PODCAST BARUUU 😁

Assalamualaikum rekan-rekan, sudah lama tidak bersua di blog ini sebab kesibukan. Mohon maaf karena jarang menulis.

Untuk mengaktifkan kembali blog, dan membawa suasana baru, saya membuat sebuah akun podcast, alias audio file yang bisa temen-temen streaming dari link di bawah ini

Salam, dan selamat hari raya Idul Fitri. Maaf lahir batin 🙏

SPIRITUALITAS DAN JALAN MENCARI BAHAGIA (2)

Image result for happiness

Seseorang didatangi oleh peternak sapi, “apakah engkau melihat sapiku yang hilang? Aku tidak sanggup mengalami dua kedukaan sekaligus.” Kata sang peternak sapi itu kepada orang yang dia temui.

“Apa yang terjadi?” tanya orang yang ditemui itu.

“Duabelas sapiku hilang dari peternakan, setelah sebelumnya hama menyerang kebunku dan memusnahkan semua tanamannya.” Jawab peternak itu.

“Aku tidak melihat sapimu.” Jawab orang yang ditanyai itu. “Barangkali lari ke arah lain.”

Lalu sang peternak sapi itu pergi meninggalkan orang tersebut, bergegas mencari sapinya yang hilang.

Tak lama, orang yang ditanyai itu berpaling kepada murid-muridnya, ternyata beliau adalah seorang “guru” yang memiliki beberapa murid.

“Sahabatku, tahukah kalian bahwa kalian adalah orang yang paling berbahagia di dunia? Mengapa? Karena kalian tidak punya sapi dan tidak punya tanaman untuk kehilangan.”

Orang bijak itu, adalah sang tercerahkan yang begitu terkenal sampai sekarang, yaitu Pangeran Siddharta Gautama, atau dikenal sebagai Buddha. Orang yang tercerahkan.

Menekuni spiritualitas islam, membuat saya tertarik untuk membaca pendekatan spiritualitas dari dunia timur, dalam hal ini berapa hari belakangan saya membaca pendekatan antara Buddha dan Islam. Banyak para sarjana yang mulai menulis perbandingan ini dalam cara pandang untuk saling mengerti satu sama lain, mengerti bedanya dan mengerti persamaannya. Bukan untuk saling menghakimi.

Kembali ke ceritra di atas, dimana Buddha memberi tahu kepada para muridnya bahwa mereka adalah orang paling “bahagia” karena sejatinya hal-hal yang manusia kumpulkan seperti harta, membawa kebahagiaan yang temporer, saat harta itu hilang, ia malah memberikan kedukaan. Nah….. mengenali kedukaan atau penderitaan dan bagaimana menghilangkan penderitaan adalah poin utama dalam spiritualitas Buddhism.

Ada empat kebenaran mulia (four nobble truth) dalam ajaran sang Buddha: yang pertama adalah memahami tabiat dari “duka” atau penderitaan. Bahwa duka adalah segala hal yang memunculkan rasa tidak enak atau tidak nyaman baik fisikal maupun emosional / mental. Memahami bahwa ada sesuatu yang bernama penderitaan / duka, adalah point pertama.

Lalu memahami apa penyebab penderitaan muncul? Sederhananya, penderitaan muncul karena keinginan yang melekat (kelekatan). Ini adalah poin kedua.

Poin ketiganya adalah memahami bahwa penderitaan bisa dihilangkan, dengan cara menghilangkan kemelekatan terhadap keinginan-keinginan.

Poin keempatnya, adalah bagaimana praktisnya kita melepaskan kemelekatan-kemelekatan itu? Yaitu dengan menerapkan delapan Jalan (8 fold paths). Yang mana jalan ini semua bagus-bagus, semisal berpikir benar, bertindak benar, berkata benar dan seterusnya.

Karena bertumpu pada bahasan mengenai “bagaimana melenyapkan penderitaan”, maka tradisi spiritualitas Buddha sangat mahir dalam urusan menyelami psikologi manusia, bagaimana mengendalikan fikiran, “masuk ke dalam diri” lewat meditasi, dst.

Tradisi spiritualitas ini, kemampuan untuk masuk ke dalam diri, melepaskan kemelekatan, dst…. Sangat sedikit ditemukan di dalam islam (setidaknya sebatas pengamatan saya yang awam). Dan saya sendiri sering bertanya tanya mengapa spiritualitas islam tidak menekankan bahasan ini lebih jauh? Dan barulah sekarang saya mengerti bahwa pendekatan agama abrahamic, khususnya islam, agak berbeda dengan tradisi timur semisal Buddhism.

Spiritualitas islam mengawali perjalanannya dengan pengenalan akan Allah SWT. Yaitu Tuhan semesta alam.

Lewat keilmuan, kita pahami bahwa Allah SWT tidak mirip apa-apa, tidak serupa makhluknya, dialah Pencipta segala sesuatu, Penjaga segala sesuatu, DIA tidak memiliki awal dan akhir tetapi kepada segalanya DIA berikan awal dan akhir.

Pondasi keberagamaan agama samawi (islam khususnya) didirikan diatas kredo ini. Atau disebut tauhid.

Tauhid ini, oleh para ahli teolog / kalam dijelaskan dalam berbagai-bagai pendekatan. Misalnya pendekatan kalangan salafi dengan prinsip Tauhid Rububiyah, dimana kita harus meyakini bahwa Allah sematalah pencipta dan pengatur alam semesta, tetapi ini saja tidak cukup, harus juga meyakini bahwa Allah sematalah persandaran, yang disembah (uluhiyah), lalu saat seseorang sudah mengakui Allah sebagai pencipta, dan bersandar sepenuhnya pada Allah, maka akan pahamlah seseorang itu bahwa dunia ini adalah wahana dimana Allah SWT menceritakan sifat-sifatNya (Asma wa Shifat), yang mana sifat-sifat itu adalah “unik” milik DIA semata.

Kalangan aswaja, menjelaskan tauhid lewat pendekatan sifat 20. Yang sering kita dengar syairnya, Allah wujud, qidam, baqa…..dst…

Sedangkan kalangan arif, tidak hanya menjelaskan tauhid seperti dua kalangan di atas, tetapi secara lebih dalam mereka menjelaskan bahwa segala kewujudan makhluk ini tidak nyata, yang nyata adalah DIA. (ada yang menjelaskan ini dengan pendekatan bahwa dibalik segala sesuatu adalah DIA, seperti paham wahdatul wujud, tetapi ada yang mengoreksi itu dengan menjelaskan bahwa alam semesta ini dibandingkan DIA adalah seumpama biji pasir di gurun sahara. Jadi tidak tepat mengatakan bahwa disebalik segalanya ini langsung DIA, karena begitu kecil alam ini dibanding DIA. biji pasir tidak bisa menjadi gurun. Hal ini saya pahami setelah mendengarkan syarahan ust. Hussien Abd Latiff)

Jadi tradisi spiritual islam menekankan pada pengenalan akan Allah, lalu untuk menghilangkan penderitaan bukanlah dengan meditasi masuk ke dalam diri dan melepaskan kemelekatan, melainkan dengan mehami bahwa segala sesuatu adalah takdir Allah, dan kunci bahagia adalah menyerah / ridho pada takdir (submission / menyerah = islam).

Walhasil, menekuni spiritualitas islam adalah terus menerus mengingatiNYA, dan menjadikan segenap takdir sebagai jalan “connect” atau ingat kepadaNYA atau dzikrullah.

Itulah jalan bahagia menurut islam.

Memahami dua tradisi ini, menjadikan kita lebih bijak. Dan membuat kita mengerti bahwa dzikrullah di dalam islam tidaklah sama dengan meditasi “masuk ke dalam” seperti tradisi di timur / Buddha.

Saat seseorang berdzikir, dia tidak sedang mengawasi lintasan fikiran dan melepaskan kemelekatan terhadap angan-angan, melainkan dia mengingati Sang Pencipta, dan bersandar penuh kepada Sang Pencipta. Kebahagiaan di dalam islam adalah menerima realita takdir, dan bersandar kepada Penciptanya.

Semoga dengan memahami dua pendekatan ini, khususnya rekan-rekan muslim akan lebih paham dimana letak bedanya, bijak menyikapinya, dan menjadi tidak keliru dalam menerapkan spiritualitas islam sebagaimana mestinya.


Source:

  • Thich Nhat Han. 1998. The Heart Of The Buddha’s Teaching. Newyork: Broadway Books
  • Reza Shah Kazemi. 2010. Common Ground Between Islam and Buddhism. Louis Ville:  Fons Vittae
  • Image Sources from here

BUAH-BUAHAN SYURGA DAN KISAH-KISAH SEPANJANG MASA

Related image

Karena anak saya ingin mendengarkan kisah-kisah atau dongeng pengantar tidur, dan saya tidak terlalu hafal akan dongeng-dongeng anak, akhirnya terpaksalah saya kembali menekuni membaca ulang kisah-kisah para Nabi untuk saya ceritakan kembali pada anak sebelum tidur.

Agaknya, ini cara Allah SWT untuk memaksa saya belajar kembali, dan ternyata menekuni ulang kisah-kisah Para Nabi itu mengasyikkan.

Saya barulah menyadari mengapa di dalam Al Qur’an banyak berisi kisah-kisah, karena kisah-kisah itu memang berpengaruh bagi jiwa manusia. Dia bisa menjadi teladan yang indah.

Ini sebenarnya juga menjawab pertanyaan saya sendiri, kenapa orang-orang arif zaman dahulu sering memasukkan nasihat-nasihat dalam bingkai cerita dan perumpamaan, dihias di dalam tembang atau syair, kenapa kok tidak nyablak saja biar gampang?

Ternyata, nasihat-nasihat yang dibingkai dalam bentuk kisah, seringkali bertahan lama, dan mudah dicerna.

Mayoritas isi Al Qur’an ternyata adalah kisah-kisah. Pelajaran-pelajaran ada di dalam kisah-kisah manusia. Seseorang akan lebih tertarik untuk mempelajari “nilai-nilai” yang tertulis dalam tekstual, jika mengetahui bahwa nilai-nilai itu sebenarnya tentang manusia dan kisah hidupnya.

Mendengar kisah-kisah para Nabi itu, anak saya jadi semangat. “Wah pengen jadi Nabi, Pa.” Katanya

“Ngarang…..” saya tertawa, “mana ada Nabi cewek, yang ada hanya orang-orang shalih yang berperingkat tinggi, seperti Maryam. Lagian setelah Rasulullah SAW ga ada lagi Nabi. Udah jadi orang biasa aja, Jadi Nabi atau wali ujiannya berat, hehehe.”

Salah satu kisah yang menarik hati saya dan saya ceritakan pada anak saya, adalah tentang kesalihan keluarga Imran.

Imran hidup sezaman dengan Nabi Zakariya as. Imran sendiri bukanlah Nabi, tetapi adalah orang yang salih. Imran dan istrinya bernazar jika memiliki anak (laki-laki) nanti anaknya akan diserahkan ke Baitul Maqdis, untuk dididik menjadi abdi kepada Tuhan.

Ndilalah yang lahir bukan anak laki-laki, tetapi perempuan, yang kemudian diberikan nama Maryam.

Ibunda dari Maryam, tetap menitipkan anaknya ke Baitul Maqdis untuk diajari disana, dan mengabdikan hidupnya disana. Diadakanlah undian, karena orang-orang mengetahui bahwa Maryam adalah anak dari Imran yang Shalih, para pemuka agama di Baitul Maqdis berebut ingin mengurus Maryam kecil itu.

Singkat cerita jatuhlah takdir undian pada Zakariya as. Seorang Nabi yang kemudian mengasuh Maryam di Baitul Maqdis. Zakariya as. Adalah pamannya Maryam.

Dikisahkan Maryam as. Menghabiskan hari-harinya dengan beribadah kepada Tuhan, siang dan malam di dalam Mihrab-nya. Dia memiliki tempat yang khusus / mihrab-nya sendiri di Baitul Maqdis. Mempelajari kitab-kitab terdahulu.

Sampai suatu ketika saat pamannya Nabi Zakariya as. Mengunjungi Maryam di mihrabnya, kagetlah Zakariya as. Demi mendapati bahwa di dalam Mihrab Maryam terdapat macam-macam buah-buahan yang tidak mungkin dari sekitar sana, karena buah-buahan itu dari musim yang berbeda. Ditanyakan pada Maryam, darimana makanan itu?

Lalu Maryam menjawab dari sisi Allah SWT. Allah memberikan rizki kepada siapa saja yang dikehendakiNYA, tanpa batas (QS Ali Imran : 37)

Saya jadi teringat bahasan lawas dalam kajian sufistik, yaitu kajian tentang maqom asbab dan tajrid, yaitu maqom usaha atau maqom pasrah. Maryam as. Adalah orang yang menghabiskan hidupnya untuk berbakti pada Tuhannya, siang malam di Baitul Maqis di mihrabnya, ibadah. Nyatanya rizkinya tetap dijamin juga oleh Allah SWT.

Nah model kita-kita ini kalau duduk seharian di musholla ya repot juga, hehehehe. Teringat kisah seorang sahabat yang ditemui Rasulullah karena pagi-pagi sudah diam di masjid sampai siang. Ternyata beliau sedang kekurangan uang. Maka diajarkan sebuah doa oleh Rasulullah SAW untuk mempermudah rizkinya. Tetapi tetap saja, disuruh kerja.

Tapi yang saya pengen cerita bukan masalah klasik asbab-tajrid, melainkan kenyataan bahwa bahasan-bahasan pelik spiritual seringkali menemukan bentuk yang lebih membumi dan gampang dicerna dalam kisah-kisah.

Sebagaimana Rumi menemukan bahwa prosa-prosa panjang seringkali malah “melelahkan” untuk dikaji murid-muridnya, hingga akhirnya dia menulis bentuk-bentuk cerita dalam Matsnawi.

Seperti ungkapan Albert Einstein, if you cannot explain it simple, you don’t understand it well enough. Kalau seseorang belum bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana, penanda bahwa dia belum sepenuhnya paham.

Jadi topiknya sekarang ini bagaimana membahasakan hal yang pelik dalam kisah-kisah yang sederhana. hehehe.


*) Image sources from this link

SPIRITUALITAS ORANG SEDERHANA

Di perjalanan menuju kantor, ketimbang bengong saya baca-baca kisah Rabiah Al Adawiyah, beliau ini memang luar biasa.

Satu kisah yang masyhur tentang Rabiah Al Adawiyah yang pertama banget saya dengar adalah kisah jawaban retoris Rabiah Al Adawiyah, kepada seseorang yang bertanya padanya, apakah jika dia bertaubat maka Allah akan mengampuni?

Maka dijawab oleh Rabiah, yang kurang lebih maknanya adalah jika Allah mengampuni, maka pastilah seseorang itu akan tertakdir bertaubat.

Logika memandang kehidupan secara terbalik dari logika orang awam.

Dari situ saya baca-baca cerita tentang Rabiah Al Adawiyah. Beliau hidup semasa dengan seorang arif yang juga begitu terkenal, yaitu Imam Hasan Al Basri. Dengan Imam Hasan Al Basri ini juga ada cerita menariknya, dimana beliau Rabiah dipinang oleh Imam Hasan Al Basri, lalu ditolaknya pinangan tersebut oleh Rabiah karena tidak ada lagi ruang di hati Rabiah selain dari kecintaan pada Tuhannya.

Menilik orang-orang seperti Rabiah Al Adawiyah ini, kehidupan asketisnya sulit ditiru orang-orang kebanyakan. Diceritakan awalnya Rabiah ini adalah seorang budak, tetapi suatu malam tuannya melihat dia sedang bermunajat kepada Allah SWT, lalu ada lentera cahaya yang berpendar di atas kepalanya naik membubung tinggi ke langit, terangnya memenuhi ruangan. Tahulah sang majikan bahwa Rabiah ini bukan orang sembarangan, maka Rabiah dibebaskan.

Jalan spiritual Rabiah Al Adawiyah ini cukup berat. Beliau menghabiskan hari-hari dengan puasa, ibadah malam hari, memupus kecintaan pada dunia, bahkan saking tidak ada ruang lagi di hatinya untuk yang lain, beliaupun tidak menikah.

Orang-orang alim dari macam-macam penjuru datang bertamu pada beliau, dimana mereka mendengarkan nasihat-nasihat Rabiah, dan yang mendengarkan Nasihat-nasihat beliau itu bukan kelas ecek-ecek, malahan orang-orang selevel Hasan Al Basri, Malik Dinar, dan lain-lain.

Kalau melihat orang seperti beliau, waduh, jauh panggang dari api untuk mengejarnya. Tapi kembali lagi, tidak semua orang harus menjalani kehidupan asketis macam Rabiah. Ada jalan yang sederhana.

Saya teringat cerita yang ditulis Rumi dalam Fihi Ma Fihi, dimana beliau menjelaskan perbedaan pendekatan spiritualitas jalan Isa as dan jalan Muhammad SAW. Isa as, hidup spiritualitasnya adalah dengan tidak menikah, kerahiban.

Kerahiban ini, memang salah satu jalan spiritualitas. Seseorang bisa mendekat kepada Tuhan dengan meninggalkan segala kecenderungan duniawinya. Tetapi ada seni satu lagi, yaitu jalan Muhammad SAW, dimana beliau menikah.

Disitulah Rumi berkata bahwa justru dengan menikah, dan menjalani segala dinamikanya, kalau dimaknai secara benar maka spiritualitas seseorang bisa meningkat. Menikah, dijadikan ajang “pendakian” spiritualitas. Dengan bersabar dan bersyukur dalam dinamikanya. Dengan menikah, naik spiritualitasmu.

Saya seringkali melihat kawan-kawan yang sudah memasuki fase berumah tangga, mereka mulai “hijrah”. Ya ga mesti jadi sufi juga sih, hehehehe….. tapi pandangan keagamannya berubah. Karena memang apa lagi yang dicari?

Degan dapat tanggung jawab. Dengan perubahan status sebagai orang tua. Dan seterusnya, lambat laun cara pandang bergeser. Hikmah-hikmah hidup mendatangi satu persatu. Ujung-ujungnya spiritualitas juga. Dan pendakian spiritual lewat jalan ini adalah seperti lari marathon. Pelan-pelan, selow, tapi pasti.

Seseorang bisa meniti jalan spiritual dengan meninggalkan keduniawian sepenuhnya. Tetapi bisa pula meniti jalan spiritual dengan bergulat di dalam kehidupan, dan memaknai kehidupan ini sebagai ceritaNYA.

Takdirnya masing-masing.

Seperti ditulis oleh Syaikh Ahmad Sirhindi, dalam Syaria and Sufism. Bahwa jalan prophetic, tasawuf yang disandarkan pada risalah kenabian, ini sudah paling pas.

Seseorang tidak melakoni ritual-ritual yang berat yang memupus keduniawian dan memuncaki perjalanannya dengan ekstase, melainkan hidup berlandaskan syariat, dan berjalan dalam takdir keseharian yang biasa ini, ibadah, bermuamalah, seseorang tetap bisa kok mendapatkan pencerahan-pencerahan.

Kuncinya kita memahami perbedaan dua pendekatan itu.

Pendekatan tasawuf jalan profetik, bersandar risalah kenabian adalah mengenali Allah dahulu. Lewat ilmu. Barulah beribadah kepada Tuhan yang sudah dikenali. Dan bergulat dalam kancah dunia ini dengan kesadaran yang baru.


Source:

Fihi ma Fihi, Rumi

Syaria and Sufism, Syaikh Ahmad Sirhindi

Tales of Rabia Al-Adawiyya, Muhammad Vandestra

SPIRITUALITAS DAN JALAN MENCARI BAHAGIA

Dalam kebingungan saya dahulu, awal-awal menekuni spiritualitas saya tak paham benar apa bedanya spiritualitas islam dengan yang di luar islam?

Yang saya sering bingungkan adalah mengapa pendekatan spiritualitas dalam islam tidak begitu banyak membahas porsi mengenai meditasi, merenung ke dalam diri sendiri, mengenali fikiran-fikiran dan lintasan-lintasan fikiran, sampai menemukan “sang pengamat” di dalam diri? Mengapa hal ini tidak atau jarang sekali dijumpai dalam khasanah islam?

Padahal, setelah beberapa waktu menekuni tentang ini saya menjadi paham bahwa pengenalan terhadap diri sendiri, bagaimana lintasan fikiran dan emosi bekerja, dan seterusnya, adalah salah satu elemen yang sangat penting dalam menemukan kebahagiaan. Bagaimana bisa bahagia dan lepas dari duka lara jika tidak bisa masuk ke dalam diri dan melepaskan diri dari lintasan-lintasan fikiran yang sejatinya bukan diri kita? Emosi kita disetir oleh persepsi kita, dan bagi yang sering “masuk ke dalam” hal ini lambat laun makin terasa. Jadi ini penting banget.

Disitulah saya menjadi heran, kok porsi tentang ini dalam islam sedikit sekali? Dalam islam “pendekatan syariat” tentu hampir ga ada. Saya cari dalam “pendekatan spiritualitas” islam pun sedikit juga. Banyaknya malah tentang dzikir.

Agak lama juga tidak paham, sampai alhamdulillah menemukan harmoninya. Yaitu ternyata memang islam memandang bahwa kebahagiaan sejati bukanlah ditemukan dengan kemampuan kita untuk melepaskan diri dari fikiran-fikiran dan emosi. Melainkan kebahagiaan sejati diperoleh dengan menyerah total kepada Tuhan.

Seperti makna islam itu sendiri. Yaitu “menyerah”, submission. (selain dari maknanya yang lain semisal “keselamatan”)

Maka itu, barulah saya pahami mengapa penekanan pendekatan dalam Spiritualitas islam bukanlah mengajari orang masuk dalam dirinya dan berusaha lepas dari jerat fikiran dan emosi dsb. Melainkan porsi paling besar (dan juga paling dasar) adalah pelajaran mengenali Tuhan, mengenali Allah sebagai supreme being. Pencipta segala yang zahir dan batin. Yang tidak mirip dengan makhluk. Yang segala dualitas apapun saja bergantung padaNya. Yang tidak ada awal dan akhir, tetapi bagi segala sesuatunya diberikan awal dan akhir.

Islam memandang itulah kunci kebahagiaan sejati. Mengenali DIA, dan belajar menyerah padaNya. PengaturanNya.

Porsi-porsi pelajaran mengenali hati, mengenali diri sejati, mengenali lintasan fikiran, dll memang ada dibahas dalam spiritualitas islam. Tetapi tidak menjadi fokus utama, dia hanya sebatas membantu kita untuk mengerti bagaimana mengingatiNya, The Supreme Being, tanpa keliru-keliru menggantungkan persandaran dengan selainNya.

Dua pendekatan yang berbeda.

Bagi pendekatan yang pertama, porsi besarnya bukan pada Tuhannya, melainkan pada kemampuan olah batin dan melepaskan sejatinya diri dari fikiran-fikiran. Makin lepas diri sejati dari fikiran-fikiran, makin bahagialah dia. Karena sengsara duka lara itu adanya di fikiran.

Pendekatan kedua, approach islamic spiritualism adalah mengenali Allah swt sebagai Pencipta segalaNya, lalu perjalanan spiritualnya adalah terus menerus bersandar dan kembali padaNya dalam setiap jenak hidup. Makin bersandar, makin bahagialah dia, karena mengenali kehidupan sebagai jalan ceritaNya. Kebahagiaan sejati ditemukan dengan pergantungan Total kepada Pemilik Dunia.

Seperti dikatakan dalam Qur’an wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoiNya.

Tetapi saya menulis ini dalam perspektif seorang muslim, tidak merendahkan siapapun, dan hanya sebuah sharing saja bahwa ada perbedaan pendekatan antara spiritualitas islam atau umumnya disebut Tasawuf, dengan pendekatan spirirualitas di luar islam. Warna-warni dunia.

hanya saja bagi rekan-rekan muslim, saran saya jangan terlalu lama berada di pendekatan pertama. Karena memang bukan itu porsi besarnya Spiritualitas islam.

Seperti ungkapan yang masyhur. Awaluddin ma’rifatullah. Awal beragama adalah mengenal Allah.

Masuklah segera ke pendekatan kedua. Bedanya sangat mendasar. Tapi sering orang keliru.

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑