SPIRITUALITAS DAN JALAN MENCARI BAHAGIA (2)

Image result for happiness

Seseorang didatangi oleh peternak sapi, “apakah engkau melihat sapiku yang hilang? Aku tidak sanggup mengalami dua kedukaan sekaligus.” Kata sang peternak sapi itu kepada orang yang dia temui.

“Apa yang terjadi?” tanya orang yang ditemui itu.

“Duabelas sapiku hilang dari peternakan, setelah sebelumnya hama menyerang kebunku dan memusnahkan semua tanamannya.” Jawab peternak itu.

“Aku tidak melihat sapimu.” Jawab orang yang ditanyai itu. “Barangkali lari ke arah lain.”

Lalu sang peternak sapi itu pergi meninggalkan orang tersebut, bergegas mencari sapinya yang hilang.

Tak lama, orang yang ditanyai itu berpaling kepada murid-muridnya, ternyata beliau adalah seorang “guru” yang memiliki beberapa murid.

“Sahabatku, tahukah kalian bahwa kalian adalah orang yang paling berbahagia di dunia? Mengapa? Karena kalian tidak punya sapi dan tidak punya tanaman untuk kehilangan.”

Orang bijak itu, adalah sang tercerahkan yang begitu terkenal sampai sekarang, yaitu Pangeran Siddharta Gautama, atau dikenal sebagai Buddha. Orang yang tercerahkan.

Menekuni spiritualitas islam, membuat saya tertarik untuk membaca pendekatan spiritualitas dari dunia timur, dalam hal ini berapa hari belakangan saya membaca pendekatan antara Buddha dan Islam. Banyak para sarjana yang mulai menulis perbandingan ini dalam cara pandang untuk saling mengerti satu sama lain, mengerti bedanya dan mengerti persamaannya. Bukan untuk saling menghakimi.

Kembali ke ceritra di atas, dimana Buddha memberi tahu kepada para muridnya bahwa mereka adalah orang paling “bahagia” karena sejatinya hal-hal yang manusia kumpulkan seperti harta, membawa kebahagiaan yang temporer, saat harta itu hilang, ia malah memberikan kedukaan. Nah….. mengenali kedukaan atau penderitaan dan bagaimana menghilangkan penderitaan adalah poin utama dalam spiritualitas Buddhism.

Ada empat kebenaran mulia (four nobble truth) dalam ajaran sang Buddha: yang pertama adalah memahami tabiat dari “duka” atau penderitaan. Bahwa duka adalah segala hal yang memunculkan rasa tidak enak atau tidak nyaman baik fisikal maupun emosional / mental. Memahami bahwa ada sesuatu yang bernama penderitaan / duka, adalah point pertama.

Lalu memahami apa penyebab penderitaan muncul? Sederhananya, penderitaan muncul karena keinginan yang melekat (kelekatan). Ini adalah poin kedua.

Poin ketiganya adalah memahami bahwa penderitaan bisa dihilangkan, dengan cara menghilangkan kemelekatan terhadap keinginan-keinginan.

Poin keempatnya, adalah bagaimana praktisnya kita melepaskan kemelekatan-kemelekatan itu? Yaitu dengan menerapkan delapan Jalan (8 fold paths). Yang mana jalan ini semua bagus-bagus, semisal berpikir benar, bertindak benar, berkata benar dan seterusnya.

Karena bertumpu pada bahasan mengenai “bagaimana melenyapkan penderitaan”, maka tradisi spiritualitas Buddha sangat mahir dalam urusan menyelami psikologi manusia, bagaimana mengendalikan fikiran, “masuk ke dalam diri” lewat meditasi, dst.

Tradisi spiritualitas ini, kemampuan untuk masuk ke dalam diri, melepaskan kemelekatan, dst…. Sangat sedikit ditemukan di dalam islam (setidaknya sebatas pengamatan saya yang awam). Dan saya sendiri sering bertanya tanya mengapa spiritualitas islam tidak menekankan bahasan ini lebih jauh? Dan barulah sekarang saya mengerti bahwa pendekatan agama abrahamic, khususnya islam, agak berbeda dengan tradisi timur semisal Buddhism.

Spiritualitas islam mengawali perjalanannya dengan pengenalan akan Allah SWT. Yaitu Tuhan semesta alam.

Lewat keilmuan, kita pahami bahwa Allah SWT tidak mirip apa-apa, tidak serupa makhluknya, dialah Pencipta segala sesuatu, Penjaga segala sesuatu, DIA tidak memiliki awal dan akhir tetapi kepada segalanya DIA berikan awal dan akhir.

Pondasi keberagamaan agama samawi (islam khususnya) didirikan diatas kredo ini. Atau disebut tauhid.

Tauhid ini, oleh para ahli teolog / kalam dijelaskan dalam berbagai-bagai pendekatan. Misalnya pendekatan kalangan salafi dengan prinsip Tauhid Rububiyah, dimana kita harus meyakini bahwa Allah sematalah pencipta dan pengatur alam semesta, tetapi ini saja tidak cukup, harus juga meyakini bahwa Allah sematalah persandaran, yang disembah (uluhiyah), lalu saat seseorang sudah mengakui Allah sebagai pencipta, dan bersandar sepenuhnya pada Allah, maka akan pahamlah seseorang itu bahwa dunia ini adalah wahana dimana Allah SWT menceritakan sifat-sifatNya (Asma wa Shifat), yang mana sifat-sifat itu adalah “unik” milik DIA semata.

Kalangan aswaja, menjelaskan tauhid lewat pendekatan sifat 20. Yang sering kita dengar syairnya, Allah wujud, qidam, baqa…..dst…

Sedangkan kalangan arif, tidak hanya menjelaskan tauhid seperti dua kalangan di atas, tetapi secara lebih dalam mereka menjelaskan bahwa segala kewujudan makhluk ini tidak nyata, yang nyata adalah DIA. (ada yang menjelaskan ini dengan pendekatan bahwa dibalik segala sesuatu adalah DIA, seperti paham wahdatul wujud, tetapi ada yang mengoreksi itu dengan menjelaskan bahwa alam semesta ini dibandingkan DIA adalah seumpama biji pasir di gurun sahara. Jadi tidak tepat mengatakan bahwa disebalik segalanya ini langsung DIA, karena begitu kecil alam ini dibanding DIA. biji pasir tidak bisa menjadi gurun. Hal ini saya pahami setelah mendengarkan syarahan ust. Hussien Abd Latiff)

Jadi tradisi spiritual islam menekankan pada pengenalan akan Allah, lalu untuk menghilangkan penderitaan bukanlah dengan meditasi masuk ke dalam diri dan melepaskan kemelekatan, melainkan dengan mehami bahwa segala sesuatu adalah takdir Allah, dan kunci bahagia adalah menyerah / ridho pada takdir (submission / menyerah = islam).

Walhasil, menekuni spiritualitas islam adalah terus menerus mengingatiNYA, dan menjadikan segenap takdir sebagai jalan “connect” atau ingat kepadaNYA atau dzikrullah.

Itulah jalan bahagia menurut islam.

Memahami dua tradisi ini, menjadikan kita lebih bijak. Dan membuat kita mengerti bahwa dzikrullah di dalam islam tidaklah sama dengan meditasi “masuk ke dalam” seperti tradisi di timur / Buddha.

Saat seseorang berdzikir, dia tidak sedang mengawasi lintasan fikiran dan melepaskan kemelekatan terhadap angan-angan, melainkan dia mengingati Sang Pencipta, dan bersandar penuh kepada Sang Pencipta. Kebahagiaan di dalam islam adalah menerima realita takdir, dan bersandar kepada Penciptanya.

Semoga dengan memahami dua pendekatan ini, khususnya rekan-rekan muslim akan lebih paham dimana letak bedanya, bijak menyikapinya, dan menjadi tidak keliru dalam menerapkan spiritualitas islam sebagaimana mestinya.


Source:

  • Thich Nhat Han. 1998. The Heart Of The Buddha’s Teaching. Newyork: Broadway Books
  • Reza Shah Kazemi. 2010. Common Ground Between Islam and Buddhism. Louis Ville:  Fons Vittae
  • Image Sources from here

BUAH-BUAHAN SYURGA DAN KISAH-KISAH SEPANJANG MASA

Related image

Karena anak saya ingin mendengarkan kisah-kisah atau dongeng pengantar tidur, dan saya tidak terlalu hafal akan dongeng-dongeng anak, akhirnya terpaksalah saya kembali menekuni membaca ulang kisah-kisah para Nabi untuk saya ceritakan kembali pada anak sebelum tidur.

Agaknya, ini cara Allah SWT untuk memaksa saya belajar kembali, dan ternyata menekuni ulang kisah-kisah Para Nabi itu mengasyikkan.

Saya barulah menyadari mengapa di dalam Al Qur’an banyak berisi kisah-kisah, karena kisah-kisah itu memang berpengaruh bagi jiwa manusia. Dia bisa menjadi teladan yang indah.

Ini sebenarnya juga menjawab pertanyaan saya sendiri, kenapa orang-orang arif zaman dahulu sering memasukkan nasihat-nasihat dalam bingkai cerita dan perumpamaan, dihias di dalam tembang atau syair, kenapa kok tidak nyablak saja biar gampang?

Ternyata, nasihat-nasihat yang dibingkai dalam bentuk kisah, seringkali bertahan lama, dan mudah dicerna.

Mayoritas isi Al Qur’an ternyata adalah kisah-kisah. Pelajaran-pelajaran ada di dalam kisah-kisah manusia. Seseorang akan lebih tertarik untuk mempelajari “nilai-nilai” yang tertulis dalam tekstual, jika mengetahui bahwa nilai-nilai itu sebenarnya tentang manusia dan kisah hidupnya.

Mendengar kisah-kisah para Nabi itu, anak saya jadi semangat. “Wah pengen jadi Nabi, Pa.” Katanya

“Ngarang…..” saya tertawa, “mana ada Nabi cewek, yang ada hanya orang-orang shalih yang berperingkat tinggi, seperti Maryam. Lagian setelah Rasulullah SAW ga ada lagi Nabi. Udah jadi orang biasa aja, Jadi Nabi atau wali ujiannya berat, hehehe.”

Salah satu kisah yang menarik hati saya dan saya ceritakan pada anak saya, adalah tentang kesalihan keluarga Imran.

Imran hidup sezaman dengan Nabi Zakariya as. Imran sendiri bukanlah Nabi, tetapi adalah orang yang salih. Imran dan istrinya bernazar jika memiliki anak (laki-laki) nanti anaknya akan diserahkan ke Baitul Maqdis, untuk dididik menjadi abdi kepada Tuhan.

Ndilalah yang lahir bukan anak laki-laki, tetapi perempuan, yang kemudian diberikan nama Maryam.

Ibunda dari Maryam, tetap menitipkan anaknya ke Baitul Maqdis untuk diajari disana, dan mengabdikan hidupnya disana. Diadakanlah undian, karena orang-orang mengetahui bahwa Maryam adalah anak dari Imran yang Shalih, para pemuka agama di Baitul Maqdis berebut ingin mengurus Maryam kecil itu.

Singkat cerita jatuhlah takdir undian pada Zakariya as. Seorang Nabi yang kemudian mengasuh Maryam di Baitul Maqdis. Zakariya as. Adalah pamannya Maryam.

Dikisahkan Maryam as. Menghabiskan hari-harinya dengan beribadah kepada Tuhan, siang dan malam di dalam Mihrab-nya. Dia memiliki tempat yang khusus / mihrab-nya sendiri di Baitul Maqdis. Mempelajari kitab-kitab terdahulu.

Sampai suatu ketika saat pamannya Nabi Zakariya as. Mengunjungi Maryam di mihrabnya, kagetlah Zakariya as. Demi mendapati bahwa di dalam Mihrab Maryam terdapat macam-macam buah-buahan yang tidak mungkin dari sekitar sana, karena buah-buahan itu dari musim yang berbeda. Ditanyakan pada Maryam, darimana makanan itu?

Lalu Maryam menjawab dari sisi Allah SWT. Allah memberikan rizki kepada siapa saja yang dikehendakiNYA, tanpa batas (QS Ali Imran : 37)

Saya jadi teringat bahasan lawas dalam kajian sufistik, yaitu kajian tentang maqom asbab dan tajrid, yaitu maqom usaha atau maqom pasrah. Maryam as. Adalah orang yang menghabiskan hidupnya untuk berbakti pada Tuhannya, siang malam di Baitul Maqis di mihrabnya, ibadah. Nyatanya rizkinya tetap dijamin juga oleh Allah SWT.

Nah model kita-kita ini kalau duduk seharian di musholla ya repot juga, hehehehe. Teringat kisah seorang sahabat yang ditemui Rasulullah karena pagi-pagi sudah diam di masjid sampai siang. Ternyata beliau sedang kekurangan uang. Maka diajarkan sebuah doa oleh Rasulullah SAW untuk mempermudah rizkinya. Tetapi tetap saja, disuruh kerja.

Tapi yang saya pengen cerita bukan masalah klasik asbab-tajrid, melainkan kenyataan bahwa bahasan-bahasan pelik spiritual seringkali menemukan bentuk yang lebih membumi dan gampang dicerna dalam kisah-kisah.

Sebagaimana Rumi menemukan bahwa prosa-prosa panjang seringkali malah “melelahkan” untuk dikaji murid-muridnya, hingga akhirnya dia menulis bentuk-bentuk cerita dalam Matsnawi.

Seperti ungkapan Albert Einstein, if you cannot explain it simple, you don’t understand it well enough. Kalau seseorang belum bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana, penanda bahwa dia belum sepenuhnya paham.

Jadi topiknya sekarang ini bagaimana membahasakan hal yang pelik dalam kisah-kisah yang sederhana. hehehe.


*) Image sources from this link

SPIRITUALITAS ORANG SEDERHANA

Di perjalanan menuju kantor, ketimbang bengong saya baca-baca kisah Rabiah Al Adawiyah, beliau ini memang luar biasa.

Satu kisah yang masyhur tentang Rabiah Al Adawiyah yang pertama banget saya dengar adalah kisah jawaban retoris Rabiah Al Adawiyah, kepada seseorang yang bertanya padanya, apakah jika dia bertaubat maka Allah akan mengampuni?

Maka dijawab oleh Rabiah, yang kurang lebih maknanya adalah jika Allah mengampuni, maka pastilah seseorang itu akan tertakdir bertaubat.

Logika memandang kehidupan secara terbalik dari logika orang awam.

Dari situ saya baca-baca cerita tentang Rabiah Al Adawiyah. Beliau hidup semasa dengan seorang arif yang juga begitu terkenal, yaitu Imam Hasan Al Basri. Dengan Imam Hasan Al Basri ini juga ada cerita menariknya, dimana beliau Rabiah dipinang oleh Imam Hasan Al Basri, lalu ditolaknya pinangan tersebut oleh Rabiah karena tidak ada lagi ruang di hati Rabiah selain dari kecintaan pada Tuhannya.

Menilik orang-orang seperti Rabiah Al Adawiyah ini, kehidupan asketisnya sulit ditiru orang-orang kebanyakan. Diceritakan awalnya Rabiah ini adalah seorang budak, tetapi suatu malam tuannya melihat dia sedang bermunajat kepada Allah SWT, lalu ada lentera cahaya yang berpendar di atas kepalanya naik membubung tinggi ke langit, terangnya memenuhi ruangan. Tahulah sang majikan bahwa Rabiah ini bukan orang sembarangan, maka Rabiah dibebaskan.

Jalan spiritual Rabiah Al Adawiyah ini cukup berat. Beliau menghabiskan hari-hari dengan puasa, ibadah malam hari, memupus kecintaan pada dunia, bahkan saking tidak ada ruang lagi di hatinya untuk yang lain, beliaupun tidak menikah.

Orang-orang alim dari macam-macam penjuru datang bertamu pada beliau, dimana mereka mendengarkan nasihat-nasihat Rabiah, dan yang mendengarkan Nasihat-nasihat beliau itu bukan kelas ecek-ecek, malahan orang-orang selevel Hasan Al Basri, Malik Dinar, dan lain-lain.

Kalau melihat orang seperti beliau, waduh, jauh panggang dari api untuk mengejarnya. Tapi kembali lagi, tidak semua orang harus menjalani kehidupan asketis macam Rabiah. Ada jalan yang sederhana.

Saya teringat cerita yang ditulis Rumi dalam Fihi Ma Fihi, dimana beliau menjelaskan perbedaan pendekatan spiritualitas jalan Isa as dan jalan Muhammad SAW. Isa as, hidup spiritualitasnya adalah dengan tidak menikah, kerahiban.

Kerahiban ini, memang salah satu jalan spiritualitas. Seseorang bisa mendekat kepada Tuhan dengan meninggalkan segala kecenderungan duniawinya. Tetapi ada seni satu lagi, yaitu jalan Muhammad SAW, dimana beliau menikah.

Disitulah Rumi berkata bahwa justru dengan menikah, dan menjalani segala dinamikanya, kalau dimaknai secara benar maka spiritualitas seseorang bisa meningkat. Menikah, dijadikan ajang “pendakian” spiritualitas. Dengan bersabar dan bersyukur dalam dinamikanya. Dengan menikah, naik spiritualitasmu.

Saya seringkali melihat kawan-kawan yang sudah memasuki fase berumah tangga, mereka mulai “hijrah”. Ya ga mesti jadi sufi juga sih, hehehehe….. tapi pandangan keagamannya berubah. Karena memang apa lagi yang dicari?

Degan dapat tanggung jawab. Dengan perubahan status sebagai orang tua. Dan seterusnya, lambat laun cara pandang bergeser. Hikmah-hikmah hidup mendatangi satu persatu. Ujung-ujungnya spiritualitas juga. Dan pendakian spiritual lewat jalan ini adalah seperti lari marathon. Pelan-pelan, selow, tapi pasti.

Seseorang bisa meniti jalan spiritual dengan meninggalkan keduniawian sepenuhnya. Tetapi bisa pula meniti jalan spiritual dengan bergulat di dalam kehidupan, dan memaknai kehidupan ini sebagai ceritaNYA.

Takdirnya masing-masing.

Seperti ditulis oleh Syaikh Ahmad Sirhindi, dalam Syaria and Sufism. Bahwa jalan prophetic, tasawuf yang disandarkan pada risalah kenabian, ini sudah paling pas.

Seseorang tidak melakoni ritual-ritual yang berat yang memupus keduniawian dan memuncaki perjalanannya dengan ekstase, melainkan hidup berlandaskan syariat, dan berjalan dalam takdir keseharian yang biasa ini, ibadah, bermuamalah, seseorang tetap bisa kok mendapatkan pencerahan-pencerahan.

Kuncinya kita memahami perbedaan dua pendekatan itu.

Pendekatan tasawuf jalan profetik, bersandar risalah kenabian adalah mengenali Allah dahulu. Lewat ilmu. Barulah beribadah kepada Tuhan yang sudah dikenali. Dan bergulat dalam kancah dunia ini dengan kesadaran yang baru.


Source:

Fihi ma Fihi, Rumi

Syaria and Sufism, Syaikh Ahmad Sirhindi

Tales of Rabia Al-Adawiyya, Muhammad Vandestra

SPIRITUALITAS DAN JALAN MENCARI BAHAGIA

Dalam kebingungan saya dahulu, awal-awal menekuni spiritualitas saya tak paham benar apa bedanya spiritualitas islam dengan yang di luar islam?

Yang saya sering bingungkan adalah mengapa pendekatan spiritualitas dalam islam tidak begitu banyak membahas porsi mengenai meditasi, merenung ke dalam diri sendiri, mengenali fikiran-fikiran dan lintasan-lintasan fikiran, sampai menemukan “sang pengamat” di dalam diri? Mengapa hal ini tidak atau jarang sekali dijumpai dalam khasanah islam?

Padahal, setelah beberapa waktu menekuni tentang ini saya menjadi paham bahwa pengenalan terhadap diri sendiri, bagaimana lintasan fikiran dan emosi bekerja, dan seterusnya, adalah salah satu elemen yang sangat penting dalam menemukan kebahagiaan. Bagaimana bisa bahagia dan lepas dari duka lara jika tidak bisa masuk ke dalam diri dan melepaskan diri dari lintasan-lintasan fikiran yang sejatinya bukan diri kita? Emosi kita disetir oleh persepsi kita, dan bagi yang sering “masuk ke dalam” hal ini lambat laun makin terasa. Jadi ini penting banget.

Disitulah saya menjadi heran, kok porsi tentang ini dalam islam sedikit sekali? Dalam islam “pendekatan syariat” tentu hampir ga ada. Saya cari dalam “pendekatan spiritualitas” islam pun sedikit juga. Banyaknya malah tentang dzikir.

Agak lama juga tidak paham, sampai alhamdulillah menemukan harmoninya. Yaitu ternyata memang islam memandang bahwa kebahagiaan sejati bukanlah ditemukan dengan kemampuan kita untuk melepaskan diri dari fikiran-fikiran dan emosi. Melainkan kebahagiaan sejati diperoleh dengan menyerah total kepada Tuhan.

Seperti makna islam itu sendiri. Yaitu “menyerah”, submission. (selain dari maknanya yang lain semisal “keselamatan”)

Maka itu, barulah saya pahami mengapa penekanan pendekatan dalam Spiritualitas islam bukanlah mengajari orang masuk dalam dirinya dan berusaha lepas dari jerat fikiran dan emosi dsb. Melainkan porsi paling besar (dan juga paling dasar) adalah pelajaran mengenali Tuhan, mengenali Allah sebagai supreme being. Pencipta segala yang zahir dan batin. Yang tidak mirip dengan makhluk. Yang segala dualitas apapun saja bergantung padaNya. Yang tidak ada awal dan akhir, tetapi bagi segala sesuatunya diberikan awal dan akhir.

Islam memandang itulah kunci kebahagiaan sejati. Mengenali DIA, dan belajar menyerah padaNya. PengaturanNya.

Porsi-porsi pelajaran mengenali hati, mengenali diri sejati, mengenali lintasan fikiran, dll memang ada dibahas dalam spiritualitas islam. Tetapi tidak menjadi fokus utama, dia hanya sebatas membantu kita untuk mengerti bagaimana mengingatiNya, The Supreme Being, tanpa keliru-keliru menggantungkan persandaran dengan selainNya.

Dua pendekatan yang berbeda.

Bagi pendekatan yang pertama, porsi besarnya bukan pada Tuhannya, melainkan pada kemampuan olah batin dan melepaskan sejatinya diri dari fikiran-fikiran. Makin lepas diri sejati dari fikiran-fikiran, makin bahagialah dia. Karena sengsara duka lara itu adanya di fikiran.

Pendekatan kedua, approach islamic spiritualism adalah mengenali Allah swt sebagai Pencipta segalaNya, lalu perjalanan spiritualnya adalah terus menerus bersandar dan kembali padaNya dalam setiap jenak hidup. Makin bersandar, makin bahagialah dia, karena mengenali kehidupan sebagai jalan ceritaNya. Kebahagiaan sejati ditemukan dengan pergantungan Total kepada Pemilik Dunia.

Seperti dikatakan dalam Qur’an wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoiNya.

Tetapi saya menulis ini dalam perspektif seorang muslim, tidak merendahkan siapapun, dan hanya sebuah sharing saja bahwa ada perbedaan pendekatan antara spiritualitas islam atau umumnya disebut Tasawuf, dengan pendekatan spirirualitas di luar islam. Warna-warni dunia.

hanya saja bagi rekan-rekan muslim, saran saya jangan terlalu lama berada di pendekatan pertama. Karena memang bukan itu porsi besarnya Spiritualitas islam.

Seperti ungkapan yang masyhur. Awaluddin ma’rifatullah. Awal beragama adalah mengenal Allah.

Masuklah segera ke pendekatan kedua. Bedanya sangat mendasar. Tapi sering orang keliru.

DUA JALAN CARI PERHATIAN

Image result for mergingSewaktu saya masih kuliah di Bandung, saya mendapatkan kesempatan untuk mengerjakan skripsi di kantor salah satu BUMN terbesar di Jakarta. Otomatis saya harus pergi bolak-balik Jakarta-Bandung, dan masalahnya adalah dimana saya harus menginap di Jakarta?

Alhamdulillah Allah berikan solusi, yaitu seorang kawan kuliah menawarkan untuk menginap di rumah orangtuanya di Jakarta. Sampai sekarang saya masih berhutang budi pada keluarga mereka itu.

Saya perhatikan kebiasaan keluarga itu. Setiap pagi Ayah rekan saya itu bangun pagi, sekedar menemani anaknya sarapan. Membantu memakaikan anaknya kaus kaki. Dan melepas kepergian anaknya berangkat ke sekolah, meski hanya dengan melambai sampai depan gerbang rumah. Prinsip beliau, harus melepas anak pergi sekolah, yang artinya bangun sebelum anak bangun, dan tidur setelah anaknya tidur. Padahal sang Ayah ini berangkat kerja siang hari, lalu pulang larut malam sampai dini hari, sempat-sempatnya dia bangun sekedar untuk rutinitas itu.

Setiap malam, dia selalu duduk santai di atas teras lantai dua, dengan genjreng-genjreng gitar nyanyi seadanya. Tetapi selepas bernyanyi dia menanyakan kabar anak-anaknya, bertanya juga pada saya tentang progress skripsi saya, lalu memberikan petuah sederhana saja, “Ntar juga kalau udah ‘waktunya’ kelar, skripsinya kelar juga. Jalanin aja…..” Sederhana, tak banyak teori tetapi dalam waktu itu saya merasa ada orang yang ‘hadir’. Tak banyak cakap, tapi selalu ‘hadir’. Ini luar biasa.

Belum lagi, mereka menyiapkan makanan untuk anak-anaknya, tak lupa pula memberikan saya kotak makan siang untuk dibawa ke tempat magang skripsi. Padahal, status saya itu numpang nginap. Dikasih makan bekal pula. Setiap hari.

Dari obrolan-obrolan kami, saya tahu bahwa memberikan tempat menginap kepada orang-orang yang ‘butuh’ untuk menginap, adalah semacam tradisi keluarga mereka. Amal sederhana, tapi luar biasa.

Belakangan setelah saya bekerja dan menikah, saya hendak meniru ‘kesederhanaan’ keluarga itu, dan melakukan amalan-amalan ringan yang sama seperti yang saya lihat. Tetapi ternyata setelah mengalami sendiri kesibukan dunia kerja, kecenderungan psikologi saya pribadi, hal yang sederhana itu rupanya tidak gampang.

Belakangan saya merenungi tentang hal itu, dan ndilalah ketemu penjelasannya.

Metoda pertama, adalah memaknai amalan-amalan yang kita lakukan sebagai jalan “pendekatan” kepada Tuhan. Sehingga kita memiliki alasan pendorong. Istilah jaman sekarang, kita punya STRONG WHY.
Ilustrasinya, seperti kita hendak bertamu ke istana seorang Raja, lalu kita menunggu di pintu gerbang istana. Di depan pintu itu, kita “cari perhatian” dengan bantu-bantu nyabut rumput taman. Nyapu-nyapu jalan. Dan lain-lain, dengan harapan dibukakan pintu istana, hingga kita diberikan kesempatan bertemu Sang Raja.

Kita memahami, bahwa tindakan mencabuti rumput, dan tindakan menyapu jalan, itu tidak sebanding dan tidak akan pernah sebanding dengan hadiah Sang Raja pada kita, ditambah lagi diizinkan bertemu dengan sang Raja saja sudah anugerah luar biasa yang tidak bisa dinilai secara barter dengan ukuran nyabut rumput atau nyapu jalan. Amalan-amalan itu, hanyalah “Cara pendekatan”. Bukan untuk barter pahala.

Barulah saya paham bahwa inilah maksudnya mendekati Tuhan dengan wasilah atau perantaraan amal. Seperti di dalam Qur’an disebutkan “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Seperti cerita yang saya dengar dari YouTube ust. Adi Hidayat, dimana saat Malaikat mendatangi Nabi Ibrahim, beliau tak sadar yang datang adalah malaikat, lalu Nabi Ibrahim pergi ke belakang rumah dan sempat-sempatnya menyembelih anak sapi yang gemuk, untuk menjamu tamu. Sebuah ‘amal yang indah. Lalu malaikat mengabarkan berita gembira bahwa istri beliau Sarah akan mengandung anak, sebagai hadiah atas amal Ibrahim as.

Amal Saleh kita lakukan, karena mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan. Inilah metoda pertama untuk cari perhatian / pendekatan kepada Tuhan.
Baru saya tahu kenapa sulit melakukan amalan, karena saya tidak mempunyai alasan yang kukuh. Dengan alasan yang kukuh, dan memaknai amalan sebagai bentuk pendekatan agar “bertemu” Tuhan, maka beramal jadi lebih punya makna. Meskipun amalan-amalan itu akan menjelma sesuai dengan takdirnya sendiri. Ada orang-orang yang dimudahkan untuk melakukan suatu hal, ada yang dimudahkan melakukan hal lainnya.

Yang paling pokok, alasannya apa, yaitu “pendekatan” agar bertemu Tuhan.

Cara kedua dalam pendekatan kepada Tuhan, ini agak teknis. Kalau cara pertama itu adalah dengan aktivitas eksternal (luaran) untuk mendekati Tuhan. Cara kedua ini adalah aktivitas internal.

Yaitu Zikrullah. Bukan dengan menyebut-menyebut semata, tetapi memenuhi ruang batin kita dengan ingatan kepada Allah. Saya mengetahui metoda ini dari seorang arif yaitu Ust. Hussien Abdul Latiff.

Secara ringkas, seseorang bisa mendekati Tuhan dengan ‘amalan aktivitas eksternal, sebagai upaya menemukan Tuhan dalam kesehariannya. Bisa amalan yang beneran tersusun syariatnya seperti sedekah, puasa. Bisa juga dengan aktivitas sehari-hari misalnya bekerja di kantor tetapi dimaknai berbeda, yaitu sebagai “pendekatan” kepada Tuhan. Amal menjadi wasilah “mendekat”.

Tetapi ada juga cara mendekati Tuhan dengan “masuk ke dalam” dan memenuhi ruang batin dengan ingatan kepada Allah. Cara kedua ini senyap, umumnya tidak terdeteksi dari luar.

Baik cara pertama, maupun cara kedua, seperti sekeping uang logam yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.


*) image sources

THALUT, DAWUD, DAN DOSA YANG “MENDEKATKAN”

Ibnu Athaillah As Sakandari, dalam Al Hikam mengatakan bahwa boleh jadi Allah membukakan pada seseorang pintu ketaatan, tetapi tidak membukakan padanya pintu penerimaan. Atau boleh jadi Allah membukakan pintu penerimaan tetapi tidak membukakan padanya pintu ketaatan.

Dilanjutkan dalam wejangan lainnya di Al Hikam, yang kurang lebih maknanya adalah: dosa yang menghantarkan seseorang pada pertaubatan, boleh jadi lebih baik ketimbang ketaatan yang menimbulkan arogansi dan rasa besar diri.

Di sini terlihat beda antara cara pandang orang awam, dan cara pandang para arif dalam tasawuf. Orang awam, memandang pendosa dengan penuh kebencian, sedangkan para arif memandang bahwa boleh jadi seseorang menjadi dekat pada Tuhan lewat dosa.

Ada sebuah kisah klasik, yaitu kisah pertaubatan di zaman Nabi Dawud as. Tersebutlah seorang raja yang telah dipilih oleh Allah untuk memimpin dan mengembalikan kejayaan Bani Israil di masa itu. Raja itu bernama Thalut.

Tugas pertama Thalut adalah menumbangkan kezhaliman Jhalut (Goliath) bangsa amalik yang terkenal berbadan besar. Maka Thalut melakukan seleksi ketat kepada para tentaranya, yang salah satu diantara para tentara terpilih itu adalah Nabi Dawud as. yang bertubuh kecil karena saat itu masih remaja.

Dalam medan perang, sudah masyhur kita dengar bahwa Nabi Dawud mengalahkan Jhalut yang raksasa itu dengan ketapelnya. Jhalut yang tinggi besar itu tumbang.

Lalu kisah berikutnya Nabi Dawud dinikahkan dengan puteri sang raja Bani Israil, putri Thalut tadi.

Namun lama kelamaan popularitas Dawud as mengungguli sang Raja itu sendiri, sehingga terbit rasa amarah di hati Thalut, dan dia hendak membunuh Dawud as.

Sang Putri Thalut, tahu rencana itu dan membocorkannya kepada Nabi Dawud as, untuk melindungi suaminya. Nabi Dawud as. bersembunyi dari ancaman Thalut.

Tetapi kian lama, kekuasaan Thalut kian melemah, dia mulai memerintah dengan tangan besi, dan masyarakat mulai membangkang padanya. Sampai akhirnya Nabi Dawud as berhasil mengalahkannya.

Merasa malu dengan kesalahannya, maka Thalut pergi meninggalkan istananya, dia hidup mengembara dan bertaubat dari kesalahannya.

Nabi Dawud as. Akhirnya menjadi raja. Dikenal sebagai seorang yang bijak, dan begitu artikulatif, mampu memutuskan perkara-perkara yang pelik (dikaruniai hikmah). Beliau juga dianugerahi suara yang begitu indah, sampai jika dia membaca Zabur, maka burung-burung akan terbang mengapung di udara untuk mendengarkan bacaannya, dan bercericit menggaungkan melodinya.

Tapi suatu ketika Nabi Dawud as. juga bertaubat atas kesalahannya.

Dikisahkan bahwa saat Nabi Dawud as. sedang ada di mihrabnya, dua orang berhasil menerobos penjagaan, dan memanjat tembok mihrab-nya.

Nabi Dawud terkejut dengan orang yang tiba-tiba menyelinap itu. Tetapi mereka mengatakan bahwa mereka hanya ingin bertanya suatu masalah. Dan meminta Nabi Dawud as. memutuskan perkaranya dengan adil.

Diceritakan bahwa mereka berselisih karena salah seorang dari mereka memiliki 99 kambing, dan dengan kekuasaannya orang yang punya 99 kambing itu ingin mengambil kambing milik seseorang lainnya yang hanya memiliki satu kambing saja.

Nabi Dawud as, langsung berpihak pada seorang yang memiliki satu kanbing itu, dan mengatakan bahwa betapa banyak orang-orang yang berserikat itu berbuat Zalim. (QS Shad: 20-26)

Setelah mengatakan hal tersebut, dua orang yang bertengkar tadi menghilang, maka tahulah Nabi Dawud as bahwa mereka adalah malaikat utusan Allah yang datang untuk menguji Nabi Dawud as. Maka Nabi Dawud tersungkur dan bertaubat atas kesalahannya, yaitu terburu-buru dalam memutuskan suatu perkara, dan tidak mendengarkan pendapat dua belah pihak.

Karena tertakdir “salah” maka Thalut dan Nabi Dawud as mendekat kepada Tuhan lewat pintu pertaubatan. Begitupun Nabi Adam as. Yunus as. Musa as.

Saya teringat seorang guru pernah berkata, bahwa orang-orang yang berdosa, itu umpama tentara yang sedang terluka di medan laga. Tugas kita, sebagai sesama pejuang (dalam medan perang tiada henti melawan syaitan) adalah menolong mereka, bawa ke medik, sampai sembuh, lalu mereka bisa kembali bertempur kembali.

Ditambah lagi kita mengetahui bahwa seringkali dosa menjadi jalan seseorang mendekat kepada Tuhan.

Sebagian para alim, mengatakan bahwa karena Allah Maha Pengampun, maka akan selalu ada hambanya yang tertakdir berdosa, untuk kemudian bertaubat dan diampuni.

Sebagian arif lainnya, melihat secara lebih tinggi lagi, bahwa orang yang tertakdir berdosa sejatinya hanya mengikut perjalanan takdir mereka. Karena Allah bersendagurau pada diriNya sendiri. Tetapi bahasan yang ini sedikit pelik dan biarlah arif yang kompeten membahasnya.

Kita cukupkan diri kita untuk tidak menghakimi orang-orang yang sedang tertakdir berdosa.

yang pokok bukan dosa atau pahala, melainkan konteks cerita apapun saja yang ada pada kita sekarang bisa menjadi pintu “kembali”.

*) sources:

– The Great Stories Of Quran, Syekh M.A Jadul Maula

– Al Hikam, Ibnu Athaillah As Sakandari

AYAM PANGGANG, KUCING, DAN TULISAN YANG SAMPAI KE HATI

Dalam satu kisah yang sangat masyhur, diceritakan saat Syaikh Abdul Qadir Jailani berceramah di depan murid-muridnya, anak beliau membatin, bahwa jika saja dirinya yang diberikan kesempatan berceramah maka tentu para jamaah akan menangis karena kehebatan retorikanya.

Syaikh Abdul Qadir Jailani tak lama kemudian memberikan kesempatan putranya untuk berceramah. Maka majulah putra beliau itu, dan memberikan ceramah penuh retorika dengan kutipan ayat-ayat dan hadits yang banyak sekali. Tetapi tak ada satupun jamaah yang menangis.

Tak lama kemudian giliran Syaikh Abdul Qadir Jailani yang naik mimbar dan berceramah yang sangat sederhana. kata Beliau kurang lebih, “hadirin, tadi malam istriku menghidangkan padaku sebuah ayam panggang, tapi kemudian seekor kucing datang dan memakannya.”

Mendengar ungkapan yang sangat sederhana itu, maka jamaah menangis deras. Heranlah sang anak, mengapa ungkapan yang begitu sederhana malah membuat orang-orang menangis?

Jawabannya adalah kebijakan yang banyak sekali kita dengar dari para arif, bahkan para ahli hikmah, “Sesuatu yang berasal dari hati, akan sampai ke hati.”

Kononnya, para jamaah mentafakuri ungkapan sang syaikh dengan maksud menjaga amalan dari riya (ayam panggang diibaratkan amalan, kucing yang mencuri ayam diibaratkan riya yang menghilangkan pahala amalan), dan lain-lain lagi penafsiran.

Berkaca kembali dengan ceritra yang saya baca berapa tahun silam ini, saya merenungi diri sendiri dan menyadari sebuah keengganan di hati saya untuk kembali menulis cerita-cerita atau tulisan-tulisan yang panjang dan bersayap. Karena retorika tidaklah memberi faedah apa-apa selain hanya memuaskan dahaga penulisnya sendiri. Maka di tahun 2019 ini semoga tulisan-tulisan menjadi lebih keluar dari hati. Karena sudah banyak kita lihat tulisan-tulisan, yang muncul dari hati para alim, dan para arif yang jujur, malah awet tak lapuk dimakan masa.

 

 

TIGA PERINGKAT PENGENALAN

Disarikan dari tulisan Buya Hamka, ada tiga macam tingkat “pengenalan” kepada Tuhan.

Yang pertama adalah pengenalan orang-orang biasa. Yang kedua adalah pengenalan para filosof atau ahli kalam. Yang terakhir adalah pengenalan-nya para Aulia atau golongan orang-orang yang didekatkan (muqarrabin).

Orang-orang biasa, mengenal Allah karena memang begitulah yang mereka tahu sejak kecil.

Para hukama ahli hikmah, para filosof, menemukan Tuhan lewat penelusuran jalan fikir. Analisa akal fikir sampai mentok dan sampailah mereka pada sekian banyak bukti-bukti akan keberadaan Tuhan.

Tetapi semata bukti-bukti, belumlah juga membuat mereka sampai pada “rasa” kedekatan pada Tuhan.

Rasa kedekatan pada Tuhan itulah anugerah maqomnya para Aulia. Yang tidak dapat dicapai oleh semata pendekatan analisa fikiran-fikiran dan premis-premis logis.

Ilmu memang mengantar kita sebatas gerbang saja. Tangga awalan. Selepas kita menjelajah bukti-bukti tentang Tuhan lewat analisa jalan fikir, masuklah kita pada tahap berikutnya yaitu merasakan kedekatan.

Yang satu ilmu lahir, yang satu ilmu batin, atau ruhani. Ilmu keruhanian inilah domainnya tasawuf.

ORANG KANTORAN MENCARI TUHAN (3)

4ea13796-fb5b-4a7c-857e-72e0477f5ffc-27238-00002073f1944d01Ada salah satu contoh yang sangat tenar di YouTube dimana seorang miliarder bernama Dan Lok, mengakui bahwa kekayaan, ketenaran, pangkat, itu bukanlah hal yang utama. Kebijakan itu ditemui dalam perjalanan kehidupan nya sendiri. Setelah dia menekuni pekerjaan dan bisnisnya sampai di puncak. Kemudian satu perkara mengguncang hidupnya. Cerita lengkapnya bisa rekan-rekan cari di YouTube.

Singkat cerita, Dan Lok kecil adalah seorang asia yang hidup dalam lingkungan barat. Kenyang dibully disekolah sejak kecilnya. Keluarganya broken home. Ayah ibunya bercerai. Dia tinggal dengan ibunya, tetapi untungnya ayahnya masih membiayai mereka.

Sampai suatu ketika telepon berdering dan sang Ibu menangis diberikabar bahwa mantan suaminya kini bankrut, dan tak akan ada lagi biaya hidup dikirim buat mereka.

Selepasnya persis seperti kisah drama klasik. Tetapi nyata.

Dan Lok berjanji pada diri sendiri, bahwa dia tidak perlu figur ayah. Ini kali terakhir dia melihat Ibunya menangis, apapun yang terjadi dia akan pastikan bahwa dialah yang akan menanggung beban hidup keluarga ini. Dia bekerja macam-macam serabutan. Membangun bisnis dari bawah. Meniti usahanya sendiri sampai akhirnya dia sukses besar dan perusahaannya terlibat dalam bisnis ratusan negara.

Kemudian dia semakin matang. Dia memutuskan untuk berdamai dengan ayahnya. Dia menemui ayahnya yang sudah renta. Membelikan ayahnya sebuah apartemen untuk tempat tinggal. Ayahnya menangis haru.

Sampai suatu ketika Dan Lok dikabari bahwa sang ayah sakit keras. Dia akan dioperasi. Bertepatan dengan saat yang sama, Dan Lok harus menandatangani tender terbesar dalam hidupnya. Dia menelepon ayahnya, lalu dia berjanji sesegera mungkin akan pulang kembali menjenguk ayahnya selepas menandatangani tender itu. Dalam hatinya dia bergumam pasti ayahnya bangga dengan kesuksesan sang anak.

Tender selesai ditandatangani. Dan Dan Lok mendapatkan kabar bahwa ayahnya meninggal dunia.

Semua seperti tercerabut. Saat itulah dia baru memahami bahwa kekayaan, pangkat, ketenaran, tidaklah yang utama. Hidupnya berubah sejak itu.

Kebijakan bahwa “kekayaan, pangkat, keterkenalan,” bukanlah yang utama; sudah sering kita dengar dari para guru kehidupan. Kita bisa lihat wejangan ini terserak-serak dalam buku-buku. Tetapi untuk sampainya kebijakan ini menjadi merasuk dalam diri, istilahnya “internalisasi” biasanya butuh pengalaman hidup. Dan dalam hal ini, ini didapatkan Dan Lok lewat kehidupannya sebagai pekerja.

Inilah yang dimaksud bahwa bekerja, juga bisa menjadi jalan untuk mengenal kesejatian.

Kata Dan Lok, hidup manusia dibagi menjadi empat fase. Fase pertama survival. Bertahan hidup. Tidak usah bicara yang filosofis, yang jelas manusia butuh makan minum sandang pangan papan. Semua orang bekerja untuk itu, bertahan hidup.

Lepas dari itu, fase berikutnya adalah security. Orang pengen mendapatkan keamanan dalam hidupnya. Manusia terus bekerja untuk mencapai sekuritas. Supaya ga terus menerus khawatir tentang bagaimana esok makan.

Setelah keamanan tercapai, masuklah manusia dalam fase sukses. Sukses duniawi ya. Sukses duniawi menurut Dan Lok.

Dan setelah melampaui sukses duniawi inilah maka manusia baru mengerti bahwa bukan kesuksesan yang penting.. Melainkan significance, kata Dan Lok. Yaitu hidup dalam pengabdian. Berbuat untuk orang lain. Melampaui kedirian yang sempit.

Yang dikatakan Dan Lok itu, senada dengan yang dikatakan ceritra Mahabarata dalam Bhagavad Gita. Mengenali kesejatian lewat bekerja yang tanpa pamrih (selfless action). Dan ini juga yang dimaksud dalam Al Hikam bahwa jika seseorang tertakdir hidup dalam maqom asbab (pekerja) maka titilah maqom itu, ga usah neko-neko pengen berhenti kerja dan jadi pertapa atau ulama yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk ilmu. Karena tiap orang ada jatahnya sendiri, dan lewat jalan itupun mereka tetap bisa menjadi spiritualis kok.

Tetapi kalau kita perhatikan. Jalan Dan Lok ini adalah jalan “mendaki”. Menjalani kehidupan dengan segala onak durinya untuk kemudian mendapatkan hikmah dan pengertian hidup pada puncak perjalanan mereka.

Ini bagus. Tetapi berbahaya dan sulit. Karena tak jarang pula dalam perjalanan orang berhenti sebelum sampai. Misalnya dia larut dalam kesuksesan. Lupa dengan kesejatian.

Baru saya pahami, jalan yang lebih aman adalah memang jalan yang dikatakan seorang arif dengan jalan profetik. Jalannya Nabi-nabi. Yaitu, pengertian-pengertian tentang keTuhanan atau ilmu makrifatullah itu jadikan sebagai pondasi. Walhasil dalam bekerja, misalnya, seseorang insyaAllah lebih cepat mendapatkan hikmah, karena sejak awal dia sudah tahu konsepnya bahwa hidup adalah ceritaNya. Jadi dia tidak mencari-cari, melainkan menjalani dengan konsep yang dia sudah paham, mengingati-NYA, kemudian sepanjang perjalanan adalah hikmah demi hikmah sesuai dengan jatah maqomnya sendiri-sendiri.

Pembelajaran mengenai keTuhanan. Dzikrullah. Mengetahui gambaran kehidupan secara lebih Spiritual, inilah domain tasawuf. Kepingan uang logam yang seringkali luput dipahami orang kantoran. (dan sering luput dipahami orang bukan kantoran juga. Hehehehe). Maka belajarlah tasawuf, inilah mutiara.


*) Gambar dicomot dari google images. bisa ditemukan disini juga

ORANG KANTORAN MENCARI TUHAN (2)

Setiap orang memang dipermudah untuk melakukan apa yang tertulis baginya.

Dalam kesempatan menikmati macet Jakarta sore kemarin, saya dan seorang rekan senior yang mobilnya saya tumpangi berbincang santai tentang hal itu, dalam kaitannya dengan dunia korporasi dan tipikal orang-orang di dalamnya.

Saya katakan pada rekan saya itu, kalau saya ingin mengejar pencapaian orang-orang yang sudah lebih lama dan punya bakat lobi-lobi, gaul dan meeting sana-sini, jago main golf, maka saya akan keteteran karena saya sudah ketinggalan berpuluh tahun. Hidup dan besar dalam lingkungan yang membuat saya menjadi seorang analis yang suka “merenung ke dalam” tetapi sulit untuk berbasa-basi ke “dunia luar”.

Walhasil, memang begitu. Dunia menjadi harmoni dengan banyaknya peran masing-masing orang. Menikmati peranan kita saat ini. Itu kuncinya.

Saya percaya sebuah ungkapan (hadits kalau tak salah) bahwa “hikmah” adalah harta berharga kaum muslimin, yang tercecer. Maka jika menemukan hikmah itu dimanapun, ambillah.

Jadi dalam konteks memulung hikmah itu, saya rasa ada benarnya juga kutipan bhagavad gita dalam fragmen Mahabarata, tentang Path Of Self Realization. Jalan menemukan kesejatian diri.

Ada banyak jalan. Pertama lewat jalan pengetahuan. Orang-orang yang menemukan kebijakan lewat penelusuran jalan fikir. Misalnya para filosof seperti socrates…..yang menemukan jati diri dengan merenung, mengkaji, belajar. Ini jalan para “alim”

Ada lagi jalan bakti. Yaitu orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk mengabdi atau beribadah pada Tuhan. Seperti misalnya para ulama yang rajin sekali beribadah. Melakukan ritus-ritus formal. Pujian-pujian.

Ada lagi jalan tirakat. Ini jalan orang-orang yang menghabiskan hidupnya dalam pengembaraan ruhani. Seperti meditasi, dst.

Dan salah satu jalan lagi adalah dengan berkarya. Bekerja. Ini menarik bahwa dengan bekerja pun seseorang bisa mendapatkan hikmah-hikmah. Misalnya saja lihatlah banyak sekali pembesar-pembesar di dunia korporasi yang kemudian menjadi spiritualis, setelah bekerja dengan sudah payah dan mencapai puncak, pada ouncak pencapaian itu mereka menjadi tercerahkan dan tahu bahwa bukan itu yang harusnya manusia kejar. Mereka jadi dermawan, banyak sedekah, banyak derma, dan lebih sibuk berbuat untuk orang lain ketimbang untuk diri sendiri. Semua itu mereka peroleh karena tercerahkan lewat dunia kerja yang mereka geluti.

Poinnya adalah, setiap orang bisa menemukan hikmah hidup, dan menjadi lebih dekat dengan Tuhan, lewat jalan yang sudah ditetapkan untuk mereka masing-masing.

Dalam Lathaif Al Minan, disebutkan cerita bahwa Ibnu Athoillah as sakandari yang akhirnya menjadi haus akan ilmu batin tasawuf, merasa ingin meninggalkan pekerjaan yang dia geluti demi berbakti pada gurunya. Sang guru berkata bahwa bukan begitu caranya. Tetaplah bekerja pada jalan yang dia tekuni sekarang ini, insyaAllah bagiannya akan tetap dia dapat.

Menemukan Tuhan dalam kesibukan kerja, ini yang saya sering amati dalam kesibukan orang-orang perkotaan (ataupun desa). Mereka mencari sesuatu tapi tidak tahu apa yang dicari.

Kebingungan, adalah awal dari pencerahan. Maka kita lihat gelombang orang yang ramai-ramai ingin belajar agama, banyak dari masyarakat perkotaan.

Tetapi, yang sedikit disayangkan, approach atau pendekatan pembelajaran keagamaan yang dipelajari semata menekankan pada aspek formal luar saja. Seperti belajar premis-premis fikih, dst..

Itu salah satu keping sisi keberagamaan yang penting dan bagus, memang. Tapi kurang lengkap kalau tidak menyentuh sisi batinnya.

Sisi batin keberagamaan ini yang sebenarnya ranahnya tasawuf. Tentang makna hidup. Tentang mengenali peranan. Tentang hal-hal yang semacam itu.

Tapi yang paling paling paling fundamen sekali adalah mengenali Tuhan. Seorang Arif berkata, makrifatullah, kenal Allah adalah pondasi keberagamaan kita.

Barulah setelah mempelajari mengenai itu, maka dalam bekerja-pun kita bisa mendapatkan hikmah.

-debuterbang-

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑