi. Pelan-pelan saya belajar menghilangkan segala sesuatu yang toh pada akhirnya nanti akan hilang.

Saya tetap menatap iri pada pencapaian prestasi orang-orang suci, tapi ada sesuatu sebelum ritual yang ingin saya tiru. Apa gerangan yang bergejolak di dada mereka-mereka itu?

note:

*) Guru2 bilang, tidak akan bisa beribadah dengan benar, terkecuali orang yang mukhlash (mukhlash ialah orang yang diikhlaskan oleh Allah) bukan orang yang mendaku dirinya ikhlas.

*) gambar dipinjam dari sini

MENGGESER DO’A

sujud

Saya sempat kaget sekali, waktu saya tahu beliau sudah rutin mengerjakan puasa daud selama empat belas tahun.

Saya pertama kali bertemu dengan beliau sewaktu saya ditugaskan pada anjungan pengeboran lepas pantai Aceh. Kita kerja bareng. Diskusi. Lalu ngobrol kesana-kemari sampai suatu hari saya tahu bahwa senior saya yang sudah sepuh itu rutin sekali berpuasa daud. Waktu itu ada rasa malu yang pelan-pelan mengetuk kesadaran saya.

Rasanya setiap kali saya berada pada waktu senggang, saya teringat kembali akan seorang senior yang sudah sepuh. Sambil bekerja, tapi puasa daud beliau tak pernah bolong. Alangkah jauhnya capaian spiritual antara dia dan saya? Lalu kemudian di dalam hati saya memantapkan niat bahwa saya harus mencoba juga berpuasa daud.

Ada sekitar dua minggu lebih saya menjalankan puasa, sambil bekerja. Tapi masuk minggu ketiga puasa saya sudah mulai bolong-bolong dan akhirnya berhenti.

Saya tahu, bahwa ada dibutuhkan determinasi yang kukuh. Niatan yang kuat sebelum melakukan itu agar apa yang kita lakukan tidak berhenti di tengah jalan. Saya sedang menimbang-nimbang lagi, apakah memang upaya mendekatkan diri kepada Tuhan lewat merutinkan puasa daud ini cocok buat saya, ataukah ada yang lebih pas? Mendawamkan sholat dhuha, misalnya.

Tapi saya tergelitik untuk mengetahui apa sejarahnya sehingga beliau rajin sekali berpuasa?

Selang berapa minggu setelah tugas kerja saya di lautan sekitar Aceh, saya bertemu kembali dengan beliau di lautan sekitar Sangatta Kalimantan Timur. Kami kembali berbincang tentang banyak hal.

Dari sana saya mengetahui sepotong lagi cerita beliau, bahwa awal mula beliau rajin berpuasa adalah karena belitan ekonomi. Sempat di PHK oleh kantornya, lalu memulai bisnis sendiri, lalu bangkrut dan kehidupan berbalik total. Dari sana kemudian, cerita punya cerita, dia bertemu dengan seorang kiai yang menyarankan dia rajin puasa daud. Berpuasalah dia.

Saya tidak bertanya waktu itu, apakah ibadah tekun beliau itu menjadi semacam jalan yang memustajabkan doanya. Karna toh saya sudah tahu sesukses apa beliau sekarang. Beliau sudah berpunya sangat fantastis. Saya tahu bahwa entah dengan cara bagaimana, tapi doa beliau agar terbebas dari belitan ekonomi itu; terkabul. Yang saya sangat penasaran sekarang adalah kenapa dengan usia beliau yang sudah sepuh, beliau masih terus berpuasa? Bahkan setelah ekonomi lebih dari cukup.

“kalau sekarang ada orang yang mau kasih saya satu milyard, lalu meminta saya berhenti puasa, saya tidak akan mau.” Kata beliau sambil duduk bersender pada kursi dan menggeleng-geleng pelan, menjawab kebingungan saya.

Saya kagum dan menggeleng-geleng waktu beliau bercerita lagi, bahwa setelah ekonomi membaik, uang datang, dan keadaan kembali normal, dia malah menemukan kebahagiaan lain dari beribadah. Dia menemukan sebuah kenyataan bahwa beribadah itu adalah bentuk penghambaan kepada Tuhan. Dunia ini cuma wasilah saja.

Teringatlah saya dengan wejangan seorang arif yang mengatakan, ‘lihatlah orang-orang yang dekat dengan Tuhannya. Pastilah kau mendapati mereka ditarik ke dalam kondisi yang memaksa mereka untuk tidak ada tempat bergantung lain, selain daripada Tuhan’.

Nabi Musa misalnya. Siapa yang tidak tahu cerita Nabi musa? Dikejar-kejar sebatalyon tentara, dengan pimpinannya ayah angkatnya sendiri. Musuhnya adalah diktator paling menyejarah. Sedang kaum yang dipimpinnya adalah sekumpulan manusia dengan tabiat paling berkhianat. Kondisi semacam itulah yang pelan-pelan menarik Nabi Musa untuk masuk kedalam penghambaan yang benar-benar total. Istilahnya bergantung pada Allah semata.

Mengatakan ‘bergantung pada Allah semata’ itu gampang. Kita membaca buku satu dua, sudah bisa tahu bahwa ibadah itu untuk Tuhan semata, bahwa sandaran itu, Tuhan semata. Tapi untuk mendapatkan tingkat keyakinan semodel Para Nabi itu, Para wali dan orang-orang shalih itu, tiadalah mungkin tanpa Allah yang mendudukkan kita pada kondisi tidak ada tempat bergantung lain selain Dia. Dan pasti ada ceritanya hingga mereka bisa mendapatkan keyakinan yang kokoh, menujam, berurat akar seperti itu.

Ada sebagian orang yang dibelit dengan kesulitan ekonomi, lalu dengan kesulitan ekonomi itu mereka ‘kembali’ pada Tuhannya. Berdoa dan meminta pertolongan. Ada sebagian orang yang berdosa, lalu dengan dosanya itu mereka menyesal sungguh-sungguh lalu berdoa mengharap pengampunan. Jangan dimarahi orang yang terbetik kembali kepada Tuhan karna kesulitan dunia, dengan mengatakan “heh, ibadah itu untuk Tuhan semata, bukan karena dunia!!”. Harusnya dipahami bahwa orang itu menemukan kesadaran kehambaannya dari sana. Bahwa betapa dia butuh pertolongan Tuhan. Meskipun itu urusan remeh temeh dunia.

Guru-guru yang bijak mengatakan bahwa tidak lagi penting apa yang didoakan itu, jika dibandingkan dengan kenyataan bahwa mereka ‘kembali’ pada Tuhannya. Kesadaran yang lembut mengetuk hati kita sampai mengaku tidak mungkin bisa selamat tanpa pertolongan Tuhan, lalu akhirnya berdoa, lalu akhirnya kembali; sejatinya itulah yang luar biasa bernilai. “kembali ke Tuhan”nya ini yang sangat bernilai.

Tinggal nanti kalau terus ditekuni, akan ada momennya penghambaan kita itu menemukan kedewasaannya.

Segolongan orang yang katakanlah sudah expert, setingkat Nabi dan orang-orang shalih lainnya, pada akhirnya akan didudukkan Tuhan pada ketawakalan yang fantastis, susah dinalar oleh kita-kita.

Misalnya kisah Nabi Ibrahim. Saya teringat kisah Nabi Ibrahim kala akan dibakar oleh orang-orang. Cerita ini sangat masyhur dan terekam hampir pada setiap benak kita. Nabi Ibrahim tidak terpanggang api, justru keluar dari kobaran api yang menyala-nyala dengan baik-baik saja. Saya membayangkan kedramatisan kisah itu sejak saya masih kecil dulu.

Tapi dari kisah itu, ada potongan episode yang saya baru dengar setelah saya besar. Yaitu babak dimana Jibril mendatangi Nabiyullah Ibrahim sesaat sebelum dilontarkan ke dalam api, Jibril menawarkan bantuan. Tapi bantuan itu ditampik oleh Ibrahim a.s. Beliau menyatakan tidak memerlukan sesuatu apapun dari makhluk. Lalu Jibril menyarankan Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah S.W.T. dan itupun ditolak.

Sempat saya bingung sekali, cerita ini agak-agak tidak masuk diakal saya kala itu, sampai dewasa ini saya baru paham bahwa penolakan Ibrahim a.s. atas usulan Jibril yang menyuruhnya berdoa kala itu; adalah sebentuk ekspresi ketawakalan tingkat tinggi yang sebenarnya disebabkan adab beliau kepada Tuhan. Dalam pandangan Beliau, Allah maha mengetahui segala-galanya, dan Nabi Ibrahim ridho pada apa saja ketentuan Tuhannya. Beliau yakin sekali kalau apa saja yang tertakdir oleh Tuhan itu baik. Pantas kalau beliau disebut kekasih Allah.

Lha model kita-kita ini, kalau enggan berdoa, salah-salah malah jadi sombong kepada Tuhan. Karena keengganan kita itu di-drive oleh sebuah pemahaman yang salah, bukan oleh kemurnian tauhid. Karena kemurnian tauhid setingkat mereka itu adalah hasil dari proses kembalinya mereka, lewat segala tema dalam cerita hidup mereka.

Saya tahu kenapa saya bolong-bolong puasa. Karena tidak ada semacam tema dalam ibadah saya. Naturalnya manusia itu akan bergerak semangat kalau ada yang ingin dicapai. Kalaulah misalnya enggan mengatakan capaian itu duniawi, kita ibaratkan misalnya capaian itu adalah syurga. Mimpi tentang kenikmatan surga, misalnya. Harusnya itu men-drive saya. Bukan sebuah amalan ibadah yang kosong saja tanpa tema.

Untuk levelan saya, harusnya saya membuka mata dan menemukan sekian banyak tema yang Tuhan hadirkan di hidup saya. Tak kurang-kurang tolakan untuk kembali yang Tuhan hadirkan. Apatah itu keinginan untuk pindah kerja ke tempat yang baru. Apatah itu keinginan untuk memiliki rumah yang lebih luas dan bisa menampung sanak saudara yang berkunjung. Apatah itu keinginan untuk di akhirat nanti ditempatkan pada surga yang indah.

Karena sejatinya kesulitan hidup, belitan ekonomi, kegalauan, apapun itu yang menyedot percaya diri kita, menghempaskan harapan kita pada selainNya, lalu membuat kita menyerah dan berdoa; adalah cara Allah memanggil kita.

Kita teruskan berdoa. Sambil pelan-pelan menggeser pandangan doa kita. Dari meminta yang berpusar-pusar kepada harta, lalu bergeser pada ke-menyerahan diri bahwa hanya Tuhan yang maha membagi rizki. Dari doa yang melulu mengharap terlepas dari kegalauan, bergeser pada pengakuan bahwa hanya dengan mengingat Dia yang menenangkan hati.

Yang jelas, apapun temanya ‘panggilan Tuhan’ dalam hidup kita, mestinya itu dipakai untuk kembali.

***

gambar saya kopi dari sini

MENEMBUS BATAS (dua)

Eye_iris

Ada sebagian orang, yang meski pertama kali kita bertemu, kita tunduk dengan kharismanya.

Orang-orang seperti ini selalu ada sepanjang sejarah. Saya teringat dengan cerita ketika Abrahah Pemimpin pasukan bergajah ingin menghancurkan Ka’bah. Kita semua terkenang dengan cerita bahwa Abrahah kemudian tertakdir babak belur dengan lontaran batu-batu panas dari langit. Tapi bila agak kembali ke belakang, sebelum dia tiba di dekat Ka’bah, kita akan mendapati babak dimana dia bertemu dengan Abdul Muthallib.

Pada sejarah yang saya baca, diceritakan bahwa Abrahah sempat terkesima dengan kharisma Abdul Muthallib, pada sekilas pandang saja Abrahah sudah tahu bahwa di depannya ini orang besar. Abrahah menyambutnya, meski kemudian Abrahah sedikit kecewa, dia mengharapkan orang dengan kharisma sedahsyat itu pastilah datang dengan sebuah tuntutan yang berani, nyatanya Abdul Muthallib malah hanya menagih untanya yang dirampas oleh Abrahah ketimbang menghalangi Abrahah melantakkan Ka’bah.

Tentu saya bukan ahli sejarah, tetapi saya tidak bisa untuk tidak terkenang dengan cerita itu. Cerita tentang seseorang yang memiliki kharisma yang membuat gentar orang lain bahkan sejak tatapan pertama. Betapa orang-orang seperti itu ada, dan banyak di sekitar kita.

Tadi malam saya membuka-buka timeline pada twitter, dan menemukan sebuah akun bersahaja milik seorang teman kuliah yang sebenarnya tidak begitu dekat secara personal dengan saya. Saya tidak terlalu terlibat dalam keseharian beliau, tapi yang saya tahu persis adalah ada kharisma yang begitu lekat pada dirinya. Seingat saya, saya tidak pernah berani menatap lama matanya. Ada sesuatu yang ketika saya sedang beraktifitas bersama beliau; saya merasakan jurang spiritual yang menganga lebar, entahlah, mungkin memang orang-orang shalih memiliki radius pengaruhnya sendiri.

Mengamati beliau dan perikehidupannya membuat saya kadang mendecak dalam diri sendiri, betapa saya masih harus meniti ratusan anak tangga untuk menyusul prestasi ruhani orang-orang seperti beliau. Orang-orang yang saya bahkan tak mengakrabinya dengan persis, tapi menimbulkan semacam perasaan ketertinggalan yang menyedihkan. Saya menjadi saksi bahwa betul ada orang yang kharismatik seperti itu.

Saya rasakan bahwa orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang memiliki bobot pada lisannya. Artinya saat dia mengatakan sesuatu, kalaulah saya tidak sependapat, mestilah saya menahan diri untuk tidak mendebatnya. Semacam sebuah kesadaran mental pada diri saya yang mewanti-wanti, “hati-hati kamu, ini kekata yang keluar dari lisan seorang terpercaya”.

Maka saya seringkali lebih banyak diam dan menunggu saja, siapa tahu ada pelajaran yang saya bisa petik. Syukur-syukur saya bisa semacam mengorek-ngorek, apa gerangan yang menyebabkan orang ini punya tatap mata yang teduh tapi tajam? Apa gerangan yang membuat orang segan kepadanya meski pertama kali bersapa?

Sedemikian penasarannya saya, sampai-sampai saya merasakan semacam dahaga. Sebuah kekeringan spiritual, yang hanya bisa dilipur oleh petuah dari orang-orang yang bila saya bertemu dengannya; saya merasakan kharismanya. Saya menghabiskan panjang waktu saya untuk mencari orang-orang seperti itu. Saya ingin memetik ilmu dari sumber yang saya yakini memiliki kemelimpahan kearifan hidup.

Sampai suatu ketika saya bertemu dengan seorang guru yang tua dan bersahaja, dia merubah tata pandang saya tentang kharisma dan keagungan seseorang. Bahwa seorang yang dekat pada Tuhannya memang boleh jadi memiliki bekas-bekas “persapaan” peribadatan yang terindera oleh kita, entah tatap matanya, entah elok wajahnya, entah kharismanya, tapi boleh jadi juga tidak.

Seorang guru yang tua yang saya ceritakan itu, nyaris tidak memiliki sebuah ciri kharismatik –kecuali jika beliau mengenakan kopiahnya-, sangat biasa dan sederhana. Tapi ingat-ingatlah kata beliau ini, “kadang-kadang, jika Tuhan sangat mencintai hambanya, dia tutupi orang itu dari “pengelihatan” manusia”, kata beliau.

Dan saya merasakan ada sesuatu yang melesat ke dalam batin saya, lalu meluluh lantakkan bangunan persepsi saya yang lama. Bahwa orang-orang yang dekat dengan Tuhannya itu, sangat boleh jadi orang-orang yang selama ini kita anggap remeh karena tidak memiliki kharisma sama sekali.

Teringat saya dengan sebuah cerita di zaman Nabi Musa. Barangkali cerita ini pernah pula kawan-kawan dengarkan.

Nabi Musa diperintahkan oleh Allah untuk pergi ke sebuah desa, dimana di sana ada seorang kekasih Tuhan yang wafat. Nabi Musa diperintahkan untuk mensholatkannya. Tiba disana, Nabi musa terhenyak mendapati mayat seorang yang disebut tadi teronggok di tumpukan sampah tiada seorang peduli pada jenazah itu. Usut-usut, rupanya orang tersebut adalah penjahat besar. Sampah masyarakat.

Tentulah Nabi Musa heran, dan kita sama-sama tahu cerita ini, bahwa ternyata penjahat besar tadi di ujung hidupnya mengakui dengan tulus kesalahan-kesalahannya, dan meminta penuh harap akan rahmat Tuhan.

Orang itu pada penghujung hidupnya berada di sebuah kesadaran batin yang murni. Bagaimana saya menjabarkan ini dengan tepat, ya? Orang itu berada pada sebuah titik yang sangat dekat dengan rahmat Tuhan, saat dia setulus-tulusnya tulus mengakui bahwa dia ini banyak dosa, lalu seharap-harapnya harap bahwa rahmat Tuhan masih ada dan meliputi segala-galanya. Itulah jenak yang menjadi titik balik hidupnya.

“Sebersalah-bersalahnya seseorang,” kata Guru tua yang saya temui tadi, “tidak boleh, orang itu merasa pupus harapan akan rahmat Tuhan.”

Dan dalam bingkai pemaknaan yang seperti ini, saya tiba-tiba merasa bahwa di sekeliling saya begitu banyak orang-orang yang punya jenak kedekatan mereka sendiri pada Tuhan. Ada waktu-waktunya di mana setiap orang saya rasakan punya hubungan personal mereka sendiri pada Tuhan.

Entah itu seorang kuli pengeboran minyak yang saya temui di lautan sekitar aceh berapa minggu lalu, berewokan, memiliki segala prasyarat penampakan seorang tokoh antagonis, tapi pada suatu maghrib saya temukan dia sedang duduk bersimpuh tepekur pada pojokan musholla, di atas sebuah sajadah tua yang warnanya sudah pudar-pudar. Saya beringsut malu, untuk telah menilai dia sebatas apa yang tampak.

Entah itu seorang anak muda yang ceria dan konyol, saya temui sebagai karakter yang sama sekali tidak kontemplatif, tapi selalu memulai harinya pada sepertiga malam yang akhir dan menjadikannya awalan untuk meminta sebuah hari yang indah pada Tuhan.

Entah itu seorang Bapak-bapak tua dari Indonesia timur, saya temukan sebagai seorang yang memiliki kisah hidup semacam perulangan saja dari sekian banyak orang-orang yang saya temui, sama sekali tidak istimewa, tapi pada sebuah penghujung telepon saya mencuri-curi dengar dia mewejang pada istrinya, “kasihlah uang ke anak itu ma, kasihan dia mau pulang tapi bekal ndak punya, jangan kasih sedikit.” Pesannya pada istrinya di rumah untuk memberi sekadar uang pada seseorang jauh yang dia tak terlalu kenal.

Siapapun dia. Siapapun!!

Dan saya menjadi sedikit mengerti, kenapa orang-orang yang memiliki sebutlah ‘pencapaian’ spiritual yang tinggi biasanya menjadi sedemikian welas asih pada orang lain. Karena mereka melihat bahwa setiap orang punya semacam garis singgung yang kait-mengait dengan rahmat ampunan Tuhan. Seberapapun pendosanya orang itu.

Ada orang yang meniti anak tangga pada Tuhan dengan peribadatannya yang banyak dan tulus. Ada pula orang yang secara harfiah kita lihat berdosa pada masa kini, tapi entah kita tidak pernah tahu bahwa suatu ketika dosa itulah yang menghantarkannya pada rengkuhan ampunan Tuhan, kala dia menyesal sampai ke sumsum tulang dan menyadari betapa buruk hinanya dia. Nah…titik kesadaran bahwa dia merasa diri seonggok sampah, ndak punya apa-apa, dan yang semacam itulah yang melesatkan strata keruhanian dia, mungkin-mungkin melampau sang abid dan alim. Kita tak pernah tahu.

Kalaulah seorang yang fasih dalam keilmuan keagamaan, kita kenal dia dengan kharismanya yang agung dan memikat, itu sangat wajar. Tapi kita juga semestinya berhati-hati betul, pada setiap orang-orang yang tertampil dengan biasa-biasa saja –bahkan boleh jadi pendosa-, entah jenak yang mana dari keseluruhan rentet panjang hidupnya, yang menjadikan dia diwelas-asihi Tuhan, kita tak pernah tahu.

Dipenghujung perbincangan kami, Sang guru tadi bercerita pada saya. Suatu ketika dua orang dari Indonesia sedang berada di tanah Arab. Pada pelataran masjid, salah seorang dari mereka mengajak rekan satunya untuk mencari orang yang dikasihi Tuhan, wali-lah bahasa umumnya, untuk meminta doa.

Rekan yang diajak tadi mengusulkan untuk menemui seorang yang dia rasa kekasih Tuhan. ‘alim yang sedang memberikan pengajaran di serambi, dikerubungi banyak murid. Tiba disana, apa kata rekan satunya? “Bukan..bukan yang ini.”

Mereka beranjak lagi menemui seorang yang sedang duduk dan berzikir memutar-mutar tasbih. Lagi-lagi apa kata rekan satunya? “bukan orang ini.”
Kebingunganlah rekan yang diajak itu, siapalagi yang mungkin? Bila segala orang dengan kriteria yang digadang-gadang sebagai wali, nyatanya dianggap bukan oleh rekannya. “jadi kepada siapa kita meminta doa?” tanyanya.

Lalu sang rekan menunjuk seorang dengan pakaian lusuh yang amat sahaja, sedang tertidur di pelataran masjid. Dibangunkanlah orang itu oleh mereka berdua, lalu sekonyong-konyong dimintai doa, untuk keselamatan mereka berdua dan keselamatan Indonesia.

Orang tua itu kaget, tapi lalu kemudian mendoakan mereka berdua, seraya segera membalik badan dan pergi usai berdoa. Dalam langkah orang tua itu, sayup-sayup terdengar oleh mereka orang itu bergumam, “ya Allah…apa gerangan dosa saya, sehingga dua orang itu mengenal saya?”

Saya tersenyum mendengar cerita itu. Dan saya ingat persis kesimpulan wejangan itu, kalaulah orang yang dikasihi Tuhan itu dinampakkan kepada sekalian manusia, pastilah manusia berduyun-duyun meminta berkah, kata sang Guru.

Dan tidak mungkin bisa tampak, keistimewaan seseorang, kecuali oleh seorang yang istimewa pula.

*) gambar minjem dari google image

EWUH PAKEWUH

“Bila ada dua orang muslim berkelahi,” saya masih ingat begitu penjelasan ceramah Zainudin MZ yg sering diputar di masjid-masjid waktu sore jelang maghrib dulu, “lalu salah satu diantara mereka terbunuh, maka dua-duanya masuk neraka. Kenapa? Karna baik yang terbunuh maupun yang membunuh sudah sama-sama niat. Hanya saja yang terbunuh kalah cepat.”

Selepas mendengarkan ceramah itu, saya bertanya-tanya heran, bukankah yang biasa saya dengar dari wejangan para orang tua adalah bahwa Tuhan sebegitu baiknya, ‘niatan baik manusia, meski belum dilaksanakan sudah dihitung sebagai satu kebaikan, sedangkan niatan buruk sebelum terlaksana tiadalah dianggap?’ Saya agak bingung juga dengan kontradiksi ini, sampai saya sempat lupa dengan hal itu karena lama tiada ketemu jawaban.

Belakangan, saya menemukan penjelasan lebih dalam dari guru-guru kita –tapi mohon maaf saya tak pandai menyitir ayat atau hadistnya- yang kurang lebih maknanya begini: Keadaan di dalam hati manusia itu beragam-ragam. Kadangkala kita hanya memiliki lintasan fikiran, yang muncul sekelebat saja lalu hilang. Kadangkala lintasan fikiran itu kita ikuti, lalu hasrat hati lama kelamaan makin menguat, bertingkat-tingkat kekuatan niat itu, semakin kuat niatan di hati kita semakin dia menjadi tekad bulat, azzam, yang katakanlah hampir pasti kita laksanakan. Nah, derajat keinginan yang sampai tingkatan sangat bulat inilah, tekad yang sangat kuat inilah, yang sudah masuk dalam neraca hitung-hitungan pahala-dosa. Dan inilah yang menjelaskan duduk perkaranya kisah di pembuka tadi, ‘dua-duanya bersalah, sebab dua-duanya sudah mencapai level tekad bulat membunuh’.

Tapi sebenarnya sekarang saya sedang tidak ingin membahas pembunuhan. Saya hanya ingin bercerita bahwa akhir-akhir ini saya jadi semakin menyadari bahwa ada sesuatu di dalam hati manusia, yang men-drive, yang istilahnya menyetir, yang memberi makna pada segala tata lahiriah kita. Dan menyadari sebuah kenyataan ini membuat saya bergumam sendiri, ndak bisa kita main-main dalam urusan satu ini. ‘Segala sesuatu bergantung pada niatannya’, sungguh baris kata-kata itu bukan sekadar peribahasa lagi.

Yang berbeda ialah yang di dalam dada.

Kita,  berurusan dengan Penguasa Jagat ini, Dia Yang Maha Tahu sesuatu hingga yang paling samar di dalam diri kita.

Dan kata guru-guru yang bijak, tersebab oleh KeMaha Tahu-an Tuhan, maka tuntutan yang dibebankan pada kita ialah tuntutan untuk melakukan sebuah kegiatan lahiriah yang ‘sesuai’ dengan kapasitas batin, dengan niat, dengan segala kelengkapan pemahaman yang ada dalam dada kita. Bukan yang tidak sesuai dengan kondisi spiritual kita, bahasa njlimetnya.

Saya agak susah menjelaskan ini bila tanpa perumpamaan. Saya ingin memisalkan begini. Seorang anak yang lebih tua melihat adiknya yang masih bayi disuntik dirumah sakit dan adiknya meraung menangis, dia lalu marah pada dokter. Hal ini sangat kita maklum, karena kesadaran kepahaman dirinya tak tahu bahwa itu adalah suntikan imunisasi. Sangat wajar dia marah tersebab cintanya pada adiknya.

Memang sih, dalam pandangan yang lebih menyeluruh, marah pada dokter yg memberikan imunisasi ialah menggelikan, tetapi Tuhan Yang Maha Mengetahui segala hal dengan komprehensif bisa menilai yang tak kasat mata kita. Sebaliknya, meski secara lahiriah, tidak marah pada dokter yang memberi imunisasi adalah masuk akal. Tetapi bila ketidak marahan itu adalah wujud dari sebuah sikap tidak peduli pada adiknya –bukan karna dia paham bahwa itu imunisasi– maka sikap diam itu salah secara tata batin. Dan Tuhan tahu itu.

Banyak sekali contoh yang lebih baik. Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir, yang menyejarah itu, kita sama-sama tahu bahwa dalam konstelasi jagad keilmuan yang lebih kompleks tindakan Nabi Khidir lah yang benar secara maknawi, –membahasakannya agak susah ini- Nabi Khidir punya kefahaman jiwa yang lebih luas, melihat sesuatu dibalik sesuatu.

Tapi dengan tingkat kefahaman dan keilmuan yang dimiliki Nabi Musa, dengan situasi batin Nabi Musa, maka memprotes itu adalah tindakan benar secara tata batin juga. Karena marahnya Nabi Musa adalah wujud dari kebaikan moral, dari kepedulian. Perkaranya akan lain sekali jika Nabi Musa pada akhirnya diam saja, misalnya diamnya karena apatis. Mendiamkan perlakuan diluar kebiasaan yang dilakukan oleh seorang Mulia yang memang diperlihatkan Tuhan hakikat dibalik sesuatu; secara lahir benar, tapi jika diamnya itu di-drive dari kecuekan –bukan dari kesadaran bahwa ada gap pemahaman yang panjang antara dirinya dan Khidir maka hal itu salah.

Mudah-mudahan saya benar menyampaikan ini. Dan bayangkan betapa kompleksnya penilaian yang sejati itu! ya memang pengadilan yang paling adil ialah pengadilan Tuhan. Dan Tuhan-lah yang menggenggam kapasitas untuk tahu segala seluk beluk yang nampak dan yang tersembunyi.

Pemahaman seperti ini menjelaskan banyak hal, seperti kenapa Rasulullah suatu ketika pernah membiarkan Abu Bakar menafkahkan seluruh hartanya untuk perjuangan agama yang lurus ini. Karena Baginda Nabi tahu Kapasitas pemahaman Abu Bakar, penghambaan beliau, yakinnya beliau akan janji Tuhan, sungguh mencapai titik puncak keridhoan.

Di kali lain pernah Nabi mencegah sahabatnya yang lain menafkahkan segala harta yang dia punya. Sang Nabi bisa mengukur kapasitas seseorang.

Lha kalau kita main hantam kromo niru Abu Bakar, jangan-jangan kita tertipu di-drive oleh keinginan dapat uang banyak hasil sedekah tanpa perlu bekerja?

Dalam bahasa seorang ahli hikmah ternama, dia mengatakan ‘syahwat dalam kebaikan sungguhlah samar dan tersembunyi’.

Jadi saya menuliskan sebaris kalimat penting untuk saya ingat-ingat: sesuaikan tata lahirmu dengan tata batinmu. inilah rule nomor satu. peraturan pertama dalam bersikap, simpulan saya begitu.

Tetapi ada tangga kedua

Setelah menyesuaikan tata batin dan sikap lahir, rupanya ada anak tangga kedua. Nah..yang ini permisalan lagi. Katakanlah sang kakak tadi, setelah diberitahu oleh kedua orang tuanya, maka dia menjadi paham, bahwa orang tuanya tidaklah kejam dengan memberikan adiknya pada dokter. Dia menjadi paham ada sesuatu yang tertabir dari pandangannya. Ada sesuatu yang dia tidak tahu. Rupanya ada semacam gap pemahaman antara dia dan orang tuanya.

Yang paling tepat menjelaskan anak tangga kedua itu, saya rasa, ialah apa yang orang jawa bilang dengan ewuh pakewuh. Rasa hormat dan sungkan, pada dirinya, untuk terlalu frontal menentang kedua orang tuanya.

Sekali dua mungkin saja dia masih ngamuk-ngamuk karena pemahaman yang dia punya kok ya bertentangan dengan perilaku orang tuanya, dan ngamuk-ngamuknya ini secara lahiriah salah, tapi ya itu tadi, boleh jadi benar secara batin, tergantung kapasitas dia, tergantung landasan niatannya, tergantung bagaimana harmoni antara niatannya-konstelasi kefahamannya, dengan perilakunya itu. Dan semata-mata Tuhan yang benar-benar Tahu.

Tapi mestinya setelah berkali-kali tersadarkan bahwa orang tuanya memiliki visi yang lebih jauh, memiliki pandangan yang lebih menyeluruh, dan terbukti pula selalu beritikad baik pada anak-anaknya. Maka sang kakak tadi seyogyanya memiliki rasa sungkan, dan rasa hormat. setidaknya dia menjadi lebih beradab dan bersopan-sopan dalam mengutarakan beda pendapatnya.

Saya sering teringat dengan masa lalu, waktu saya sering dengan bahasa halus mengeluhkan apa yang saya inginkan pada orang tua saya. Misalnya saya ingin meminta tas baru, maka saya dengan sopan-sopan cuma bercerita saja pada orang tua saya, bahwa tas saya sekarang rusak, bahwa buku yang saya bawa kadang nongol-nongol keluar. Dengan harapan bahwa orang tua saya nanti tahu juga saya minta dibelikan tas baru. Masa-masa merengek minta tas secara frontal sudah habis, karena saya paham bahwa pandangan orang tua lebih kompleks, berjejalin dengan biaya sekolah adek saya, uang sewa rumah, dan lain-lain, dan lain-lain.

Setidaknya begitulah yang saya pahami selama ini. Dan model ewuh-pakewuh ini saya terapkan dalam penghambaan saya kepada Tuhan. Maksudnya begini, kadang-kadang saat saya berdoa, saya malu meminta dengan terlalu frontal, maka akhirnya saya memanis-manis dan mengemas kata dengan baik. Niatan saya, supaya saya bisa meniru para Nabi yang berdoa dengan anggun.

Nabi Adam, misalnya, saat diturunkan ke bumi berdoa “Tuhanku, sungguh aku telah zhalim pada diriku sendiri, bila tidak Engkau ampuni, sungguh aku merugi”. anggun sekali doa itu, tidak frontal meminta sesuatu, dan katakanlah saya terinspirasi.

Maka doa-doa saya penuh dengan peribahasa, dengan kesopanan, dengan kata-kata yang tidak mendikte Tuhan. Pertama-tama sih enak berdoa dengan cara begitu, sampai akhirnya saya menyadari sebuah kekeliruan.

Kekeliruan itu ialah saya sudah salah mengukur jarak kefahaman antara saya dan Tuhan. Bila kepada orang tua, saya bisa meminta dengan bahasa yang penuh isyarat, agar orang tua menjadi tahu kebutuhan saya, dan saya tidak melanggar tata kesopanan. Tapi kepada Tuhan?? lain perkara. Tidak bisa dibandingkan.

Saya tiba-tiba terhenyak bahwa Yang Saya Mintai ini adalah Penguasa Alam Raya, yang mengetahui setiap detil segala sesuatu. Maka bersopan-sopan pada tutur kata, tapi di hati sebenarnya masih ada semacam terbetik bahwa saya lebih mengetahui apa yang saya butuhkan dibanding Tuhan, kok ya rasanya tak sopan.

Rupanya ada tangga ketiga.

Sikap mental dalam meminta kepada Tuhan itu ternyata melampaui permainan sungkan-sungkanan.

Tahapan berikutnya setelah menundukkan kata-kata kita dalam bingkai penghormatan kepada Tuhan, lalu kita mesti tundukkan juga hati kita dalam bingkai kepasrahan.

Ya Allah…aku ini ndak tahu apa-apa yang terbaik bagiku.

Rupanya para Nabi bukan bermanis-manis kata semata, tetapi memang melafalkan apa yang mereka rasakan. Bila mereka mendaku dirinya zalim, maka begitu pula yang mereka rasakan di dalam hati.

Dan saya baru tertohok setelah menyadari jika tidak saya mulakan dari sekarang membenahi hati ini, apakah nanti saya merasa bisa menyembunyikan sesuatu dari yang Maha Mengetahui?

Saya menuliskan ini sambil agak-agak menghela nafas. Saya paham bahwa akan ada pertanyaan, “apakah serumit itu berkeTuhanan? Penghambaan?” , saya juga menanyakan ini.

Tetapi sebenarnya tidak, kata para guru, mulakanlah lagi dari tangga pertama itu.

Sesuaikan tata lahir dengan tata batinmu. Awali segalanya dengan niatan yang benar dan lurus lalu laksanakan niatan itu. atau bila terlanjur melangkah terlampau lebar, ambillah langkah berapa jejak ke belakang untuk menilai diri, apa yang sebenarnya men-drive kita tadi?

Nanti pelan-pelan kita akan tahu, bagaimana sikap yang di-setir oleh setulus-tulus niat, sebenar-benar pemahaman, semurni-murni tanpa pamrih. Dikawal Seakrab-akrab doa.

Dan di titik itu nanti kita sudah melompat tinggi, ewuh-pakewuh sudah jauh tertinggal.

BINGKAI KERIDHOAN

bingkai keridhoan

Suatu ketika saya pernah berkonflik dengan seseorang. Bukan konflik besar, tapi menimbulkan ketidaknyamanan di hati. Dalam hari-hari yang tidak nyaman itulah saya sering berdoa. Di dalam doa saya seperti curhat kepada Tuhan, lalu setelah berdoa sepertinya hati ini sedikit lega. Saya merasakan Tuhan berpihak kepada saya.

Bertahun kemudian, di dalam perenungan saya, saya baru menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dalam sikap batin saya kala berdoa waktu lalu itu. Samar sekali memang, tapi saya belakangan kaget juga, bahwa ternyata di dalam doa-doa saya kala berselisih paham itu, rupanya tanpa sadar saya mendoakan keburukan bagi orang lain.

Ada kalanya doa itu tidak vulgar berupa permohonan keburukan, tapi lebih rapih terbungkus dalam keinginan hati akan pembuktian bahwa diri pribadi saya dalam tataran tertentu lebih unggul daripada orang yang saya selisihi. “Duh Tuhan…tolong suatu waktu nanti ditunjukkan pada dia bahwa saya ini lebih baik daripada dia.” Begitu doa saya kurang lebih.

Di kali yang lain saya berdoa juga, doa yang redaksinya agak berbeda, tapi rintihan curhat saya itu bisa diartikan mengusung sebuah tema besar pengaduan kepada Tuhan akan keburukan seseorang, yang rasa-rasanya kalau ditarik dengan jujur benang merahnya, sepertinya saya merasa dalam tataran tertentu saya adalah pribadi yang lebih layak untuk dekat kepada Tuhan. Dan orang yang berseberangan dengan saya waktu itu, adalah seorang yang rasanya tidak dikasihi Tuhan. Ini berbahaya sekali. Saya kaget sekali waktu tersadar tentang fikiran itu. Saya merasa betapa picik logika saya.

Kata para guru, Memang dalam waktu-waktu tertentu doa bisa merupa keras. Sebagaimana contoh doanya Nabi Nuh. Saya mendengar sebuah cerita masyhur nabi Nuh. Enam ratus tahun beliau mengajak umat menuju kebaikan, tapi hanya beroleh dua belas orang pengikut. Itu pun anak beliau sendiri tidak termasuk. Lalu di dalam segala keletihan itu, beliau berdoa agar orang-orang yang ingkar itu diazab saja oleh Tuhan. Nyatanya memang kaum Nuh tenggelam oleh banjir besar. Itu memang mendoakan keburukan, tapi level kepayahan yang didaki untuk sampai kepada sebuah doa itu, jauuuuuh berbeda dengan segala ketergesaan kita. Dan dalam doa beliau, tidak sedikitpun kebencian pribadi masuk, tapi lebih semacam kekecewaan yang jernih bahwa betapa orang-orang itu kok segitu-gitunya kepada Tuhan.

Serupa tapi tak sama, adalah doa Musa, agar Qarun si tamak harta ditenggelamkan saja ke perut bumi. Maka masyhurlah cerita harta karun.

Yang lebih mengagumkan dari semuanya ialah doa Sang Rasul Muhammad kala dilempari batu oleh penduduk thaif, sampai kepalanya berdarah-darah. Waktu itu pengabulan doa apapun saja yang beliau ingin mintakan adalah sebuah kepastian, tapi malah beliau mendoakan kebaikan bagi kaum yang belum sadar itu.

Kesadaran hati mereka, saat mendoakan seperti itu, berada pada level yang jauh dari picik. Saya menyadari betapa panjang rentang kemurnian hati antara kita dan orang-orang suci itu.

Risalah mereka jelas, garis perjuangan mereka lurus, dan keberpihakan Tuhan terhadap mereka pasti. Sedang saya? Salah-salah doa nanti berbalik memakan saya sendiri. Saya kapok berdoa dengan sebuah sikap seperti sedang dizolimi. Malu rasanya.

Saya sekarang belajar sedikit-sedikit untuk berdoa dalam bingkai ridho. “Ya Tuhan….hamba ridho Engkau sebagai Tuhanku”. Takdir yang dihadapi sekarang ini hamba ridho. Bahwa untuk lepas dari kesusahan yang dialami sekarang ini hamba harus berusaha begini-begini, hamba juga ridho.

Jadi berawal dari menerima takdir Tuhan, lalu beranjak menuju takdir lebih baik lewat takdir Tuhan pula, dan semuanya dalam bingkai keridhoan sehingga jelas pemisahnya antara doa dan dumelan. Itu yang saya catat dari pengalaman waktu lalu.

Jadi ceritanya Malam-malam waktu berapa minggu lalu hujan sangat lebatnya. Saya sedang terasing di sebuah wilayah pemboran gas bumi di pedalaman Kalimantan Tengah, di pinggiran anak sungai barito. Malam itu malam terakhir saya bertugas di sana, paginya harusnya saya terjadwal pulang kembali ke Jakarta. Tapi hujan deras membuat saya was-was. Saya lalu berfikir bahwa bisa saja kepulangan saya ke Jakarta tertunda. Berapa hari sebelumnya seorang kawan tertunda seminggu kepulangannya ke Jakarta sebab kabut tebal melanda Bandar udara kecil di Barito Utara, pesawat capung tak bisa terbang, terpaksalah dia kembali ditarik ke lokasi pengeboran untuk waktu seminggu lagi.

Segala bayangan itu membuat saya was-was. Saya sudah dua minggu bekerja di sana, dan dalam segala keletihan kerja, juga bayangan nyamannya istirahat kembali di rumah, saya rupanya belum siap dengan kenyataan tempat terpencil itu sangat tidak menjanjikan cuaca yang stabil.

Saya berzikir, bersholawat di malam itu. Saya dengar kata para guru yang bijak, sholawat bisa meleraikan masalah. Maka saya bersholawat banyak sekali malam itu. Tujuan saya satu saja cuma, supaya hujan berhenti dan pagi harinya saya bisa pulang. Sederhana sekali.

Tapi apa mau dikata hujan tambah lebat tak karuan. Saya semakin khawatir, tapi tetap menyenandungkan sholawat dalam hati, sambil sekali-kali melirik keluar unit tempat saya bekerja dan menjadi semakin mencelos karna hujan tidak reda juga.

Tapi rupanya Tuhan masih mendengar. Memang semalaman hujan tak reda, tapi tepat pagi harinya matahari garang. Kita diperbolehkan pulang meskipun mobil ranger 4WD harus nabrak-nabrak pinggiran tebing tanah liat akibat jalanan licin dan hancur oleh hujan semalaman.

Dalam perjalanan itulah saya tetap menggumamkan sholawat, saya cemas juga menaiki mobil dengan ala off road dan berapa kali menabrak tebing, tapi kemudian pula saya menyadari satu hal. Betapa susah rasanya untuk berdamai dengan takdir.

Saya bersholawat sepanjang malam dan pagi, tapi rasanya dalam totalitas penyerahan diri, saya tidak seujung kuku Nabi. Baru diberikan hujan satu malam, saya sudah ketar-ketir. Sedangkan Nabi kita dilimpas berbagai-bagai kesulitan tapi hatinya tetap tidak merutuk takdir Tuhan. Nrimo.

Saya lalu teringat sikap batin saya selama ini, saat menerima takdir. Takdir apa saja. Takdir masalah, baik masalah itu dengan alam, atau dengan orang lain, saya selalu berdoa dalam sebuah kesadaran bahwa saya sedang dizolimi. Entah dizolimi siapa. Saya meminta Tuhan untuk menunjukkan pada orang yang saya selisihi bahwa saya lebih baik, di kali lain saya meminta Tuhan untuk menimpakan pada orang itu keburukan, meski kecil levelnya. Saya meminta Tuhan untuk menghentikan hujan. Di kali lain saya meminta Tuhan untuk menurunkan hujan. Macam-macamlah permintaan saya itu. Intinya lebih seperti merutuk dengan tangan tengadah.

Dalam perenungan saya, dulu saya sempat mengira apa ya kita itu harus selalu menerima saja semua takdir Tuhan? Apa begitu maksud ridho itu? Sempat juga saya cemas tiap kali ingin beranjak menuju takdir yang lebih baik, jangan-jangan saya tidak ridho?

Lalu kemudian satu hal yang saya sadari bahwa bukan tidak boleh meminta perubahan terhadap yang kita alami. Tapi yang saya harus saya sesalkan adalah dalam meminta rupanya saya tidak memiliki kesadaran bahwa Tuhan tidak sedang zolim kepada saya. Dalam meminta, saya tidak memiliki mentalitas ridho kepada takdir yang saya terima saat itu.

Jadi meminta-nya saya itu bukan sebuah kepasrahan, bukan minta tolong yang sangat, bukan rintihan pengakuan kelemahan diri, tapi merutuk-rutuk. Samar sekali tapi baru kelihatan sekarang ini.

Padahal, sang Nabi, Rasul junjungan yang saya sholawati itu adalah orang yang juga berdoa, juga melangkah dari sebuah takdir menuju takdir yang lebih baik, tapi dalam tiap-tiap usaha dan doa, segenap kesadaran penghambaan beliau adalah bahwa Allah tidaklah sedang zolim kepada beliau. Bahwa takdir yang dijalani sekarang bukan semacam siksaan, sama sekali bukan, melainkan sebuah sarana, wasilah bagi Tuhan untuk menunjukkan betapa kita manusia ini butuh sekali pertolongan Tuhan. Jadi dalam segala “babak belurnya” Beliau; usaha ya tetap dilakoni sebagai ikhtiar menuju takdir Tuhan yang lebih baik, dan berdoa dikhusyui, tapi semuanya dalam mentalitas baik sangka kepada Tuhan. Itu bedanya.

Saya sudah ingat-ingat akan menulis ini, waktu saya masih terapung di atas awan dalam sebuah pesawat capung mini dari Barito Utara. Bahwa ridho adalah tema sentral dari segalanya.

*) kali ini gambarnya bukan minjem dari google, tapi arsip pribadi 🙂

KERAN-KERAN KEBAIKAN

20120810-144820.jpg

Pernah dalam satu fase kehidupan saya, saya sangat mendendam pada kemiskinan.

Ketidak-nyamanan dalam rumah tangga saya, setelah saya runut-runut, saya simpulkan merupakan efek berantai dari kemiskinan. Tidak setiap hari manusia bisa berada dalam kondisi yang elegan untuk berhadapan dengan serba kekurangan, maka kadang-kadang kita muntab dan marah-marah pada entah siapa.

Begitulah waktu itu, saya masih SMP, dan sudah saya patri dalam benak saya sebuah janji bahwa saya ingin lepas dari kerangkeng kekurangan. Sangat ingin.

Bertahun setelah itu, saya menyadari, ambisi akan kekayaan telah menjadi sebuah tema sentral dalam visi hidup saya. Belajar dan bekerja-pun selalu berkait-kait dengan filsafat perubahan strata itu. Saya ingin berhenti menjadi orang yang selalu kurang. Saya ingin berubah.

Pernah saya katakan pada orang tua saya dulu, “Pak, suatu nanti aku akan pergi ke Jawa, dan merubah martabat kehidupan keluarga kita.”

Entah apakah orang tua saya masih ingat kata-kata saya itu. Jujur saya sendiri tidak terlalu menjiwai dan mengingatinya, tapi mungkin memang Tuhan Maha Mengabulkan meski keinginan kita masih berupa anasir-anasir halus yang belum kita lantangkan.

Saya pindah ke pulau jawa. Bekerja. Dan meski tidak kaya raya, tapi setelah bisa melepaskan orang tua dari kewajiban membiayai saya tiap bulannya, saya merasa luar biasa senang.

Saya sempat menikmati euphoria merasa menjadi pribadi merdeka, merasa menjadi benar-benar seperti seorang pria sejati waktu kali pertama gaji bulanan masuk. Rasanya tidak bisa dilukiskan. Dan tanpa saya sadar, impian masa kecil bahwa saya ingin berhenti dari hidup penuh kekurangan; kembali menyeruak. Pelan-pelan tapi mematikan. Seperti ada yang mengintip dari dalam bilik kesadaran saya. Sesuatu yang jahat dan siap menikam.

Belakangan saya sadar, ambisi ini salah. Saya letih berjalan menapaki hidup dengan bahan bakar yang terlalu picis.

Saya tidak ingat persis bagaimana saya bisa berubah fikiran. Tapi yang saya rasakan adalah entah mengapa saya tiba-tiba memandang diri saya sebegitu naifnya. Hidup dan bekerja keras untuk kepentingan pribadi yang sempit, saya rasa betapa piciknya.

Cukup lama saya hidup dalam ketidak mengertian, dan membenci masa lalu dan masa kini. Dan hidup dalam sikap batin yang seperti itu rasanya tidak enak. Saya mulai agak reda, setelah saya mendapatkan semacam pencerahan, bahwa hidup untuk diri sendiri adalah kerdil dan singkat. Agar hidup kita bermakna maka kita haruslah hidup berderma kebaikan untuk orang lain. Akhirnya Hidup untuk orang lain saya yakini adalah hidup yang luas dan ‘berumur’ panjang.

Lalu saya mulai menikmati sebuah suasana kejiwaan, dimana saya merasa begitu lega saat saya bisa membantu uang kuliah adik tertua saya. Atau bisa memberikan sekedar basa-basi kiriman uang kepada orang tua saya –yang mereka tak pernah sama sekali meminta-.

Ooh…. Rupanya ini yang dimaksud orang-orang bijak, bahwa memberi itu menenangkan hati.

Ada sebuah kebahagiaan yang tidak bisa diceritakan dengan sederhana. Apa lagi saat saya sudah menikah, menafkahi istri, dan juga seorang anak perempuan lucu yang kini belum genap satu tahun, dan lagi nakal-nakalnya. Saya merasakan menemukan bahan bakar, untuk perjalanan yang panjang dan naik-turun ini.

Begitulah, setiap kali saya bepergian ke tempat kerja. Lokasi pengeboran di antah-berantah. Lautan lepas. Teluk. Hutan. Atau dimana saja takdir menuntun saya, saya selalu mensugesti diri bahwa ini adalah perjuangan demi keluarga. Ada mata rantai kehidupan yang harus saya perjuangkan. Saya membayangkan saya sebagai lokomotif yang digelayuti gerbong-gerbong panjang. Saya harus kuat, dan itu satu-satunya pilihan.

Sampai akhir-akhir ini, saya menemukan kejanggalan dalam diri saya. Saya meyakini, bahwa motif paling dasar dari perjuangan hidup saya sudah tidak sepicik dulu lagi, saya ingin hidup dalam kewajaran dan memberikan yang terbaik bagi keluarga saya. Bukankah itu baik?

Tapi kenapa setiap kali saya dihantam masalah, atau berada dalam kondisi tidak mood, atau merasa letih menghadapi terror rutinitas kerja; mengingati keluarga dan tanggung jawab yang saya emban, terkadang tidak bisa mematri semangat saya agar berkobar-kobar?

Saya heran. Apa yang salah pada diri saya? Saya yakin benar bahwa cukup lama saya bisa berjalan dengan bahan bakar semangat berbuat untuk orang lain, tapi mengapa sekarang meredup?

Dalam pergulatan batin itu saya menemukan kenyataan bahwa saat saya merasa menjadi seorang yang “ada” di dunia, dengan karya dan sumbangsih saya untuk orang-orang sekitar, tanpa saya sadari rupanya saya mengharapkan ‘pengakuan’ dari mereka. “acknowledgement”, sesuatu yang membuat saya bisa merasa hidup. Entah itu ucapan terimakasih, atau raut muka kebanggaan, atau nama yang selalu disebut-sebut, atau apa saja. Dan saya tiba-tiba terdiam.

Sore hari…matahari menjelang hilang…dan saya waktu memikirkan itu sedang duduk menghadap lautan pada sebuah kapal pemboran besar pada lautan dalam Selat Makassar.

“Astaghfirullah….” Saya membatin, ternyata selama ini saya masih juga berbuat untuk diri sendiri, meski sedemikian samarnya.

Lalu disitulah saya merasa tiba-tiba menemukan kuncinya. Saya tiba-tiba merasa bahwa sedemikian panjang waktu yang saya tempuh adalah semacam pembelajaran yang digulirkan oleh Tuhan untuk saya tuai maknanya.

Kapan terakhir kali saya berbuat untuk Dia? Saya gugat diri saya sendiri.

Hening yang panjang… tak ada jawaban dari diri saya sendiri.

Saya menjadi paham satu hal. Bahwa sejatinya dalam hidup ini segala sesuatu berasal dari Tuhan, dan kembali kepada Tuhan.

Allah-lah pemberi rizki. Pengucur pemahaman hidup. Yang menganugerahi ilmu-ilmu. Segalanya. Sedang apa-apa selain Allah sebenarnya hanyalah wasilah, hanya jalan, hanya sarana untuk keMaha Besaran Dia mewujud di bumi ini.

Maka pontang-panting kita mencari nafkah, bekerja, sebenarnyalah bukan perkara kita pada keluarga kita, apalagi perkara kita pada diri sendiri. Tapi ini tentang kita dan Tuhan.

Apakah atas nikmat hidup yang sudah diberikan ini, kita sudah menjadi hamba yang menerima mandat Tuhan? ‘kemuliaan untuk menjadi jalan rahmat bagi orang lain’ itu apakah sudah sepenuhnya kita sadari?

Apakah saya sudah menyatakan diri ‘siap’ untuk dikucuri kemuliaan, berupa kepercayaan bahwa saya ini layak menjadi jalan rahmat bagi orang lain? Bahwa saya ini layak jadi jalan rizki orang lain?

Ternyata kehidupan ini bukan perkara kita mencari penghidupan diri dan menghidupi keluarga, tapi lebih kepada rasa terimakasih dan kehambaan kita kepada Tuhan. Yang sudah kasih kita hidup. Lalu dengan rasa terimakasih itu kita ingin menjadi orang yang dipercaya Tuhan menjadi jalan kebaikan. Kita ingin ada gunanya hidup kita yang sekali-sekalinya ini. Kita ingin Tuhan ‘menengok’ kita juga dan memilih kita jadi saluran kasih sayang Nya untuk hambanya yang lain.

“Ya Tuhan…jangan sampai hidup kami ini sia-sia, sementara orang lain berlomba-lomba memantaskan diri untuk dijadikan saluran rahmat olehMu untuk hambamu, kami ini malah tidak menyambut kemuliaan itu.”

Saya baru paham. Dengan sikap mental yang beginilah mungkin kita baru mengerti makna hidup, penciptaan manusia. Pengabdian. Dan pada gilirannya menjadi ‘wakil’, pengelola, dan inilah sejatinya ‘berbuat untuk Tuhan”.

Dalam hati yang terisak kala itu, saya meralat visi hidup saya. Bukan untuk saya sendiri. Bukan untuk keluarga. Bukan aktualisasi diri.

“Ya Allah…rizki untuk anak istri dan keluargaku sesungguhnyalah bisa Engkau alirkan lewat jalan mana saja sesuka Engkau, tapi berkenanlah jadikan hamba orang yang Engkau anugerahi rahmat, Engkau percayai untuk memanggul mandat kebaikan itu, supaya hamba ‘ada gunanya’ buat Engkau.”

Ternyata kita hanya keran kebaikan. Dan mata air pemberian itu tetaplah Tuhan.

Bila kita sudah siap menerima kemuliaan itu, nantinya rezeki untuk anak kita; sangat bisa jadi dialirkan lewat kita. Rezeki untuk istri kita; sangat bisa jadi dialirkan lewat kita. Ilmu dan pencerahan untuk keluarga kita; sangat bisa jadi dialirkan lewat kita.

Bukan karena kita berbuat, tapi karena betapa Tuhan telah memuliakan kita dengan menjadikan kita keran-keran kebaikan.

Dan inilah yang harusnya menjadi bahan bakar kita.

Dalam sikap mental seperti itu, kita harus siap ‘capek’ mengemban kemuliaan itu, karna begitu banyak jalan kebaikan untuk orang lain akan dititipkan lewat kita. Capek tak mengapa, asalkan ditatap dan diwelas-asihi Tuhan sudah bukan main.

Tak mengapa, karna sekali lagi ini bukan tentang kita dan mereka. Tapi rahasia kita dan Yang Di Atas Sana.

Benarlah kata orang-orang arif. Hidup untuk Tuhan adalah luarbiasa dan mengabadi.

SEPASANG SAYAP PENGHAMBAAN

20120730-121243.jpg

Kita hidup bagaikan memiliki dua sayap, kata para guru. Sayap satunya ialah harapan, satunya lagi ialah rasa takut. Tanpa kedua hal itu, kita tak bisa meniti kehambaan kepada Tuhan.

Cukup lama, saya hidup dan memaknai kondisi kejiwaan saya waktu lalu sebagai bentuk pertaubatan yang dalam. Saya merasa saya sudah menghayati rasa penyesalan sedemikian rupa. Sampai suatu ketika saya disadarkan bahwa ada yang salah dalam cara saya memahami pertaubatan.

Seorang guru nan arif menggedor kesadaran saya, sewaktu saya semacam curhat kepada beliau, “kok saya ini setiap kali ingin berdoa kepada Tuhan, rasanya enggan, mundur maju. Merasa sudah begitu banyak dosa saya, tak layak saya berdoa.”

Waktu itu, yang saya harapkan beliau akan membesarkan hati saya lalu membenarkan saya, dengan mengatakan bahwa merasa diri jelek itu bagus, menyesal terhadap masa lalu itu bagus, teruskan. Nyatanya jawaban dari beliau malah membalikkan persepsi saya.

“Tidak boleh,” kata beliau, “sebagai manusia, sebagai hamba, kita putus asa akan rahmat Tuhan.”

DEGGG..rasanya ada yang menghantam di dalam diri saya. Putus asa terhadap rahmat Tuhan? Saya merenung dan mencari-cari kalau-kalau ingatan tentang itu ada dalam memori keilmuan saya, adakah kosa kata atau makna itu pernah menyelip dalam pemahaman saya?

Penyesalan, adalah langkah awal pertaubatan, kata beliau. Menyesal akan masa lalu yang kelam, dan memahatkan sebuah perjanjian kepada Tuhan untuk tidak lagi mengulangi kebodohan penentangan kita, pelanggaran kita. Lalu kita mulai hari baru dengan “melupakan” masa lalu; adalah benar.

Tetapi, penyesalan yang berlarat-larat dan membuat kita sampai tidak yakin pada rahmat Tuhan, enggan mendekat kepada Tuhan, seakan-akan tidak akan pernah Tuhan mengampunkan dan memberi kesempatan kedua, lalu kita berkata “ah..tak guna berdoa, saya ini pendosa. Doa seorang pendosa, toh tidak akan dikabulkan.” ; Adalah tipu daya.

Selepas hari itu, saya ingat betul, bagaimana saya mencoba meyakinkan hati bahwa sependosa apapun kita, tidak layak kita untuk putus asa terhadap rahmat Tuhan, lalu berhenti meminta kepada Tuhan. Saya cari-cari bagaimana bentuk pengharapan yang benar.

Dan saat saya baru akan mulai-mulai memperbaiki keyakinan pengharapan saya yang sudah coreng-moreng, Tuhan pertemukan saya dengan contoh orang yg berharap penuh itu.

Tuhan mempertemukan kita dengan pelajaran-pelajaran, dengan makna-makna yang bisa kita petik dari keseharian kehidupan kita. Kadang-kadang, kita dalam kondisi yang prima untuk menangkap “pesan” Tuhan dari drama kehidupan kita. Tapi kadang-kadang pula, kita terlalu larut dalam kesibukan dan kebodohan, sehingga hari-hari seperti berjalan tanpa makna. Padahal, hilangnya waktu, dan tenggelamnya kita dalam kesibukan demi kesibukan tanpa ada sesuatu yang bisa kita tafakuri, adalah tipu daya yang mengerikan.

Untuk itulah saya bersyukur, kemarin, pada perjalanan menuju bandara Soekarno Hatta, saya bertemu dengan seorang supir taxi yang luarbiasa pemaknaannya akan hidup.

Setelah saya masuk ke dalam taxi, melambai-lambaikan tangan kepada istri dan anak saya, lalu taxi berjalan pelan meninggalkan komplek perumahan, saya memulai obrolan dengan supir taxi tersebut, atau lebih tepatnya beliau dulu yang memulai.

Beliau bertutur menarik, pencerita yang jujur. Sebegitu menariknya perbincangan demi perbincangan kami, tentang keluarga, anak, pekerjaan, spiritualitas, hingga saya tidak memerhatikan sudah ada dimana saya waktu itu. Banyak sekali cerita yang begitu menyentuh dari tutur kata beliau, tapi saya hanya akan ceritakan satu saja.

Beliau adalah seorang pembelajar kehidupan. Takdir menempatkan dia menjadi seorang supir taxi setelah beliau “dilempar” dari jabatannya pada sebuah bank swasta.

Suatu hari, menjelang beliau berangkat bekerja seperti biasa, istrinya mengeluh kepadanya. “Pak, belikan saya mesin cuci, kaki saya parises, sudah sakit kalau dibawa nyuci, Pak.”

Sambil merapikan baju, mengambil kunci dan ngeluyur pergi menuju taxinya beliau menjawab singkat kepada istrinya, “iya, nanti sore.”

Waktu mendengar cerita itu, posisi saya duduk di bangku depan, saya menyandarkan diri pada bangku yang saya buat agak doyong ke belakang. Tak saya lihat ekspresi Bapak itu bercerita, tapi saya rasa saya bisa “menangkap” geletar pada nada suaranya.

Kata beliau “Sambil naxi, saya bingung, kenapa saya jawab nanti sore? Dari mana uang untuk beli mesin cuci? Sedang uang di tangan Cuma ada dua puluh ribu.”

Saya tetap memandang ke depan, tapi telinga saya mendengar dengan penuh setiap potong suaranya. Lalu kata sang Bapak, waktu itu dia menangis.

“Bapak menangis waktu itu?” saya Tanya.

“Ya saya menangis, tapi tangis saya pun adalah doa, sebenarnya” jawab beliau cepat.

Dalam tangisnya, beliau berdoa. “Ya Allah, engkau melihat tangis hamba. Engkau Maha Tahu apa yang hamba butuhkan. Cuma hal kecil inilah yang hamba mohonkan kepada Engkau. Bila Engkau mau, tak ada yang tidak mungkin. Engkau bisa saja mengeluarkannya dari perut bumi, atau bahkan menjatuhkannya dari langit. Engkaulah yang maha bijaksana.”

Saya kutip doa yang indah itu dalam rekaman memori saya. Bapak itu lalu melanjutkan.

Tidak lama setelah beliau berdoa, dari radio panggil di dalam taxi terdengar berita. Ada sebuah mobil taxi dicuri, nomor polisi sekian-sekian. Diingatnya nomor itu dan berapa detik kemudian beliau kaget. Apa pasal? Taxi yang dicuri itu ternyata ada tepat di depan mobilnya.

Diraihnya radio panggil, dipastikannya bahwa dia tidak sedang salah menerka. Lalu setelah benar-benar yakin, dipacunya gas mobilnya, dan dikejarnya taxi berikut pencurinya.Taxi itu terkejar dan terpinggir.

Saya yang mendengar cerita itu, sudah demikian salut pada cerita sang Bapak sampai pada detik ini. “lalu pencurinya ditangkap, pak?” Tanya saya mengharapkan semacam adegan heroik Hollywood.

“Tidak, pencurinya saya lepaskan.” Jawabnya.

Saya kaget, tapi tak sempat bertanya beliau sudah menjawab. Taxi itu, sudah ibarat milik dia sendiri. “Yang penting barang sudah kita dapatkan kembali, semoga setelah saya lepas orang itu mendapat jalan untuk pertaubatannya.” Beliau menjelaskan. “saya mendoakan kebaikan untuk orang itu, kita ndak boleh mendoakan pencuri itu misalnya biar masuk ke perut bumi, itu ndak ada adab kepada Tuhan.” Kata-katanya terjaga, dan runut.

Polisi tak lama datang. Beliau menghampiri dan menjelaskan bahwa mobil sudah diamankan. Tapi pencurinya lari. Polisi berterimakasih. Bapak itu lalu dipanggil menuju kantor menemui bos-nya.

“Atas keberanian anda menyelamatkan asset perusahaan dengan membahayakan nyawa, kami berikan anda piagam penghargaan.” Bos-nya berkata di ruangan itu dengan bangga.

“Berikut kami berikan voucher belanja senilai satu setengah juta, ditambah uang tunai satu juta rupiah, sekadar ucapan terimakasih kami.”

“Allahu Akbar.” Saya yang dari tadi mendengar cerita itu dengan takzim, tak tahan untuk tidak berteriak.

“Saya waktu itu juga bertakbir kencang, pak,” beliau menyambut takbir saya, “Tapi saya bertakbirnya dalam hati, setelah itu saya menangis.”

Dan sekali lagi Tuhan memang mengabulkan doa dengan cara yang unik. Sore itu, sang supir taxi pulang ke rumah dengan membawa mesin cuci, persis seperti apa yang diminta istrinya.

Saya berkaca-kaca sekali waktu mendengar cerita itu. Saya lihat foto bapak itu terpampang di depan saya, di atas dashboard mobil taxi Toyota limo itu. Orangnya tidak seberapa tua, mukanya polos, dan saya tiba-tiba teringat lagi dengan salam khas beliau saat menghampiri rumah saya waktu itu, mengkatupkan kedua telapak tangan di depan dada, salam yang santun.

Tiba-tiba mobil sudah sampai di bandara, saya lihat argo, lalu merogoh uang di dompet, saya genapkan dua ratus ribu. Sebagai bentuk terimakasih saya atas pelajaran hidup yang sungguh berharga, dan harga yang sebenarnya tak sesuai untuk sebuah perjalanan mengawali hari kerja; yang menyenangkan.

Saya berikan uang itu kepada beliau, “terimakasih, pak. Ambil aja kembaliannya” saya mengangguk hormat.

Beliau lalu tersenyum dan mengkatupkan telapak tangan di depan dadanya, salam yang rasanya saya tidak akan lupa. Saya lalu mengangkat tas besar saya menuju gerbang masuk, dan sekilas pandang saya lihat dia menginfakkan lebih kembalian uang saya tadi pada seorang satpam jaga di parkiran bandara.

Saya menggeleng-geleng, duh Gusti, betapa kerdil saya dibanding orang semulia dia. Orang yang tak pernah memutuskan harapannya kepada Tuhan.

Ada sayap yang patah dalam titian penghambaan kita, selepas kesadaran diri akan keburukan-keburukan kita, mestinya sependosa apapun kita tetap harus berharap yakin kepada Tuhan.

Saya seret tas besar saya itu dan masuk dalam kerumunan orang-orang yang antri di bandara, lamat-lamat masih terngiang di kepala saya pelajaran yang saya petik dari perjalanan hari ini.

Jangan pernah putus asa dari rahmat Tuhan.

Ada sayap penghambaan yang mesti saya perbaiki, Lalu tiba-tiba saya merasa harapan di depan masih sangat luas, masih sangat luas.

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑