GREGET PERSANDARAN

Kemarahan kuli-kuli panggul alat-alat pengeboran itu sudah memuncak, tapi untungnya saya dan seorang rekan diselamatkan oleh seorang Bapak yang begitu santun dan penyabarnya. Beliau adalah wakil dari penanggung jawab pengeboran itu.

Pasalnya, saya dan seorang rekan bertugas merintis jalan menuju camp, dengan bermodal GPS. Tapi GPS tak berkutik dalam hutan hujan tropis yang lebat, sering tak ada sinyal, dan walhasil setelah berjam-jam berputar putar, kami kembali ke tempat semula. Letih sekali tentu, tapi para kuli panggul itu lebih letih lagi, karena mereka membawa segudang perkakas dari besi, dan hampir saja kami dilabrak jika tidak seorang Bapak tadi menyelamatkan kami dengan retorikanya yang halus menenangkan para kuli panggul.

Sekarang, setelah bekerja pada dunia yang sedikit berbeda, pengeboran migas, setiap kali saya bertemu dengan seorang pimpinan yang bisa tetap tenang dan santun dalam kekalutan saya pasti teringat beliau. Resepnya sederhana saja rupanya, beliau selalu memandang ada Tuhan dibalik setiap kejadian. Bahwa sechaos apapun tampaknya sebuah peristiwa, tidaklah seperti sapi liar yang mengamuk tanpa kendali. Tetap dibawah pengawasan Tuhan, ada campur tangan Allah pada segalanya. Itu yang membuat beliau tetap kukuh dan stabil dalam kemelut.

Saya mengerti logika itu secara keilmuan, ‘ada tangan Tuhan dalam setiap kejadian’. Tetapi betapa sulit menjadikan logika keilmuan itu mewujud dalam karakter pribadi saya.

setiap menghadapi kekalutan saya ikut kalut juga. Saya tidak pernah setenang beliau itu. Tidak pernah. Meski secara teoritis saya tetap ingat bahwa Tuhan berkecimpung dalam segala apa yang terjadi.

Lama saya merenungkan kenapa saya susah menyandarkan segala sesuatu kepada Tuhan? Sampai tiba-tiba saya tersadar bahwa hijab penghalang tebal itu rupanya bernama ilmu.

Ada sebuah ilustrasi yang mudah-mudahan mewakili. Jaman dahulu, jaman dimana keilmuan masih terbatas, seandainya ada orang yang sakit maka orang-orang akan berdoa kepada para dewa. Merapal mantra dan ritus-ritus lainnya.  Kadang-kadang sembuh, kadang-kadang tidak.

Setelah zaman semakin maju, dan kita bersentuhan dengan nilai-nilai kehidupan yang lebih islami, kita tahu bahwa konsepsi mereka tentang dewa-dewa dan Tuhan yang banyak adalah tidak tepat menurut kita. Dan di sisi lainnya, science mengungkap sesuatu yang tersembunyi bahwa penyakit demam katakanlah, sebenarnya hal yang lumrah dan bisa dihilangkan dengan paracetamol, bukan dengan mantra.

Kita maju pada satu level keberadaban yang lebih tinggi. Kita menjadi paham sebab-akibat dengan bantuan science, dan pada sisi lain keilmuan keagamaan membenarkan konsep tentang keTuhanan dari yang primitif menjadi lebih ‘langit’, samawi.

Tetapi ada yang rupanya kita tinggalkan. Semakin mengerti kita dengan logika sebab-akibat dalam kehidupan ini, semakin ‘greget’ persandaran kita kepada Tuhan itu berkurang.

Jaman dulu, saat orang-orang tidak pernah berfikir bahwa manusia akan bisa terbang, mungkin mereka berfikir bahwa hanya Tuhanlah yang bisa membuat keajaiban orang bisa terbang.

Kini? Setelah pesawat bertebaran dimana-mana, kita menjadi paham bahwa logika hukum alamnya rupanya berkaitan dengan daya angkat, perbedaan tekanan, dan lain-lain yang pada satu sisi mencerdaskan kita selangkah lebih maju, tapi pada sisi lain ‘greget’ bahwa tetap Tuhan yang mengangkat dan melambungkan pesawat itu; menjadi kurang.

Ini ironi yang menyedihkan. Setiap kali kita terbentur dengan suatu masalah dalam hidup kita, maka secara otomatis persandaran kita adalah kepada otak kita yang mencari-cari bagaimana logika sebab-akibat yang akan menyelamatkan kita?

Kita sakit langsung bersandar pada sebab-akibat yang kita paham, jika sakit persandaran kita adalah minum panadol mungkin. Jika galau yang teringat pertama adalah teman tempat curhat atau mungkin ke bioskop. Jika ingin membeli rumah, maka KPR yang terbersit pertama. Tidak ada Tuhan disana.

Karena kita sudah mengerti bagaimana Tuhan “memainkan” hukum alamNya. Kita menjadi pintar, kita mencari akar penyelesaian perkara pada kemampuan kita memahami logika sebab-akibat. Tapi kita salah secara tata krama terhadap Tuhan.

Bagaimana kalau di kemudian hari kita menjadi sangat yakin bahwa kemestian sebab-akibat itulah yang menyelamatkan kita? Penyembuh kita adalah obat sakit kepala, yang menerbangkan kita adalah daya angkat pesawat, yang membuat bumi gempa adalah tumbukan lempeng?

Bahkan pada para pegiat spiritualitas yang rajin berdoa dan tafakur pun pada akhirnya paham sebuah sebab-akibat yang lebih musykil lagi. Bahwa doa kita terkabul bisa saja merupakan pancaran vibrasi gelombang otak yang kait mengait dengan kejadian di alam semesta dan menarik hal yang serupa dengan apa yang kita fikirkan. Bahwa ternyata segala sesuatu di dunia ini masuk akal. Dan disinilah ironi itu, semakin masuk akal sesuatu itu, semakin “greget” persandaran kita pada Tuhan; hilang.

Tentu kita bisa berdalih bahwa “tidak kok, ada Tuhan dibalik sesuatu”. Tapi setiap kali saya berdalih semacam itu, ada sudut lain diri saya yang mengaku dengan jujur, bahwa tidak ada “greget” dalam apa yang saya katakan. Saya sudah terlampau percaya kepada sebab-akibat.

Ironi ini harus kita pangkas sekarang juga. Sebelum kita tumbuh menjadi seorang yang beragama dalam keberagamaan yang begitu formal dengan segala tata aturannya, tapi tak punya sandaran kepada Tuhan. Kata orang arif, kita ini beragama tapi tidak bertuhan.

Seorang guru mengatakan, cara memangkasnya adalah dengan segera mengembalikan segala permasalahan dalam kehidupan kita, atau kebutuhan yang mendera kita; kepada Tuhan. Saat pertama kali kita menghadapi hal itu.

Kita sakit, langsunglah berdoa kepada Tuhan, dengan doa yang pelan dan merendah, sampai kita yakin bahwa dialah yang kuasa menyembuhkan kita. Lalu kita membeli obat.

Kita terbentur masalah keuangan, mengadulah pada setiap sujud yang tuma’ninah. Berdoalah bahwa betapa Dia maha kaya, betapa kita fakir, betapa tidak ada yang bisa menyelamatkan kita dari kesempitan ini selain Dia. Lalu setelah tambatan hati kita benar maka bergeraklah.

Apa saja. Apa saja yang menjadi kebutuhan hidup kita, masalah kita, berusahalah menegur diri kita agar yang pertama kali terbetik di hati adalah meminta tolong kepada Tuhan. Lalu setelah itu baru kita bergerak sambil menjaga persandaran yang benar itu.

Perkara nanti penyelesaiannya bagaimana, itu lain soal. Tidak harus keajaiban terjadi lalu serta merta masalah kelar. Bisa jadi kita tetap harus meminjam KPR, bisa jadi harus minum paracetamol dulu sekian hari baru demam reda. Tapi pandangan kita setidaknya lebih jauh dari sekedar tertumbuk pada logika sebab-akibat semata-mata.

Dalam gerak yang dibingkai nuansa minta tolong kepada Tuhan inilah, maka segala sebab-akibat ataupun keilmuan apa saja tidak akan menjadi hijab bagi kita. Sehingga mudah-mudahan jelas, bahwa ‘sebab’ itu adalah sesuatu yang diadakan oleh Allah, begitupun juga ‘akibat’ adalah sesuatu yang dijadikan ada oleh Allah.

Bahwa akibat itu lahir setelah sebab, karena memang Allah membuatnya begitu. Tidak berarti sebab dan akibat memiliki keterkaitan yang mutlak. Dan tidak berarti bahwa sebablah yang membuat akibat menjadi ada.

Seperti misalnya kita terbang pada sebuah pesawat, sesungguhnya Allah yang menggerakkan angin dan seketika setelah angin dibuat berbeda tekanannya maka Allah pula yang mengangkat pesawat itu ke atas.

Ada Dia dibalik segalanya. Bahkan dibalik sebab-akibat apapun yang telah kita pahami dengan ilmu-ilmu kita.

———
*) saya pinjem gambar ilustrasi dari sini

NAHKODA KEHIDUPAN

Banyak kejadian dalam kehidupan nyata kita yang rupanya tidak kalah drama dibandingkan cerita-cerita film. Sebagian malah lebih heroik, karena kekaguman kita bakal lebih merasuk dalam disebabkan kaget bahwa hal-hal semacam itu memang ada, di sini, di kehidupan nyata.

Seperti baru-baru ini, seorang kawan saya memberi kabar yang membuat saya terperangah seperti dia juga terperangah. Kabar itu adalah seorang rekan beliau yang bekerja di salah satu perusahaan minyak besar milik negara ini, mengundurkan diri dari jabatannya untuk mengabdikan diri menjadi tenaga pengajar bagi anak-anak TKI di malaysia.

Kenapa harus TKI dan kenapa malaysia? Saya tak sempat bertanya, keheranan yang tidak perlu itu tidak sempat muncul karena kalah oleh bersit rasa malu bahwa masih ada orang-orang yang bisa menukarkan pilihan hidup yang gampang dan basah oleh kemudahan keduniawian untuk kemudian memilih menjadi pejuang di jalan sepi. Menjadi bagian dari sedikit orang-orang mulia yang namanya jarang dicatut dalam buku sejarah.

Membayangkan keberanian dia dan membayangkan bahwa keputusan itu pasti telah dihadapkan pada berbagai-bagai saringan pertimbangan yang tak pernah mudah, sudah cukup membuat saya angkat topi.

Meneruskan kekaguman saya pada orang-orang model begini, Saya harus menghidangkan pada kawan-kawan sebuah cerita lainnya, demi untuk menselebrasikan kekagetan saya bahwa orang-orang seperti itu masih ada di tengah-tengah kehidupan yang kusut masai ini.

Kali ini sebuah kisah dari orang yang sangat akrab dengan keseharian saya waktu kuliah. Seorang lelaki tua dengan penampilan bersahaja dan jauh dari kesan meyakinkan. Saya juga termasuk yang menyangsikan bahwa beliau guru besar beladiri kungfu muslim.

Nah…salah satu bagian drama dalam hidup guru saya itu adalah bahwa dia memilih menyebarkan beladiri dan membangun sebuah rumah di kaki pegunungan pinggiran jalan Bandung-Sumedang, ketimbang menikmati hidup sebagai anak orang kaya di Sumatera, dan ketimbang menikmati glamournya strata kependidikan yang beliau dapatkan dari ITB. Betapa drama, bukan? Saya ingat beliau pernah bercerita bahwa orang tuanya mengeluh “sudah disekolahkan tinggi-tinggi malah ngajar silat”, begitu katanya.

Belakangan saya lebih meringsut dan merasa kecil lagi, karena ternyata beliau menjadikan beladiri hanya sebuah sambilan untuk kerja beliau yg lebih “bergengsi”, menjadi ustadz bagi orang-orang kampung sana. Gampang sekali menemukan beliau, tinggal tanya tukang ojek, diantarkan langsung sampai depan gerbang, saking santernya nama beliau. Atau mungkin juga saking heroiknya ini cerita kiai seperti jaman dulu, penyebar islam di pegunungan dan tangguh bukan buatan. Kurang heroik bagaimana lagi?

Yang saya salutkan dari orang-orang seperti itu adalah karena saya juga pernah berada dalam ambang keputusan yang berat, dan saya mengerti betul betapa memutuskan sesuatu hal yang akan mengubah keseluruhan sisa hidup kita itu tidak mudah. Salah-salah bisa hancur berantakan. Apalagi kalau kita sudah berkeluarga, sensasi ngeri-ngerinya itu jadi dobel.

Tapi memang kalau kita mau jujur, ada sisi terdalam batin kita yang ingin menjadi heroik dan merasa berguna. Lebih-lebih kalau kita baru sadar bahwa selama ini hidup kita kurang banyak menabur makna, terlalu banyak sia-sia, terlalu banyak dosa, dan segala penyesalan lainnya, lalu penyesalan yang luhur itu biasanya ingin kita wujudkan dalam sebuah perubahan hidup. Kita harus revolusi kehidupan kita sendiri.

Seperti cerita konyol saya dulu. Setelah berkeluarga dan punya anak, untunglah muncul sebetik kesadaran kalau selama ini saya sudah tak karuan menabung dosa. Sudah kotorlah istilahnya. Dan godaan bagi orang-orang yang kotor adalah merasa tidak layak untuk kembali ke jalan Tuhan.

Karna satu dan lain cerita, godaan itu berhasil saya lewatkan (saya pernah cerita ini dalam artikel lainnya) Pertaubatan tidaklah boleh surut meski dosa sedalam lautan, seluas mata memandang. Lalu muncullah keinginan saya untuk berubah.

Sempat terpikir apa baiknya saya berhenti saja dari engineer pengeboran migas? Lalu nyantri di pesantren. Belajar agama dari nol. Pergi ke arab. belajar hadist dari ratusan ulama, hidup berteman buku-buku arab klasik, dan membuat karya mengalahkan imam Syafii. singkatnya mendarma baktikan hidup saya untuk kebaikan.

Tapi dalam kegamangan itulah saya tersentak karena takdir mempertemukan saya dengan sebuah petuah dari seorang guru yang mewanti-wanti agar saya hati-hati dengan syahwat tersembunyi dalam kebaikan.

Mulanya saya tak paham, apa maksudnya? Tapi baru sekarang-sekarang saya sedikit mengerti, bahwa sewaktu saya ingin meninggalkan keduniawian saya itu; yang men-trigger saya bukanlah keinginan luhur mendarma baktikan hidup saya untuk Allah, melainkan hasrat yang benar-benar haluuus bahwa saya letih dengan hiruk-pikuk dunia, letih dengan dinamika keluarga, letih dengan ujian-ujian dan ingin berlari pada ketenangan.

Nah…ide bahwa keputusan besar dalam hidup saya ini ternyata disetir oleh keinginan yang samar untuk lari dari kenyataan hidup itulah yang berbahaya, kata guru-guru yang arif.

Karena sejatinya, “sakjane” kata orang jawa, setiap kita sudah ditakdirkan menapaki jalur masing-masing.

Bisa dibayangkan kalau saya berhenti dari dunia migas dan lalu nyantri lagi di pondok pesantren. Kasihan dunia migas kurang satu orang engineer. Dan ndak kebayang juga, betapa banyak waktu yang harus saya “sia-siakan” untuk restart ulang jalan hidup saya dari awal agar bisa jadi kiai tulen.

Ibarat kata, tak semua orang harus jadi petani. Ada yang jadi distributornya. Ada yang jadi tukang makan saja, tapi toh tukang makan ini yang menghidupkan para petani dengan membeli berasnya. Dunia butuh komposisi begini.

Yang saya ingin bagikan pada kawan-kawan, dari pengalaman kejiwaan saya adalah betapa penting melihat dengan jujur apa yang menyetir setiap putusan-putusan kita. Karena keputusan kebaikan sangat sering disusupi oleh syahwat-syahwat yang samar dan tersembunyi, yang sulit nian kita ketahui kalau tidak sering-sering mengamati dialog batin kita sendiri.

Ada orang yang jalannya adalah terjun total mengabdikan dirinya pada jalur sepi pengajaran keagamaan, jalur sepi pejuang-pejuang pendidikan. Tapi ada juga orang-orang yang jalannya adalah bergelut dalam kancah keriuhan keduniawian. Itu sudah takdirnya dari sono begitu.

Masalahnya bukan mana yang lebih terhormat, tapi masalahnya adalah bagaimana kita dengan jalur yang sudah Allah tetapkan ini bisa sebesar-besarnya memberikan sumbangsih bagi hidup.

Kita Bisa mengenal Tuhan lewat berbagai-bagai jalan. Kita bisa menjadi khalifah Tuhan yang mengelola dunia ini dalam kedinamisannya dan mengurangi jatah orang-orang kemaruk, sombong, perusak, dan lain sebagainya karena posisi-posisi penting “duniawi” dinahkodai oleh orang-orang shalih terpecaya dan handal.

Lantas apa tak boleh kita pindah jalur? Ya boleh…tentu boleh, kata guru-guru.

Tapi kalau yang memindahkannya adalah Allah. Bukan nafsu kita. Artinya saat memutuskan itu kita sudah selesai dengan dinamika diri kita sendiri. Sudah bisa mendengar detak hati kita sendiri.

Dan saat itu kita PASTI tahu bahwa kita harus pindah. Ada sebuah kemauan kuat yang menarik-narik kita ke lain jalur. Kemauan kuat yang bersih dan bebas dari syahwat-syahwat yang licik bersembunyi, seperti kemauan mulia orang-orang yang kita kutip di awal tadi.

Dan sakjane lagi, apapun jalur kita saat ini, inilah amanah Tuhan untuk sebaik-baiknya dinahkodai dan dijadikan tunggangan mengenalNya.

DARI KERAS KE LEMBUT

Dalam kisah-kisah jagoan dunia persilatan di komik-komik, sering sekali kita menemukan cerita sang tokoh yang tadinya menguasai olah kanuragan aliran keras, lalu pada puncaknya malah diajarkan aliran lembut yang halus. Dan transisi antara dua jenis aliran ini tidak selamanya gampang.

Pada beladiri yang dulu saya pernah tekuni-pun logika ini mirip-mirip. Awalannya diajarkan tinju wigu yang keras dan frontal, setelah matang nanti akan diwejang tangan kipas, mirip-mirip taichi sedikit. Dan saya seperti robot kaku waktu mempelajari bab kelembutan itu dulu. Saya kira sudah mantap, tapi lalu malu sekali waktu diperagakan oleh seorang yang begitu saya hormati kerendahan hatinya, gerakannya seperti air mengalir.

Memang hidup ini seperti kungfu, setelah belajar segala sesuatu yang keras dan frontal ada masanya kita beralih pada sesuatu yang lebih lembut dan halus. Logika ini memang sedikit tidak kontekstual, tapi saya senang dengan pengibaratan begini, karena kenangan tentang beladiri yang bersipadan dengan realita hidup memunculkan heroisme dalam benak saya.

Heroisme model begini seperti waktu kecil bermain perang-perangan dengan kawan-kawan, kita hampir tidak pernah berfikir tentang sesuatu yang halus-halus, yang abstrak-abstrak. Pusaran konstelasi kehidupan kita begitu sederhana. Makanan. Mainan. Candaan dengan kawan-kawan. Dan sesuatu yang begitu kasat mata sekali. Memang masanya begitu.

Setelah kita dewasa, sepertinya kita diletakkan pada gugusan konstelasi yang berbeda. Semestinya yang menjadi pusat daya tarik kehidupan kita sudah geser sedikit, dari yang terlalu kasat mata menjadi sesuatu yang halus dan tak terindra. Dari makanan, mainan, uang jajan, menjadi keinginan untuk aktual, kebutuhan untuk dicintai, kehausan akan rasa aman, dan yang halus-halus semisal itu.

Masalahnya, transisi ini begitu apiknya, pelan-pelan, dan tidak kita sadari, karena kita tidak pernah terbiasa mengamati detail-detail batin kita sendiri. Tahu-tahu saja kebutuhan kita sudah masuk dalam tingkatan yang pelik itu, tapi kesadaran kejiwaan kita masih tertambat pada hal kasaran yang kasat mata. Jadi kita keliru-keliru menerjemahkannya.

Saya ingat sekali saya pernah bengong cukup lama dalam fase ini. Bekerja sudah. Menikah sudah. Punya rumah dan kendaraan sudah. Lalu setiap hari saya jalani dengan jurus yang sama, menggeluti rutinitas dan mengumpulkan apa yang semestinya dalam logika saya; saya kumpulkan. Uang, sederhana saja. Tapi kok ada yang kurang ya? Apa itu?

Ada orang yang sampai dia dewasa, masih mencari-cari. Mencari ini bisa jadi suatu kebaikan, jika setidaknya dia mengerti kemana harus menuju, artinya pencarian yang dia lakoni adalah suatu tahapan perkembangan yang lumrah sekali. Seperti seorang murid yang belajar beladiri, dia sudah tahu bahwa levelnya sudah naik, dia sudah belajar rangkaian jurus yang tipikalnya sama sekali lain dengan yang sebelumnya dia pelajari, tapi karena hal itu baru maka dia masih salah-salah sedikit, dia masih mencari bentuk yang pas agar dia bisa ketemu pada harmoni. Pencarian model ini, bagus.

Tapi ada jenis pencarian yang salah arah. Yaitu orang yang tidak tahu bahwa semakin dia dewasa, sebenarnya kebutuhan yang dia cari adalah semakin halus dan abstrak. Sehingga dia masih terpusar-pusar pada hal-hal kasat mata yang selamanya tidak akan memenuhi dahaga jiwanya. Misalnya dia kerja terus menerus. Dia mengira itulah yang akan memenuhi ruang jiwanya yang kosong. Semakin dia gila kerja, semakin dia tidak menemukan apa yang dia cari. Karena harta, pekerjaan, uang, itu adalah sesuatu yang kasar, kasat mata, yang memang menjadi kebutuhan kalau kita ada pada level pemula, tapi menjadi tidak pas kalau level kita sudah naik.

Kesadaran akan posisi kejiwaan kita, apa yang sebenarnya sedang menjadi kebutuhan sebenarnya dalam hidup kita; saya rasa bisa menjadi rem yang pakem untuk menghindarkan kita dari keliru menuju.

Karena kekeliruan ini kadang bisa sangat gampang diketahui, kadang-kadang rapih nian tersembunyi. Misalnya, dalam satu fase hidup saya, saya pernah merasa begitu tertinggal dan ingin mengejar ketertinggalan kebijakan hidup itu dengan membaca. Maka saya gila membaca, saya baca semua membeli begitu banyak buku. Padahal setelah saya merenung lagi, saya jadi tersadar, membaca sedemikian banyak buku tidak sama dengan mendapatkan kearifan hidup. Terus mengumpulkan wacana, mungkin hanya memenuhi ruang logika saja, dahaga otak untuk bergelut dengan wacana dan debat-debat ilmu. Sedangkan kearifan hidup yang sebenarnya adalah dengan melihat kedalam diri kita, lalu konsisten pelan-pelan mencari letak salahnya kita selama ini.

Tentu boleh sekali membaca, tapi lebih boleh lagi jika kita menyaring apa yang kita baca sebatas apa yang benar-benar bisa aplikatif dalam hidup kita, dan lebih boleh lagi jika setelah membaca hal-hal yang aplikatif kita sejenak menutup buku dengan segala teoremanya dan menyempatkan diri untuk melukiskan kebaikan-kebaikan dalam wacana lembaran itu menjadi pengalaman hidup kita.

Dan kalau boleh saya mengutip lagi kekisah di kearifan dunia beladiri, betapa sering saya menyaksikan, di puncak pencapaiannya dalam beladiri, orang-orang yang saya kagumi itu alih-alih petantang-petenteng tapi malah biasa saja dengan beladirinya. Karena semakin menghayati hidup, semakin tahu kemana menuju.

Kalau boleh saya sederhanakan, semakin dia dewasa, semakin pencariannya berubah arah. Dari menelusur ke luar dirinya, menjadi berbalik ke dalam dirinya. Dan segala pertanyaan yang absurd tentang makna dan kesejatian hidup itu hampir pasti ditemukan di dalam diri kita sendiri. Bukan lewat harta, bukan lewat orang lain, bukan juga lewat tumpukan buku-buku.

Memang semua itu sebenarnya hanya alegori kebijakan hidup, bisa pas, bisa tidak pas. Tapi mungkin kita akan sepakat bahwa kebijakan hidup bisa kita temukan sendiri-sendiri dengan awalan pertanyaan ini, dari mana kita datang dan kemana kita menuju?

 

 

——————

*) gambarnya sedikit ga nyambung sih, :-p, but eniwei itu gambar saya jepret waktu terjebak lumpur di jalanan Luwe Hulu Kalteng

ANAK SAYA KALAH X-FACTOR

Geli sekali saya mengingat fakta, bahwa bapak-bapak dengan umur lebih tua dari saya –termasuk saya sendiri-, di anjungan pengeboran tengah laut, malam-malam berkerumun di ruang TV untuk menyaksikan acara X-FACTOR. Kontes nyanyi menyanyi yang lumrah di TV itu.

Mulanya saya tidak memperhatikan, entah sudah sejak berapa lama acara kontes-kontes menanyi model apapun tidak menarik perhatian saya. Hingga saya melihat bahwa mulai dari Bapak-bapak sampai anak-anak ribut membicarakan ini, saya mulai penasaran. Dan menontonlah saya, meski kebanyakan hanya memantaunya dari youtube.

Dari ruangan kerja saya di tengah laut itu, sambil membunuh kebosanan, saya mengamati detail potongan babak dimana kontestan menyanyikan lagu dengan aransemen mereka yang unik-unik. Saya baru menyadari, betapa buruk perbendaharaan lagu yang saya miliki? Nyaris semua lagu yang dinyanyikan adalah lagu yang kali pertama saya dengar. Wacana seni saya sungguh memprihatinkan.

Sambil menikmati kekagetan akan fakirnya saya dalam dunia musik, saya membayangkan saya mengikuti kontes itu, tapi kemudian saya tiba-tiba teringat bahwa saya memiliki seorang anak di rumah. Seorang perempuan kecil satu setengah tahun. Mungkin ini gerangan alasan, kenapa setiap kali saya mencoba menghayalkan saya mengikuti kontes serupa; selalu ada mental block. Semacam barrier bawah sadar bahwa untuk sekedar imajinasi-pun, hal itu tidak layak. Karena sudah bukan masanya, ini masanya saya mendidik anak saya. Bukan masanya saya berjibaku dengan anak-anak itu.

Saya sebenarnya tidak yakin, bahwa acara kontes-kontes semacam ini bisa menghasilkan penyanyi yang dikenang sejarah. Sudah banyak sekali kontes, tetapi orang-orangnya hanya seperti bunga di musim semi yang singkat. Muncul, untuk kemudian pergi begitu saja tanpa dirindukan siapapun. Karena zaman sekarang mungkin musim semi siklusnya terlalu cepat. Hilang satu, digantikan lagi dengan yang lain.

Tapi seandainya anak saya besar nanti, saya tetap menginginkan berada dalam satu momen dimana saya mendampingi anak saya dalam sebuah perlombaan. Perlombaan apapun itu. Dan adegan yang paling saya nantikan pada waktu itu nanti adalah mungkin pemberitahuan yang dramatis, diselingi tetabuh drum yang ritmis dan mencekam, lalu sang MC membacakan keputusan bahwa anak saya…kalah.

Betapa mendidik diri untuk terbiasa mengikuti kompetisi itu sangat penting, tapi saya yakin yang lebih penting dari setiap adegan-adegan mencekam pengumuman hasil lomba itu adalah bukan nama kita disorak-sorai sebagai pemenang, tapi adalah bagaimana kita tetap anggun dan kharismatik meski tertakdir kalah. Saya yakin, anak saya akan lebih banyak belajar dalam momen kekalahannya dibanding dari gegap gempita kemenangan yang sebentar dan merapuhkan dirinya dalam segala puja-puji. Kalah, lebih sering mendewasakan orang ketimbang menangnya.

Saya ingat sekali dulu waktu gencar-gencarnya american idol, saya membaca pada sebuah artikel bagaimana runner-up American idol -edisi keberapa saya lupa- menampilkan wajah yang tetap tersenyum saat dinyatakan dia kalah, dan lalu mengeluarkan sepotong kalimat yang gagah, “Saya menunggu rekan saya ini, untuk bersaing pada panggung sesungguhnya, di luar ini nanti”. Dia kalah, tetapi anggun dan tidak kehilangan kekerenannya. Dan memang akhirnya pada industri musik yang lebih keras dan kejam kontes hidupnya dia lebih terkenal dan mereguk sukses. Sayang saya lupa namanya, memang perbendaharaan musik saya mengenaskan.

Tapi yang jelas, terlepas dari urusan seni, saya mengingat banyak sekali babak dimana saya kalah. Dan saya ingat bagaimana tempo-tempo itu saya bisa begitu emosional. Kalah main badminton tingkat RT, kalah pada lomba pidato tingkat provinsi, kalah pada lomba nasyid, berkali-kali kalah dalam persaingan sepuluh besar kelas, kalah dalam wawancara akhir saringan masuk BHMN, dan banyak cerita lainnya. Kekalahan yang tidak anggun.

Saya tersentak, kok ya hidup diwarnai terlalu sentimentil? Padahal betapa bergairahnya hidup jika selalu dinamis dan memperbaiki apa-apa yang kurang, tanpa menomorsatukan gelar.

Saya sudah memutuskan, akan mengambil penokohan seorang Bapak yang membesarkan hati anaknya yang mengalami kekalahan pertama. Tidak ada keharuan yang drama. Tidak ada tangis-tangis yang menye-menye dari saya. Hanya pengingat, bahwa betapapun tidak menjadi juara kali ini, kita tetap bisa terlihat anggun dan terhormat. Lalu menjadi lebih dewasa lagi dengan menganggap biasa saja dari segala yang luput, dan tak terlalu gembira pada yang teraih.

Tentu saya bukannya tidak mengaharapkan anak saya menjadi pemenang. Biarlah…kala dia menjadi pemenang nanti, dia sudah tidak membutuhkan dampingan Bapaknya. Karena pelajaran menjadi pemenang sudah saya ajarkan sejak dari dia jatuh bangun dalam kekalahannya yang memesona itu tadi. Selalu anggun dalam kekalahan, saya rasa sudah menang dengan sendirinya.

BERBOHONG KEPADA TUHAN

images

Saya ini ternyata sering bohong kepada Tuhan.

Berapa waktu lalu, saya sedang dalam proses perekrutan untuk masuk dalam salah satu BHMN di bidang regulator usaha hulu migas. Perekrutan itu begitu panjangnya, dan sempat pula berapa kali momen tes-nya berbenturan dengan jadwal kerja saya ke lapangan. Tapi alhamdulillah ada-ada saja jalannya sehingga saya bisa mengikuti tes hingga akhir. (Entah itu jadwal tesnya tiba-tiba direschedule berapa kali hingga saya bisa ikut, dll).

Awalnya saya bisa mengikuti tes ini dengan sikap mental yang biasa-biasa saja. Tapi semakin ke belakang, saat kandidat semakin sedikit, dan keberhasilan sudah di depan mata, saya sadar sikap mental saya sudah tidak lagi pasrah kepada Tuhan, melainkan kuat sekali keinginan agar saya lulus.

Saya sadar penuh akan perubahan kejiwaan itu, tapi saya tidak bisa keluar dari suasananya. Begitu besarnya tarikan nafsu itu, saya kewalahan menghadangnya. Awal-awal tes, saya bisa berdoa dengan tulus, “Ya Allah….sekiranya ini baik buat hamba, mudahkan…sekiranya buruk, gantikan dengan yang lebih baik.” begitu menjiwainya saya dengan doa itu, hingga saat jadwal tes berbenturan dengan waktu kerja; saya biasa saja. “ah…takdir Allah begitu”. saya fikir, lalu gulana hilang. Plong sekali rasanya. Eh malah tiba-tiba banyak kejaiban terjadi dan saya sampai pada tahap akhir wawancara.

Tapi saya sudah mulai merasa tak enak waktu tahap akhir tes itu. Mulanya saya berdoa di lisan agar Allah memberikan saya yang terbaik. tapi di sudut sana, di dalam hati saya, setelah saya renungi saya mendengar suara yang lain lagi, yang dengan lantang ingin agar saya lulus.

Saya merenung, apakah saya sudah bohong kepada Allah?? hingga saya akhirnya merubah redaksi doa saya, “Ya Allah…kenapa hati ini condong sekali pada pilihan nafsu saya sendiri?”.

Dan memang pada akhirnya saya tidak lulus. Sebuah ending yang klimaks, setelah segala keajaiban kejadian rasanya tidak bisa untuk tidak ditafsirkan sebagai pertanda baik; nyatanya saya tidak lulus.

Saya melisankan, “Allah tahu yang terbaik.” tapi hati saya sebenarnya sulit sekali menerima. Untuk apa Allah memberikan segala pertanda kebaikan ini, jika diujungnya ternyata saya tidak lulus? Saya cemas sekali, cemas pada kenyataan kejiwaan bahwa saya memprotes takdir Tuhan. bahaya sekali ini.

Selang satu minggu saja, dari pengumuman ketidak lulusan saya itu, BHMN itu dibubarkan oleh MK. saya kaget sekali, meskipun kemudian akhirnya bersyukur “untung saya tidak jadi masuk ke sana.”

Memang pada akhirnya BHMN yang dibubarkan itu tadi hanya berganti nama, situasi kembali stabil, dan beberapa orang kawan saya berhasil diterima bekerja.

Tapi saya sudah mendapatkan pelajaran. Bahwa sebenarnya saya belum bisa total bersandar kepada Allah. Saya sering menipu diri.

Saya lupakan kejadian itu, dan melanjutkan rutinitas seperti biasa saja dengan membawa sebuah pelajaran penting bahwa saya harus menyandarkan segalanya pada Tuhan.

Kemudian Allah mentakdirkan kenyataan yang baru lagi. Tawaran datang bertubi-tubi. Seorang kawan memberikan kontak project manager di negeri antah berantah jika saya ingin mencoba menjadi konsultan di luar negri. Selang berapa lama setelah itu, Kantor saya sekarang menawarkan saya untuk pindah dari engineer lapangan menjadi orang kantoran dengan sebelumnya ditraining dulu ke luar negri. lalu sebuah tawaran dari perusahaan saingan masuk ke email saya (saya sempat menolak tawaran ini, tapi kemudian dikirimkan lagi tawaran dari perusahaan yang sama tapi untuk area asia, bukan sebatas indonesia saja). Mana yang harus saya pilih??

Saya bingung. Dalam kebingungan itu saya lalu berdiskusi kepada rekan saya. Ngobrol-ngobrol dengan istri saya. Telpon orang tua saya.

Tapi setelah itu saya menyesal sekali. Ternyata saya masih juga belum beranjak dari posisi saya yang lama. Saat dihadapkan pada sesuatu, saya belum bisa otomatis mengembalikannya kepada Tuhan. Bukan Allah yang terbetik pertama kali dalam hati saya. Tapi nama seorang teman, tapi pendapat istri, tapi keinginan nanya ke ortu, segalanya ada dalam benak saya kecuali Tuhan.

kalaulah ada Allah-nya. pastilah itu hanya embel-embel. Usaha sudah, maka penutupnya doa. Kenapa Tuhan saya hampiri yang paling terakhir?

Saya bohong kalau saya mengatakan “kembalikan segalanya kepada Tuhan.” nyatanya lagi-lagi makhluk yang ada dalam pikiran saya pertama kali, secara otmatis. Saya belum memasrahkan segalanya kepada Allah.

Tentu saja saya harus berusaha. Dan diskusi pada rekan, pada orang tua, pada istri itu adalah bagian dari usaha. Tapi mestinya usaha itu didasarkan pada sebuah kemengertian hati bahwa tetap saja Allah yang saya gantungi harapan. Tetap Allah yang pertama kali tercetus di hati. Begitu ada sesuatu yang mengganjal atau harus diputuskan, saya tidak ingin ada siapapun yang menghuni ruang hati ini kecuali Tuhan. “Ya Allah…apa yang harus hamba lakukan?” Barulah setelah itu saya bergerak misalnya diskusi dengan orang lain, sambil di hati berharap Allah memberikan pencerahan lewat siapapun yang Dia kehendaki. Sehingga saat misalnya tiba-tiba hati saya mendapatkan kecenderungannya pada salah satu pilihan; lewat jalan berdiskusi dengan orang lain; yang terbetik di hati saya adalah “ya Allah..terimakasih, akhirnya Kau berikan pencerahan lewat orang ini”.

Tapi betapa hal yang begini ini sulit, jika tidak Allah sendiri memberikan rahmat.

Tiba-tiba saya ingat banyak kisah tentang orang yang karena urusan kencing saja jadi disiksa di kubur. Karena salah niat maka masuk neraka. Karena riya maka amal tak diterima. Karena jumawa maka dibalikkan kenyataan dirinya dari seorang abid jadi pendosa. Betapa banyaknya fakta bahwa sebenarnya manusia tidak bisa mencapai Tuhan dengan dirinya sendiri. Begitu banyaknya hal yang dikira sepele tapi ternyata berdampak besar.

Benarlah orang-orang arif yang mengatakan, andaikan kita mengandalkan amal kita untuk bargain dengan syurganya Allah, pastilah orang sedunia ini masuk neraka semua.

Apa yang bisa saya andalkan dari diri saya sendiri?

karena betapa pelik dan musykilnya perjalanan menuju Tuhan itu.

Betapa kacau balaunya penghambaan model begitu. Akhirnya saya duduk, diam, mengaku saja. “Ya Allah…mana mungkin aku mencapaiMu bila bukan Engkau sendiri yang mengantarkan aku padaMu.”

———–

note:
“Aku wasiatkan padamu wahai Mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan untuk berdo’a setiap akhir shalat
:Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.
[Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir pada-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].” (HR. Abu Daud)
*) gambar diambil dari sini

MANTRA KEBAHAGIAAN

kebahagiaan

Saya benar-benar merasa beruntung, untuk telah dikelilingi begitu banyak orang-orang yang kebaikan mereka sebegitu tertanam dalam memori saya. Sebagian orang-orang yang saya kenal ini memang sukses secara kasat mata. Misalnya saja rekan-rekan di perkuliahan saya. Saya menjadi saksi bahwa cerita tentang orang-orang dengan latar belakang keluarga seadanya, lalu kemudian berubah menjadi orang-orang sukses karena perjuangan mereka; tidaklah hanya ada pada sesumbar cerita-cerita motivasi. Ini real.

Saya tidak bisa untuk tidak bangga pada mereka. Tentu sedikit iri kadang-kadang juga ada, tapi saya menepis iri itu agar tidak menjadi pemantik untuk sebuah pertandingan yang tak perlu. Orang-orang yang lebih sukses daripada saya, di dalam hati saya, saya daulat menjadi guru kehidupan untuk saya. Tanpa mereka pernah tahu.

Tapi kadang-kadang, saya bisa menemukan kembali kegairahan untuk terus bekerja, tanpa perlu menjadikan iri pada orang lain sebagai bahan bakarnya. Dan sering saya menemukan juga, bahwa saya tidak perlu alasan yang terlalu filsafat untuk menghentikan iri dan pertandingan yang tak perlu dalam kehidupan saya. Cukup saya melihat sekeliling saya, dan saya akan menemukan orang-orang yang tetap berjuang dengan kebaikan dan ketulusan sempurna, tanpa aura kedengkian, iri hati, atau keinginan berpenyakit apapun itu. Meski secara hitung-hitungan sederhananya, saya lebih beruntung daripada mereka.

Keluarga Nenek saya di kampung, selalu menimbulkan kenangan yang baik dan enak. Mungkin saja, saya masih bertahan hidup dalam segala kebaikan kejadian, dan masih diselamatkan dalam segala kekhilafan yang tidak pintar, adalah sumbangsih doa-doa mereka yang tulus.

Waktu saya sedang bertugas di sebuah pengeboran migas di darat, saya lupa persisnya dimana. Jalanan menuju anjungan pengeboran itu dijeda oleh pemandangan gubuk-gubuk yang kecil, dan orang-orang yang melihat dengan tatapan yang tidak bisa saya artikan.

Saya tidak tahan untuk tidak sekali-sekali menoleh dan melihat rumah-rumah kecil yang mereka dirikan itu. Bukan semata soal mereka, tapi juga soal saya sendiri. Kemunculan mereka pada sebuah episode pekerjaan yang sudah demikian memutus memori saya tentang kebaikan orang-orang desa, seakan memanggil-manggil saya. Bahwa ada sesuatu yang harus saya jaga tetap sinambung. Ingatan dan rasa terimakasih terhadap segala yang berjasa. Terhadap keluarga Nenek.

Orang-orang yang saya lihat pada jalanan menuju area pengeboran itu, kalau secara kasaran saja, adalah orang-orang yang kalah beruntung dibanding keluarga Nenek saya. Dan keluarga Nenek saya, mungkin saja adalah orang-orang yang kalah beruntung dibanding saya. Tapi saya membatin sendiri sembari kerja. Ah…apatah keberuntungan itu?

Misalnya saja, saya tahu orang-orang di sekitar area pengeboran itu adalah orang yang mungkin tidak pernah mencecap pendidikan, tapi apa benar mereka tidak bahagia? Ada sebuah kenyataan bahwa mereka sedang berada dalam kehidupan yang bahagia. Versi mereka.

Bangun pagi, bertemu anak istrinya. Bercerita dan tertawa. Menanak nasi. Lalu sama-sama pergi ke kebun lalu menanam lalu memetik. Betapa hidup mereka begitu ramah dan berkelindan dengan alam. Mereka sudah benar-benar membuktikan filsafat rezeki yang dibaca orang-orang kota dari buku-buku di gramedia, ‘burung saja terbang di pagi hari, lalu kembali sore hari dengan perut kenyang”.

Di benak mereka, Tuhan adalah maha pengasih penyayang. Mereka benar-benar sudah menjadi penyaksi. Saat mereka mengatakan “aku bersaksi” maka kesadaran bahwa dunia ini dibanjur oleh welas asihnya Allah, benar-benar mereka rasakan. Tidak menipu.

Ada yang berdebat dalam benak saya. Baru saat itulah saya menyadari sebuah harmoni yang lain lagi. Harmoni itu adalah saat nurani kepahlawanan, kebaikan kita tersentil dengan ketimpangan sosial, lalu dengan semangat kita ingin membantu orang-orang seperti itu, umpamanya dengan pendidikan, dengan mengajari mereka baca- tulis- hitung, kita harus hati-hati menanamkan ide-nya kepada mereka. Dan ide-nya kepada diri kita sendiri.

Ide itu adalah, bahwa mereka sedang berbahagia. Dan kita datang untuk menggenapkan kebahagiaan mereka. Memberi wacana tentang berbagai-bagai model kebahagiaan yang harus dicecap.

Bukan lantas membanting mereka dari suasana kedamaian kejiwaan, “eh… kalian itu sebenarnya tertinggal, lihatlah orang-orang yang sukses, bisa baca, punya rumah, punya mobil, kalian tertinggal…hahahaha…kalian tertinggal….ayo bangun, kejar orang-orang itu.”

Saya yakin, orang-orang yang dipantik geloranya dengan isu klasik ‘ketertinggalan dari orang lain’ akan bisa bangkit. Tapi kebangkitan mereka ini sejatinya berbahan bakar amarah. Saya merasakan, memaksa orang lain untuk bangkit lewat mantra-mantra kemarahan dan dendam atas kesuksesan orang lain; adalah sangat tidak elok. Mereka bisa sukses terlihat pada kasarannya, tapi sebenarnya mereka sedang seperti kesetanan. Berlari terus, berlari terus…untuk tidak pernah menerima kekalahan. Dan yang lebih buruk dari itu adalah mereka belajar membenci kelebihan orang lain. Karena kelebihan orang lain, berarti kekurangan mereka, dan kekurangan mereka adalah tafsir dari tidak bahagia.

Apakah kita yang S2 lantas harus memandang dengan iba kepada orang-orang yang S1, sembari mereduksi kebahagiaan pada tataran gelar  tipuan semata. “Ah…kasihan benar orang-orang yang hanya S1 itu”. Dan siklus ini bisa bergulir seperti bola salju tak terkendali. Yang SMA memandang dengan penuh iba kepada yang tak berpendidikan.

Bukan tak boleh memajukan.Saya setuju tentang membaikkan peradaban. Betapa saya iri pada orang-orang tulus yang membangun negeri ini. Yang melihat mereka saya ingin beringsut hilang saja, sudahlah manusia ini tak ada apa-apanya, dan didalam kekecilan itu rupanya saya masih kecil juga dibanding orang-orang baik itu.

Tapi saya tidak setuju dengan ide bahwa orang-orang yang sedang kita ajak maju adalah orang-orang yang tidak bahagia. Maka mereka hanya bisa kita buat bahagia dengan mengajarkan sebuah lelakon “tidak mau kalah dengan orang lain”.

Saya teringat nenek saya. Tiada pendidikan. Baca tulis beliau tak bisa. Satu-satunya tulisan yang bisa beliau buat adalah tanda tangan beliau. Babak demi babak waktu kakek saya yang kepala sekolah itu mengajari istrinya sebuah tanda tangan sederhana sebagai kelengkapan syarat naik haji, saya ingat sekali.

Saya tahu kakek saya tahu istrinya tiada bisa membaca dan menulis. Tapi ada fakta bahwa kakek tak pernah saya liat memaksa nenek untuk bisa baca tulis. Dan tak pernah saya lihat kakek menatap nenek dengan sebuah pandangan yang mengasihani, karena kakek sadar bahwa kebahagiaan itu bentuknya tidak bisa diraba, dan tidak bisa dipaksa.

Toh saya senang, memiliki memori kakek-nenek yang begitu mesra. Sampai-sampai seloroh ibu saya adalah kalau kakek ingin pergi ke sungai dan hendak buang hajat, itupun dia gelisah mencari-cari nenek dulu. Hendak pamit. Jangan-jangan nanti nenek kebingungan mencari kakek. Betapa drama. Dan betapa nyata. Bahagia.

Tapi kakek juga seorang pemaksa, pada celahnya yang dia rasa tepat. Saya tak boleh minum, tak boleh makan, sebelum saya menamatkan mengeja bacaan pada buku yang dia beri. Kakek mengajari saya segala yang dia tahu.

Saya memberanikan diri berkesimpulan. Bahwa kakek mengajari saya, karena keterpanggilannya sendiri. Karena ingin memberikan wacana kepada saya bahwa ada berjuta-juta keajaiban di luar sana yang bisa saya ketahui lewat jendela aksara.

Tapi kakek tahu, bahwa kebahagiaan saya akan tumbuh lewat pemaknaan saya sendiri. Kebahagiaan nenek akan tumbuh dari penghayatan nenek sendiri. Karena eskalasi kebahagiaan itu bertingkat-tingkat. Tak terdefinisi. Berbagi saja. Sesederhana itu. Tak ada pesan-pesan kebencian. Tak ada mantra-mantra kemarahan. Tak ada pemaksaan kebahagiaan.

Mungkin karena menyadari betul bahwa kebahagiaan itu indah dengan rupanya yang fleksibel itulah, orang-orang desa bisa menjadi lebih spiritualis dibanding saya, dibanding kita.

Saya ingat, berapa bulan sebelum kematian kakek, kakek telah mengurus segala administrasinya, agar kelak saat beliau meninggal nenek bisa menikmati uang pensiun kakek tanpa repot. Kakek tahu nenek buta aksara.

Saya selalu membayangkan adegan opera, waktu nenek dengan kaca-kaca pada matanya mengenang kakek setiap kali mengambil uang pensiun. Kakek meninggal diawali dengan firasat yang indah dan penuh cinta. Firasat yang jarang kita temukan sekarang.

Dan yang terakhir bibi saya di sebelah rumah nenek. Dia saya ingat sebagai seorang yang jarang bicara. Tersenyum seperlunya saja. Suka memberi saya sangu kalau pulang kampung. Dan pekerja keras. Waktu bibi sedang menggoreng pisang dagangannya untuk biaya kuliah anaknya, dan asik ngobrol di depan rumah, tiba-tiba saja dia tergeletak dan wafat. Sebegitu sederhananya. Kata ibu saya waktu melayat, betapa teduh wajahnya.

Kepada orang-orang seperti ini. Saya sering merasa kerdil. Saya tidak mengingat satupun bahwa saya pernah berbuat baik kepada mereka. Sedang mereka dengan segala ketertingalannya yang jujur, selalu mengirimkan SMS bertanya kabar, mengirimkan doa, menjadikan saya sebagai contoh kebaikan untuk anaknya, dan banyak lagi.

Andaikan saja, saya diberikan ketrampilan untuk melisankan apa-apa yang saya fikirkan, saya akan menyempatkan diri, kembali ke sana, dan menggenapkan bakti yang belum tuntas.

Mungkin dengan mengajak mereka untuk menyerap ilmu-ilmu lebih banyak. Wacana-wacana lebih luas. Bukan perkara mereka tertinggal dan tidak bahagia. Bukan perkara ada orang lain yang ada pada puncak harta lalu harus kita gulingkan. Tapi semata urun terimakasih. Karena saya yang telah lancang untuk minim bertegur-tegur. Kepada mereka, dan kepada Tuhan yang telah mengaliri mereka dengan kejujuran yang manis sekali dikenang.

—–

note: gambar diambil dari sini

THE TAO OF LIFE

final

Sirine meraung-raung. Saya mengenakan boot dengan tergopoh-gopoh lalu saya lari kesetanan. Di ujung sana orang-orang sudah berkumpul dan berbaris rapih. Tanpa komando.

Saya masih deg-degan, bukan dengan sederhana, tapi benar-benar berdegup. Anehnya sembari jantung berdegup saya sempat juga mengagumi sebuah keteraturan dalam kerunyaman itu.

Saya teringat pelajaran PPKN oleh Pak Min, dulu sewaktu SMP, bahwa ada tatanan masyarakat yang awalnya merupa chaos tapi kemudian dalam satu moment saja langsung bisa berubah tertib, misalnya kerumunan penonton yang memasuki bioskop, awalnya chaos lalu langsung tertib setelah duduk di bangku. Mirip-mirip dengan kerumunan orang-orang di anjungan pengeboran ini. Satu sirine tanda bahaya berdengung, lalu semua orang sudah tahu apa yang akan dilakukan, lari menuju muster point (tempat berkumpul) di depan gerbang. Seperti hari itu.

Saya membayangkan ada gas semacam H2S yang melesat keluar dari dalam sumur pengeboran, konon gas itu sangat berbahaya, racun pembunuh nomor dua paling ampuh sejagat setelah sianida, dan celakanya lebih berat dari udara sehingga akumulasinya pastilah menghuni sudut-sudut yang rendah, tempat kebanyakan manusia berada, bukan pada awang-awang tinggi yang bersih tempat burung-burung terbang dan tempat mungkin cita-cita imajiner digantungkan manusia.

Cukup sadar dengan informasi itu, maka saya lari semakin kencang, dan setelah sampai pada kerumunan orang yang berbaris rapih seperti Paskibra yang saya ikuti waktu SMP, saya baru sadar bahwa itu cuma drill, cuma latihan menyelamatkan diri saja. Rutinitas yang biasa bagi para pekerja lapangan migas.

Kejadian itu sewaktu saya kuliah. Saya mengambil skripsi dan berkesempatan melihat hiruk-pikuk suasana pengeboran. Siapa sangka, setelah lulus kuliah saya benar-benar tercemplung ke dalam dunia ini. Dan di sini saya menemukan sebuah rutinitas yang perlu tapi menjemukan itu. Jemu tapi perlu. Ya, latihan penyelamatan diri itu lagi. Drill. Bermacam-macam drill. Fire drill. Abandon drill. H2S drill. Nama yang berbeda untuk tujuan yang sama, membuktikan kebenaran pribahasa orang tua-tua dulu, ‘lancar kaji karena diulang’. Tapi peribahasa itu saya rasa mesti ditambahi, ‘lancar mengulang pasti bosan’.

Tentu saja saya sering bosan dengan rutinitas tiap minggu itu, masalahya sering mengganggu jadwal tidur, ini menyebalkan, tapi saya tak bisa untuk tidak setuju atau mangkir untuk tidak hadir. Kita tidak bisa untuk memaksa diri kita untuk tidak menjadi hafal luar kepala kalau rutinitas itu diulang-ulang terus. Pasti hafal.

Begini urutannya: sirine berdentum, lari menuju muster point, kenakan helm, kacamata, dan segala alat keselamatan lainnya, jangan lupa kenakan pelampung bila kita sedang ada di lepas pantai, ambil kartu penanda, lalu berbaris rapih menunggu instruksi. Apakah bahaya teratasi, atau kemungkinan terburuk kita harus meninggalkan area itu, entah dengan kendaraan apa. Semua rutinitas itu diulang terus supaya kita menjadi mahir.

Sewaktu menjalankan latihan itu, untuk menepis rasa bosan, saya mengingat dulu masa-masa sedang tekun-tekunnya berlatih beladiri. Ada momen perulangan seperti itu. “Mengetahui seribu jurus, tapi tiada sering diulang-ulang pasti akan percuma”, begitu kata guru-guru.

Banyak orang yang belajar beladiri kemudian menjadi kecewa pada apa yang dipelajarinya, karena pada realitanya dia belum bisa menerapkannya. Mungkin karena dia belum benar-benar menguasai apa yang dipelajarinya karena jarang mengulangnya. Maka guru kami kala itu mengajari hal yang sederhana saja, dua atau tiga rangkai gerakan yang disuruhnya kami mengulangnya sekira limaratus kali dalam sehari. Dan saya teringat kata-kata yang dinisbatkan pada almarhum Bruce Lee, “saya tidak takut pada orang yang memiliki seribu jurus yang dipraktekkan satu kali, tapi saya takut pada orang yang memiliki satu jurus dan dipraktekkan seribu kali”.

Kita tidak bisa mencegah bahwa tekhnik perulangan itu ampuh seperti seorang intruder, masuk dengan diam-diam tanpa kita sadari dan menjejalkan suatu nilai-nilai dalam bawah sadar kita. Maka sering sekali orang-orang yang tekun belajar beladiri merasakan kok tidak ada perkembangan berarti pada dirinya, karena berlatih itu-itu saja, padahal tanpa dia sadar kemampuan refleks dan tanggapnya sudah di atas orang-orang kebanyakan. Keajaiban perulangan.

Saya mengagumi sekali fakta ini. Meski saya sering bosan sekali pada latihan penyelamatan diri saat saya bekerja, itu dalam hal pekerjaan, lainnya lagi adalah setelah bekerja saya hampir tidak pernah mengulang satupun tekhnik beladiri yang saya pelajari waktu kuliah dulu. Tapi saya masih mempercayai keajaiban perulangan itu.

Tapi ada bahaya besar yang mengancam, apabila perulangan terus menerus membuahkan gerak refleks dalam hidup kita. Bahaya itu adalah bahwa semakin sesuatu itu sudah menjadi kebiasaan dan refleks, maka kita akan kehilangan detailnya, dan yang lebih menyedihkan dari kehilangan perhatian terhadap detail adalah kita kehilangan nilai-nilai.

Saya sering mendengar keluhan yang jamak dialami kawan-kawan, hidup ini begitu menjemukan karena segalanya sudah menjadi gerak refleks. Saya juga merasakan kehampaan itu. Bagi orang-orang kantoran, refleks itu bernama bangun tidur pagi-pagi sekali, pergi kerja, menanti waktu pulang, pulang kerja, dan tidur lagi. Betapa siklus itu menjemukan karena sudah tidak lagi memerlukan proses berfikir. Kita hampir lupa kapan kita mandi, kapan kita memakai sepatu, lalu tiba-tiba saja sudah berada di kantor. Tiba-tiba lagi kita sudah ada pada kendaraan di tengah kemacetan sore. Dan tiba-tiba lagi hari sudah malam, kita tidur sambil cemas-cemas sedikit karena sebentar lagi pagi. Lalu rutinitas berulang, kita mengikuti saja refleks kehidupan. Cepat memang, tapi ada yang hilang, rasa, nilai-nilai. Sesuatu yang refleks hampir selalu berjalan tanpa ketelitian niat.

Kehampaan seperti ini memang membunuh. Sebelum kejiwaan menjadi benar-benar mati, saya paham harus ada yang dibenahi. Kita harus melarikan diri dari kondisi ini. Contoh melarikan diri yang terhormat adalah pergi menyusun siasat, lalu kembali untuk masuk lagi ke gelanggang. Dan spiritualitas harusnya menemukan peranannya disini. Memberi ruang kontemplasi untuk kemudian dipakai lagi membenahi kehidupan.

Saya merasakan harusnya kita menemukan pelipur itu pada ritus-ritus keagamaan kita. Saya muslim maka saya sholat, tentu saja. Tapi keanehan itu kembali terjadi, boro-boro sholat saya menjadi pelipur pada hidup yang menjemukan, karena ternyata saya sudah demikian refleks juga melakukan sholat. Saya takbir, lalu semua menjadi serba otomatis, tiba-tiba saja saya sudah salam. Begitu terus. Ritus keagamaan yang seperti ini saya sadari tidak mungkin membawa dampak secara nyata.

Bahwa tetap melakukan peribadatan meski belum bisa total; saya setuju. Tapi berusaha memperbaiki kesalahan peribadatan kita, saya fikir juga utama. Yang salah tentu bukan seremoninya, tapi kitanya. Saya yang salah.

Beruntung, saya bertemu dengan seorang guru lagi, yang menyadarkan saya akan sebuah potongan kenyataan lagi. Bahwa tidak semua dalam kehidupan ini harus kita jalani dengan refleks.

Di dalam sholat, istilah itu dikenal dengan nama ‘tuma’ninah’. Jeda sejenak. Agar segalanya tidak tergopoh-gopoh.

Kalau perulangan yang membuat kita refleks adalah penting untung meningkatkan kecepatan respon kita terhadap sebuah keadaan, maka tuma’ninah menjadi sisi pedang satunya yang meningkatkan kesadaran kita akan nilai-nilai dari sesuatu yang sedang kita kerjakan. Menjadi mahir itu penting, tapi sadar penuh akan apa yang kita mahiri, dan menjadikan kemahiran kita itu sesuatu yang bernilai; juga luar biasa perlu. Dua-duanya penting.

Rukuk hingga punggung menjadi lurus dan luruh, duduk iftirasy yang kontemplatif, dan sujud yang merendah dan menikmati, adalah sedikit dari tuma’ninah itu.

Saya pikir ide ini juga bisa diterapkan untuk perjalanan menuju kantor dengan memperhatikan setiap detailnya. Pokoknya kontemplatif dan memperhatikan detailnya. Berterimakasih untuk pagi yang cerah, menaiki bus kota dengan  duduk di pinggir jendela dan menyeksamai pemandangan yang berseliweran, tiba di kantor dengan sepenuh kesadaran akan detail-detail ruang dan kesyukuran akan kesempatan bahwa kita telah menjadi berharga dengan bekerja dan menghidupi anak istri, lalu pulang dengan gembira setelah menutup bab hari itu dengan rencana esok hari. Semua kita amati detailnya agar tidak menjadi gerak refleks.

Satu hal yang membantu kita menyisipkan nilai-nilai dalam kehidupan kita, mungkin doa. Doa-doa dalam literatur keagamaan kita banyak sekali. Tentu dengan alasan mengikuti contoh Nabi Mulia, kita harus melakukannya. Tapi lepas dari kecintaan kita kepada junjungan, lepas dari pahala, saya mendengar kata guru-guru bahwa memulai segalanya dengan doa yang sungguh-sungguh adalah semacam upaya menghentikan laju kehidupan yang terlampau refleks, dan menjadikannya setiap potong kehidupan kita sebuah peribadatan yang sepenuh kesadaran kita lakukan. Memberi nilai-nilai dalam setiap potongan kehidupan kita ini bisa dimampatkan dalam satu kata, Niat. Dan niat ini mestilah dijaga agar sinambung, tidak Cuma di awalnya, melainkan pada keseluruhan perjalanan kita. Itulah kenapa kita perlu tuma’ninah.

Saya senang sekali mengingat pesan guru saya dulu, serangkaian jurus yang kita lakukan itu mestinya semisal ombak. Ada kalanya cepat, ada kalanya lambat. Seperti kebijakan universal yang kita sama-sama kenal itu, selalu ada harmoni dalam hidup.

————

gambar dikopi dari sini

PAK-LIK (MENEMBUS BATAS 3)

Man_-_old_man_silhouette

Siapa saja yang mendengar kata “Pak-lik” akan tahu bahwa itu adalah panggilan ala Jawa. Semacam “Om”-nya bahasa Indonesia tapi dengan pengkelasan. Dengan Grading. Bahwa orang yang dipanggil Pak-Lik tadi, adalah orang yang secara strata umur mestilah dibawah Bapaknya yang memanggil.

Nah…Pak-Lik ini, tetangga saya di Sumatera.

Hidup di sumatera, tetapi dengan Bapak yang Jawa, saya merasakan hidup dalam sebuah keterjepitan budaya. Kalau-kalau ada orang yang kebetulan dari Jawa lalu dengan kejamnya berbahasa Jawa kepada saya, maka saya langsung berkata “wah…aku ndak bisa ngomong Jawa Mas, tapi kalau Mas-nya ngomong aku ngerti.” Tentu saja kalimat terakhir tadi hanya sebagai poles-poles belaka, agar fakta bahwa saya terlahir dari seorang Bapak yang Jawa tapi tidak bisa bahasa Jawa; tidak terlalu kentara.

Fakta kedua, saya sering lupa kalau orang bertanya berapa umur Bapak saya. Ini serius. Mengingat tanggal lahir adalah pekerjaan sangat tidak umum di keluarga saya, maka kalau ada orang yang bertanya berapa umur Bapak saya, saya akan meraba-raba dulu baru menjawab asal saja.

Yang jelas Pak-Lik, tetangga saya, Orang Jawa seperti Bapak saya, saya tahu pasti umurnya lebih muda dari Bapak. Di rumah Pak-Lik, saya menikmati sebuah penampilan budaya yang sama sekali berbeda dari keluarga saya yang blasteran. Mereka orang Jawa tulen, suami istri. Anak-anaknya terlahir dengan paras yang sangat njawani. Bahasa Jawa adalah bahasa keseharian mereka. Dan banyak lagi yang saya lihat sangat Jawa. Sesuatu yang saya jarang temukan di rumah saya, saya katakan jarang, tetapi saya tidak asing.

Ibu saya sumatera. Maka saya lahir dan besar dalam segala kepolosan Sumatera; yang enak katakan enak, tidak katakan tidak, tapi ada unggah-ungguh ala Jawa di rumah saya. Kutub medan magnetnya ialah Bapak, tentu saja.

Dan meskipun Bapak tidak pernah berbahasa Jawa dengan saya, dengan adik-adik saya, dengan Ibu saya, tetapi saya menjadi paham bagaimana sebagian masyarakat kita rupanya sering menyembunyikan apa yang mereka rasakan dengan sangat baik, dan kita harus menjadi semacam ahli perang untuk membacanya.

Bapak adalah orang yang menyembunyikan kekesalannya dan masih bisa bersopan-sopan kepada orang yang membuatnya kesal, misalnya. Atau menyembunyikan nasehatnya dalam kata-kata yang berkias-kias, tidak sastrawi memang, tapi hampir pasti jarang to the point, harus ditebak dulu. Itulah, saya sering bingung bila beliau marah, padahal saya tidak tahu apa penyebab marahnya.

Maka saya selalu menyempatkan diri untuk mencoba melihat lagi selapis demi selapis apa sebenarnya yang terjadi. Ini yang saya dapati pada kultur orang-orang Jawa. Sesuatu pastilah tidak sesederhana sebagaimana sesuatu itu terlihat. Mungkin orang Jawa mewarisi sun tzu.

Jadi waktu kadang-kadang berkunjung ke rumah Pak-Lik dan numpang nonton TV –waktu itu saya tak punya TV- saya sudah menduga bahwa pasti ada juga permainan penyembunyian perasaan itu.

Sekali waktu, saya dengar Pak-Lik bercerita tentang pekerjaannya di penambangan batubara. Sekali waktu Pak-Lik bercerita tentang ranjang dari kayu yang dibuatnya dengan tangannya sendiri. Sekali waktu Pak-Lik bercerita tentang pelapon rumahnya yang dibuat seperti ala candi terbalik dengan teras berundak-undaknya itu. Sekali waktu tentang sepatu boot-nya. Sekali waktu tentang kolam belakang rumahnya yang dibuat dengan model pematang meninggi; yang tidak umum di antero lingkungan saya, dan macam-macam lagi.

Saya, anak kecil itu, merasa sudah memiliki alarm awas terhadap segala permainan penyembunyian makna, maka saya sok-sok menilai dengan hati-hati. Apakah benar Pak-Lik ini hebat membuat kerajinan dari kayu? Apakah benar Pak-Lik ini sedang bercerita tentang rumahnya yang dibuatnya dengan tangannya sendiri? Apakah Pak-Lik seorang pembuat kolam ikan yang digdaya? Lalu di ujung simpulan, saya menebak-nebak dengan teori konspirasi, bahwa Pak-Lik menceritakan segala kelebihannya untuk menyembunyikan fakta bahwa dia seseorang yang marjinal. Pasti Pak-Lik ingin terlihat hebat. Karena menurut saya pastilah Bapak saya lebih hebat daripada Pak-Lik. Ada aroma tidak ikhlas yang saya cium dari ceritanya. Begitu fikir saya.

Beliau hidup di sudut komplek. Tukang pos selalu kesulitan menemukan rumahnya. Di belakang rumah sudah dihuni oleh lebatnya hutan-hutan bakau dan kecipak ikan dari rawa-rawa. susah untuk tidak mengatakan beliau orang yang marjinal.

Dan sebuah kenyataan bahwa Pak-Lik bertetangga dengan saya, sama-sama hidup di sudut komplek yang tua, menghasilkan sebuah fakta lagi bahwa sebenarnya keluarga saya dan Pak-Lik sama marjinalnya. Ini membuat saya kesulitan menentukan grading.

Tetapi saya pikir, kan pekerjaan Bapak saya seorang PNS, sedangkan Pak-Lik murni swasta, dan rumah kami tidak se-menyelempit rumah Pak-Lik, maka rasanya secara struktural yang tidak kasat mata, keluarga kami lebih mantap sedikit dibanding Pak-Lik. Mungkin itu juga alasannya kenapa secara otomatis keluarga kami memanggil beliau dengan sebutan Pak-Lik. Inilah kesimpulan saya yang agak prematur.

Tapi sebenarnya, di luar segala permainan sandi-sandi perasaan model Jawa ini, saya mengagumi keduanya. Baik Bapak maupun Pak-Lik. Kalau kita lepaskan dulu status pekerjaan mereka, lalu mengamati mereka dengan jujur, kita akan sepakat bahwa mereka berdua adalah pekerja keras. Kepala rumah tangga yang baik. Baik Pak-Lik maupun Bapak saya, dua-duanya membangun rumah dengan tangannya sendiri.

Ini bukan kata-kata kiasan. Membangun rumah dengan tangannya sendiri adalah makna seharfiah-harfiahnya. Tentu dalam hal ini ada tangan orang lain yang membantu. Misalnya tangan saya.

Saya ingat waktu kecil dulu sering dibentak Bapak agar lebih cekatan dan tidak loyo dalam mengangkat batu-batu bata, dalam mengaduk semen. Saya lalu cekatan sebentar lalu loyo kembali kalau lama tak dimarahi. Kadang saya bermain-main di sela kesibukan saya membantu Bapak. Dan dalam segala ketidak pedulian itulah kadang-kadang ada episode yang terlewat dari masa kecil saya. Dan kita semua tahu, episode yang tidak utuh dari kehidupan kita bisa berujung pada sadisme. Sadisme itu bernama kesimpulan hidup yang tidak dewasa, mengerikan sekali bukan? Untungnya kadang-kadang Bapak mau membagi episode yang terlewat dari mata saya itu.

Misalnya, Bapak bercerita bahwa ilmu bangunan yang beliau miliki adalah ilmu “curi-curi” dari membantu pendirian musholla dekat rumah. Saat orang-orang gotong royong Bapak ikut membantu, dan dari sana mendapatkan sedikit ilmu untuk membangun rumah. Saya mengagumi sekali kehebatan bapak dalam mengkopi ilmu. Saya waktu itu membayangkan Bapak sebagai model orang yang waskita, sekali liat maka bisa meniru.

Praktek membangun rumah dimulai. Pembuatan pondasi lancar. Menumpuk bata di atas pondasi lancar. Merakit besi-besi lancar. Saya menikmati proses itu dengan kadang-kadang melihat saja, kadang-kadang sok membantu. Tapi saat akan mengecor bagian atas dinding, Bapak rupanya mengalami kendala.

Sudah di-gojrok semen dan batu koral ke dalam papan pembatas di dinding itu, tapi semennya malah terjun bebas dari sela-sela growong antara papan dan batu bata.

Ah…coba lagi.

Dicoba lagi tapi hasilnya tetap sama. Berulang kali dicoba dan tetap sama. Bapak gagal mengecor. Hari sudah menjelang sore.

Teronggok lesu Bapak saya waktu itu. Sudah kepalang tanggung membikin rumah sendiri. Sudah bergaya model pemberani dan tangguh waktu ditanyai tetangga ‘kok ya mbikin ga pake tukang?’ Bapak ‘menjawab biar lebih puas hasilnya’. Ternyata sore hari itu Bapak harus berhenti karena masalah sepele pengecoran yang gagal.

Saya memang baru mendengar lagi cerita itu waktu saya sudah tamat kuliah kalau tak salah, dan saya membayangkan semangat yang jatuh itu semisal kebuntuan pada satu babak skripsi. Saya paham sekali bagaimana mencelosnya perasaan kita.

Cerita berlanjut, tiba-tiba dari belakang Bapak ada suara yang memanggil. Rupanya Pak-Lik. Mereka berbincang dalam bahasa Jawa yang saya sebenarnya mengerti tapi tak usah kita tuliskan di sini.

Pak Lik membantu dengan cekatan. “wah…Gampang iki mas, ayo tak bantu.” Dengan sigap Pak-Lik menambal growong-growong pada bilah papan dan bata; dengan kertas-kertas semen. Lalu setelah semua growong tertutup maka diguyur sadis dengan semen coran. Bapak mengira kertas semen itu tidak mungkin bisa bertahan, tapi rupanya sukses besar.

Satu ganjalan dalam babak dalam pembuatan rumah akhirya terlewati.

Saya mulai pelan-pelan merubah pemaknaan saya terhadap Pak-Lik. Saya mengerti benar bahwa Pak-Lik di dalam hatinya tahu bahwa Bapak saya adalah sebagaimana pula dirinya. Merasakan beban yang besar untuk bisa menghadapi semuanya dan lalu menampilkan sisi paling mencerahkan dari keseharian mereka. Seperti tidak ada apa-apa, padahal ada yang bergolak.

Saya tahu bahwa Bapak saya berterima kasih kepada Pak-Lik dengan episode itu. Dan saya tahu pula, bahwa Pak-Lik dengan caranya sendiri mungkin menemukan juga semangat dirinya saat menyadari bahwa yang berjuang tidak cuma dia.

Tapi Pak-Lik mungkin sekarang sudah lupa sama sekali dengan kejadian ini. Mungkin menerapkan model keikhlasan tingkat tinggi ala para sufi; Lakukan, lalu lupakan. Saya tak pernah mengungkit cerita bantuannya yang sepele tapi berimbas besar itu. Dan saat kadang-kadang pulang mudik ke rumah; saya juga jarang berkunjung ke rumah Pak-Lik karena saya sekarang sudah ada TV tentu saja.

Saya berterimakasih kepada keduanya. Kepada Pak-Lik atas bantuan kecilnya untuk Bapak saya. Lalu kepada Bapak untuk telah menggenapkan puzzle yang hilang dari rekaman saya tentang Pak-Lik dan apa-apa saja yang di baliknya.

Rupanya, sebelum melihat menembus batas-batas, kita haruslah melihat dengan jujur kepada diri kita sendiri. Segala anasir keburukan dari jiwa kita, bisa membuat kita salah memandang yang tidak semestinya.

Dan tiba-tiba saya merasa dikelilingi banyak Sun-tzu.

——–

note:

gambar diambil dari sini

 

METAFOR ORANG-ORANG SUCI

metafor orang-orang suci“Ini suasana batin terparah sepanjang sejarah aku kerja.” Begitu kurang lebih kawan saya yang tambun itu suatu hari bercerita lewat chatting.

Saya paham betul situasi seperti beliau itu, maka saya selalu sigap saja menyambut handphone saat ada notifikasi masuk, entah itu chatting, entah panggilan voice call skype. Dalam batin saya, saya sebenarnya tidak sedang menolong orang lain, saya sedang menolong diri saya sendiri. Ada bagian episode yang sama, sekarang sedang dirasakan rekan saya di ujung dunia sana. Maka saya sigap untuk bercerita apa saja sampai hal-hal yang tak penting sekalipun.

“Biar kutebak, meskipun kamu sudah deg-degan setengah mati, tapi istrimu pasti sebenarnya tidak paham seberapa mengerikannya bayangan yang ada di benakmu sekarang?” kata saya sambil setengah tergelak. Dia tergelak juga, padahal sejatinya saya menertawakan sebuah ironi. Ironi itu adalah kenyataan bahwa sayapun terkadang amat sering kesusahan menjelaskan apa yang benar-benar saya rasakan kepada orang-orang terdekat saya, katakanlah kawan dekat saya, atau istri saya misalnya, atau orang tua saya umpamanya.

Dan pekerjaan kami sebagai seorang engineer lapangan migas, membuat saya menyimpan segudang cerita tentang rasa yang bukan main sulit saya bahasakan. Ini satu contoh sepele saja, setiap kali saya harus pergi ke suatu tempat yang baru, yang saya belum kenal, di antah berantah pengeboran, dan meninggalkan keluarga, pasti saya merasa sangat labil. Dan itu juga yang rekan saya tadi alami saat kali pertama dia harus menjejakkan kaki ke Afrika, sebuah wilayah yang jauh lebih tertinggal dari bayangan dia. Dia mengalami kecemasan yang akut, dan saya paham itu. Saya sebenarnya tidak sedang memahami dia, tapi saya sedang berusaha memahami diri saya sendiri.

Disaat saya sedang mengalami kecemasan pekerjaan itu, segala upaya untuk menghadirkan cerita yang utuh megenai apa yang saya rasakan itu menjadi sia-sia. Istri saya misalnya, dia menganggap hal yang lumrah saja bahwa saya mengalami semacam kekalutan yang biasa. Karna raut wajah saya seperti biasa. Bagaimanapun saya harus menampilkan perwatakan yang pejal, kepala keluarga tidak selayaknya terlihat galau, saya mencontoh itu dari karakter keras Bapak. Tapi kadang-kadang ada waktunya saya ingin sejenak ada orang yang bisa menangkap pergolakan batin saya. Tentu bukan sekedar urusan pekerjaan, tapi pergolakan batin apa saja. Dan di saat istri saya, orang tua saya, belum dapat menangkap apa yang saya sampaikan, saya mulai berfikir ada yang salah. Terlebih rupanya saya tak sendiri, senior-senior saya, junior-junior saya, rekan saya dari negara lain, mengalami kegamangan yang sama.

Ini bukan mengenai orang lain yang salah, tetapi rasa kebahasaan manusialah yang salah. Saya mencatatat frase ini dalam-dalam, dan mungkin sebagian kawan-kawan setuju pula dengan ini; tidak selamanya manusia bisa membahasakan rasa lewat kata.

Itulah mengapa manusia menciptakan idiom-idiom. Permisalan-permisalan.

Penyair-penyair kita ambil contoh, di luar sisi ndak masuk akalnya, saya rasa mereka sudah menemukan hal yang saya rasakan ini jauh-jauh hari. Memang ada orang-orang yang diberikan ketrampilan mengunyah-ngunyah kenyataan hidup, lalu menuliskannya lewat jemari mereka, atau menceritakan ulang dengan bahasa yang renyah sampai orang mengerti dan meresap betul apa yang mereka katakan. Tapi orang-orang semacam ini pun harus menyerah saat mereka menemukan jalan buntu dimana di titik itu sebuah keindahan, sebuah kegetiran, atau apapun rasa yang mereka alami tidak mampu diceritakan ulang dengan benar. Bukan karena merekanya tidak maestro, tapi memang bahasa manusia terbatas. Dan memang kenyataan yang memaksa kita untuk tidak mampu berbahasa itu ada.

Itulah mengapa, kita tidak pernah protes dengan frase nyiur melambai, dengan frase matahari bulat menggelinding dan mati dalam ketuaannya yang memilukan, dengan frase awan-awan putih diseret-seret angin, dengan frase permisalan yang jutaaan kali lebih tidak masuk akal, kita tidak akan mendebat, hanya orang tolol yang mendebatnya. Kita cukup diam, dan rasa kemengertian kita saja yang menerima. Ooooh…..betapa indah gugusan nyiur yang dimaksud dia, Oooh betapa syahdu suasana sore yang dilihat kawan penyair kita itu, oooh….betapa rapih guliran awan-awan yang dipandang kawan kita itu. Kita akan menerima itu jika kita tidak memandang pada kata-katanya lagi, tapi pada batin kita sendiri. Ini masalah rasa, kawanku.

Dan berangkat dari sebuah perasaaan galau saya sendiri, lalu berpindah pada ketakjuban bahwa konsensus manusia seperti membenarkan bahwa banyak hal tak bisa diungkapkan dengan lisan dan tulisan. Saya akhirnya baru mengerti, kenapa banyak sekali spiritualis dan para guru-guru kehidupan di dunia ini, yang disalahpahami. Kenapa? Karena yang satu sudah berjalan luar biasa jauh dan terbentur pada kerdilnya bahasa manusia untuk mewakili keajaiban rasa. Sedang yang satunya baru berjalan berapa tapak, dan belum pernah mengerti bahwa di dunia ini ada yang namanya metafora. Dengan fakta seperti ini, kita harus berada pada posisi paling netral yaitu memahami keduanya.

Ada satu pelajaran, yang baru-baru ini saya petik dari orang-orang arif. Pelajaran dari orang-orang yang hati-hati sekali menyampaikan apa yang mereka ingin beritahu, karena takut-takut yang mendengar salah paham.

Pelajaran itu adalah bahwa laku manusia, seumpama amal ibadah, itu sejatinya disetir oleh ahwal-ahwal, oleh suasana-suasana batin, oleh kondisi hati.

Saya mendengarkan sepotong kalimat itu dengan biasa saja. Oke, fikir saya, amal disetir oleh ahwal, lalu apa pengaruhnya pelajaran ini?

Belakangan saya baru mengerti, bahwa ihsan, bahwa sebuah kenyataan lebih dalam dibalik seremoni ibadah manusia, sebuah rekam batin yang “merasa” melihat Tuhan, atau kalaulah tak bisa melihat Tuhan maka selalu membayangkan Tuhan melihat dia; adalah level rasa tingkat wahid.

Dan orang-orang yang berada pada posisi ini terkadang saya temukan lebih banyak diamnya daripada ngocehnya, karena halus sekali delik perkara yang mereka kuasai itu.

Saya ulang lagi dalam fikiran saya, bila laku amal ibadah kita disetir oleh ahwal (suasana batin kita, kondisi ruhaniah kita, atau apalah istilahnya), lalu kenapa?

Lalu…. kata orang-orang arif itu, janganlah memaksa Tuhan, mengojok-ojok Tuhan istilahnya, agar memindahkan posisi keruhanianmu pada level yang lebih mantap. Karena Tuhan lebih tahu. Karena sesuatu yang tidak ditekuni itu ndak mungkin meresap pada dirimu.

Wah…. ini semakin tidak masuk di akal saya. Saya ingin mendebat, tapi teringat tentang pelajaran adab-adab, saya duduk diam dan mendengarkan.

Begini, ternyata. Ambil contoh cerita yang merakyat saja. Seorang wali songo, entah sunan apa namanya saya lupa. Suatu kali pernah menangis sesenggukan. Lamaaaa sekali beliau menangis. Apa pasal? Sederhana saja, tidak sengaja beliau terjatuh, lalu dalam terjatuhnya itu refleks menggenggam rerumputan di jalan hingga tercerabut. Karena mencabut rumput tanpa alasan syar’i itulah beliau menangis.

Dan saya langsung makjleb di hati. Ya Allah….ini dia. Sesuatu yang bergejolak di hati sang guru kita itu adalah sesuatu yang mencapai tingkatan rumit untuk kita ceritakan dengan bahasa. “saya ini menangis karena merasa sedih yang melilit-lilit hati, seperti dihujam dengan palu godam” Nah… semakin dibahasakan semakin runyam dan belum tentu orang paham. Itulah ahwal. Itulah kondisi ruhani. Itulah mental spiritual. Itulah ihsan. Dan mestinya kita itu menjadi orang yang selalu menelisik sesuatu yang menjadi asbab musabab laku sang sunan itu tadi. Bukan menelisik tindakan luarnya.

Misalnya kita sama-sama paham bahwa sang sunan adalah orang shalih yang doanya menggetarkan arasy Tuhan. Lalu kita melihat bahwa ada fakta sang sunan menangis karna mencabut rumput. Lalu karena kita ingin soleh lalu kita ikut-ikut juga mencabut rumput lalu meraung-raung kesetanan. Dan merasa sudah ada pada pencapaian spiritual adi luhung. Sudah paripurna. Ya ndak masuk di akal.

Karena ada sesuatu yang berbeda yang mendrive kita dengan beliau. Beliau-beliau itu berbuat seperti itu karena di drive oleh sebuah kesadaran batin yang beliau temukan lewat perjalanan maha panjang. Lewat ketundukan yang paling merendah. Hingga beliau dapat rasa itu, dan tidak bisa lagi menceritakannya. Mungkin kita dan dia sama-sama menangisnya, tapi nilai di sisi Tuhan tidak pernah sama.

Saya lalu semakin ingin meringsek dan mundur sambil jongkok-jongkok hormat ala abdi dalem keraton itu, membayangkan para pendahulu kita, para orang-orang shalih guru negeri ini, khulafaur Rasyidin, dan Nabi Mulia Muhammad. Panjang sekali anak tangga pemisah kita dengan mereka.

Lalu misalnyapun, dalam suatu ketika kita mendapatkan rasa itu, tidak serta merta kita menjadi setingkat mereka. Contoh saja. Pastilah suatu ketika dalam babak hidup kita, kita pernah merasa sangat haruuuuuu dalam beribadah. Misalnya sujud berasa enaaaak sekali. Kita menangis. Kita merasa dekat dengan Tuhan. Kita syahdulah pokoknya. Pada titik itu, kita juga mengalami kondisi ruhani yang serupa dengan para wali, dan Orang-orang luar biasa itu, bunga-bunga dalam hati kita sama-sama mekar oleh rasa kedekatan dengan Tuhan, katakanlah begitu. Tapi apakah kemudian kita menjadi setingkat mereka dalam tataran keimanan? Tidak juga. Karena mereka mengalami perasaan itu berkelanggengan. Artinya mereka ada dalam suasana ihsan itu terusssss menerussss sedang kita sekejab-sekejab lalu hilang.

Makanya guru-guru kearifan tidak menyarankan kita hantam kromo meniru lelaku orang-orang shalih tingkat tinggi dengan metafora ibadahnya yang tak masuk akal itu. Bukan tidak boleh. Tapi belum sekarang. Bukan tak usah berjuang keras, tapi maksudnya semata agar lelaku yang cocok dengan kondisi saat ini; kita fahami dulu sampai meresap tak Cuma kulitnya. karena kita belum nemu, karena kalau membabi buta kita pasti berhenti karena letih dan lelah yang tak perlu. Mbok ya yang sesuai dengan dengan fase kita dulu, dan mbok ya naiknya bertahap.

Dan inilah yang saya saluti, dari pribadi Nabi, dari cerita yang saya temukan dari orang-orang arif tadi. Betapa panduan menapaki jalan pulang ini, jalan ketundukan ini, sudah diset untuk segala lapis tingkatan manusia.

Sholat 5 kali semata. Zakat 2.5% belaka. Puasa di ramadhan, Cuma. Karena Beliau SAW paham betul umatnya beragam-ragam. Mungkin dari titik inilah kita mesti melangkah dan menemukan kondisi seperti yang ada pada orang-orang mengagumkan itu. Sampai kita merasakan juga, gejolak batin yang tiada bisa dibahasakan lewat susatra manusia, barulah kita bisa mengerti kemusykilan sang sunan yang menangis meraung mencabut rumput, sang Abu Bakar yang bersedekah sampai ludes hartanya, Ali Ibn Abi Thalib yang tidur berselimut kain hijau menggantikan Nabi kala dikepung di rumahnya, Nabi Ibrahim yang bahkan enggan berdoa dan menolak bantuan Jibril saat akan dilontar ke dalam api menyala-nyala, Syaikh Abdul Qadir Jailani yang selepas isya bertahannuts hingga subuh lalu sholat subuh dengan wudhu sholat isya-nya, dan berbagai kemusykilan lainnya.

Maka mensyukuri pengertian-pengertian yang diberikan Tuhan pada kita saat ini lewat laku-laku yang sesuai dengan kondisi kita adalah langkah pertama. Nanti sekiranya tekun dan rajin menelisik yang lebih dari sekedar ritus-ritus pada seremoni ibadah kita, akan ditempatkan pula kita oleh Tuhan pada rasa yang semakin memaksa kita membuat banyak metafora. Dan metafora itu mungkin merupa peribadatan yang fantastis dan tak masuk akal umumnya.

Tapi sebelum itu, jangan dulu sedekah brutal sampai tak sisa lagi uangmu. Jangan dulu menangis ga jelas waktu menginjak ilalang-ilalang pinggir jalan itu. Karena kita belum mengerti gejolaknya rasa di hati, belum bertemu kondisi-kondisi yang membuat frase berhenti dan kemampuan bercerita mati, bagaimana hendak membuat puisi?

ah… betapa metafora mereka mempesona.

 

———-

*) gambar masjid diambil sewaktu menyusuri sungai Barito

MENGEJAR ORANG-ORANG SUCI

images

Dalam suasana kantuk yang asing saya dikagetkan dengan dering telepon berita dari rumah yang jauh, rumah kami dibobol maling. Handphone, uang, printer, dan segala yang gampang dibawa; raib.

Saya mereka-reka kejadian berapa tahun lalu itu, waktu orang tua saya menelepon. Saya bertanya-tanya, bagaimana bisa pencuri memiliki celah? Memang pengamanan rumah kami itu boleh dikata dibawah standar. Pintu belakang hanya dikunci dengan sederhana, jendela tanpa teralis, tapi saya kenal betul siklus hidup keluarga saya itu. Bapak akan selalu bangun dini hari yang buta, waktu ayam-ayam masih enggan bangun. Ibu-pun juga begitu. Lalu ritual yang biasa mereka lakoni, Bapak akan sholat di penghujung malam, Ibu saya akan menghidupkan kompor dan menyiapkan dagangan untuk dibawa ke pasar pagi.

Tapi kenyataan bahwa seluruh rumah terlelap di waktu biasanya mereka sudah memulai kehidupan itulah yang membuat saya bingung. Kenapa bisa? Dan akhirnya maling itu masuk pada momennya yang tepat. Momen dimana takdir mempersilakan dia memilah-milah isi rumah dengan santainya dan lalu melenggang pergi. Bapak dan ibu kaget waktu bangun hari menjelang subuh, dan maling sudah raib beserta barang-barang, tanpa permisi, dan hanya meninggalkan pintu belakang terbuka menganga dengan gusar.

Pada akhirnya toh semua orang akan merasakan kehilangan. Sekali waktu saya takjub dengan kenyataan bahwa sebuah kalimat yang kita dengar berulang kali sampai hafal; kadang-kadang baru kita benar-benar mengerti maknanya setelah sekian lama kemudian. Bahwa pada akhirnya toh kita semua akan merasakan kehilangan.

Saya menangkap nada sedih pada intonasi Ibu saya di telepon. Gusar yang alami dari seorang yang mengumpulkan rupiah demi rupiah yang kemudian lenyap. Saya mengerti itu. Saya juga lalu menangkap gusar penyesalan pada nada Bapak dari ceruk speaker handphone kala mengabari saya, saya paham ada yang terluka dari harga dirinya sebagai tameng rumah itu. Tapi saya menanti momen dimana saya yakin akan ada yang saya saluti dari sikapnya memaknai hidup. Dan benar saja, tepat sekitar tiga hari dari kejadian itu, beliau menelepon saya lagi dengan nada yang biasa. Ketenangan khas seorang yang matang oleh tempa keras hidup, lalu mewejang bahwa toh semua orang pada akhirnya akan mengalami kehilangan.

Yang berhari-hari masih menyimpan kemarahan adalah adik kedua saya. Dia menyimpan kekesalan yang nyala. Mungkin analisa saya, selepas saya dan adik tertua saya pindah ke luar sumatera dialah yang dituakan di rumah itu. Dan kehilangan itu merobek ego mudanya. Saya hanya mendengar berita saja, waktu malam itu dia mengumpulkan serombongan kawan-kawannya dan memutari semua sudut sunyi komplek itu dengan segala yang mungkin untuk menghajar maling-maling. Maling itu beruntung tidak ditemukan.

Saya, dari ujung telepon, setelah kejadian agak mereda, lalu mewejang adik saya. Wejangannya Cuma kopi paste dari kata-kata Bapak.

Saya paham tingkat kebijaksanaan petuah saya belum selevel Bapak, dan saya juga agak ragu, apakah bila saya sendiri yang mengalami kejadian itu akan bisa memraktekkan apa yang saya katakan.

Bahwa kata-kata bijak bisa dipindah suarakan; itu sudah jelas. Tapi kematangan mental spiritual adalah sesuatu yang ditancapkan Tuhan dalam hati masing-masing kita sendiri. Lewat umpamanya kejadian-kejadian, umpamanya perenungan mendalam akan makna-makna hidup, atau umpamanya lewat pengertian-pengertian yang ajeg dan tiba-tiba saja masuk merubah cara pandang. Dan ini yang pada mulanya menyetir segala apa saja perilaku yang terlihat.

***

Betapa saya lalu ingin menjadi bijak dan baik. Saya ingin menyalip prestasi orang-orang dengan kematangan mental spiritual itu. Lalu mulailah hari-hari saya diisi dengan perlombaan.

Tempo-tempo saya memiliki teman yang luar biasa memikatnya bagi khalayak, berada di sampingnya berarti siap-siap tenggelam dari ingatan sejarah, tak perduli betapapun pencapaian pendidikan yang kita punya telah lebih tinggi, tak perduli retorika kita lebih cerlang, tapi kesederhanaan dan keramahannya yang magis telah memikat siapa saja, dia adalah rival utama dalam perlombaan yang ingin saya menangkan ini. Saya mati-matian ingin menyaingi keramah-tamahan yang dia miliki, dalam sebuah judul cantik “berlomba-lomba dalam kebaikan” saya ingin kalahkan dia, lama saya babak belur, lalu pada akhirnya saya capek dan menyerah.

Tempo-tempo lainnya saya ingin menyalip lagi seorang kawan yang demikian tekun berkecimpung dalam banyak literatur keilmuan keagamaan. Mati-mati saya belajar, tapi juga berujung capek dan terengah-engah saja.

Belakangan saya semakin menemukan orang-orang yang gila kebaikannya. Dalam sekali waktu tugas saya bertemu dengan seorang kawan yang membelikan rumah untuk seorang tak mampu yang dia temukan di sudut jalan, ini sinting, fikir saya. Mana mungkin saya menyusul pencapaian tak masuk akal ini?

Saya tahu kenyataan bahwa saya terengah-engah dalam upaya pengejaran adalah sesuatu yang mesti saya tafakuri. Bahwa berlomba-lomba dalam kebaikan adalah sebuah anjuran adiluhung yang tiada cela; saya setuju benar, tapi ada maknanya yang rasanya mesti saya rajut ulang.

Saya lalu ingat dengan sebuah perbandingan yang memang dari segala lini tidak tepat saya tarik sebagai permisalan dalam kasus ini, tapi saya belum menemukan sebuah pengibaratan yang lain.

Adalah Umar Ibn Khattab, yang dalam cerita sejarah kita temukan menjadi seorang pencemburu yang ingin menyaingi Abu Bakar dalam peribadatan beliau. Waktu orang-orang tak berpunya menjadi semacam target amal, dan dipikullah karung-karung gandum oleh Umar pada suatu malam, lalu kagetlah beliau waktu mendapatkan bahwa Abu Bakar telah mengantarkan gandum pada orang yang tak berpunya lebih dulu, Umar selalu kalah langkah.

Suatu babak lainnya Umar menyedekahkan setengah hartanya di jalan kebaikan, dia dapati Abu Bakar rupa-rupanya menginfakkan semua yang dia punya. Waktu Umar mengamuk-ngamuk ingin mengemplang siapa saja yang mengatakan Nabi SAW wafat, Abu Bakar jua yang dengan bijaksana menenangkannya dan mengingatkan bahwa betapapun sang Nabi hanyalah manusia biasa. Ada jarak yang terentang antara sesuatu yang ada di hati Umar dan Abu Bakar.

Saya jauh panggang dari api dengan Umar, sedang orang-orang yang saya temui saya yakin dalam track yang benar menapaki jalan suci berapa anak tangga mengikuti Abu Bakar.

Tapi tiba-tiba saja saya tersentak. Apa motivasi dari perlombaan saya selama ini? Menuju Tuhan-kah atau persaingan pencapaian yang tanpa terindra rupanya hendak memuaskan sudut psikologis manusia yang paling purba semata; saya lebih baik daripada dia?

Lalu disinilah saya menemukan jawabannya. Pada sudut kecil yang lain lagi. Setelah berapa tahun peristiwa kehilangan di keluarga saya itu lewat. Setelah berapa tahun acara kejar mengejar pencapaian imajiner yang saya lakukan terhadap rekan-rekan saya lewat.

Tiba-tiba saja saya sudah tertakdir ada di sebuah anjungan pengeboran lepas pantai dalam rutinitas kikuk yang biasa. Para bule yang sebagian normal-normal arogan. Lalu Bule-bule yang sopan dan menimbulkan kecanggungan untuk kita yang tak siap dengan ewuh-pakewuh model luar negeri. Lalu Pribumi-pribumi yang sebenarnya pintar tetapi tertutup oleh kesantunan timur yang enggan menonjolkan diri, dan lalu seorang sepuh yang kebetulan menjadi senior saya dalam pekerjaan, dan yang saya sebut terakhir ini juga kebetulan mengajarkan banyak cerita tentang menimati hidup.

Dan hari itu, kami (saya dan senior saya yang sepuh itu) bercerita tentang beberapa hal. Saya tergelitik untuk tahu bagaimana dia mendapatkan kematangan mental seperti yang saya lihat itu. Manteng ibadahnya, bijak gerak-geriknya.

Saya sering bertemu dengan orang yang lebih tua, tapi untuk mengagumi kematangan jiwa mereka; saya jarang. Salah satu dari sekian yang jarang itu adalah orang tua dihadapan saya kali itu, selain Bapak saya sendiri.

“Bagaimana bapak bisa konstan melaksanakan ibadah yang berat-berat?” tanya saya dalam lagak yang tak terlalu mau tahu, padahal saya memang melakukan penelitian semacam pseudo research amatiran tentang itu. Apakah kematangan jiwa itu semata haknya orang-orang tua saja? Saya membatin protes.

Sebelum berpacu buta mengejar pencapaian Bapak ini, saya rasa menelisik niatan pribadinya dalam bertirakat adalah utama.

Senior saya itu bercerita banyak hal. Tidak melulu menjawab pertanyaan saya sebenarnya, tapi yang saya bisa rangkai-rangkai dari cerita hidupnya adalah bahwa betapa jujur menilai diri itu awalan untuk memperbaiki spiritualitas kita. Mungkin-mungkin mematangkannya dengan takaran yang pas, karna terlalu lama kebohongan kita membuat mentalitas kita menjadi selamanya mentah.

Seperti nyata waktu beliau bercerita tentang suatu dini hari berapa puluh tahun lalu beliau bersujud dalam sembahyang yang total, lalu seperti diputarkan ulang segala tabiat-tabiat mudanya. Hura-huranya, sombong-arogannya, rasa ingin lebih baik dari orang lainnya, segalanya. Lalu beliau menyerah sekali pada Tuhan. Dan itulah titik balik hidupnya menjadi seorang ‘abid yang fantastis menurut saya.

“Jujur menilai diri, mengaku akan segala kesalahan kita, dan ridho pada takdir Tuhan.” Kata beliau menyimpulkan butir-butir pra syarat yang akan menaikkan level spiritualitas kita.

Dan pemahaman lalu masuk pelan-pelan mengoreksi cara pandang saya yang muda dan ketelingsut. Pada akhirnya toh semua orang akan kehilangan. Dan yang paling anggun dari segalanya adalah saat kita belajar pelan-pelan melepaskan segala keakuan kita yang menabir kita dari Tuhan. “Menghilangkan” segalanya yang toh pada akhirnya akan hilang itu.

Sedekah kita adalah mestinya semacam simulasi bahwa segala-gala akan hilang, lalu kita mengikhlaskan kehilangan itu dengan pengertian yang dewasa bahwa memang sebenar-benarnya itu harta bukan milik kita. Lepaslah kita dari keterikatan yang semu itu.

Puasa kita mestinya semacam simulasi, bahwa segala kenikmatan ragawi sejatinya akan hilang, lalu kita mengikhlaskan kehilangan itu dengan pengertian yang dewasa bahwa betapa sebenarnya selama ini dunia merajam-rajam kita dengan segala kebutuhan yang berluber-luber kita ikuti tak wajar.

Kecemburuan kita terhadap kebaikan lelaku kawan-kawan kita mestinya semacam introspeksi, bahwa orang-orang lain bisa dengan segenap usahanya melecat-lecat menuju Tuhan, lalu kita dengan segala kejujuran yang dewasa mengaku bahwa rupanya selama ini kita alih-alih ingin ke Tuhan juga tapi malah berpusar-pusar ingin mendaku diri lebih baik dari sesiapa saja.

kematangan mental spiritual adalah sesuatu yang ditancapkan Tuhan dalam hati masing-masing kita sendiri. Lewat umpamanya kejadian-kejadian, umpamanya perenungan mendalam akan makna-makna hidup, atau umpamanya lewat pengertian-pengertian yang ajeg dan tiba-tiba saja masuk merubah cara pandang. Dan ini yang pada mulanya menyetir segala apa saja perilaku yang terlihat.

Bodoh sekali saya ini. Semisal melihat orang kaya itu memiliki mobil, maka segala cara saya upayakan untuk membeli mobil. Selepas mobil terbeli, saya kira saya sudah kaya. Padahal yang semestinya saya tiru adalah cara fikir orang-orang kaya, etos kerjanya orang-orang kaya, ketrampilan melihat peluangnya orang-orang kaya, dan mobil itu hanya aksesoris luaran. Yang kalau segala pra syaratnya sudah saya miliki, maka akan tertampil dengan sendirinya.

Sekarang saya belajar tidak lagi mati-matian buta ingin mengejar mereka-mereka. Saya menikmati memandang perlombaan dari sudut yang baru lagi. Pelan-pelan saya belajar menghilangkan segala sesuatu yang toh pada akhirnya nanti akan hilang.

Saya tetap menatap iri pada pencapaian prestasi orang-orang suci, tapi ada sesuatu sebelum ritual yang ingin saya tiru. Apa gerangan yang bergejolak di dada mereka-mereka itu?

note:

*) Guru2 bilang, tidak akan bisa beribadah dengan benar, terkecuali orang yang mukhlash (mukhlash ialah orang yang diikhlaskan oleh Allah) bukan orang yang mendaku dirinya ikhlas.

*) gambar dipinjam dari sini

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑