SUKA, DUKA, DAN KEMBALI

Berapa waktu lalu saya membaca sebuah laman berita dari CNN, dalam bahasa inggris. Dimana penulisnya mendeskripsikan kejadian pembantaian di Rohingnya dengan Narasi yang begitu deskriptif. Emosi saya teraduk-aduk. Tragedi dan duka tergelar.

Saya letakkan handphone. Dan mengambil jeda. Lalu saya teringat bahwa pertanyaan-pertanyaan mendasar di dalam hidup seperti itulah yang membuat saya mempelajari approach tasawuf dalam keberagamaan. Mengapa ada tragedi? Mengapa kehidupan berjalan begini? Mengapa? Siapa kita? Mau kemana hidup ini?

Kehidupan keberagamaan formalistik semata-mata, tidak menawarkan jawaban yang cukup pas di mata saya. Setidaknya menurut saya pribadi.

Alhamdulillah, setelah mempelajari approach sufistik barulah saya mengerti bahwa kehidupan ini dengan warna suka dukanya hanyalah semata-mata cerita tentang Sang Pemiliknya.

Mengenali Sang Pemilik hidup-lah “asas keberagamaan”. Bukan yang lain-lain.

Suka dan duka, adalah dua keping warna. Sebagaimana istilah populer dalam islam yaitu basyiran dan nazhiran. Berita gembira dan ancaman.

Adanya suka dan duka, sebagaimana adanya berita gembira dan ancaman, hanyalah “sebab” agar orang menemukan konteks kembali pada Tuhan.

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Rahmat-Nya mengalahkan kemurkaan-Nya.

Maka tersadarlah saya, bahwa tak mungkin Tuhan memberikan ancaman atau duka semata-mata, melainkan sesuatu yang kita persepsikan sebagai duka atau ancaman itu mestilah menyuruh kita mengenaliNya dan masuk ke dalam rahmatNya.

Maka berhati-hatilah untuk tidak terjebak di dalam “semata-mata duka dan ketakutan”. Syaitan menjebak kita dengan ketakutan-ketakutan.

Sedangkan Allah memberikan kabar gembira. Adapun berita ancaman dan duka, hanyalah “sebab” agar manusia menemukan konteks untuk “kembali”. Lari dari duka dan ancaman menuju rahmatNya yang luas.

Dengan pendekatan sufistik-lah, keberagamaan didudukkan kembali pada sisi spiritualitas yang cantik. Bahwa DIA ada dan begitu dekat.

IKAN NUN DAN TIPS MENDAPATKAN RASA BAHWA ALLAH MAHA KAYA

Ada sebuah kisah yang sangat terkenal, tentang Nabi Sulaiman as. Yang merasa ingin menjamu seluruh makhluk yang diciptakan Allah SWT. Karena beliau mendapati rezeki yang Allah karuniakan pada beliau sangatlah banyak.

Allah SWT telah memberitahu kepada Sulaiman as. Bahwa beliau tidak akan mampu menjamin rezeki makhluk.

Konon dikatakan bahwa hidangan yang dipersiapkan Sulaiman as. Diletakkan di sebuah padang yang sangat luas, yang butuh waktu berhari-hari untuk ditempuh dengan menggunakan kuda.

Saat hari jamuan tiba, Allah perintahkan binatang-binatang dari laut, dimulai dengan ikan Nun, ikan yang sangat besar. Ikan itu melahap seluruh hidangan yang dipersiapkan berhari-hari, tetapi selepas itu ikan itu masih meminta tambahan kepada Sulaiman as. Karena masih merasa lapar.

Kontan saja Sulaiman as. Bersujud dan menyadari kebesaran Allah yang menjamin rezeki seluruh makhluknya.

Saya renungkan, bukannya Sulaiman as. Tidak menyadari bahwa Allah SWT Maha Luas rizkiNya. Akan tetapi, secara “feel”, “rasa” nya itu baru benar-benar dapet setelah menyaksikan sendiri ketidak mampuan dirinya bahkan untuk sekedar menjamu seekor ikan besar di lautan.

Sebuah ilustrasi lainnya adalah seperti berikut. Umpama kita mengenal seorang yang baik hati. Kita tahu orang tersebut mempunyai kelebihan harta dibanding kita, maka kombinasi punya kemampuan lebih dan sifat baik hati ; sangatlah ciamik. Walhasil kita ingin meminta bantuan pada orang tersebut.

Akan tetapi, ada level tertentu dimana “rasa” di hati kita seperti “surut”. Misalnya kita butuh uang sepuluh juta. Di hati kita akan seolah-olah “apa ya bisa saya minjem sepuluh juta?”

Kita tahu kenalan kita baik, tetapi semata “baik” masih belum cukup, tanpa kita tahu ancer-ancer seberapa kaya kenalan kita itu. Setelah kita tahu seberapa kaya, umpama kita punya ancer-ancer bahwa kawan kita itu punya uang lebih satu milyar, maka “rasa” di hati kita akan plong. Sudahlah dia baik, kita tahu pula kemampuan dia itu level satu milyar. Sepuluh juta sih kecil bagi kawan kita itu.

Barangkali begitulah. Seiring perjalanan hidup, berkesempatan pergi ke banyak tempat, dan melihat hidup dari banyak sisi, baru saya mendapatkan “feel” bahwa Allah itu benar-benar kaya.

Cobalah rekan-rekan naik gedung tinggi, lalu lihat lansekap perkotaan di tempat anda. Semua sudutnya sejauh pandang mata kita ada kehidupan yang tiap kehidupannya itu dijamin Tuhan.

Atau naiklah ke atas gunung, dan pandangi lembah dan dataran, dan lihatlah segala varietas hidup disana. Setiap sudutnya ada kehidupan dalam jaminan Tuhan.

Barulah saya mengerti mengenai do’a. Jika kita dilanda kesulitan hidup, dan kita berdoa karena kita butuh. Janganlah berdoa dengan doa yang setengah-setengah. Seolah iya atau enggak ya?

Berdoalah! Karena Allah sangat kaya dan tak akan disulitkan dengan doamu. [1]

Jika kita mendapatkan “feel” bahwa Allah itu benar-benar Maha Kaya, maka tidak akan surut kita berdo’a. Karena kekayaan-Nya itu banyak sekali, dan melampaui kebutuhan kita.

Lebih-lebih lagi, dalam pandangan sufistik, Allah menciptakan alam, adalah karena DIA ingin dikenali. Dan salah satu wujud pengenalan itu adalah DIA tanamkan kebutuhan-kebutuhan pada makhlukNya, yang lewat kebutuhan itu maka makhlukNya merasakan kebesaran Tuhannya.

Jadi dari-Nya, kembali pada-Nya. Kebutuhan dalam hidup bukan lagi perkara pribadi yang kerdil, tetapi perkara harapan kepada Yang Maha Besar.

Jadi jika do’a anda kurang total, padahal anda sudah yakin bahwa Allah itu baik, barangkali anda seperti saya. Kurang piknik. Hehehehe…… Perhatikan sekitar anda, dan lihatlah kehidupan dalam jaminan-Nya semua. Niscaya do’a-do’a akan menemukan feel-nya kembali, “rasa” nya kembali. Karena Sang Pemilik adalah yang sangat murah hatiNya, dan sangat luas kekayaanNya.


[1] Janganlah kamu berdoa: “Ya Allah ampunilah aku jika Engkau mau, rahmatilah aku jika Engkau mau,” hendaknya dia mantapkan hati atas doanya itu karena sesungguhnya Allah tidaklah dipaksa oleh doanya itu.” (HR. Bukhari No. 6339, 7477, Muslim No. 2679).

Saya tak tahu persis apakah kisah tersebut valid, tetapi kisah ini sudah masyhur saya dengar sejak kecil. ( salah satu literatur disebutkan bahwa Kisah ini tertulis dalam kitab Durrotun Nasihin Fil Wa’izin Wal Irsyad karya Syekh ‘utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir Al-Khowbawiy. Beliau merupakan ulama yang hidup pada tahun 13 H. Beliau menyatakan didalam kitabnya ini salah satu kisah nabi Sulaiman A.S. yang dikutip dari Badi’ul Asror pada majlis ke 59 halaman 218 dalam pembahasan “Hijrah Untuk Taat Pada Allah”. http://spirit-muslim.blogspot.co.id/2017/06/kisah-nabi-sulaiman-memberi-makan-seluruh-makhluk.html?m=1 )

YANG MELAMPAUI DZAT DAN SIFAT (2)

img_0663-1Cerita seorang teman di waktu kami makan siang kemarin, sungguh membuat saya kaget. Karena selama saya bekerja dengan beliau, saya tidak melihat kecenderungan introvert pada dirinya. Saya mengira dia adalah seorang extrovert handal. Rupa-rupanya kawan saya itu membenarkan analisa psikologi yang dia ikuti berapa waktu lalu, yang mengatakan bahwa selama ini dia adalah seorang yang tak terlalu menyukai keramaian, tetapi dia mencoba –setengah memaksakan diri- untuk bersikap dan laku sebagai seorang extrovert. Tetapi dia tidak menikmatinya.

Jadi sewaktu rekan saya berangkat ke Houston, untuk sebuah training dari kantor, diadakanlah sebuah tes psikologi untuk memetakan kecenderungan sifat-sifat karyawan. Dan salah satu sesi test yang santai itu adalah sesi kita diminta menggambar sebuah kantor yang kita inginkan.

Rekan saya ini menggambar sebuah kantor, dengan ruangan besar, di lantai atas, dengan meja dan layar monitor besar ganda. Dan macam-macam pernak pernik lainnya.

Kemudian instruktur training menjelaskan arti serangkaian tes soal-jawab, termasuk analisa gambar. hasilnya, menunjukkan bahwa kawan saya itu tipikal seseorang dengan kecenderungan introvert yang kontemplatif, tetapi memaksakan diri untuk menyeberang ke sisi yang berlawanan, secara extrim.

Gambar yang dia buat, sebuah kantor, dimana ruangan untuknya adalah di lantai paling atas, jauh dari hiruk pikuk, monitor besar, hanya dia sendiri, adalah bukti bahwa jauh dalam kesadarannya yang paling dalam dia menginginkan suasana “me time”, jenak sendiri yang kontemplatif.

Agak berbeda dengan rekan-rekannya yang lain, yang menggambarkan sebuah ruangan dengan banyak sekali meja, dengan ruang-ruang untuk orang lain. Yang secara sederhana bisa ditafsirkan bahwa mereka bertipe “kalau ga rame ga asik”.

Yang menarik bagi saya adalah bahwa seperti apa realita “di dalam” diri manusia, itulah yang akan mengejawantah “ke luar” diri kita, menjadi sikap dan laku. Tanpa kita sadari, seperti tertuang dalam gambar. Gambar yang dibuat, hanya mengekspresikan yang di dalam.

Nah…… kembali ke bahasan bahwa “yang di dalam” akan mengejawantah “ke luar”, sebenarnya mirip-mirip dengan bahasan itu, adalah bahasan dzat-sifat dalam tasawuf.

Dzat-sifat, atau dalam bahasa filosof disebut substansi-aksiden, atau dalam bahasa arabnya jawhar – al ‘ardh. Adalah bahasan menarik yang mau tak mau terpaksa dibincangkan.

Kalau menurut sebagian kalangan, dzat dan sifat. Adalah dua hal yang berbeda. Umpama sebuah nasi. Nasi yang pulen, nasi yang gurih….. maka “nasi” sebagai dzat-nya, “pulen atau gurih” sebagai sifat-nya. Mereka anggap nasi dan pulen itu adalah dua entitas yang berbeda.

Akan tetapi, kalangan sufistik menganggap bahwa dzat dan sifat bukanlah dua entitas yang berbeda. Adanya sifat-sifat, adalah untuk menunjukkan keberadaan dzat.

Umpama sebuah nasi, untuk menunjukkan keberadaannya maka “nasi” itu diselubungi dengan sifat-sifat diselubungi dengan “berbulir”, diselubungi dengan “warna putih” diselubungi dengan “rasa pulen” dengan segala macam sifat sehingga nasi tersebut mewujud.

Walhasil dzat nasi tidak terpisah dengan sifat nasi. Melainkan, karena adanya determinasi sifat-sifat itulah, maka nasi jadi wujud keberadaannya.

Jadi dzat, mengejawantahkan dirinya, sehingga darinya terkeluarlah sifat-sifat. Dengan melihat sifat-sifat itulah, keberadaan dzat diketahui.

Hal ini senada lho dengan kajian sains. Kalau dulu, kita melihat keragaman sifat-sifat misalnya mobil truk, itu kalau dibongkar sampai dalaaaaaaam menjadi atom proton neutron, yang sama persis dan identrik dengan atom proton neutron-nya tahu goreng, ga ada bedanya. Nah, dalam kajian fisika kuantum kalau kita baca yang versi sederhananya –karena yang versi asli fisika njlimetnya saya ga paham, hahahaha- bahkan unsur penyusun terkecil suatu benda itu dikatakan tak lagi punya sifat partikel, lebih macam gelombang. Udah hilang keragaman sifat-sifat. Semua menjadi satu.

Nah… menurut kajian sufistik. Unsur penyusun yang paliiiiing dalam itu sesuatu yang tak lagi bisa diketahui sifat-sifatnya. (berarti yang diketemukan oleh kajian sains fisika kuantum itu menurut para sufi masih “sifat-sifat”, belum yang paling dalam). Inilah yang disebut dengan “hakikat”. Sesuatu yang ada di sebalik wujud yang tampak mata.

Begitulah bahwa dzat dan sifat bukan dua entitas. Melainkan, dzat-lah yang mengeluarkan sifat-sifat.. Disebaliknya sifat-sifat, ada “hakikat” dzat.

Sekarang, Alhamdulillah menjadi jelas perkaranya, sebagian kalangan, secara keliru –karena sudah mengetahui bahwa semua sifat-sifat itu lekat pada sesuatu yang dibaliknya- mereka mengira bahwa disebalik segala sesuatu itulah Tuhan.

Padahal, tempat segala sifat melekat itu adalah dzat yang DIA cipta, yang seperti apa dzat itu kita tak tahu. Dari dzat- atau sesuatu yang tak diketahui- itulah terkeluar segala keanekaragaman sifat-sifat.

Sedangkan DIA, adalah tiada umpama, yang tak bisa dianalisa, tak bisa disentuh, dan tidak relevan dibahas dengan bahasa dzat-sifat. DIA bukan dzat dan bukan sifat. Tetapi DIA “Pemilik” dzat dan sifat.

Agar tak mengelirukan Tuhan dan alam. Agar tak keliru antara DIA dan dzat-sifat “milik”Nya.

Wallahu a’lam

YANG MELAMPAUI DZAT DAN SIFAT

Jika anda makan nasi, apakah nasi yang anda makan itu “pulen”, “kenyal”, “gurih”, “lengket”, atau “berderai”?

Semua kata keterangan yang disebut di atas, untuk menggambarkan “keadaan” nasi itu; disebut sifat-sifat nasi. Nasi-nya itu sendiri disebut dzat.

Jadi ada substansi-nya yaitu nasi itu sendiri. Dan ada serangkaian keterangan yang membahas mengenai sifat-nya nasi, atau dalam bahasa filsafat disebut “aksiden”. Ada substansi, ada aksiden. Ada dzat ada sifat.

Barulah saya mengerti sedikit duduk perkara mengenai bahasan dzat sifat ini dalam perbincangan tasawuf. Di masa perkembangan islam sekitar lepas abad ketiga -barangkali-, dimana perbincangan mengenai filsafat sudah mulai banyak masuk ke dalam islam, termasuk juga kajian mengenai substansi dan aksiden ini.

Imam Ghazali sendiri, tidak membenci filsafat secara mutlak, beberapa kajian filsafat itu baik, kata beliau, tetapi beberapanya harus ditolak. Yang baik diantaranya karena filsafat punya andil menelurkan ilmu-ilmu alam dan sains karena mendorong manusia untuk terus berfikir. Yang buruk misalnya adalah saat menyerempet area bahasan ketuhanan, ada beberapa yang bertentangan dengan akidah.

Jadi pada mulanya filsafat sebagai cara berfikir itu netral saja, tergantung kemudian mau dibawa kemana.

Nah, mengenai substansi dan aksiden, dzat dan sifat, ini kemudian menyambung ke bahasan mengenai Tuhan. apakah Tuhan itu dzat? Adakah Tuhan punya “sifat” dalam artian sifat yang lekat dengan dzat-Nya?

Barulah saya memahami duduk perkara ini setelah dijelaskan oleh seorang Arif, Ust. H. Hussien Abd Latiff, bahwa DIA itu bukan dzat, dan bukan sifat, melainkan pemilik dzat dan sifat.

Selama kita masih berbicara tentang dzat dan sifat, berarti kita berbicara tentang dunia ciptaan. Berbicara tentang alam.

Sebagian kalangan, misalnya. mengatakan kalimat seperti ini ”Jika anda bercita-cita, lalu berusaha keras, maka SEMESTA akan mendukung dan mewujudkan keinginan anda.”

meskipun mereka berkata dalam makna majazi, tetapi patut perkataan ini diwaspadai agar tidak tergelincir.

Tentu kita paham bahwa maksud mereka adalah “Tuhan yang mengabulkan”, tetapi boleh jadi kata-kata seperti itu menyebabkan “alamat” persandaran seseorang di dalam lubuk hatinya adalah kepada SEMESTA. Padahal, semesta itu bukan Tuhan. Karena semesta itu ciptaan-Nya, yang masih memiliki substansi dan aksiden. Masih memiliki dzat dan sifat.

Begitu juga, dengan penelusuran yang lebih dalam lagi. Jika segala sesuatu di dunia ini memiliki substansi dan aksiden, maka substansi terdalam itulah DIA, kata sebagian kalangan. Maksudnya kalau kita kelupasi semua sifat-sifat yang nampak mata, sampai yang paling dalaaaaaaaaam sekali dan tak lagi ada keragaman bentuk, semua menjadi satu, yang tinggal hanyalah semurni-murni substansi, dianggap oleh mereka itulah DIA.

Ternyata itu juga tak tepat. Karena dibalik semua ciptaan itu “hakikatnya” adalah dzat-Nya. Yang dalam sebuah hadits dikatakan tidak bisa seseorang menyentuh dzat, siapa melihat dzat akan terbakar dengan keagungan dzat. [1] Tetapi itu bukan DIA.

Sedangkan Allah SWT. DIA-lah pencipta alam semesta. Pencipta segala sesuatu yang kita kenal dengan dzat dan sifat. Yang tak bisa disentuh, tak bisa diteliti, tak terindera. Perbincangan mengenai substansi sesuatu dan aksiden sesuatu tidak tepat dilekatkan kepada Pencipta sesuatu itu.

Barulah saya paham, bahwa keliru orang-orang yang berkata “inilah Tuhan” yang meliputi saya ini. Karena apapun saja yang mereka bisa “rasakan” tentulah ciptaan. Semua yang bisa disentuh, dirasa, difikirkan, itulah dunia ciptaan, dunia dzat dan sifat.

Yang meliputi kita ini, yang bisa kita “rasakan”, bukan DIA, melainkan dzat-Nya. Milik-Nya. Bukan DIA yang tiada umpama.

Karena –sesuai kata Ibnu Athaillah- “sampaimu kepada Allah, adalah sampaimu kepada pengetahuan tentang-Nya, karena mustahil DIA disentuh atau menyentuh sesuatu”.

Akhir kata, sebuah perumpamaan yang sangat baik dari seorang arif. Semua berasaskan ilmu dan kepahaman. Umpamanya pada sebuah malam yang gelap gulita, kita minum sebotol sirup apel. Semua indera kita membenarkan bahwa rasanya, baunya dari sirup itu adalah seperti apel. Tetapi dengan ilmu, kita paham bahwa yang kita minum itu bukan apel, melainkan “sari” apel. Yang menjaga kita adalah ilmu.

Begitu juga seandainya dengan peribadatan yang begitu khusyu, orang-orang bisa merasakan betapa mereka “diawasi” dijaga dan disentuh dengan sesuatu yang ada dibalik semua ciptaan yang tampak mata ini, maka sadarilah bahwa yang “dirasakan” dan yang bisa “kita sentuh” itu bukan DIA, melainkan sifat-sifat yang lekat pada dzat yang dicipta-Nya.

Agar tak mengelirukan Tuhan dan alam. Agar tak keliru antara DIA dan dzat-sifat “milik”Nya.

Wallahualam.


[1] “Tirai-Nya adalah Nur, dan seandainya terangkat pastilah keagungan Dzat-Nya akan membakar makhluk yang terpandang oleh-Nya”. Terjemahan Shahih Muslim Bk. 1, 228 (1994).

CERMIN

Sewaktu SMA pelajaran biologi, oleh guru kami diberitahu bahwa pergerakan anggota tubuh dikarenakan ada impuls listrik perintah dari otak. Aktivitas kelistrikan otak kemudian dihantar ke seluruh tubuh lewat syaraf, lalu menggerakkan otot dan tubuh bergeraklah karenanya.

Waktu itu saya bertanya, tetapi belum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Yaitu dimana fungsi “kehendak?”

Saya mengira pastilah ada satu mata rantai yang tak dibahas. Bagaimana “kehendak” yang sejatinya tak punya bentuk fisikal, kemudian bisa menggerakkan tubuh di dunia fisikal?

Pertanyaan saya itu tak mendapat jawaban, tetapi puluhan tahun kemudian saya baru sadar bahwa pertanyaan saya itu lebih kepada “spiritualitas” ketimbang ilmu biologi, hehehehe….. Tentu tak ketemu jawabannya disana.

Cermin paling dekat untuk mencermati keteraturan alam raya, memang diri kita sendiri.

Jika diri kita saja, dengan sebuah kehendak yang yak punya bentuk fisik, lalu bisa menyetir pergerakan tubuh yang fisik, maka sejatinya tak ada yang terlalu ajaib di alam raya. Karena diri kita saja sudah ajaib.

Pendorong-pendorong yang tak punya wujud konkrit, di dalam diri manusia itu banyak sekali. Ada nafsu, ada amarah, ada banyak varian rasa. Semuanya punya porsi menggerakkan tubuh sehingga wujud konkrit dari pergolakan di dalam batin bisa terlihat bentuknya di dunia luar. Pada gerakan badan.

Betapa ajaib. Tentara-tentara hati di dalam diri kita, menggerakkan kerajaan yang kecil berupa tubuh.

Anda ingin minum……. Lalu dengan bekal sepercik keinginan itu, kerajaan tubuh bergerak. Kaki melangkah, tangan mengambil gelas, mulut membuka dan meneguk air, kerongkongan menelan. Semua bergerak hanya karena perintah sepercik rasa “ingin”.

Jika sepercik ingin, sudah bisa menggerakkan tubuh dengan gerakan yang kompleks, tentu saja Allah SWT lebih bisa lagi menggerakkan segala-gala.

Melihat cermin kecil diri itu saja, sudah teranglah bahwa menyandarkan daya upaya semata pada kekuatan diri, adalah pekerjaan sia-sia. Karena ruang lingkup kuasa yang diberikan pada percikan kehendak diri kita untuk bisa bergerak hanya selingkup tubuh saja. Selebihnya kita tak bisa.

Lepas dari itu, semuanya dalam genggamanNya. Seorang arif berkata, bahkan sepercik kehendak dalam diri kita itu saja, kalau kita perhati betul-betul, ianya “mendatangi” kita. Bukan kita yang membuat keinginan itu.

Tetapi, untuk kepentingan praktis yang tak terlalu filosofis, jika kita sedang mengerjakan sesuatu dan merasa berat, ternyata ada baiknya juga melihat diri sendiri, dan mentafakuri jika sepercik kehendak saja bisa menggerakkan tubuh….. tentara hati bisa menggerakkan badan, maka bagiNya menggerakkan alam ini sangat gampang. Sesuai inginNya yang DIA telah tuliskan

Dengan itu, berdoa menjadi penuh harap. Diri lemah tidak mengapa, tetapi harapan jangan sampai hilang. Karena bagiNya segalanya mudah. Diri kita sendiri menjadi tandanya.

MENYETIR DIRI DENGAN AIR DAN API

air apiSewaktu menemani istri saya ke RS untuk periksa kehamilan, disitu saya semakin merasakan betapa pentingnya asuransi kesehatan. Biaya kesehatan baru “terlihat” saat ada momen-momen tertentu seperti rawat jalan atau rawat inap kalau sakit.

Dalam hal asuransi, saya termasuk beruntung karena asuransi kesehatan dijamin kantor. Alhamdulillah, jadi tidak terbebani dengan biaya Rumah Sakit.

Sebelumnya, selama beberapa hari saya tenggelam dalam kegiatan mewawancarai beberapa orang yang melamar ke Perusahaan tempat saya bekerja, dan beberapa dari mereka adalah orang-orang yang sangat berpengalaman, jauh melampaui saya, tetapi sekarang sedang tidak beruntung karena kondisi dunia MiGas sedang gonjang-ganjing dan mereka terpaksa menganggur dulu.

Mengamati fakta bahwa banyak senior menganggur, dan saya termasuk beruntung masih bekerja di kantor dengan segala kemudahan fasilitasnya itu; membuat saya merasakan betapa lemah sebenarnya kita ini. Hidup dalam ombang-ambing takdir.

Dalam sekerlip mata, segala kenyamanan fasilitas seperti yang pernah didapatkan para senior-senior saya itu, bisa hilang dalam sekejap. Karena kondisi dunia perminyakan yang tidak stabil.

Dan tidak hanya urusan perminyakan atau urusan dunia swasta. Dalam dunia Pegawai Negeri Sipil pun kondisi juga bisa berubah dalam sekerlip mata. Mutasi….. pergantian pimpinan. Perubahan kebijakan. Pergeseran pemain. Dan segala macamnya yang merubah tatanan yang sudah stabil, lalu membuat kita harus adaptasi lagi.

Dalam menghadapi situasi yang berubah-ubah itu, dalam menghadapi tuntutan-tuntutan pekerjaan, kadang-kadang sikap mental waspada seperti “perang” dibutuhkan. Adrenalin meningkat. Lalu kinerja meningkat dan membuat langkah-langkah strategis yang diperlukan untuk bergerak menyesuaikan dengan kondisi. Ambisi dan siasat.

Dalam bahasanya Imam Ghozali, hidup berkeseharian dalam mentalitas yang “siaga”, penuh “ambisi”, seperti mode “perang” ini adalah karena kita menggunakan elemen “Ghadab” alias elemen “Kemarahan”, “anger” di dalam diri.

Di dalam diri manusia, ada “Kesadaran” manusia atau “hati”, sebagai rajanya. Dan ada elemen-elemen tak nampak “di luar” hati itu. Elemen yang tak nampak itu berguna sebagai “alat” bagi manusia.

Beberapa diantaranya adalah “kemampuan nalar atau rasio”, dan yang lainnya adalah elemen “marah” dan elemen “nafsu”.

Elemen “marah” itu, disini bukan berarti marah ngomel dan memukul orang secamam itu semata. Tetapi lebih ke “ambisi”.

Sedangkan elemen “Nafsu”, nafsu disini tidak semata berarti syahwat, tetapi lebih ke keinginan-keinginan atau hasrat badani yang lain, semisal makanan, hasrat keindahan, dan juga syahwat.

Maka saat sedang dicekam suatu perkara, suatu masalah. Saya perhatikan polanya Imam Ghozali ini sungguh benar.

Jika kita sedang “full konsentrasi”, mode “siaga”, semangat dan ambisi mengerjakan sesuatu, berarti kita menggunakan elemen kemarahan, elemen ambisi di dalam diri kita. Implikasinya, struktur pertahanan diri kita akan dengan refleks menaikkan elemen satunya lagi yaitu “nafsu” atau “hasrat”.

Maka kalau kita stress terlalu fokus bekerja, biasanya hasrat makan meningkat. Atau hasrat plesiran jalan-jalan. Atau syahwat. Seperti api disiram dingin. Karena tubuh kita menstabilkan dirinya sendiri.

Menarik sekali, bagaimana “hati”, “kesadaran” kita bisa menggunakan elemen kemarahan dan nafsu di dalam dirinya untuk menyelesaikan suatu perkara. Tetapi, jika sang hati tidak kuat, semisal karena “nalar atau rasionya” kalah oleh elemen kemarahan dan nafsu, maka dia akan didominasi oleh ambisinya sendiri, atau dibakar nafsunya sendiri. Sebuah kaitan yang sangat logis.

Menggunakan elemen-elemen dalam diri, dalam kaitannya untuk mencapai kepentingan tertentu, adalah jalan “depan”.

Tetapi ada jalan satu lagi. Selain dari lewat “pintu depan” yang pada akhirnya mengharuskan kita pandai-pandai menyetir elemen itu, kalau tidak hendak dibelit dan terbakar oleh mereka. Ada juga jalan “belakang”.

Jalan “belakang” ini adalah menyadari bahwa segala hiruk pikuk dunia pekerjaan, dan hiruk pikuk masalah sehari-hari sebenarnya adalah dalam genggaman DIA semata-mata. Maka alih-alih terlalu semangat menggunakan elemen-elemen dalam diri kita untuk menyelesaikan suatu perkara, kita malah harus sering-sering “berpasrah” dan dalam kondisi “relax” menyerah.

Kondisi pasrah ini, pada gilirannya memudahkan ilham-ilham kebaikan untuk turun dan memberikan solusi dari suatu masalah.

Pada akhirnya, dua-duanya perlu. Pengenalan terhadap anasir-anasir dalam diri sendiri, dan kemampuan untuk mereset ulang semuanya kembali ke “nol” agar pasrah pada pengaturan Tuhan.

Barangkali, setelah saya renungkan, urutan skema yang paling baik adalah dengan berpasrah sampai insight-insight kebaikan atau solusi mendatangi kita, lalu kemudian baru bergerak dengan mengoptimalkan elemen-elemen di dalam diri. Dengan begitu, kita seperti seorang pembalap yang menyetir mobil dengan kecepatan penuh, waspada dengan pedal gas dan rem, tetapi sekaligus “tahu” kemana kendaraan kita biarkan melaju.


*) gambar ilustrasi diambil dari link berikut ini

MEMBEDAH DIRI ITU BAIK UNTUK ORANG TUA DAN MUDA

Libur kemarin, iseng-iseng saya googling mencari tema menarik dan menemukan sebuah bahasan tentang “How to overcome laziness”, teknik menyiasati kemalasan.

Saya tertawa geli membacanya, karena ternyata ada orang-orang yang lebih males gerak alias “mager” ketimbang saya mager di hari libur.

Seseorang menceritakan bahwa dia harus mengganti ban mobilnya yang kempes, dengan ban serap, tetapi dia begitu males waktu itu. Bagaimana dia menyiasatinya?

Alih-alih mengerjakan suatu pekerjaan satu waktu sekaligus –yang akan membuat dirinya secara psikologis merasa beban kerja terlalu berat dan akhirnya males-, dia malah membagi pekerjaan itu menjadi bagian-bagian kecil.

Umpamanya, pekerjaan mengganti ban mobil dibagi menjadi lima: 1) Mengambil dongkrak dan peralatan kunci-kunci. 2) Memasang dongkrak. 3) Melepas ban dan baut-baut 4) Mengganti ban dan menguatkan baut. 5) Akhirnya beres-beres dan pekerjaan selesai. Satu pekerjaan di-breakdown jadi lima pekerjaan kecil.

Mengambil dongkrak dan peralatan……nah…. Semales apapun orang, kalau kerjanya hanya ambil dongkrak tentu saja bisa ambil dongkrak doang. Oke……akan saya lakukan ambil dongkrak doang kok. Gampang….

Setelah dongkrak diambil, dia istirahat nonton TV bentar, nyanyi-nyanyi, minum kopi, lalu lanjut ke pekerjaan kedua. Walhasil pekerjaan selesai, malas teratasi, meskipun waktu pelaksanaan menjadi panjang karena diselingi dengan banyak betul istirahat, hahahahhahahaha.

Menarik memang, bagaimana orang tersebut melakukan sesuatu dalam rangka menyiasati dirinya sendiri. Ini bagian dari kemampuan mengenali diri sendiri lho.

Dan percaya tak percaya, sub-bab mengenali diri sendiri ini adalah bagian dari kajian besar ilmu tasawuf atau spiritualitas islam. Hal inilah yang saya seringkali membatin sendiri, sungguh sangat sayang sekali jika para pemuda tidak mengetahui khasanah yang sangat kaya dari ilmu tasawuf, karena tasawuf ini praktikal sekali dalam hidup keseharian.

Umpamanya dalam kajian Imam Ghozali. Satu bab sendiri dalam Ihya Ulumuddin itu isinya mengajari manusia mengenali dirinya sendiri. Bahwa diri manusia ini bisa dibagi menjadi bagian-bagian terpisah. Sederhananya ada yang fisikal terindera yaitu jasad yang kita lihat ini. Dan ada yang ruhani alias ga kelihatan.

Bagian ruhaninya ini, bisa dipecah lagi, ada kesadaran terdalam manusia yang memahami sesuatu, mengerti sesuatu, yang menjadi “raja” di dalam kerajaan mikro yaitu diri manusia itu sendiri. Itulah “hati” atau “qalb” atau “aql” dalam definisinya yang ruhani.

Lalu ada anasir lain yaitu “intelek”, “nafsu”, “amarah”, dan seterusnya.

Yang mana sejatinya diri kita? Yang sejatinya manusia itu adalah yang sadar itu. Alias hati-nya.

Bahasan ini agak abstrak sedikit bagi yang tidak pernah mengikuti kajian serupa. Saya yakin bahasan Imam Ghozali akan menjadi sangat familiar di kalangan orang-orang yang akrab dengan kontemplasi. Umpamanya para meditator dan atau misalnya kalangan pengkaji psikologi kultural jawa seperti Ki Ageng Suryomentaram. Dan tentu bagi kalangan tasawuf ini sangat lumrah.

Nah…. Selain dari urusan mengenali partisi-partisi dalam diri, – yang sebenarnya lebih mirip kajian psikologi ini-, spiritualitas islam juga membahas hal yang lebih jauh, semisal –saya kutipkan dari bab yang diajarkan oleh Guru kami- yaitu : Mengenali Allah. Bagaimana kaitan antara Tuhan dan alam? Lalu bab mengenai bagaimana mengingati Tuhan? apanya yang diingat? Lalu bab mengenai bagaimana Tuhan mentadbir alias mengurus alam semesta? yang berujung pada keridhoan terhadap pentadbiran. Dan pada akhirnya adalah bagaimana beribadah dalam bingkai kepahaman yang baru dan lebih tajam itu.

Itu semua adalah Bab bahasan dalam paket ilmu spiritualitas islam. Termasuk diantaranya adalah Bab mengenai memahami partisi-partisi di dalam diri sendiri.

Permasalahannya adalah, banyak anak muda yang mengira bahwa tasawuf adalah ilmu orang tua belaka. Padahal, misalnya bab mengenali diri sendiri, ini sangat fundamen lho.

Mengikuti siklus Imam Ghozali, kepahaman atau ilmu berbuah menjadi “hal” spiritual atau kondisi ruhani. Kondisi ruhani tiap-tiap orang menyetir amal mewujud. Jadi dari “dalam” berbuah “keluar”.

Selama ini, kita hanya akrab dengan “yang terindera” alias empiris saja.

Apa contohnya yang empiris itu? Yang empiris itu ya misalnya contoh paling pertama kita bincang di atas tadi. Jika kita “malas” maka kita mengatasinya dengan –semata- jalan “luar”, yaitu menganalisa pekerjaan kita, lalu membagi pekerjaan menjadi partisi kecil-kecil sehingga pekerjaan terasa ringan. Ini bagus……. Salah satu contoh dari Rasulullah SAW dalam kaitannya dengan rekayasa jalan “luar” ini adalah sebuah hadits: saat kita marah, maka berwudhulah! Atau kalau kamu berdiri maka duduk, kalau duduk masih marah maka berbaring.

Wudhu, berdiri, duduk, baring, adalah “rekayasa” untuk memperbaiki sesuatu yang “empiris” atau “luar”. Tetapi semata “luar” tidak cukup. Karena kita mengetahui bahwa “marah” adalah sesuatu yang terbit dari “dalam”. Maka membenarkan persepsi yang “di dalam” adalah juga kerja panjang untuk mengatasi kemarahan. Sehingga, Rasulullah SAW dalam suatu riwayat dikatakan “tidak marah” bahkan saat seorang badui mengencingi masjid, “tidak marah” bahkan saat Sayidatina Aisyah r.a. membanting piring di hadapan para sahabat. Karena “yang di dalam” Rasulullah SAW sudah mantep.

Pengetahuan mengenai rekayasa “luar” atau kajian dunia empirik sudah sering kita dapat. Tetapi pengetahuan mengenai rekayasa “dalam” mengenali partisi-partisi dalam diri, sebagai bagian integral dari upaya untuk lebih bisa menjalankan fungsi kekhalifahan; masih jarang kita pelajari.

Hal ini sangat berguna bagi kehidupan kita. Dan percayalah ini bukan hanya ilmu orang tua saja. Ini berguna bahkan bagi anak muda.


*) Gambar ilustrasinya sungguh tidak nyambung, karena ini gambar Rambo lagi membedah dirinya sendiri saat tertembak peluru. Hehehehe

JENIUS MATEMATIKA DAN FORMULA BAHAGIA

Foto yang anda lihat di atas ini, adalah seorang anak jenius matematika, dan pamannya. Saya jepret foto ini di pesawat sewaktu perjalanan Balikpapan-Jakarta, potongan dari sebuah film berjudul “Gifted”.

Dikisahkan seorang anak kecil terlahir sebagai seorang jenius matematika. Usianya masih sangat kecil tetapi kecintaannya pada matematika sudah melampaui orang kuliahan.

Ceritanya menarik, dan pertengahan hingga akhir agak melow-melow sedikit hingga mengaduk emosi.

Saya jadi teringat sewaktu saya SMA, saya bertanya pada seorang rekan , “apa gunanya kita belajar integral ini?”

Teman saya menjawab, “Gunanya agar kalau kita kerja jadi guru matematika, kita bisa mengajarkan anak murid kita diferensial integral!” dia tertawa terkekeh. Dia pun tak tahu apa gunanya. Huehehehehe. Padahal kalau di film Gifted ini, anak kecil saja sudah terbuka hikmah matematika padanya.

Begitulah, memang seseorang bisa saja memiliki sekumpulan pengetahuan, tetapi tidak berarti bahwa orang yang punya sekumpulan pengetahuan akan selalu bisa melihat hubung kait antar perkara. Karena dua hal yang berbeda.

Sama seperti ketika baru-baru ini saya melihat video di lini masa facebook. Bahwa plastik bekas bisa dipakai sebagai perekat super kuat. Diilustrasikan ada dua buah kayu, sambungannya diselubungi dengan plastik bekas air mineral, lalu plastiknya dipanasi dengan hair dryer. Plastik yang melunak karena panas itu kemudian menyesuaikan bentuk dengan kayu, dan menjadi perekat yang sangat kuat.

Betapapun saya sudah ratusan kali melihat kayu potongan, dan ratusan kali melihat plastik botol, tetapi hubung kait dua perkara itu tak “dapat” di hati saya.

Kemampuan melihat hubung kait itulah “hikmah”. Dan “botol plastik” serta “kayu bekas” itulah pengetahuan. Pengetahuan itu satu hal, tetapi “hikmah” itu hal lainnya yang dianugerahkan Tuhan.

Tersebab setiap orang dianugerahi “hikmah” yang berbeda. Kemampuan melihat hubung kait antar perkara beda-beda. Maka perjalanan kita warna-warni.

Ada penyuka matematika, ada penyuka ilmu alam, ada yang suka filsafat, macam-macam.

Tetapi semua itu ternyata bermuara pada satu saja, yaitu jalan mengenali Tuhan.

Segala rasa penasaran manusia, kalau dipikir adalah pemenuhan dari kebutuhan paling mendasar manusia untuk bahagia.

Seperti misal ada yang begitu “menyukai” matematika, maka dia akan mencari segala pengetahuan matematika, yang pada akhirnya menggenapi rasa butuhnya akan sebentuk bahagia.

Tetapi, saya mengutip dari “Kimia Kebahagiaan”-nya Imam Ghazali. Kebahagiaan sejati hanya akan manusia peroleh jika mengenal sejatinya dirinya, dan mengenal Tuhannya. Itulah formulanya.

Karena manusia ada bagian yang fisikal seperti jasad, lalu ada anasir abstrak seperti kemarahan dan nafsu, lalu ada “intelek”, tetapi semuanya itu dalam kendali sang raja yaitu “hati”. Sejatinya diri.

Oleh sebab itu, manusia mencari terus, lewat pemenuhan kebutuhan jasad; bahagia sebentar. Terus hilang…… Lalu bingung, kok saya tidak bahagia?

Lalu mencari lagi, barangkali butuh pertemanan. Lalu mencari bahagia bersandar pada rasa keamanan sosial. Bahagia sebentar lalu hilang.

Cari lewat pencapaian diri, kerja keras agar berpangkat. Setelah sampai di puncak karir lalu merasa kosong. Bahagia sebentar……. Lalu hilang lagi.

Manusia bertanya terus. Dimana kebahagiaan yang sejati?

Sampai nanti kalau terus berjalan, jawaban akan ditemui. Bahwa kebahagiaan yang paling sejati kata Imam Ghazali adalah jika sudah mengenal diri, dan mengenal Tuhan, lalu tahu untuk apa diciptakan.

Jadi mencari kebahagiaan itu tak keliru. Karena itu adalah setitik pelita dalam diri. Asalkan kita jujur pada diri sendiri, benarkah bahagia? Karena setiap rasa kosong dalam hati, dan kerinduan akan bahagia yang lebih sejati, sebenarnya adalah penuntun menuju DIA.

-debuterbang-

BERTEMU PARA PENCARI TUHAN

journeySekarang saya mengerti, perjalanan ini memang ditempuh “sendiri-sendiri”, tetapi hikmah dari perjalanan adalah untuk dibagi-bagi.

Metafora bahwa hidup adalah “perjalanan menuju Tuhan”, ternyata sudah dikatakan pula oleh Hujjatul Islam Imam Al Ghazali. Dalam salah satu bab di Ihya Ulumuddin, yaitu dalam bab Ajaib al Qalb, alias keajaiban hati, marvelous of the heart.

Dan dalam konteksnya sebagai sebuah “perjalanan” kita akan sering bertemu dengan sesama “pejalan” menuju Tuhan. Tentu kita “dewasa” dengan memahami bahwa “perjalanan” ini adalah metafor, mencari Yang Sejatinya Tak Kemana-mana.

Berkait dengan momen bertemu dengan orang-orang yang mencari tuhan, saya ingat dua tahun lalu, dalam sebuah sesi audit di kantor, saya berbincang dengan seorang auditor bule yang mengaku sebagai seorang yang tidak memeluk suatu agama tertentu. Tetapi dia percaya dengan sains.

Kami ngobrol ngalor ngidul, kemudian saya sedikit mengenalkan konsep spiritualitas islam yang saya dengar dari guru-guru yang arif. Kemudian di luar dugaan saya, dia mengatakan bahwa konsep “Tuhan” sebagai sumber segala sesuatu, dari-Nya berasal, kepada-Nya kembali, adalah sangat dekat dengan konsep sains. Darisana dia mengatakan tertarik untuk membaca Qur’an nanti jika dia kembali ke negara asalnya. Karena selama ini dia mengira konsep islam bahwa Allah itu adalah “person”, dia tak mengetahui bahwa Allah itu Laisa Kamislihi Syaiun.

Selang dua tahun kemudian, saya bertemu dengan auditor lainnya. Beberapa kali diaudit membuat saya sadar bahwa memasang “mode perang” pada auditor adalah langkah keliru. Maka saya dan rekan-rekan menganggapnya sebagai kawan dan mengakui bahwa masukan-masukan dari auditor adalah baik untuk tumbuh kembangnya sebuah perusahaan, berkaitan dengan manajemen sistemnya.

Dari sesi audit yang santai itu kemudian ngalor ngidul kembali ke obrolan makna hidup.

Pertamanya dari sebuah HP rekan saya yang berdering, dan melantunkan lagu Linkin Park. Lalu bergulir pada obrolan bahwa salah satu personnel linkin park ada yang bunuh diri. Kemudian beliau menyinggung bahwa banyak para pemikir ulung atau filosof yang juga berakhir dengan bunuh diri. Saya menyahut, saya katakan barangkali yang terjadi pada mereka adalah mereka mencoba menggapai “sesuatu” yang sejatinya tak tergapai nalar dan logika. Maka mereka bunuh diri untuk menggapai “pengalaman” yang lebih tinggi dari pencapaian logika mereka.

Padahal ujung dari perjalanan logika, adalah awal dari pengembaraan “rasa”. logika berhenti sebatas bukti, dan “rasa” menghantar kita masuk ke pintunya. “rasa” itu domain spiritualitas.

Dia katakan secara bercanda, pilihannya hanya ada dua, katanya, kalau tidak mau bunuh diri, maka melewati jalan menjadi seorang yang religius. Artinya memeluk suatu agama.

Saya lupa bertanya agamanya apa. Tetapi dia katakan dia tak memeluk suatu agama secara resmi. Tetapi dia suka membaca tentang spiritualitas.

Lalu saya menyinggung sedikit tentang Tao, sesuatu yang dia sudah familiar, dan saya sedikit kutipkan kemiripan definisi Tao tentang Tuhan, dan bagaimana Islam menjelaskan tentang Tuhan yang “bukan sesuatu, tak mirip apapun, tak bisa dipersepsi, dan dari-Nya segalanya berasal, kepada-Nya segalanya kembali.”

Saya melihat dia begitu berbinar dan tertarik dengan obrolan kami itu. Dari binar matanya, saya melihat seorang “pencari”.

Sore ini, di sebuah lounge menanti penerbangan malam. Saya kembali merenungkan bahwa benarlah kata Imam Ghazali, bahwa hidup ini “perjalanan” menuju Tuhan. Dan sebagai sebuah etape perjalanan, maka kehidupan di dunia ini harus dijalankan dengan sebaik-baiknya, dengan memberi manfaat dan menebar hikmah untuk sesama, sebanyak-banyaknya yang kita bisa.

Didalam “perjalanan” seringkali kita bertemu dengan sesama manusia, yang juga “berjalan” menuju Tuhan. Mereka adalah teman. Tempat kita berbagi hikmah. Sebagian mereka menemukan hikmah yang belum kita temukan. Sebagian lainnya masih meraba-raba dalam kebingungan.

Kita tidak punya otoritas menghakimi mereka. Hanya saja, saya teringat seorang guru mengutip sebuah hadit Rasulullah SAW kepada seorang sahabat yang hendak berangkat ke pemukiman Yahudi, pesan beliau, kenalkan mereka pada Allah SWT………… lalu setelah kenal, baru ajarkan mereka shalat.

Mengenali Tuhan sebagai sumber dari kehidupan yang ada ini, adalah sesuatu yang lebih utama, dan pertama. Mendahului pengenalan akan syariat dan hukum-hukumnya. Kekeliruan kita adalah kita mengenalkan orang kepada hukum-hukum semata-mata, tanpa mengetahui bahwa kehausan spiritual manusia adalah pencarian untuk mengenali Sang Pemilik Hidup.

Setelah mengenali Sang Pemilik, maka syariat akan berjalan dengan mengalir. Karena sesuatu yang kosong di hati mereka sudah menemukan tambatannya.


*) Gambar ilustrasi saya pinjam dari link ini

BENANG TAKDIR DAN HARTA YANG TERCECER

Di dalam sebuah ungkapan yang masyhur, dikatakan bahwa “hikmah” adalah harta tercecer milik kaum muslimin, maka ambillah dimanapun menemukannya!

Maka itu saya sangat tertarik, mendengarkan cerita rekan-rekan saya, dan mengambil hikmah dari perjalanan hidup mereka, karena seringkali hikmah yang kami temukan “sama” meskipun melalui jalan berbeda, atau kadangkali juga mereka mendapatkan hikmah lain yang luput dari pandangan saya.

Bahkan dari seorang rekan bule yang tak beragama, saya mendapatkan “hikmah” saat dia mengaku bahwa seringkali dia merasakan bahwa dirinya begitu kecil, dan hanya menjadi bagian dari semesta yang begitu besar, dan berputar dalam sebuah gerak yang Maha Raksasa. Bagaimana bahkan seorang yang tak beragama memiliki sisi spiritual yang sulit dia tolak, ada di dalam relung batinnya yang dalam.

Teringat kembali sebuah ayat bahwa Allah mengajar manusia dengan perantaraan kalam.

Kalam, ataupun “pena”, adalah wahana bagi tinta mengalir dari tempatnya menuju kertas. Teman-teman kita, dan atau siapapun saja yang membagikan hikmah, sejatinya adalah “kalam”, menjadi medium “tinta” pelajaran mengalir. Yang lewat mereka kita diberikan hikmah oleh Tuhan. karena mereka hanya wahana bagi hikmah mengalir.

Dalam Fihi Ma Fihi, Rumi menjelaskan sebuah jalan yang “bukan” jalan kerahiban atau jalan kesendirian. Seseorang bisa saja menjadi religius dan spiritualis dengan melakoni jalan kerahiban yang mengasingkan diri, tetapi jalan islam adalah kebalikannya. Yaitu berkecimpung dalam keramaian, dan mengambil hikmah dari keramaian.

Tentu dalam porsi-porsi tertentu, “menyendiri” diperlukan. Mengingat Imam Ghazali saja mendapatkan enlightenment setelah sepuluh tahun meninggalkan hiruk pikuk di madrasah Nizhamiyah, dan meninggalkan profesi sebagai pengajar.

Akan tetapi, bahwa hikmah seringkali bisa ditemukan juga dalam “keramaian” ini jarang kita ketahui. Setidaknya saya sendiri jarang mengetahuinya.

Dan setelah menikmati hikmah mengalir dari banyak “kalam”, barulah saya menyadari bahwa seringkali orang-orang mendapatkan pelajaran lewat jalan yang berkelok-kelok.

Ada yang rusak dulu, lalu menjadi baik di ujungnya. Ada yang baik menjadi rusak, lalu menjadi baik lagi. Ada yang jalannya mulus. Ada yang penuh onak duri. Ada yang sampai mengecewai Tuhan, lalu berbalik menjadi “pejalan” ruhani yang menekuni spiritualitas islam. Macam-macam sekali.

Dari sana saya menarik kesimpulan bahwa sebagai “jalan keramaian” memanglah manusia akan dibentuk lebih dari satu kalam dan lebih dari satu hikmah. Dan Allah sendiri yang akan mempertemukan seseorang dengan seseorang lainnya, pada momen yang pas, dan pada hikmah yang pas pula yang tersampaikan.

Maka itu saya mentertawai diri sendiri. Dulu…..saya begitu impulsif. Kalau bertemu orang, yang terfikir pertama adalah bagaimana membagi hikmah yang saya dapatkan sepanjang perjalanan, dan bagaimana sebisa mungkin orang tersebut berubah.

Padahal, belum tentu orang dalam kondisi siap menerima masukan. Belum tentu orang itu perlu menerima masukan. Atau boleh jadi orang itu sudah mengetahui hal yang lebih dalam daripada yang saya pahami. Dan yang paling pokok, bukan kita yang membuat seseorang berubah, melainkan kalau Allah takdirkan seseorang itu berubah, maka dia akan berubah.

Kita hanya melihat saja, apakah takdir orang itu berkelindan dengan potongan takdir kita? Jika iya, maka akan ada momen yang pas dimana orang tersebut bertemu dengan kita, dan hikmah tersampaikan lewat kita. Atau sebaliknya, kita yang mereguk hikmah darinya. Jika tidak, biarlah orang berjalan pada takdirnya sendiri, dalam pelajaran hidup yang sama sekali tidak pernah linear.

Ada sebuah cerita dalam filem animasi jepang, diambil dari kultur budaya jepang, dimana mereka menenun benang untuk menjadi sebuah gelang. Filosofinya menarik jadi saya kutip disini, sebagai bagian dari “memulung hikmah” yang tercecer.

Kehidupan itu bagaikan gelang rajutan itu. Setiap benangnya adalah perjalanan hidup manusia itu sendiri. Maka perjalanan hidup manusia berkelindan satu sama lain. Bertemu, berpisah, bertemu berpisah. Dan orang yang dipertemukan oleh takdir, maka pasti mereka akan bertemu pada momennya sendiri. Seperti untaian benang rajutan yang saling dipertemukan itu.

Itu sebab saya lebih senang menulis. Dengan menulis, maka takdir akan mempertemukan tulisan dengan orang-orang pada momennya sendiri. Dan saya “asyik” sendiri mengamati kehidupan, dimana orang-orang semua diperjalankan pada rel-nya masing-masing, dalam cerita yang beda-beda, dengan satu tujuan kolosal yang sama. Cerita-Nya.