KONVERSI KEJIWAAN

Saya belum pernah pergi ke kutub utara. Tapi saya yakin kutub utara itu ada. Begitu juga saya rasa kawan-kawan sekalian yang sama belum pernahnya menjejak kaki di kutub, seperti saya, kita sama-sama yakin bahwa kutub utara pasti ada.

Begitulah kurang lebih. Guru-guru kearifan menganalogikan bahwa memang keyakinan itu ada level-levelnya.

Keyakinan orang yang percaya bahwa kutub utara itu ada tetapi sebenarnya belum pernah kesana secara langsung, pastilah tidak bisa tidak akan kalah mantap dibanding keyakinan orang yang pernah betul-betul menjejakkan kaki di kutub utara. Baik keyakinan cita-rasanya, keyakinan mengenai ekstase dinginnya, keyakinan rasa memandang selaput putih salju yang menghampar dan menutup hampir sejauh pandangnya, dan segala sensasi yang dicecap oleh indera dan jiwa itu membuat keyakinan tentang sesuatu itu lebih maknyus. Pokoknya yang mengalami pasti jadi lebih yakin.

Masalahnya, saya baru sadar, bahwa jika ditarik dalam kehidupan keberagamaan sehari-hari, level keyakinan kita ini selalu masih berkisut di tangga levelan bawah. Susah sekali untuk mencapai keyakinan yang lebih menyesap. Seakan-akan tingkat keyakinan seperti itu hanya ada dalam legenda orang-orang suci tempo dulu.

Saya masih optimis untuk tidak percaya dengan teorema bahwa keyakinan setingkat itu mutlak milik orang-orang terdahulu saja,saya meyakini bahwa yang salah adalah metoda kita dalam menghayati tata nilai keberagamaan kita membuat kita tidak naik-naik levelnya.

Saya diberitahu oleh seseorang yang arif, bahwa perumpamaan ini seperti misalnya kita makan duren. Sensasi manisnya, kita tahu. Aromanya kita tahu. Sensasi lembut buahnya dan rasa panas di dalam badan kalau kebanyakan makannya, kita tahu persis. Tapi ada gap yang sulit diseberangi bagi orang yang sudah pernah makan duren, untuk menyampaikan keseluruhan rasa duren itu dengan pas dan tepat saji kepada orang lain. Tidak mungkin orang lain bisa paham apa yang orang itu rasakan, kecuali orang lain itu mencoba makan duren sendiri.

Itu di tataran rasa lho ya. Bukan tataran pengetahuannya. Kalau gambaran pengetahuannya ya bisa dijabarkan tentu. Tapi tetap penuh dengan jebakan kesalah pahaman.

Dikabarkan bahwa rasa duren itu manis, ya manisnya bukan seperti manis gula. Diceritakan aroma, ya aromanya beda sama buah yang lain. Pokoknya njlimet. Semakin diceritakan semakinlah orang lain salah persepsi.

Bisa jadi orang lain merasa sudah tahu, tapi begitu orang lain yang belum pernah sama sekali mencoba durian lalu memakannya, maka dia baru tahu bahwa persepsi dia selama ini tentang duren salah amburadul.

Nah… rupanya itu salah saya selama ini. Ketika saya sibuk membaca sana-sini dan mengoleksi buku-buku kearifan keagamaan dari orang-orang sholeh jaman dulu, lalu merasa sudah menjelma soleh dan memiliki tingkat level keyakinan yang hampir-hampir senggolan dengan levelnya guru-guru itu. Rupanya saya baru sampai tataran keilmuan, belum sebenar-benarnya rasa.

Padahal, mereka-mereka itu urutannya begini: mendapatkan dulu situasi kejiwaan keruhaniannya lalu baru dibahasakan dalam sebuah tulisan.

Sedangkan saya dan kebanyakan kita ini begini: membaca segala hal dalam tataran wacana pengetahuannya, tapi tak pernah mencoba menjadikan bacaan itu makjleb ke dalam kondisi keruhanian kita. Ini keliru-keliru sekali.

Katakanlah contoh sederhana tentang persandaran kepada Tuhan. Cerita punya cerita, saya hobi sekali membaca buku-buku tentang kearifan hidup. Dan benang merah segala tema buku kearifan itu adalah agar kita bisa berdamai dengan takdir maka kita harus menyandarkan segalanya pada Tuhan. Sederhana bukan?

Saking seringnya saya membaca buku dengan tema begitu, saya sempat mengira saya sudah paham tentang ini. Tempo-tempo, hidup saya bisa begitu haru bukan buatan, akibat mengira bahwa persandaran saya kepada Tuhan sudah benar. Tapi sekali waktu diberikan drama hidup yang agak cepat dan mencekamsedikit ritmenya, saya sudah gelagapan.

Seperti waktu ada masalah sedikit dalam dunia pekerjaan, hati langsung terbolak-balik, fikiran langsung mencari-cari solusi dan mengumpulkan database siapa saja yang bisa saya hubungi untuk dimintai pertolongan. Tak ada Tuhan disana, dan setelah itu saya baru sadar bahwa “tahu banyak tentang teorema keagamaan tidak membuat kita otomatis menjadi spiritualis”. Boleh jadi ada orang yang tingkat keilmuan keagamaannya jauh dibawah pengetahuan kita tentang wacana-wacana, tapi saat ada masalah orang ini langsung seketika itu juga di hatinya ada alarm pengingat kepada Tuhan. Orang ini, sudah berada pada level keyakinan yang diatas wacana semata.

Bagaimana cara meng-convert-nya? Dari wacana menjadi realitas spritual kejiwaan kita?

Kata guru-guru tidak lain tiada bukan caranya adalah dengan dzikrullah. Mengingat Allah dalam setiap jenak kehidupan kita. MengingatNya sekuat tenaga terus menerus, terus menerus. Awalnya pelik memang, tapi tak ada cara lain untuk mengkonversi wacana menjadi realita kejiwaan agar kita paham sensasinya, selain dari berdzikir dan minta dituntun oleh Allah sendiri.

Karena rupanya dengan konsisten menjaga ‘koneksi’ kita pada Tuhan, maka seketika itu juga kita seperti membuat sebuah tema besar dalam hidup kita. Temanya adalah “minta dituntun”. Minta diajari, supaya kita mengerti apa yang sebenarnya dirasakan orang-orang sholeh guru-guru kita itu. Dan dengan berdzikir dan menghayati hidup, maka nilai-nilai yang tadinya wacana semata itu, pelan-pelan menjadi bagian dari karakter kita. Pelan-pelan dan tanpa kita sadar. Lama memang, tapi setidaknya kita bergerak ke arah situ.

Kalau kawan-kawan sudah kadung kebanyakan informasi keberagamaan yang silang sengketa satu sama lain, makin dibaca makin membuat kita penuh sesak dengan segala logika debat-mendebat tapi kok rasanya tidak membuat kita semakin dekat dan gimaanaaaa gitu kepada Tuhan, mungkin ini saatnya kita tarik nafas dulu, dan menjaga ‘koneksi’ padaNya dengan mengingatNya. Supaya tidak keliru-keliru menapaki hidup. Jangan-jangan, kita memang belum beriman yang sebenarnya.

Seperti sebuah kisah yang masyhur kala Rasulullah SAW ditemui seorang arab badui yang mengaku telah beriman, maka Sang Nabi mengatakan bahwa orang itu belum beriman. Karena iman itu belum menyesap ke dalam dadanya.

Kata Rasulullah, levelan begitu itu namanya kita baru ‘tunduk’. Karena Iman yang sebenarnya belum masuk ke dalam dada kita. Karena kita belum sampai pada ‘penyaksian’ yang sebenarnya. Karena kita kerjanya menumpuk-numpuk wacana debat ilmiah agama semata, tidak pernah mengkonversinya menjadi realita kejiwaan kita. Tidak pernah. Tidak pernah.

 
 
———-
“ Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah Al-Hujurat [49]:14) ”
 
 

MENGGENAPKAN KEMULIAAN

Suatu hari seorang rekan saya bertanya apakah saya mencintai dunia?

Pertanyaan ini agak absurd, saya susah menjawabnya jika tidak diletakkan pertanyaan itu pada sebuah konteks.

Kalau misalnya saya letakkan soalan cinta-mencinta dunia itu dalam konteks pekerjaan dan penghasilan, mungkin ya, mungkin mudah-mudahan saya tidak begitu mencintai dunia dalam perwujudannya yang begini.

Selama ini, inilah yang menjadi alasan saya menolak setiap tawaran pekerjaan dengan bayaran yang lebih baik. saya sudah merasa cukup.

Tapi apa benar pemikiran ini? Sepertinya ada yang janggal. Saya membatin sendiri kemudian.

Lama-lama soalan itu terlupakan. Saya sibuk saja dengan niatan yang saya anggap lebih luhur, yaitu “belajar” dan membagikan hikmah hidup dari sepanjang perjalanan yang saya temukan.

Sampai suatu ketika saya menyadari bahwa diperlukan sebuah kekuatan, sebuah pembuktian, saat kita ingin membagikan pemahaman pada orang lain.

Pemahaman nilai-nilai keruhanian yang pelik dan luhur itu bagus, tapi tanpa penguasaan bidang keduniawian, tanpa daya, maka orang-orang yang menapaki jalan ruhani hanya akan dipandang kasihan sebagai orang-orang yang kalah dalam pergulatan sosial.

Membagikan nilai-nilai ketundukan dan kepasrahan pada Tuhan itu sudah tentu mulia, tapi tanpa memiliki “Daya” untuk berdiri tegak dan tidak tergantung pada orang lain, maka segala omong-omong kita tentang persandaran pada Tuhan semata; hanya dianggap pepesan kosong.

Menuliskan petuah-petuah kepasrahan, keselamatan, keTuhanan dan semacamnya itu perlu sekali, tapi tanpa kemampuan diksi yang mumpuni dan tanpa keahlian akrobatik kata-kata maka paragraf-paragraf kita hanya akan dianggap roman sampah oleh orang-orang.

Sebagaimana azan itu syariatnya, tapi tanpa keindahan dan kemuliaan pengelolaan nada-nada maka jangan salahkan orang-orang yang terganggu dengan nyaringnya.

Dan saya rasa keinginan untuk melengkapi nilai-nilai kehidupan yang sudah kita miliki dengan kekuatan, dengan Daya, agar menjadi genap tugas kekhalifahan manusia; itulah yang akan menyelamatkan kita dari tergelincirnya niat, dari salah arahnya tujuan.

Dan puzzle kemuliaan itu bisa dilengkapi dengan macam-macam bentuk tergantung peruntukannya, bisa berwujud harta, bisa berwujud kekuatan kepemimpinan, bisa juga hal-hal lain.

Nabi sulaiman kaya raya namun Nabi Muhammad SAW memang tidak melimpah harta. Pada pokoknya, kita jangan mereduksi tema ini sebatas kaya atau tiada kaya, tetapi pada betapa fleksibelnya bentuk keberdayaan, kekuatan, yang harus mengiringi kemuliaan tata nilai yang kita pegang itu.

Rasulullah mungkin tidak kaya bila diterjemahkan sebagai tumpukan harta yang pasif, tapi betapa beliau kuat dan punya daya dengan kepemimpinannya.

Terserah apa saja bentuknya yang terkesan seakan-akan duniawi itu, tapi kita wajib berdaya!

Guru-guru yang arif, saya temukan menjabarkan hal yang hampir sama pada kesimpulan akhirnya, yaitu orang arif dan orang awam boleh jadi pada pandangan mata fisik akan sama tetapi sesungguhnya yang berbeda adalah yang di dalam dada mereka.

Kita orang-orang awam misalnya, saat beramal sesuatu seperti bersedekah, akan sibuk menelisik hati kita apakah kita tadi ikhlas atau tidak? Jangan-jangan kita tadi riya?

Hal itu bagus, tapi cobalah kita bandingkan dengan sikap batin orang-orang arif yang saat sebelum beramal saja mereka sudah sadar penuh bahwa tidak mungkin mereka kuasa beramal tanpa pertolongan Tuhan.

Maka akibatnya saat beramal dan setelah beramal, hati mereka sibuk dengan bersyukur kepada Tuhan karena sudah begitu baiknya mentakdirkan agar mereka dapat beramal.

Tipis sekali bedanya bukan? Kita masih sibuk memikirkan apakah riya atau tidak, ikhlas-tidak, karena masih merasa bahwa amal adalah hasil laku kita, sedangkan orang-orang arif hatinya sibuk bersyukur karena merasa bahkan amalpun bukan kuasa manusia. Tidak mengklaim dirinya punya amal. Tiada daya upaya kecuali karena betapa baiknya Allah semata.

Dan bukankah cara paling mantap terhindar dari ketidak lurusan niat ialah dengan menyandarkannya pada Tuhan sejak awal mula sekali?

Disinilah saya temukan harmoninya. Yang merubah tata pandang saya tentang dunia.

Betapapun tidak menariknya dunia itu di mata kita, jika keberadaannya adalah sebuah puzzle yang menggenapkan kemuliaan nilai-nilai yang kita anut, dan menjadikan kita lebih bisa menyampaikan kebenaran pada orang lain tanpa merunduk-merunduk hilang wibawa; maka ambillah!

Dan letakkan Tuhan sejak awal mula dan sepanjang jalan kita, guru-guru mengatakan itulah satu-satunya penyelamat kita, dan membedakan kita dari orang-orang yang menggilai dunia, dari orang-orang yang semata-mata dunia saja.

JINGGA-JINGGA MAGHRIB

Kau tahu kenapa aku bodoh?

Orang pintar, menyingkap hikmah dibalik kejadian, dalam hitungan hari, mungkin jam, mungkin menit. Sedang aku butuh bertahun-tahun.

Tahunan. Perasaan tidak nyaman itu membebaniku. Apakah aku mengambil pilihan tepat? Kuliah di jurusan Geologi yang berkutat dengan batu. Interaksi kami adalah dengan batubara dan intan. Kami mengakrabi minyak mentah. Padahal sedari dulu aku mengidam-idamkan bersinggungan dengan banyak buku tentang manusia. Belajar watak-watak. Memahami propaganda-propaganda yang merubah wajah sejarah.

Ingin putar haluan, rasanya tidak mungkin. Ada kan, pilihan-pilihan dimana setelah itu kau tidak bisa kembali, tidak bisa berbalik, tak ada lagi pilihan baru. Seperti itulah. Debu, pasir, batu, rongga-rongga, air, minyak dan segala yang terbenam di balik kulit bumi ini aku jejalkan ke kepalaku. “malang-malang putung”. Mencoba mencari kenikmatan dari sebuah dunia asing. Kau menjadi turis, di tempat wisata yang tidak hendak kau kunjungi.

Waktulah, yang kemudian kurasa mengakrabkanku dengan semuanya. Dengan kampus berdebu itu, dengan kawan-kawan yang asing itu, dengan laboratorium fosil-fosil, dengan skripsi dan penelitian-penelitian di tempat-tempat yang jauh.

Ternyata aku menikmati petualangan itu. Logika bahwa konstelasi perbatuan tidaklah homogen di semua tempat, berimbas pada sebuah kenyataan manis bahwa kita haruslah berjalan-jalan terus. Maka suatu kali pergilah aku dan berapa orang teman menuju pedalaman hutan kalimantan. Seperti orang bodoh kami berfoto-foto dulu di depan pesawat lion air. Ini penerbangan pertama kami. Seumur hidup kami dibesarkan dalam tata nilai yang miskin uang, hari ini kami naik pesawat. Kami dibayar. Sebuah konsultan penambangan memerlukan jasa kami, maka kami dengan senang hati meng-amini.

Tinggal di hotel kelas melati. Berjalan-jalan sore di pinggir jalan dekat jembatan besar. Jembatannya tidak indah, tapi kami di negri orang ini, di negri orang!!! Sepanjang tahun kami memimpikan petualangan indiana jones, sekarang kami ada di borneo, dan esoknya kami menelusur sungai mahakam. Dengan sebuah kapal mesin bising. Sebentar kami naik ke atas geladak, sebentar ke bawah, ke ujung buritannya, kami norak dan berbahagia. Malamnya kami tidur di atas atap. Kapal mesin melawan arus dari hulu, berjalan seperti kura-kura berapa knot, kami berselimut kain kotak-kotak, menutup kepala kami dengan sebo, dan memandang bintang kerlap-kerlip. Kami berharap malam itu tidak hujan. Nyatanya memang malam itu tidak hujan. Dan nyamuk liar hutan berbaik hati untuk tidak sowan ke kami. Lelap………………… Tenang……………………….. Tidur membawa kami dalam ekstase paling hening. Kapal meliuk-liuki meander. Kata orang ada kera-kera berlari-larian diatas mangrove, banyak nokturnal, tapi kami tidak lagi tahu, kami tertidur sampai pagi tiba.

Setibanya di dalam belantara, lama kami berjalan, menaik turuni morfologi yang berundak-undak, bertemu rusa. Ah… ini semakin menjelma filem saja. Kami takut-taku kalau pipis sendirian, kata orang dayak banyak beruang, tersembunyi dibalik-balik siluet gelap kayu-kayu hutan.

Malamnya kami tidur membujur di “bifak” darurat. Dua potong kayu sebetis diletakkan berjajar di atas tiang-tiang kayu penopang. Lalu dibentangkan karung plastik di tengah-tengahnya. Disana kami membaringkan tulang punggung yang gemurutuk. Seharian berjalan-jalan puluhan kilometer mungkin membuat ruas-ruas tulang belakang kami beradu. Berapa jejer ranjang darurat itu dipisahkan dengan kelambu-kelambu warna hijau tua tentara. Meski di hutan kami masih butuh privacy. Dinding yang memisahkan kesendirian kami yang introvert dengan kawan sebelah yang hanya berjarak centimeter.
Tidak seperti nyamuk, suara tidak bisa dihalau oleh jejaring bolong-bolong berapa mesh itu, dari situlah kami mebuka-katupkan mulut kami, mengirimkan gelombang suara hati kami ke kawan-kawan sebelah. Kami tetap tidur tengadah, pandangan kami terhalang atap kelambu yang gelap pekat, tapi kami merasa melihat bintang-bintang. Semenjak itulah, setiap malam kami bertukar cerita, tentang rahasia paling sudut yang tidak pernah kami buka sebelumnya.

Kumpulan lelaki-lelaki yang kelelahan. Suara tonggeret. Nada konstan air sungai yang berlari-lari berapa meter dari tempat kami tidur, dan gerimis kecil. Tidak ada yang sanggup melawan gendam semacam itu. Kami ceritakan apa saja. Kegelisahan skripsi yang mengganjal nyeri, kekhawatiran masa depan, impian pekerjaan, sampai pertaruhan siapa yang menikah lebih dulu diantara kami.

Hidup kami kemudian seperti siklus. Hutan. Kampus. Hutan. Kampus. Aku mulai mensyukuri keberadaanku. Mengakrabi batu dan minyak ternyata mengantarkan aku pada pilihan-pilihan yang cepat. Setelah predikat sarjana, aku langsung menyandang predikat pekerja. Pilihan pekerjaan yang luas, gaji yang mencukupi. Dan pertanyaan tahunan yang terbayar.

——oOo——

Tepi Laut. Pinggiran delta mahakam

Kau tahu kenapa aku bodoh?

Orang pintar, menyingkap hikmah dibalik kejadian, dalam hitungan hari, mungkin jam, mungkin menit. Sedang aku butuh bertahun-tahun.

Tahunan. Perasaan tidak nyaman itu membebaniku. Apakah aku mengambil pilihan tepat? Bekerja di perusahaan multinasional, menghabiskan hari dengan bepergian ke banyak tempat. Terapung di tengah laut. Mengakrabi reaksi polymer. Menghitung tekanan hidrostatis. Berkutat dengan angka-angka, padahal tahun-tahu lalu aku mengidam-idamkan bersinggungan dengan banyak kertas tentang batu, persembunyian minyak-minyak, goa-goa intan dan emas.

Bekerja, di tempat yang tidak se-ilmu dengan pendidikan kesarjanaanmu terkadang meletupkan konflik-konflik. Di sinikah, kau akan menghabiskan sisa hari tuamu? Aku sering bertanya seperti itu. Biasanya diriku lambat menjawabnya dan aku menjadi kesal. Kesal terhadap orang lain masih bisa kita lampiaskan, tapi kesal terhadap diri sendiri membuat kita menjadi hilang arah.

Sore ini, hujan baru selesai. Dek paling atas dari sebuah anjungan pengeboran ini kalau sore memang menjadi tempat favorit buatku. Memandang burung-burung camar yang terbang, sesekali elang yang berputar-putar bermanuver jatuh drastis, lalu membubung lagi ke awan, dari permukaan laut yang berkecipak, setelah seekor ikan naas terjepit cakar dan terbawa terbang ke atas sana. Ini perkara takdir. Mataku silau oleh sinar matahari yang menusuk retina, menyipit berair dan aku seka dengan telapak tangan, entah kemana hilangnya diorama tadi.

“so….. where will you go afther this?”
seorang bule tua. Berwajah eropa yang tidak terlalu asing. Duduk di sebuah kursi panjang basah sisa hujan. Menenteng mug putih berisi cappucino. Diseruputnya sebentar, lalu ber”ahh…” yang nikmat. Dia melihat pantulan mentari tua di laut yang beriak pelan habis hujan, seperti agar-agar yang memantulkan warna tembaga. Aku agak tersinggung sedikit, dia muncul begitu tiba-tiba, dan secepat itu pula dia bertingkah seperti tidak melontar tanya apa-apa.

Where will I go after this??

Sesore ini, hari seperti menyajikan drama melankolis yang hampir utuh. Dimulai dari hujan reda, lalu aku jalan berjinjit-jinjit di dek paling atas anjungan pengeboran ini. Ada helikopter yang meronta-ronta turun ke helipad, aku berlindung dibalik kanopi yang dari atasnya angin blingsatan ber-wus-wusss. Lalu aku kembali ke pinggir setelah chopper itu terangkat dan pergi lagi, meninggalkan sepi yang kontras. Sunset…….. Camar………….. Elang………… Nelayan……………. Apa lagi yang kurang????

Kuhirup nafas dalam-dalam, dan berharap membuka mata ketika matahari sudah ambruk kebalik ufuk, diganti jingga-jingga maghrib yang tua. “Where will you go after this??” seketika bule tua seusia bapakku itu datang, dan lamunanku buyar.

“what do you mean, sir?”

Sruuup….. dihirupnya lagi capuccino di mug-nya itu. Aku tidak pernah mau meminum kopi dari coffe maker di ruang tengah itu. Aku tahu itu kopi yang sangat kuat. Sedikit saja bisa memicu jantungmu berdegup seharian, tapi dia seperti menikmatinya.

Lalu dia bangun dari duduk, dan mendekatiku yang bersandar ke handrail membelakangi laut. “I will be leaving this country in a few months. And you, what will you do? Will you stay here and enjoying what you are doing now, or will you quit and start for a new job? I see you are not quite satisfy with your assignment now”. Katanya.

Dia bule perancis. Francois. Nama yang umum dikalangan prancis. Tidak semua orang luar datang dan hidup dengan keseharian yang congkak. Nyatanya aku cukup nyaman bekerja dibawah supervisi orang seperti dia. Dia meresapi keindahan sore seperti yang aku biasa lakukan, sesaat aku merasa bisa dekat dengan beliau, maka aku membalikkan badan juga, menghadap laut yang menghembuskan angin berputar-putar. Baju kami berkibar. Kondisi yang gagah sekali untuk memulai percakapan serius.

“you sir……………….. what will you do after you leave?” aku balik bertanya. Dalam kondisi ini, kita berlomba dengan waktu. Keindahan sore itu diberikan hanya dalam hitungan detik. Kalaulah sibuk-sibuk aku menjelaskan kegundahanku, segala rencana-rencanaku, tapi sebentar kemudian malam sudah menaklukkan senja, aku mungkin akan menyesalinya berminggu-minggu kemudian. Tadinya aku ingin mengambil mug itu dari tangannya, dan ikut menyeruput kopi, seperti keakraban yang biasa aku saksikan di film-film barat. Tapi tersadar film kebanyakan menipu, jadi aku memilih diam. Biarlah dia minum sendiri capuccino itu.

“I think, I will spare more time for my family” dia bicara dengan aksen inggris yang prancis. Sengau-sengau yang tidak menggangguku. Aku separuh melihat matahari terbenam, separuh melirik dia. Dia melanjutkan
“you know……when I was young, I used to work in a place that I think cool. Work in a job that looked smart. And by no time, I lost my time, I have no time for family. All the jobs that made me headache…..”

satu sluuurpp lagi, dari tadi dia berbicara dengan memandang ke gurat-gurat awan.
“and now…I just realize one think….”

Digantungnya kata-katanya di awang-awang. Angin ber-wus-wusss lagi dari kanan kami. Aku menahan diri untuk tidak bertanya. Tapi usia membuat dia seperti pasti menang dalam permainan kata-kata ini.

“and what is that……???” aku bertanya dengan intonasi yang sedatar mungkin. Akting tidak tertarik yang hebat, aku mainkan, tapi mataku bergerak-gerak beda.

“work, is all about giving something to your family! You feed them. Buy them what they needed. And the most important is you’re not loosing your time for them, because you live only once”.

Aku lupa pada temaram yang hampir padam. Tidak peduli juga pada bulan yang kelihatan siluetnya putih lengkung dan tergerek naik. Kususun-susun kalimat padanan yang sama puitisnya buat dia, tapi aku kalah bahasa. Membuat kalimat dalam benakku, memuitiskannya, dan mentranslatenya ke inggris adalah pekerjaan sulit.

Dia berbalik badan. Melangkah tap tap tap di deck dari plat besi itu. Genangan air pecah dilindas bootnya yang hitam, aku masih termenung gagap sambil mengiya-iya-kan bahwa dimanapun kita bekerja, apapun yang kita kerjakan, sesungguhnyalah kita tidak banting tulang untuk pekerjaan itu, bahwa hal yang kita cari jauh lebih prinsip dari baju seragam apapun yang kita pakai. Kumasukkan tangan ke dalam saku baju coverall, sambil tersenyum membatin, bapak ini boleh juga

lalu tanpa berbalik dia setengah berteriak “come on in, its dark now!!!”

aku mengikuti langkahnya, genang-genang air berkecipak di dek, dan di belakangku semburat awan berwarna jingga-jingga maghrib.

Kau tahu, kenapa aku bodoh???

MENGUKUR DIRI

Ada satu babak, dalam kehidupan kita semua, dimana kita akan mulai bertanya-tanya dan merenungkan sesuatu yang abstrak. Absurd dan tidak bisa kita ceritakan kecuali kepada orang-orang yang juga pernah mengalaminya.

Kita mungkin termasuk satu diantara konstelasi jagad raya orang-orang yang merasakan kegelisahan dan kehampaan dalam hidup kita. Disela-sela kesendirian kita; kita sering bertanya-tanya kepada batin kita sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang absurd semisal “Siapa saya ini sebenarnya? Untuk apa saya hidup? Kemana harus menuju? Hidup kok seperti hambar dan tak berarti? Apa yang salah dengan kehidupan saya?”

Sebagian orang, mengatasi kegamangan pertanyaann itu dengan membuat kesadarannya lupa akan apa yang dia renungkan. Mereka berlari ke gunung. Nonton bioskop. Safari bersama kawan-kawan, dan macam-macam lagi. Efeknya mungkin terasa untuk sementara, mereka tidak lagi bertanya-tanya dalam hatinya karena disibukkan oleh hal lain, tetapi sebenarnya mereka tidak pernah menyentuh pokok permasalahan; bahwa ada bagian dalam dirinya yang ingin tumbuh dan menjadi dewasa dengan pengertian-pengertian yang lebih bijak.

Orang-orang arif mengatakan, saat kita sudah mulai bertanya-tanya tentang makna hidup, itulah pertanda bahwa Tuhan memberikan rahmat kepada kita. Rahmat itu berupa kegelisahan dan perasaan gersang akan keadaan; yang menjadi bahan bakar bagi diri kita untuk bergerak dan mencari-cari jawaban. Dan satu-satunya yang bisa menentramkan diri kita atas pertanyaan-pertanyaan absurd semisal itu adalah kesadaran hati bahwa sebenarnya kita sedang meniti jalan kembali kepada Tuhan. Kepada Dialah kita menuju.

Orang-orang yang terpantik kesadaran hatinya untuk kembali kepada Tuhan, biasanya akan melewati gerbang-gerbang pendewasaan diri. Tempo-tempo kita bisa merasa begitu sungkan untuk beribadah karena melihat dosa-dosa yang telah kita lakukan sebegitu banyaknya. Padahal, guru-guru mengatakan bahwa sadar akan kekhilafan adalah baik; akan tetapi penyesalan yang ekstrim sampai merasa diri tidak layak kembali ke Tuhan dan terlanjur basah ya sudahlah- adalah tipuan yang sangat halus dan harus kita hindari.

Orang-orang yang terpantik kesadaran hatinya untuk kembali kepada Tuhan, biasanya akan melakukan segala cara untuk mendekatkan dirinya kembali kepada Tuhan. Apatah itu memperbanyak ibadah sholat kita, ataukah puasa kita, ataukah dzikir kita, dan kita akan melakukan itu dengan semangat yang luar biasa karena kita baru saja menemukan arah baru dalam orientasi hidup kita.

Istilahnya semacam mengejar ketertinggalan. Semacam kesadaran bahwa hidup tanpa welas asih Tuhan itu ndak enak. Hidup dalam segala kemelut rasa dalam hati itu; ndak enak. Kita ingin sekali dekat kepada Tuhan.

Tapi sangat mungkin dalam terus mengejar ketertinggalan itu kita letih. Perjalanan itu alangkah panjangnya? Jalan itu alangkah terjalnya. Kesunyian itu alangkah mencekamnya. Dan bagaimana cara menempuhnya?

Semakin kita ingin mencegah hati ini dari rasa marah, semakin kita marah. Semakin kita sibuk mengatur hati ini untuk tidak iri misalnya, semakin kita iri. Semakin kita mengatakan kepada hati saya untuk tidak galau, semakin kita galau.

Apa yang salah?

Demikian lama saya berputar-putar mencari jawaban, hingga akhirnya dipertemukan dengan orang-orang arif yang mengingatkan bahwa ‘untuk berjalan menuju Tuhan-pun, kita butuh pertolongan Tuhan’.

Tiada daya berketaatan, dan tiada daya meninggalkan segala salah dan dosa kecuali dengan pertolongan Dia.

Orang-orang arif mengatakan kuncinya sederhana saja. Mindset kita harus dirubah, dari merasa ‘kita berjalan menuju Tuhan’ dirubah menjadi ‘kita minta pertolongan Tuhan untuk diperjalankan menujuNya’.

Jadi ketika terhantam masalah, tidak usah sibuk melihat kedalam batin dan merekayasa agar tidak galau. Tapi kembalikan seketika itu juga kepada Tuhan, dan berdoalah bahwa betapa tanpa pertolonganNya kita ini tidak akan mampu terlepas dari gelisah dan was-was. Setelah itu lepaskan saja.

Saat kita iri kepada orang lain, tidak usah sibuk melihat kedalam batin dan setengah mati menahan rasa iri. Melainkan berdoalah dan mengadulah kepada Tuhan bahwa betapa tanpa pertolongan Dia kita tidak mungkin lepas dari kebencian melihat kebahagiaan orang lain.

Saat kita jenuh beribadah dan terasa hambar segala pengabdian, tidak usah sibuk merekayasa agar sholat dan zikir kita menjadi haru dan penuh isak tangis. Melainkan berdoalah dan mengakulah, bahwa betapa tanpa Dia, kita tidak akan pernah mengerti makna kehambaan yang sebenarnya dan tak akan pernah mencecap nikmatnya beribadah.

Tugas kita hanya mengukur diri saja rupanya. Dan menyadari, bahwa tidak satu tapakpun perjalanan kita mengenalnya akan berhasil, kecuali Allah sendiri yang menuntun kita kepadaNya.

 

GREGET PERSANDARAN

Kemarahan kuli-kuli panggul alat-alat pengeboran itu sudah memuncak, tapi untungnya saya dan seorang rekan diselamatkan oleh seorang Bapak yang begitu santun dan penyabarnya. Beliau adalah wakil dari penanggung jawab pengeboran itu.

Pasalnya, saya dan seorang rekan bertugas merintis jalan menuju camp, dengan bermodal GPS. Tapi GPS tak berkutik dalam hutan hujan tropis yang lebat, sering tak ada sinyal, dan walhasil setelah berjam-jam berputar putar, kami kembali ke tempat semula. Letih sekali tentu, tapi para kuli panggul itu lebih letih lagi, karena mereka membawa segudang perkakas dari besi, dan hampir saja kami dilabrak jika tidak seorang Bapak tadi menyelamatkan kami dengan retorikanya yang halus menenangkan para kuli panggul.

Sekarang, setelah bekerja pada dunia yang sedikit berbeda, pengeboran migas, setiap kali saya bertemu dengan seorang pimpinan yang bisa tetap tenang dan santun dalam kekalutan saya pasti teringat beliau. Resepnya sederhana saja rupanya, beliau selalu memandang ada Tuhan dibalik setiap kejadian. Bahwa sechaos apapun tampaknya sebuah peristiwa, tidaklah seperti sapi liar yang mengamuk tanpa kendali. Tetap dibawah pengawasan Tuhan, ada campur tangan Allah pada segalanya. Itu yang membuat beliau tetap kukuh dan stabil dalam kemelut.

Saya mengerti logika itu secara keilmuan, ‘ada tangan Tuhan dalam setiap kejadian’. Tetapi betapa sulit menjadikan logika keilmuan itu mewujud dalam karakter pribadi saya.

setiap menghadapi kekalutan saya ikut kalut juga. Saya tidak pernah setenang beliau itu. Tidak pernah. Meski secara teoritis saya tetap ingat bahwa Tuhan berkecimpung dalam segala apa yang terjadi.

Lama saya merenungkan kenapa saya susah menyandarkan segala sesuatu kepada Tuhan? Sampai tiba-tiba saya tersadar bahwa hijab penghalang tebal itu rupanya bernama ilmu.

Ada sebuah ilustrasi yang mudah-mudahan mewakili. Jaman dahulu, jaman dimana keilmuan masih terbatas, seandainya ada orang yang sakit maka orang-orang akan berdoa kepada para dewa. Merapal mantra dan ritus-ritus lainnya.  Kadang-kadang sembuh, kadang-kadang tidak.

Setelah zaman semakin maju, dan kita bersentuhan dengan nilai-nilai kehidupan yang lebih islami, kita tahu bahwa konsepsi mereka tentang dewa-dewa dan Tuhan yang banyak adalah tidak tepat menurut kita. Dan di sisi lainnya, science mengungkap sesuatu yang tersembunyi bahwa penyakit demam katakanlah, sebenarnya hal yang lumrah dan bisa dihilangkan dengan paracetamol, bukan dengan mantra.

Kita maju pada satu level keberadaban yang lebih tinggi. Kita menjadi paham sebab-akibat dengan bantuan science, dan pada sisi lain keilmuan keagamaan membenarkan konsep tentang keTuhanan dari yang primitif menjadi lebih ‘langit’, samawi.

Tetapi ada yang rupanya kita tinggalkan. Semakin mengerti kita dengan logika sebab-akibat dalam kehidupan ini, semakin ‘greget’ persandaran kita kepada Tuhan itu berkurang.

Jaman dulu, saat orang-orang tidak pernah berfikir bahwa manusia akan bisa terbang, mungkin mereka berfikir bahwa hanya Tuhanlah yang bisa membuat keajaiban orang bisa terbang.

Kini? Setelah pesawat bertebaran dimana-mana, kita menjadi paham bahwa logika hukum alamnya rupanya berkaitan dengan daya angkat, perbedaan tekanan, dan lain-lain yang pada satu sisi mencerdaskan kita selangkah lebih maju, tapi pada sisi lain ‘greget’ bahwa tetap Tuhan yang mengangkat dan melambungkan pesawat itu; menjadi kurang.

Ini ironi yang menyedihkan. Setiap kali kita terbentur dengan suatu masalah dalam hidup kita, maka secara otomatis persandaran kita adalah kepada otak kita yang mencari-cari bagaimana logika sebab-akibat yang akan menyelamatkan kita?

Kita sakit langsung bersandar pada sebab-akibat yang kita paham, jika sakit persandaran kita adalah minum panadol mungkin. Jika galau yang teringat pertama adalah teman tempat curhat atau mungkin ke bioskop. Jika ingin membeli rumah, maka KPR yang terbersit pertama. Tidak ada Tuhan disana.

Karena kita sudah mengerti bagaimana Tuhan “memainkan” hukum alamNya. Kita menjadi pintar, kita mencari akar penyelesaian perkara pada kemampuan kita memahami logika sebab-akibat. Tapi kita salah secara tata krama terhadap Tuhan.

Bagaimana kalau di kemudian hari kita menjadi sangat yakin bahwa kemestian sebab-akibat itulah yang menyelamatkan kita? Penyembuh kita adalah obat sakit kepala, yang menerbangkan kita adalah daya angkat pesawat, yang membuat bumi gempa adalah tumbukan lempeng?

Bahkan pada para pegiat spiritualitas yang rajin berdoa dan tafakur pun pada akhirnya paham sebuah sebab-akibat yang lebih musykil lagi. Bahwa doa kita terkabul bisa saja merupakan pancaran vibrasi gelombang otak yang kait mengait dengan kejadian di alam semesta dan menarik hal yang serupa dengan apa yang kita fikirkan. Bahwa ternyata segala sesuatu di dunia ini masuk akal. Dan disinilah ironi itu, semakin masuk akal sesuatu itu, semakin “greget” persandaran kita pada Tuhan; hilang.

Tentu kita bisa berdalih bahwa “tidak kok, ada Tuhan dibalik sesuatu”. Tapi setiap kali saya berdalih semacam itu, ada sudut lain diri saya yang mengaku dengan jujur, bahwa tidak ada “greget” dalam apa yang saya katakan. Saya sudah terlampau percaya kepada sebab-akibat.

Ironi ini harus kita pangkas sekarang juga. Sebelum kita tumbuh menjadi seorang yang beragama dalam keberagamaan yang begitu formal dengan segala tata aturannya, tapi tak punya sandaran kepada Tuhan. Kata orang arif, kita ini beragama tapi tidak bertuhan.

Seorang guru mengatakan, cara memangkasnya adalah dengan segera mengembalikan segala permasalahan dalam kehidupan kita, atau kebutuhan yang mendera kita; kepada Tuhan. Saat pertama kali kita menghadapi hal itu.

Kita sakit, langsunglah berdoa kepada Tuhan, dengan doa yang pelan dan merendah, sampai kita yakin bahwa dialah yang kuasa menyembuhkan kita. Lalu kita membeli obat.

Kita terbentur masalah keuangan, mengadulah pada setiap sujud yang tuma’ninah. Berdoalah bahwa betapa Dia maha kaya, betapa kita fakir, betapa tidak ada yang bisa menyelamatkan kita dari kesempitan ini selain Dia. Lalu setelah tambatan hati kita benar maka bergeraklah.

Apa saja. Apa saja yang menjadi kebutuhan hidup kita, masalah kita, berusahalah menegur diri kita agar yang pertama kali terbetik di hati adalah meminta tolong kepada Tuhan. Lalu setelah itu baru kita bergerak sambil menjaga persandaran yang benar itu.

Perkara nanti penyelesaiannya bagaimana, itu lain soal. Tidak harus keajaiban terjadi lalu serta merta masalah kelar. Bisa jadi kita tetap harus meminjam KPR, bisa jadi harus minum paracetamol dulu sekian hari baru demam reda. Tapi pandangan kita setidaknya lebih jauh dari sekedar tertumbuk pada logika sebab-akibat semata-mata.

Dalam gerak yang dibingkai nuansa minta tolong kepada Tuhan inilah, maka segala sebab-akibat ataupun keilmuan apa saja tidak akan menjadi hijab bagi kita. Sehingga mudah-mudahan jelas, bahwa ‘sebab’ itu adalah sesuatu yang diadakan oleh Allah, begitupun juga ‘akibat’ adalah sesuatu yang dijadikan ada oleh Allah.

Bahwa akibat itu lahir setelah sebab, karena memang Allah membuatnya begitu. Tidak berarti sebab dan akibat memiliki keterkaitan yang mutlak. Dan tidak berarti bahwa sebablah yang membuat akibat menjadi ada.

Seperti misalnya kita terbang pada sebuah pesawat, sesungguhnya Allah yang menggerakkan angin dan seketika setelah angin dibuat berbeda tekanannya maka Allah pula yang mengangkat pesawat itu ke atas.

Ada Dia dibalik segalanya. Bahkan dibalik sebab-akibat apapun yang telah kita pahami dengan ilmu-ilmu kita.

———
*) saya pinjem gambar ilustrasi dari sini

NAHKODA KEHIDUPAN

Banyak kejadian dalam kehidupan nyata kita yang rupanya tidak kalah drama dibandingkan cerita-cerita film. Sebagian malah lebih heroik, karena kekaguman kita bakal lebih merasuk dalam disebabkan kaget bahwa hal-hal semacam itu memang ada, di sini, di kehidupan nyata.

Seperti baru-baru ini, seorang kawan saya memberi kabar yang membuat saya terperangah seperti dia juga terperangah. Kabar itu adalah seorang rekan beliau yang bekerja di salah satu perusahaan minyak besar milik negara ini, mengundurkan diri dari jabatannya untuk mengabdikan diri menjadi tenaga pengajar bagi anak-anak TKI di malaysia.

Kenapa harus TKI dan kenapa malaysia? Saya tak sempat bertanya, keheranan yang tidak perlu itu tidak sempat muncul karena kalah oleh bersit rasa malu bahwa masih ada orang-orang yang bisa menukarkan pilihan hidup yang gampang dan basah oleh kemudahan keduniawian untuk kemudian memilih menjadi pejuang di jalan sepi. Menjadi bagian dari sedikit orang-orang mulia yang namanya jarang dicatut dalam buku sejarah.

Membayangkan keberanian dia dan membayangkan bahwa keputusan itu pasti telah dihadapkan pada berbagai-bagai saringan pertimbangan yang tak pernah mudah, sudah cukup membuat saya angkat topi.

Meneruskan kekaguman saya pada orang-orang model begini, Saya harus menghidangkan pada kawan-kawan sebuah cerita lainnya, demi untuk menselebrasikan kekagetan saya bahwa orang-orang seperti itu masih ada di tengah-tengah kehidupan yang kusut masai ini.

Kali ini sebuah kisah dari orang yang sangat akrab dengan keseharian saya waktu kuliah. Seorang lelaki tua dengan penampilan bersahaja dan jauh dari kesan meyakinkan. Saya juga termasuk yang menyangsikan bahwa beliau guru besar beladiri kungfu muslim.

Nah…salah satu bagian drama dalam hidup guru saya itu adalah bahwa dia memilih menyebarkan beladiri dan membangun sebuah rumah di kaki pegunungan pinggiran jalan Bandung-Sumedang, ketimbang menikmati hidup sebagai anak orang kaya di Sumatera, dan ketimbang menikmati glamournya strata kependidikan yang beliau dapatkan dari ITB. Betapa drama, bukan? Saya ingat beliau pernah bercerita bahwa orang tuanya mengeluh “sudah disekolahkan tinggi-tinggi malah ngajar silat”, begitu katanya.

Belakangan saya lebih meringsut dan merasa kecil lagi, karena ternyata beliau menjadikan beladiri hanya sebuah sambilan untuk kerja beliau yg lebih “bergengsi”, menjadi ustadz bagi orang-orang kampung sana. Gampang sekali menemukan beliau, tinggal tanya tukang ojek, diantarkan langsung sampai depan gerbang, saking santernya nama beliau. Atau mungkin juga saking heroiknya ini cerita kiai seperti jaman dulu, penyebar islam di pegunungan dan tangguh bukan buatan. Kurang heroik bagaimana lagi?

Yang saya salutkan dari orang-orang seperti itu adalah karena saya juga pernah berada dalam ambang keputusan yang berat, dan saya mengerti betul betapa memutuskan sesuatu hal yang akan mengubah keseluruhan sisa hidup kita itu tidak mudah. Salah-salah bisa hancur berantakan. Apalagi kalau kita sudah berkeluarga, sensasi ngeri-ngerinya itu jadi dobel.

Tapi memang kalau kita mau jujur, ada sisi terdalam batin kita yang ingin menjadi heroik dan merasa berguna. Lebih-lebih kalau kita baru sadar bahwa selama ini hidup kita kurang banyak menabur makna, terlalu banyak sia-sia, terlalu banyak dosa, dan segala penyesalan lainnya, lalu penyesalan yang luhur itu biasanya ingin kita wujudkan dalam sebuah perubahan hidup. Kita harus revolusi kehidupan kita sendiri.

Seperti cerita konyol saya dulu. Setelah berkeluarga dan punya anak, untunglah muncul sebetik kesadaran kalau selama ini saya sudah tak karuan menabung dosa. Sudah kotorlah istilahnya. Dan godaan bagi orang-orang yang kotor adalah merasa tidak layak untuk kembali ke jalan Tuhan.

Karna satu dan lain cerita, godaan itu berhasil saya lewatkan (saya pernah cerita ini dalam artikel lainnya) Pertaubatan tidaklah boleh surut meski dosa sedalam lautan, seluas mata memandang. Lalu muncullah keinginan saya untuk berubah.

Sempat terpikir apa baiknya saya berhenti saja dari engineer pengeboran migas? Lalu nyantri di pesantren. Belajar agama dari nol. Pergi ke arab. belajar hadist dari ratusan ulama, hidup berteman buku-buku arab klasik, dan membuat karya mengalahkan imam Syafii. singkatnya mendarma baktikan hidup saya untuk kebaikan.

Tapi dalam kegamangan itulah saya tersentak karena takdir mempertemukan saya dengan sebuah petuah dari seorang guru yang mewanti-wanti agar saya hati-hati dengan syahwat tersembunyi dalam kebaikan.

Mulanya saya tak paham, apa maksudnya? Tapi baru sekarang-sekarang saya sedikit mengerti, bahwa sewaktu saya ingin meninggalkan keduniawian saya itu; yang men-trigger saya bukanlah keinginan luhur mendarma baktikan hidup saya untuk Allah, melainkan hasrat yang benar-benar haluuus bahwa saya letih dengan hiruk-pikuk dunia, letih dengan dinamika keluarga, letih dengan ujian-ujian dan ingin berlari pada ketenangan.

Nah…ide bahwa keputusan besar dalam hidup saya ini ternyata disetir oleh keinginan yang samar untuk lari dari kenyataan hidup itulah yang berbahaya, kata guru-guru yang arif.

Karena sejatinya, “sakjane” kata orang jawa, setiap kita sudah ditakdirkan menapaki jalur masing-masing.

Bisa dibayangkan kalau saya berhenti dari dunia migas dan lalu nyantri lagi di pondok pesantren. Kasihan dunia migas kurang satu orang engineer. Dan ndak kebayang juga, betapa banyak waktu yang harus saya “sia-siakan” untuk restart ulang jalan hidup saya dari awal agar bisa jadi kiai tulen.

Ibarat kata, tak semua orang harus jadi petani. Ada yang jadi distributornya. Ada yang jadi tukang makan saja, tapi toh tukang makan ini yang menghidupkan para petani dengan membeli berasnya. Dunia butuh komposisi begini.

Yang saya ingin bagikan pada kawan-kawan, dari pengalaman kejiwaan saya adalah betapa penting melihat dengan jujur apa yang menyetir setiap putusan-putusan kita. Karena keputusan kebaikan sangat sering disusupi oleh syahwat-syahwat yang samar dan tersembunyi, yang sulit nian kita ketahui kalau tidak sering-sering mengamati dialog batin kita sendiri.

Ada orang yang jalannya adalah terjun total mengabdikan dirinya pada jalur sepi pengajaran keagamaan, jalur sepi pejuang-pejuang pendidikan. Tapi ada juga orang-orang yang jalannya adalah bergelut dalam kancah keriuhan keduniawian. Itu sudah takdirnya dari sono begitu.

Masalahnya bukan mana yang lebih terhormat, tapi masalahnya adalah bagaimana kita dengan jalur yang sudah Allah tetapkan ini bisa sebesar-besarnya memberikan sumbangsih bagi hidup.

Kita Bisa mengenal Tuhan lewat berbagai-bagai jalan. Kita bisa menjadi khalifah Tuhan yang mengelola dunia ini dalam kedinamisannya dan mengurangi jatah orang-orang kemaruk, sombong, perusak, dan lain sebagainya karena posisi-posisi penting “duniawi” dinahkodai oleh orang-orang shalih terpecaya dan handal.

Lantas apa tak boleh kita pindah jalur? Ya boleh…tentu boleh, kata guru-guru.

Tapi kalau yang memindahkannya adalah Allah. Bukan nafsu kita. Artinya saat memutuskan itu kita sudah selesai dengan dinamika diri kita sendiri. Sudah bisa mendengar detak hati kita sendiri.

Dan saat itu kita PASTI tahu bahwa kita harus pindah. Ada sebuah kemauan kuat yang menarik-narik kita ke lain jalur. Kemauan kuat yang bersih dan bebas dari syahwat-syahwat yang licik bersembunyi, seperti kemauan mulia orang-orang yang kita kutip di awal tadi.

Dan sakjane lagi, apapun jalur kita saat ini, inilah amanah Tuhan untuk sebaik-baiknya dinahkodai dan dijadikan tunggangan mengenalNya.

DARI KERAS KE LEMBUT

Dalam kisah-kisah jagoan dunia persilatan di komik-komik, sering sekali kita menemukan cerita sang tokoh yang tadinya menguasai olah kanuragan aliran keras, lalu pada puncaknya malah diajarkan aliran lembut yang halus. Dan transisi antara dua jenis aliran ini tidak selamanya gampang.

Pada beladiri yang dulu saya pernah tekuni-pun logika ini mirip-mirip. Awalannya diajarkan tinju wigu yang keras dan frontal, setelah matang nanti akan diwejang tangan kipas, mirip-mirip taichi sedikit. Dan saya seperti robot kaku waktu mempelajari bab kelembutan itu dulu. Saya kira sudah mantap, tapi lalu malu sekali waktu diperagakan oleh seorang yang begitu saya hormati kerendahan hatinya, gerakannya seperti air mengalir.

Memang hidup ini seperti kungfu, setelah belajar segala sesuatu yang keras dan frontal ada masanya kita beralih pada sesuatu yang lebih lembut dan halus. Logika ini memang sedikit tidak kontekstual, tapi saya senang dengan pengibaratan begini, karena kenangan tentang beladiri yang bersipadan dengan realita hidup memunculkan heroisme dalam benak saya.

Heroisme model begini seperti waktu kecil bermain perang-perangan dengan kawan-kawan, kita hampir tidak pernah berfikir tentang sesuatu yang halus-halus, yang abstrak-abstrak. Pusaran konstelasi kehidupan kita begitu sederhana. Makanan. Mainan. Candaan dengan kawan-kawan. Dan sesuatu yang begitu kasat mata sekali. Memang masanya begitu.

Setelah kita dewasa, sepertinya kita diletakkan pada gugusan konstelasi yang berbeda. Semestinya yang menjadi pusat daya tarik kehidupan kita sudah geser sedikit, dari yang terlalu kasat mata menjadi sesuatu yang halus dan tak terindra. Dari makanan, mainan, uang jajan, menjadi keinginan untuk aktual, kebutuhan untuk dicintai, kehausan akan rasa aman, dan yang halus-halus semisal itu.

Masalahnya, transisi ini begitu apiknya, pelan-pelan, dan tidak kita sadari, karena kita tidak pernah terbiasa mengamati detail-detail batin kita sendiri. Tahu-tahu saja kebutuhan kita sudah masuk dalam tingkatan yang pelik itu, tapi kesadaran kejiwaan kita masih tertambat pada hal kasaran yang kasat mata. Jadi kita keliru-keliru menerjemahkannya.

Saya ingat sekali saya pernah bengong cukup lama dalam fase ini. Bekerja sudah. Menikah sudah. Punya rumah dan kendaraan sudah. Lalu setiap hari saya jalani dengan jurus yang sama, menggeluti rutinitas dan mengumpulkan apa yang semestinya dalam logika saya; saya kumpulkan. Uang, sederhana saja. Tapi kok ada yang kurang ya? Apa itu?

Ada orang yang sampai dia dewasa, masih mencari-cari. Mencari ini bisa jadi suatu kebaikan, jika setidaknya dia mengerti kemana harus menuju, artinya pencarian yang dia lakoni adalah suatu tahapan perkembangan yang lumrah sekali. Seperti seorang murid yang belajar beladiri, dia sudah tahu bahwa levelnya sudah naik, dia sudah belajar rangkaian jurus yang tipikalnya sama sekali lain dengan yang sebelumnya dia pelajari, tapi karena hal itu baru maka dia masih salah-salah sedikit, dia masih mencari bentuk yang pas agar dia bisa ketemu pada harmoni. Pencarian model ini, bagus.

Tapi ada jenis pencarian yang salah arah. Yaitu orang yang tidak tahu bahwa semakin dia dewasa, sebenarnya kebutuhan yang dia cari adalah semakin halus dan abstrak. Sehingga dia masih terpusar-pusar pada hal-hal kasat mata yang selamanya tidak akan memenuhi dahaga jiwanya. Misalnya dia kerja terus menerus. Dia mengira itulah yang akan memenuhi ruang jiwanya yang kosong. Semakin dia gila kerja, semakin dia tidak menemukan apa yang dia cari. Karena harta, pekerjaan, uang, itu adalah sesuatu yang kasar, kasat mata, yang memang menjadi kebutuhan kalau kita ada pada level pemula, tapi menjadi tidak pas kalau level kita sudah naik.

Kesadaran akan posisi kejiwaan kita, apa yang sebenarnya sedang menjadi kebutuhan sebenarnya dalam hidup kita; saya rasa bisa menjadi rem yang pakem untuk menghindarkan kita dari keliru menuju.

Karena kekeliruan ini kadang bisa sangat gampang diketahui, kadang-kadang rapih nian tersembunyi. Misalnya, dalam satu fase hidup saya, saya pernah merasa begitu tertinggal dan ingin mengejar ketertinggalan kebijakan hidup itu dengan membaca. Maka saya gila membaca, saya baca semua membeli begitu banyak buku. Padahal setelah saya merenung lagi, saya jadi tersadar, membaca sedemikian banyak buku tidak sama dengan mendapatkan kearifan hidup. Terus mengumpulkan wacana, mungkin hanya memenuhi ruang logika saja, dahaga otak untuk bergelut dengan wacana dan debat-debat ilmu. Sedangkan kearifan hidup yang sebenarnya adalah dengan melihat kedalam diri kita, lalu konsisten pelan-pelan mencari letak salahnya kita selama ini.

Tentu boleh sekali membaca, tapi lebih boleh lagi jika kita menyaring apa yang kita baca sebatas apa yang benar-benar bisa aplikatif dalam hidup kita, dan lebih boleh lagi jika setelah membaca hal-hal yang aplikatif kita sejenak menutup buku dengan segala teoremanya dan menyempatkan diri untuk melukiskan kebaikan-kebaikan dalam wacana lembaran itu menjadi pengalaman hidup kita.

Dan kalau boleh saya mengutip lagi kekisah di kearifan dunia beladiri, betapa sering saya menyaksikan, di puncak pencapaiannya dalam beladiri, orang-orang yang saya kagumi itu alih-alih petantang-petenteng tapi malah biasa saja dengan beladirinya. Karena semakin menghayati hidup, semakin tahu kemana menuju.

Kalau boleh saya sederhanakan, semakin dia dewasa, semakin pencariannya berubah arah. Dari menelusur ke luar dirinya, menjadi berbalik ke dalam dirinya. Dan segala pertanyaan yang absurd tentang makna dan kesejatian hidup itu hampir pasti ditemukan di dalam diri kita sendiri. Bukan lewat harta, bukan lewat orang lain, bukan juga lewat tumpukan buku-buku.

Memang semua itu sebenarnya hanya alegori kebijakan hidup, bisa pas, bisa tidak pas. Tapi mungkin kita akan sepakat bahwa kebijakan hidup bisa kita temukan sendiri-sendiri dengan awalan pertanyaan ini, dari mana kita datang dan kemana kita menuju?

 

 

——————

*) gambarnya sedikit ga nyambung sih, :-p, but eniwei itu gambar saya jepret waktu terjebak lumpur di jalanan Luwe Hulu Kalteng

ANAK SAYA KALAH X-FACTOR

Geli sekali saya mengingat fakta, bahwa bapak-bapak dengan umur lebih tua dari saya –termasuk saya sendiri-, di anjungan pengeboran tengah laut, malam-malam berkerumun di ruang TV untuk menyaksikan acara X-FACTOR. Kontes nyanyi menyanyi yang lumrah di TV itu.

Mulanya saya tidak memperhatikan, entah sudah sejak berapa lama acara kontes-kontes menanyi model apapun tidak menarik perhatian saya. Hingga saya melihat bahwa mulai dari Bapak-bapak sampai anak-anak ribut membicarakan ini, saya mulai penasaran. Dan menontonlah saya, meski kebanyakan hanya memantaunya dari youtube.

Dari ruangan kerja saya di tengah laut itu, sambil membunuh kebosanan, saya mengamati detail potongan babak dimana kontestan menyanyikan lagu dengan aransemen mereka yang unik-unik. Saya baru menyadari, betapa buruk perbendaharaan lagu yang saya miliki? Nyaris semua lagu yang dinyanyikan adalah lagu yang kali pertama saya dengar. Wacana seni saya sungguh memprihatinkan.

Sambil menikmati kekagetan akan fakirnya saya dalam dunia musik, saya membayangkan saya mengikuti kontes itu, tapi kemudian saya tiba-tiba teringat bahwa saya memiliki seorang anak di rumah. Seorang perempuan kecil satu setengah tahun. Mungkin ini gerangan alasan, kenapa setiap kali saya mencoba menghayalkan saya mengikuti kontes serupa; selalu ada mental block. Semacam barrier bawah sadar bahwa untuk sekedar imajinasi-pun, hal itu tidak layak. Karena sudah bukan masanya, ini masanya saya mendidik anak saya. Bukan masanya saya berjibaku dengan anak-anak itu.

Saya sebenarnya tidak yakin, bahwa acara kontes-kontes semacam ini bisa menghasilkan penyanyi yang dikenang sejarah. Sudah banyak sekali kontes, tetapi orang-orangnya hanya seperti bunga di musim semi yang singkat. Muncul, untuk kemudian pergi begitu saja tanpa dirindukan siapapun. Karena zaman sekarang mungkin musim semi siklusnya terlalu cepat. Hilang satu, digantikan lagi dengan yang lain.

Tapi seandainya anak saya besar nanti, saya tetap menginginkan berada dalam satu momen dimana saya mendampingi anak saya dalam sebuah perlombaan. Perlombaan apapun itu. Dan adegan yang paling saya nantikan pada waktu itu nanti adalah mungkin pemberitahuan yang dramatis, diselingi tetabuh drum yang ritmis dan mencekam, lalu sang MC membacakan keputusan bahwa anak saya…kalah.

Betapa mendidik diri untuk terbiasa mengikuti kompetisi itu sangat penting, tapi saya yakin yang lebih penting dari setiap adegan-adegan mencekam pengumuman hasil lomba itu adalah bukan nama kita disorak-sorai sebagai pemenang, tapi adalah bagaimana kita tetap anggun dan kharismatik meski tertakdir kalah. Saya yakin, anak saya akan lebih banyak belajar dalam momen kekalahannya dibanding dari gegap gempita kemenangan yang sebentar dan merapuhkan dirinya dalam segala puja-puji. Kalah, lebih sering mendewasakan orang ketimbang menangnya.

Saya ingat sekali dulu waktu gencar-gencarnya american idol, saya membaca pada sebuah artikel bagaimana runner-up American idol -edisi keberapa saya lupa- menampilkan wajah yang tetap tersenyum saat dinyatakan dia kalah, dan lalu mengeluarkan sepotong kalimat yang gagah, “Saya menunggu rekan saya ini, untuk bersaing pada panggung sesungguhnya, di luar ini nanti”. Dia kalah, tetapi anggun dan tidak kehilangan kekerenannya. Dan memang akhirnya pada industri musik yang lebih keras dan kejam kontes hidupnya dia lebih terkenal dan mereguk sukses. Sayang saya lupa namanya, memang perbendaharaan musik saya mengenaskan.

Tapi yang jelas, terlepas dari urusan seni, saya mengingat banyak sekali babak dimana saya kalah. Dan saya ingat bagaimana tempo-tempo itu saya bisa begitu emosional. Kalah main badminton tingkat RT, kalah pada lomba pidato tingkat provinsi, kalah pada lomba nasyid, berkali-kali kalah dalam persaingan sepuluh besar kelas, kalah dalam wawancara akhir saringan masuk BHMN, dan banyak cerita lainnya. Kekalahan yang tidak anggun.

Saya tersentak, kok ya hidup diwarnai terlalu sentimentil? Padahal betapa bergairahnya hidup jika selalu dinamis dan memperbaiki apa-apa yang kurang, tanpa menomorsatukan gelar.

Saya sudah memutuskan, akan mengambil penokohan seorang Bapak yang membesarkan hati anaknya yang mengalami kekalahan pertama. Tidak ada keharuan yang drama. Tidak ada tangis-tangis yang menye-menye dari saya. Hanya pengingat, bahwa betapapun tidak menjadi juara kali ini, kita tetap bisa terlihat anggun dan terhormat. Lalu menjadi lebih dewasa lagi dengan menganggap biasa saja dari segala yang luput, dan tak terlalu gembira pada yang teraih.

Tentu saya bukannya tidak mengaharapkan anak saya menjadi pemenang. Biarlah…kala dia menjadi pemenang nanti, dia sudah tidak membutuhkan dampingan Bapaknya. Karena pelajaran menjadi pemenang sudah saya ajarkan sejak dari dia jatuh bangun dalam kekalahannya yang memesona itu tadi. Selalu anggun dalam kekalahan, saya rasa sudah menang dengan sendirinya.

BERBOHONG KEPADA TUHAN

images

Saya ini ternyata sering bohong kepada Tuhan.

Berapa waktu lalu, saya sedang dalam proses perekrutan untuk masuk dalam salah satu BHMN di bidang regulator usaha hulu migas. Perekrutan itu begitu panjangnya, dan sempat pula berapa kali momen tes-nya berbenturan dengan jadwal kerja saya ke lapangan. Tapi alhamdulillah ada-ada saja jalannya sehingga saya bisa mengikuti tes hingga akhir. (Entah itu jadwal tesnya tiba-tiba direschedule berapa kali hingga saya bisa ikut, dll).

Awalnya saya bisa mengikuti tes ini dengan sikap mental yang biasa-biasa saja. Tapi semakin ke belakang, saat kandidat semakin sedikit, dan keberhasilan sudah di depan mata, saya sadar sikap mental saya sudah tidak lagi pasrah kepada Tuhan, melainkan kuat sekali keinginan agar saya lulus.

Saya sadar penuh akan perubahan kejiwaan itu, tapi saya tidak bisa keluar dari suasananya. Begitu besarnya tarikan nafsu itu, saya kewalahan menghadangnya. Awal-awal tes, saya bisa berdoa dengan tulus, “Ya Allah….sekiranya ini baik buat hamba, mudahkan…sekiranya buruk, gantikan dengan yang lebih baik.” begitu menjiwainya saya dengan doa itu, hingga saat jadwal tes berbenturan dengan waktu kerja; saya biasa saja. “ah…takdir Allah begitu”. saya fikir, lalu gulana hilang. Plong sekali rasanya. Eh malah tiba-tiba banyak kejaiban terjadi dan saya sampai pada tahap akhir wawancara.

Tapi saya sudah mulai merasa tak enak waktu tahap akhir tes itu. Mulanya saya berdoa di lisan agar Allah memberikan saya yang terbaik. tapi di sudut sana, di dalam hati saya, setelah saya renungi saya mendengar suara yang lain lagi, yang dengan lantang ingin agar saya lulus.

Saya merenung, apakah saya sudah bohong kepada Allah?? hingga saya akhirnya merubah redaksi doa saya, “Ya Allah…kenapa hati ini condong sekali pada pilihan nafsu saya sendiri?”.

Dan memang pada akhirnya saya tidak lulus. Sebuah ending yang klimaks, setelah segala keajaiban kejadian rasanya tidak bisa untuk tidak ditafsirkan sebagai pertanda baik; nyatanya saya tidak lulus.

Saya melisankan, “Allah tahu yang terbaik.” tapi hati saya sebenarnya sulit sekali menerima. Untuk apa Allah memberikan segala pertanda kebaikan ini, jika diujungnya ternyata saya tidak lulus? Saya cemas sekali, cemas pada kenyataan kejiwaan bahwa saya memprotes takdir Tuhan. bahaya sekali ini.

Selang satu minggu saja, dari pengumuman ketidak lulusan saya itu, BHMN itu dibubarkan oleh MK. saya kaget sekali, meskipun kemudian akhirnya bersyukur “untung saya tidak jadi masuk ke sana.”

Memang pada akhirnya BHMN yang dibubarkan itu tadi hanya berganti nama, situasi kembali stabil, dan beberapa orang kawan saya berhasil diterima bekerja.

Tapi saya sudah mendapatkan pelajaran. Bahwa sebenarnya saya belum bisa total bersandar kepada Allah. Saya sering menipu diri.

Saya lupakan kejadian itu, dan melanjutkan rutinitas seperti biasa saja dengan membawa sebuah pelajaran penting bahwa saya harus menyandarkan segalanya pada Tuhan.

Kemudian Allah mentakdirkan kenyataan yang baru lagi. Tawaran datang bertubi-tubi. Seorang kawan memberikan kontak project manager di negeri antah berantah jika saya ingin mencoba menjadi konsultan di luar negri. Selang berapa lama setelah itu, Kantor saya sekarang menawarkan saya untuk pindah dari engineer lapangan menjadi orang kantoran dengan sebelumnya ditraining dulu ke luar negri. lalu sebuah tawaran dari perusahaan saingan masuk ke email saya (saya sempat menolak tawaran ini, tapi kemudian dikirimkan lagi tawaran dari perusahaan yang sama tapi untuk area asia, bukan sebatas indonesia saja). Mana yang harus saya pilih??

Saya bingung. Dalam kebingungan itu saya lalu berdiskusi kepada rekan saya. Ngobrol-ngobrol dengan istri saya. Telpon orang tua saya.

Tapi setelah itu saya menyesal sekali. Ternyata saya masih juga belum beranjak dari posisi saya yang lama. Saat dihadapkan pada sesuatu, saya belum bisa otomatis mengembalikannya kepada Tuhan. Bukan Allah yang terbetik pertama kali dalam hati saya. Tapi nama seorang teman, tapi pendapat istri, tapi keinginan nanya ke ortu, segalanya ada dalam benak saya kecuali Tuhan.

kalaulah ada Allah-nya. pastilah itu hanya embel-embel. Usaha sudah, maka penutupnya doa. Kenapa Tuhan saya hampiri yang paling terakhir?

Saya bohong kalau saya mengatakan “kembalikan segalanya kepada Tuhan.” nyatanya lagi-lagi makhluk yang ada dalam pikiran saya pertama kali, secara otmatis. Saya belum memasrahkan segalanya kepada Allah.

Tentu saja saya harus berusaha. Dan diskusi pada rekan, pada orang tua, pada istri itu adalah bagian dari usaha. Tapi mestinya usaha itu didasarkan pada sebuah kemengertian hati bahwa tetap saja Allah yang saya gantungi harapan. Tetap Allah yang pertama kali tercetus di hati. Begitu ada sesuatu yang mengganjal atau harus diputuskan, saya tidak ingin ada siapapun yang menghuni ruang hati ini kecuali Tuhan. “Ya Allah…apa yang harus hamba lakukan?” Barulah setelah itu saya bergerak misalnya diskusi dengan orang lain, sambil di hati berharap Allah memberikan pencerahan lewat siapapun yang Dia kehendaki. Sehingga saat misalnya tiba-tiba hati saya mendapatkan kecenderungannya pada salah satu pilihan; lewat jalan berdiskusi dengan orang lain; yang terbetik di hati saya adalah “ya Allah..terimakasih, akhirnya Kau berikan pencerahan lewat orang ini”.

Tapi betapa hal yang begini ini sulit, jika tidak Allah sendiri memberikan rahmat.

Tiba-tiba saya ingat banyak kisah tentang orang yang karena urusan kencing saja jadi disiksa di kubur. Karena salah niat maka masuk neraka. Karena riya maka amal tak diterima. Karena jumawa maka dibalikkan kenyataan dirinya dari seorang abid jadi pendosa. Betapa banyaknya fakta bahwa sebenarnya manusia tidak bisa mencapai Tuhan dengan dirinya sendiri. Begitu banyaknya hal yang dikira sepele tapi ternyata berdampak besar.

Benarlah orang-orang arif yang mengatakan, andaikan kita mengandalkan amal kita untuk bargain dengan syurganya Allah, pastilah orang sedunia ini masuk neraka semua.

Apa yang bisa saya andalkan dari diri saya sendiri?

karena betapa pelik dan musykilnya perjalanan menuju Tuhan itu.

Betapa kacau balaunya penghambaan model begitu. Akhirnya saya duduk, diam, mengaku saja. “Ya Allah…mana mungkin aku mencapaiMu bila bukan Engkau sendiri yang mengantarkan aku padaMu.”

———–

note:
“Aku wasiatkan padamu wahai Mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan untuk berdo’a setiap akhir shalat
:Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.
[Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir pada-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].” (HR. Abu Daud)
*) gambar diambil dari sini

MANTRA KEBAHAGIAAN

kebahagiaan

Saya benar-benar merasa beruntung, untuk telah dikelilingi begitu banyak orang-orang yang kebaikan mereka sebegitu tertanam dalam memori saya. Sebagian orang-orang yang saya kenal ini memang sukses secara kasat mata. Misalnya saja rekan-rekan di perkuliahan saya. Saya menjadi saksi bahwa cerita tentang orang-orang dengan latar belakang keluarga seadanya, lalu kemudian berubah menjadi orang-orang sukses karena perjuangan mereka; tidaklah hanya ada pada sesumbar cerita-cerita motivasi. Ini real.

Saya tidak bisa untuk tidak bangga pada mereka. Tentu sedikit iri kadang-kadang juga ada, tapi saya menepis iri itu agar tidak menjadi pemantik untuk sebuah pertandingan yang tak perlu. Orang-orang yang lebih sukses daripada saya, di dalam hati saya, saya daulat menjadi guru kehidupan untuk saya. Tanpa mereka pernah tahu.

Tapi kadang-kadang, saya bisa menemukan kembali kegairahan untuk terus bekerja, tanpa perlu menjadikan iri pada orang lain sebagai bahan bakarnya. Dan sering saya menemukan juga, bahwa saya tidak perlu alasan yang terlalu filsafat untuk menghentikan iri dan pertandingan yang tak perlu dalam kehidupan saya. Cukup saya melihat sekeliling saya, dan saya akan menemukan orang-orang yang tetap berjuang dengan kebaikan dan ketulusan sempurna, tanpa aura kedengkian, iri hati, atau keinginan berpenyakit apapun itu. Meski secara hitung-hitungan sederhananya, saya lebih beruntung daripada mereka.

Keluarga Nenek saya di kampung, selalu menimbulkan kenangan yang baik dan enak. Mungkin saja, saya masih bertahan hidup dalam segala kebaikan kejadian, dan masih diselamatkan dalam segala kekhilafan yang tidak pintar, adalah sumbangsih doa-doa mereka yang tulus.

Waktu saya sedang bertugas di sebuah pengeboran migas di darat, saya lupa persisnya dimana. Jalanan menuju anjungan pengeboran itu dijeda oleh pemandangan gubuk-gubuk yang kecil, dan orang-orang yang melihat dengan tatapan yang tidak bisa saya artikan.

Saya tidak tahan untuk tidak sekali-sekali menoleh dan melihat rumah-rumah kecil yang mereka dirikan itu. Bukan semata soal mereka, tapi juga soal saya sendiri. Kemunculan mereka pada sebuah episode pekerjaan yang sudah demikian memutus memori saya tentang kebaikan orang-orang desa, seakan memanggil-manggil saya. Bahwa ada sesuatu yang harus saya jaga tetap sinambung. Ingatan dan rasa terimakasih terhadap segala yang berjasa. Terhadap keluarga Nenek.

Orang-orang yang saya lihat pada jalanan menuju area pengeboran itu, kalau secara kasaran saja, adalah orang-orang yang kalah beruntung dibanding keluarga Nenek saya. Dan keluarga Nenek saya, mungkin saja adalah orang-orang yang kalah beruntung dibanding saya. Tapi saya membatin sendiri sembari kerja. Ah…apatah keberuntungan itu?

Misalnya saja, saya tahu orang-orang di sekitar area pengeboran itu adalah orang yang mungkin tidak pernah mencecap pendidikan, tapi apa benar mereka tidak bahagia? Ada sebuah kenyataan bahwa mereka sedang berada dalam kehidupan yang bahagia. Versi mereka.

Bangun pagi, bertemu anak istrinya. Bercerita dan tertawa. Menanak nasi. Lalu sama-sama pergi ke kebun lalu menanam lalu memetik. Betapa hidup mereka begitu ramah dan berkelindan dengan alam. Mereka sudah benar-benar membuktikan filsafat rezeki yang dibaca orang-orang kota dari buku-buku di gramedia, ‘burung saja terbang di pagi hari, lalu kembali sore hari dengan perut kenyang”.

Di benak mereka, Tuhan adalah maha pengasih penyayang. Mereka benar-benar sudah menjadi penyaksi. Saat mereka mengatakan “aku bersaksi” maka kesadaran bahwa dunia ini dibanjur oleh welas asihnya Allah, benar-benar mereka rasakan. Tidak menipu.

Ada yang berdebat dalam benak saya. Baru saat itulah saya menyadari sebuah harmoni yang lain lagi. Harmoni itu adalah saat nurani kepahlawanan, kebaikan kita tersentil dengan ketimpangan sosial, lalu dengan semangat kita ingin membantu orang-orang seperti itu, umpamanya dengan pendidikan, dengan mengajari mereka baca- tulis- hitung, kita harus hati-hati menanamkan ide-nya kepada mereka. Dan ide-nya kepada diri kita sendiri.

Ide itu adalah, bahwa mereka sedang berbahagia. Dan kita datang untuk menggenapkan kebahagiaan mereka. Memberi wacana tentang berbagai-bagai model kebahagiaan yang harus dicecap.

Bukan lantas membanting mereka dari suasana kedamaian kejiwaan, “eh… kalian itu sebenarnya tertinggal, lihatlah orang-orang yang sukses, bisa baca, punya rumah, punya mobil, kalian tertinggal…hahahaha…kalian tertinggal….ayo bangun, kejar orang-orang itu.”

Saya yakin, orang-orang yang dipantik geloranya dengan isu klasik ‘ketertinggalan dari orang lain’ akan bisa bangkit. Tapi kebangkitan mereka ini sejatinya berbahan bakar amarah. Saya merasakan, memaksa orang lain untuk bangkit lewat mantra-mantra kemarahan dan dendam atas kesuksesan orang lain; adalah sangat tidak elok. Mereka bisa sukses terlihat pada kasarannya, tapi sebenarnya mereka sedang seperti kesetanan. Berlari terus, berlari terus…untuk tidak pernah menerima kekalahan. Dan yang lebih buruk dari itu adalah mereka belajar membenci kelebihan orang lain. Karena kelebihan orang lain, berarti kekurangan mereka, dan kekurangan mereka adalah tafsir dari tidak bahagia.

Apakah kita yang S2 lantas harus memandang dengan iba kepada orang-orang yang S1, sembari mereduksi kebahagiaan pada tataran gelar  tipuan semata. “Ah…kasihan benar orang-orang yang hanya S1 itu”. Dan siklus ini bisa bergulir seperti bola salju tak terkendali. Yang SMA memandang dengan penuh iba kepada yang tak berpendidikan.

Bukan tak boleh memajukan.Saya setuju tentang membaikkan peradaban. Betapa saya iri pada orang-orang tulus yang membangun negeri ini. Yang melihat mereka saya ingin beringsut hilang saja, sudahlah manusia ini tak ada apa-apanya, dan didalam kekecilan itu rupanya saya masih kecil juga dibanding orang-orang baik itu.

Tapi saya tidak setuju dengan ide bahwa orang-orang yang sedang kita ajak maju adalah orang-orang yang tidak bahagia. Maka mereka hanya bisa kita buat bahagia dengan mengajarkan sebuah lelakon “tidak mau kalah dengan orang lain”.

Saya teringat nenek saya. Tiada pendidikan. Baca tulis beliau tak bisa. Satu-satunya tulisan yang bisa beliau buat adalah tanda tangan beliau. Babak demi babak waktu kakek saya yang kepala sekolah itu mengajari istrinya sebuah tanda tangan sederhana sebagai kelengkapan syarat naik haji, saya ingat sekali.

Saya tahu kakek saya tahu istrinya tiada bisa membaca dan menulis. Tapi ada fakta bahwa kakek tak pernah saya liat memaksa nenek untuk bisa baca tulis. Dan tak pernah saya lihat kakek menatap nenek dengan sebuah pandangan yang mengasihani, karena kakek sadar bahwa kebahagiaan itu bentuknya tidak bisa diraba, dan tidak bisa dipaksa.

Toh saya senang, memiliki memori kakek-nenek yang begitu mesra. Sampai-sampai seloroh ibu saya adalah kalau kakek ingin pergi ke sungai dan hendak buang hajat, itupun dia gelisah mencari-cari nenek dulu. Hendak pamit. Jangan-jangan nanti nenek kebingungan mencari kakek. Betapa drama. Dan betapa nyata. Bahagia.

Tapi kakek juga seorang pemaksa, pada celahnya yang dia rasa tepat. Saya tak boleh minum, tak boleh makan, sebelum saya menamatkan mengeja bacaan pada buku yang dia beri. Kakek mengajari saya segala yang dia tahu.

Saya memberanikan diri berkesimpulan. Bahwa kakek mengajari saya, karena keterpanggilannya sendiri. Karena ingin memberikan wacana kepada saya bahwa ada berjuta-juta keajaiban di luar sana yang bisa saya ketahui lewat jendela aksara.

Tapi kakek tahu, bahwa kebahagiaan saya akan tumbuh lewat pemaknaan saya sendiri. Kebahagiaan nenek akan tumbuh dari penghayatan nenek sendiri. Karena eskalasi kebahagiaan itu bertingkat-tingkat. Tak terdefinisi. Berbagi saja. Sesederhana itu. Tak ada pesan-pesan kebencian. Tak ada mantra-mantra kemarahan. Tak ada pemaksaan kebahagiaan.

Mungkin karena menyadari betul bahwa kebahagiaan itu indah dengan rupanya yang fleksibel itulah, orang-orang desa bisa menjadi lebih spiritualis dibanding saya, dibanding kita.

Saya ingat, berapa bulan sebelum kematian kakek, kakek telah mengurus segala administrasinya, agar kelak saat beliau meninggal nenek bisa menikmati uang pensiun kakek tanpa repot. Kakek tahu nenek buta aksara.

Saya selalu membayangkan adegan opera, waktu nenek dengan kaca-kaca pada matanya mengenang kakek setiap kali mengambil uang pensiun. Kakek meninggal diawali dengan firasat yang indah dan penuh cinta. Firasat yang jarang kita temukan sekarang.

Dan yang terakhir bibi saya di sebelah rumah nenek. Dia saya ingat sebagai seorang yang jarang bicara. Tersenyum seperlunya saja. Suka memberi saya sangu kalau pulang kampung. Dan pekerja keras. Waktu bibi sedang menggoreng pisang dagangannya untuk biaya kuliah anaknya, dan asik ngobrol di depan rumah, tiba-tiba saja dia tergeletak dan wafat. Sebegitu sederhananya. Kata ibu saya waktu melayat, betapa teduh wajahnya.

Kepada orang-orang seperti ini. Saya sering merasa kerdil. Saya tidak mengingat satupun bahwa saya pernah berbuat baik kepada mereka. Sedang mereka dengan segala ketertingalannya yang jujur, selalu mengirimkan SMS bertanya kabar, mengirimkan doa, menjadikan saya sebagai contoh kebaikan untuk anaknya, dan banyak lagi.

Andaikan saja, saya diberikan ketrampilan untuk melisankan apa-apa yang saya fikirkan, saya akan menyempatkan diri, kembali ke sana, dan menggenapkan bakti yang belum tuntas.

Mungkin dengan mengajak mereka untuk menyerap ilmu-ilmu lebih banyak. Wacana-wacana lebih luas. Bukan perkara mereka tertinggal dan tidak bahagia. Bukan perkara ada orang lain yang ada pada puncak harta lalu harus kita gulingkan. Tapi semata urun terimakasih. Karena saya yang telah lancang untuk minim bertegur-tegur. Kepada mereka, dan kepada Tuhan yang telah mengaliri mereka dengan kejujuran yang manis sekali dikenang.

—–

note: gambar diambil dari sini